Mili memilih kedai dekat kampus untuk pertemuan mereka. Ia tidak ingin pembicaraan direkam atau didengar orang lain. Manda boleh menunggu di meja yang terlihat, tetapi tidak ikut duduk bersama. Alisyah menyetujui pengaturan itu tanpa meminta Mili datang ke kos atau menyerahkan persoalan kepadanya begitu saja.
Ketika Mili tiba, Alisyah berdiri sebentar. Perempuan itu hanya mengangguk, kemudian duduk dengan tas di pangkuan. Tidak ada keakraban lama yang dapat digunakan untuk membuka percakapan.
“Aku ingin kamu hapus fotoku,” katanya.
“Aku akan melakukannya.”
“Bukan nanti kalau kamu sudah tidak marah. Sekarang.”
Alisyah merasakan wajahnya memanas. Ia teringat bagaimana ia mengunci toilet dan mencengkeram dagu Mili, begitu yakin bahwa tugasnya hanya memastikan perempuan itu menjauh dari Dion.
“Aku memakai foto itu untuk menekanmu. Aku juga memegang dagumu dan membuatmu tidak bebas mengakhiri pembicaraan. Itu salah.”
“Waktu itu kamu kelihatan senang.”
Alisyah menunduk, lalu mengangkat wajah. “Aku memang merasa berhasil. Aku pikir aku bisa mendapatkan yang kuinginkan kalau membuatmu takut. Aku tidak akan mengatakan kamu salah mengingatnya.”
Mili menarik napas panjang. “Kamu melakukan itu untuk Dion?”
“Iya. Aku menerima barang darinya untuk menyingkirkan perempuan yang tidak ingin dia temui lagi. Tapi aku sendiri yang memilih mengancammu. Dia tidak membuat tanganku bergerak atau memaksaku mengatakan kalimat itu.”
Mili memandangnya beberapa saat. Ia tidak bertanya lebih jauh tentang barang-barang yang diterima Alisyah. Yang dimintanya tetap sama: jangan ada lagi salinan yang dapat digunakan untuk mengancam.
Mereka menyepakati cara memeriksa penyimpanan tanpa menampilkan foto kepada orang di sekitar. Alisyah menjelaskan apa yang akan dihapus sebelum melakukannya. Ia tidak membuka gambar itu untuk membuktikan bahwa ia mengenalinya. Mili melihat konfirmasi penghapusan, lalu meminta ia memeriksa cadangan yang dapat diaksesnya.
Ada satu salinan otomatis yang masih tersimpan. Alisyah mengaku menemukannya dan menghapusnya juga, termasuk dari tempat penyimpanan sementara layanan tersebut. Sesudah selesai, ia menutup perangkat.
“Aku sudah menghapus salinan dalam perangkat dan akun yang dapat kuakses,” katanya. “Aku tidak pernah mengirim foto itu kepada orang lain. Aku tidak bisa menjanjikan keadaan perangkat yang bukan milikku, tapi aku tidak menyimpan cadangan untuk diriku.”
Mili meminta konfirmasi tertulis tanpa lampiran gambar. Alisyah mengetiknya, membacakan kalimatnya, lalu mengirim hanya setelah Mili menyatakan isinya sesuai. Ia tidak meminta Mili menghapus bukti ancaman atau berjanji tidak melapor.
“Aku belum memutuskan mau melakukan apa,” ujar Mili.
“Aku tidak akan menghalangi kalau kamu mencari bantuan.”
“Kamu bisa mendapat masalah.”
Alisyah menggenggam gelasnya, tetapi tidak meminumnya. “Aku tahu.”
Mili memandang ke luar jendela. “Aku tidak ingin semua orang tahu.”
“Aku tidak akan menceritakan foto atau pembicaraan ini kepada teman lain. Manda hanya tahu kamu ingin bicara dan aku memintanya menunggu.”
“Dan Dion?”
“Aku tidak akan memberinya kabar tentangmu. Kalau dia punya sesuatu yang harus dia pertanggungjawabkan, itu tidak membuatnya berhak mendengar isi pertemuan ini.”
