Tas dan sepatu itu terletak di dasar lemari, dibungkus kantong yang belum ingin dibuka Alisyah sejak pulang tanpa alas kaki. Ia mengeluarkannya setelah sarapan dan meletakkannya di lantai ruang bersama kos.
Gea berjongkok di depannya. “Ini yang membuatmu mengurung diri dua hari?”
“Itu dan pemilik kampus yang mengira semua barang di dunia boleh dirusak kalau dia tidak suka asalnya.”
Manda menarik kursi. Ia bertanya apakah Alisyah ingin dibantu mencatat. Alisyah mengangguk dan mengambil ponsel untuk memotret kondisi barang sekarang. Ia tidak mengaku foto itu dibuat pada hari Azka merusaknya. Yang ingin dilakukannya adalah menentukan kerugian yang masih dapat ditangani.
Tasnya membutuhkan perbaikan pada bagian yang rusak. Sepatu sudah tidak layak dipakai dengan nyaman. Barang-barang itu memang hadiah Dion, tetapi setelah diberikan, Azka tidak berhak merampas dan merusaknya. Alisyah juga tidak ingin mengganti kerugian dengan model yang lebih mahal hanya karena ia marah.
Ia meminta perkiraan dari tempat perbaikan tas dan membandingkan harga sepatu sejenis. Untuk beberapa biaya kecil yang tidak dapat dijelaskan kaitannya, ia memilih tidak memasukkannya.
“Camilan selama dua hari menderita?” Gea mengusulkan.
“Kalau dimasukkan, dia bisa bangkrut.”
“Berarti jangan. Kita harus punya ukuran belas kasihan.”
Manda menggeleng, tetapi tersenyum ketika mencatat. Mereka akhirnya menyusun dua baris: perkiraan perbaikan tas tiga ratus lima puluh ribu rupiah, dan pengganti sepatu sejenis delapan ratus lima puluh ribu. Totalnya satu juta dua ratus ribu. Untuk tas, jumlah akhir baru diketahui setelah pengerjaan selesai.
Alisyah menghitungnya sendiri sebelum mengirim. Pesannya kepada Azka hanya menyangkut barang: bukti kondisi, perkiraan perbaikan, dan harga pengganti yang dipilihnya. Ia tidak ingin barang baru datang ke kos sebagai kejutan. Ia juga tidak ingin bertemu hanya untuk menerima uang.
Azka menjawab bahwa ia menerima daftar tersebut. Transfer masuk malam itu, sesuai jumlah yang diminta. Alisyah mencocokkan angkanya sebelum mengabarkan penerimaan.
“Pembayaran ini hanya untuk kerugian barang,” tulisnya. “Bukan keputusan tentang hubungan atau pernikahan.”
Azka membenarkan. Tidak ada kalimat tambahan mengenai betapa ia rela melakukan apa pun. Alisyah menyisihkan dananya sampai tahu berapa yang benar-benar diperlukan.
***
Sesudah kuliah keesokan hari, ia membawa tas ke tempat perbaikan bersama Manda. Petugas memeriksa bagian yang rusak dan menjelaskan pekerjaan yang mungkin dilakukan. Alisyah meminta kondisi barang dicatat pada tanda terima. Ia ingin memperbaikinya, bukan membeli cerita bahwa kerusakan tidak pernah terjadi.
Sepatu pengganti dibelinya setelah mencoba ukuran. Ia memilih jenis yang sebanding, menyimpan struk, lalu memakai alas kaki lamanya untuk pulang. Tidak ada alasan baginya membawa semua pilihan itu kepada Azka agar disetujui.
Dua hari kemudian tas selesai. Tagihan akhirnya tiga ratus ribu rupiah. Ada bagian yang semula diperkirakan harus diganti, tetapi ternyata dapat dipertahankan. Alisyah bertanya mengenai hasil pengerjaan, memeriksa tas, kemudian membayar sesuai kuitansi.
Di bangku dekat pintu, ia membuka perhitungan.
“Tiga ratus ribu tambah delapan ratus lima puluh ribu,” gumamnya. “Satu juta seratus lima puluh ribu. Berarti lima puluh ribu kembali.”
“Kembali ke siapa?” tanya Manda.
“Azka. Dia sudah mengirim satu juta dua ratus ribu. Aku tidak mau menyimpan selisih yang bukan kerugianku.”
Ia mentransfer lima puluh ribu kepada Azka dan mengirim rincian akhir tanpa foto barang pribadi lain. Azka mengonfirmasi penerimaan. Urusan dua barang itu selesai dengan biaya yang benar, tanpa hadiah tambahan.
Alisyah masih kesal ketika meraba bekas perbaikan. Ia tahu dana tersebut tidak dapat mengembalikan waktu saat dirinya ditarik dan diperintah, tetapi setidaknya biaya barang tidak harus ditanggungnya sendiri.
Malamnya, Azka mengirim pertanyaan apakah mereka dapat berbicara setelah urusan pembayaran selesai. Alisyah membaca pesan itu, lalu mengembuskan napas. Ia telah membatasi komunikasi pada hal praktis.
“Aku belum siap bertemu. Pembayaran sudah selesai. Jangan jadikan itu alasan untuk membuka pembicaraan lain,” jawabnya.
Azka meminta maaf dan berhenti. Alisyah tidak menyebut tindakannya itu bukti bahwa ia sudah memahami segala hal. Ia justru mencatat bahwa meskipun pertanyaannya terdengar sopan, batas yang dipilihnya masih perlu ditegaskan.
Ia menunjukkan bagian yang diperlukan kepada Manda, kemudian menyimpan ponsel. Gea baru pulang membawa belanjaan dan hampir tersandung tas yang masih terletak di lantai.
“Barang mahal tidak seharusnya dipakai menjebak orang miskin,” protes Gea.
“Yang miskin itu ketelitianmu melihat lantai.”
Alisyah memindahkan tas ke lemari. Ia tidak menyimpannya kembali di kantong rusak yang lama. Barang tersebut dapat dipakai lagi. Ia ingin membiarkan benda itu menjadi miliknya tanpa harus terus mengingatkan diri bahwa seseorang telah membayar untuk mengembalikannya.
Pada akhir pekan, ia membuka pesan lama dari Dion mengenai barang-barang yang dulu diterimanya. Ada pujian setelah ia berhasil menjauhkan seorang perempuan, lalu tawaran sepatu, tas, dan lipstik. Alisyah membaca percakapan itu tanpa senyum yang dulu membuatnya merasa cerdik.
Satu nama membuat jarinya berhenti: Mili.
Ia ingat toilet yang dikunci, dagu yang dicengkeram, dan foto yang ditunjukkannya. Ketika itu ia merasa telah menyelesaikan pekerjaan dengan baik. Dion tidak perlu menghadapi perempuan yang tidak ingin ia temui, sementara Alisyah memperoleh barang yang diinginkannya.
Sekarang ia baru selesai menuntut Azka bertanggung jawab karena merampas pilihannya. Di sisi lain, ia sendiri pernah membuat seseorang takut menggunakan sesuatu yang pribadi.
Ia tidak menghubungi Mili malam itu. Ia belum tahu apakah perempuan tersebut bersedia mendengarnya. Namun ia menutup daftar ganti rugi dan membuka halaman lain di buku. Di sana ia menulis apa yang benar-benar pernah dilakukannya, tanpa kalimat bahwa Mili genit atau pantas diberi pelajaran.
Daftar itu lebih pendek daripada perhitungan tas dan sepatu. Justru karena tidak ada angka yang dapat menutupnya, Alisyah duduk lebih lama sebelum akhirnya meletakkan pena.
Ponselnya bergetar di meja. Mili mengirim pesan menanyakan apakah ia masih menyimpan foto yang pernah digunakan untuk mengancamnya. Alisyah membaca kalimat itu dua kali. Ia tidak dapat lagi memperlakukan kejadian tersebut sebagai lelucon yang hanya masih diingat dirinya sendiri. Ia menjawab bahwa ia bersedia mendengar dan tidak akan menunjukkan atau mengirim foto itu kepada siapa pun.