Mili mengangguk pelan. Ia mengatakan masih marah dan tidak ingin didekati di kampus. Jika ada informasi penting mengenai foto, Alisyah dapat menyampaikannya secara terbatas. Selain itu, ia tidak ingin pesan tambahan untuk memastikan apakah dirinya sudah memaafkan.
Alisyah menerima. Ia tidak menambahkan tawaran hadiah atau bertanya apakah mereka bisa berteman. Ketika Mili ingin pulang, ia membiarkan pertemuan selesai. Manda baru menghampiri setelah perempuan itu pergi.
“Kamu mau cerita?”
“Aku sudah melakukan yang dimintanya. Selebihnya bukan untuk diceritakan.”
Manda mengangguk dan mengajaknya berjalan ke halte. Untuk beberapa saat Alisyah diam. Ia telah terbiasa mencari kalimat terakhir yang membuatnya tampak menang. Hari itu ia harus pulang tanpa mendapatkannya.
Sepekan kemudian Mili mengabarkan bahwa untuk saat ini ia tidak akan mengajukan laporan formal. Keputusan itu bukan pengampunan dan bukan izin untuk kembali mendekat. Alisyah menjawab singkat bahwa ia akan menghormatinya. Sesudah itu ia tidak memulai percakapan baru.
Di kampus mereka sempat berpapasan. Mili berjalan bersama seorang teman. Alisyah memberi jalan dan melanjutkan urusannya sendiri. Ia tidak menganggap diamnya Mili sebagai tantangan untuk mencari cara yang lebih manis agar diterima.
Malamnya, ketika Gea meminta tolong mencari foto jadwal kuliah di galeri, Alisyah menyerahkan gambar yang diperlukan saja. Ia mulai lebih sadar bahwa memiliki sebuah berkas tidak membuatnya berhak memakai kehidupan seseorang sebagai alat. Yang telah dihapus hari itu tidak menghapus ketakutan yang pernah dibuatnya. Ia masih harus menunjukkan bahwa ancamannya benar-benar berhenti.
***
Pesan Dion datang beberapa hari kemudian. Ia menanyakan apakah Alisyah bersedia berbicara. Kali ini tidak ada nama perempuan yang harus dijauhkan atau hadiah yang ditawarkan agar ia mau membantu.
Alisyah membalas bahwa ia bersedia bertemu setengah jam di tempat umum. Ia tidak ingin membahas isi pertemuannya dengan Mili. Ia juga tidak bersedia membawa pesan kepada Azka. Dion menyetujuinya, lalu datang pada waktu yang dipilih bersama.
“Aku kira kamu akan langsung memarahiku,” katanya setelah duduk.
“Kalau kamu rindu dimarahi, aku bisa mengatur waktu. Tapi sekarang aku ingin bicara tentang pekerjaan yang dulu kamu berikan kepadaku.”
Dion terdiam. Alisyah membuka percakapan lama mengenai tas dan sepatu, menunjukkan bagian tawaran barang, lalu mengunci layar kembali. Tidak ada foto Mili di dalamnya.
“Kamu meminta aku menyingkirkan pacarmu ketika kamu bosan. Aku menerima imbalan dan merasa pintar karena mendapat barang. Kita membuat perempuan lain menghadapi pertengkaran yang seharusnya kamu selesaikan sendiri.”
“Aku memang memakai kamu sebagai tameng.”
“Itu bukan cuma nama lucu untuk hubungan kita.”
Dion mengusap tengkuk. Ia mengakui pernah menelepon dan menawarkan bayaran lebih ketika Alisyah menolak menemuinya. Ia ingin bebas dari percakapan yang tidak menyenangkan tanpa harus menjadi orang yang mengakhirinya sendiri.
“Aku tidak bisa bilang kamu menyuruhku mengancam,” kata Alisyah. “Aku melakukan bagianku sendiri. Tapi kamu juga tidak bisa mengatakan kamu hanya punya pacar yang kebetulan saling bertengkar.”
“Aku mengerti.”
“Kalau nanti kamu bicara kepada orang lain, jangan sebut aku pacarmu yang cemburu. Kita tidak pernah menjalani hubungan itu.”
Dion mengangguk. Ia mengatakan akan meluruskan kepada orang yang pernah menerima cerita tersebut darinya. Alisyah tidak meminta ia membuat pengumuman besar atau menyebut nama para perempuan di grup keluarga. Ia hanya ingin Dion berhenti menggunakan cerita palsu untuk melindungi dirinya.
“Aku juga akan berhenti menerima tugas seperti itu,” lanjutnya. “Kalau kamu tidak ingin bersama seseorang, katakan sendiri kepadanya.”
“Tidak akan ada permintaan lagi.”
Alisyah mendengar jawaban itu tanpa tersenyum. Ia pernah menikmati kemudahan yang datang dari hubungan mereka. Kini menghentikannya berarti ia juga kehilangan jalan cepat memperoleh barang yang diinginkan. Ia tidak ingin menyebut dirinya hanya korban Dion setelah selama ini menerima keuntungan dengan senang hati.
Dion meminta maaf. Alisyah mengatakan ia mendengar, kemudian menjelaskan bahwa ia tidak akan memberi laporan mengenai orang yang pernah ditekan untuk kepentingannya. Bila seseorang memilih tidak menjawab Dion, ia juga tidak dapat diminta membuka jalan lewat pertemanan.
“Aku tidak akan menghubungi Mili untuk menanyakan apa yang kamu lakukan,” kata Dion.
“Jangan jadikan namaku alasan menghubungi siapa pun.”
Ia tidak mengatakan apakah Mili telah memaafkan, hendak melapor, atau masih menyimpan bukti. Dion tidak mendapatkan jawaban untuk hal-hal yang bukan miliknya.
Menjelang akhir pertemuan, pembicaraan beralih kepada Azka. Dion bertanya apakah ia masih akan menikahi kakaknya. Alisyah menatapnya sampai lelaki itu berhenti memainkan kertas pembungkus sedotan.
“Tidak ada pernikahan yang sedang disiapkan. Aku tidak meminta kamu membujuknya atau menyampaikan kabar tentangku.”
“Aku tidak tahu soal alat tes itu sebelum semuanya dijelaskan,” ujar Dion.
“Aku tidak menuduhmu membuatnya. Aku berbohong di jalan. Azka memilih meneruskan kebohongan. Aku tidak mau sekarang kita mengarang seorang dalang supaya orang lain bisa merasa lebih ringan.”
Dion mengangguk. Ia tidak lagi bertanya apakah Alisyah mau kembali memanggilnya pacar pura-pura. Ketika setengah jam selesai, mereka membayar pesanan masing-masing dan pergi ke arah berbeda.
Malamnya Dion mengabarkan telah meluruskan kepada Azka bahwa hubungan mereka dulu adalah pengaturan berbayar untuk menghindari pacar-pacarnya, bukan hubungan romantis. Ia tidak meminta Alisyah mengesahkan isi percakapan mereka. Alisyah menyimpan pesan tersebut dan tidak menghubungi Azka untuk melanjutkan pembahasannya.
Di meja kos, Gea sedang menghitung uang belanja yang terkumpul. Ada selisih kecil karena ia memasukkan harga jajanan pribadinya. Alisyah menunjuk baris itu.
“Yang itu bayar sendiri.”
“Tidak bisa dianggap kebutuhan bersama?”
“Keinginanmu makan bukan kewajiban seluruh penghuni.”
Manda tertawa dari dekat kompor. Alisyah ikut tersenyum, kemudian membantu menghitung ulang. Ia belum mempunyai jawaban untuk semua hubungannya dengan orang lain. Namun satu pengaturan telah berakhir: ia tidak akan lagi mencari keuntungan dengan membuat seseorang takut ditinggalkan pria yang bahkan tidak mau berbicara jujur kepadanya.