Beberapa minggu setelah persiapan pernikahan dihentikan, Alisyah masih menyimpan panduan layanan mahasiswa di mapnya. Ia sudah dapat mengikuti kelas, menyerahkan tugas sendiri, dan pulang tanpa panggilan yang memerintahkannya membersihkan ruang Azka. Tetapi ketika melewati gedung yang sama, ingatan tentang pintu terkunci tidak ikut selesai.
Ia mulai mempertimbangkan apakah ingin mendengar Azka membicarakan hal itu secara langsung. Bukan untuk menanyakan apakah ia boleh melapor. Alisyah hanya ingin mengetahui apakah Azka memahami apa yang telah dilakukannya selain berbohong mengenai kehamilan.
Setelah memikirkannya beberapa hari, ia mengusulkan satu pertemuan di kedai yang ramai. Manda akan menunggu di meja terpisah. Tidak ada pembicaraan tentang tanggal nikah atau tugas kampus yang harus dikerjakan Alisyah. Azka menerima tanpa mengubah tempat.
Ketika mereka bertemu, Alisyah meletakkan ponselnya di tas. Ia tidak ingin seluruh perhatiannya habis mencari kalimat yang harus diucapkan. Azka duduk di seberang, menunggu sampai pesanan datang.
“Aku ingin membahas hari pertama,” kata Alisyah.
Azka mengangguk, tetapi wajahnya menegang.
“Kamu mengusirku dari kelas tanpa menjelaskan. Lalu menyeretku dari kantin, memasukkanku ke ruangan, dan mengancam akan mengeluarkanku dari kampus kalau aku menolak menjadi asisten. Waktu pergi, kamu mengunci pintu dari luar.”
“Iya.”
“Aku tidur di sana, lalu bangun masih tidak bisa keluar. Aku mendobrak sampai kamu kembali membuka pintu. Itu bukan perdebatan ketika aku kebetulan tidak ingin meninggalkan ruangan.”
Azka memandang kedua tangannya. “Aku menguncinya. Aku membuatmu tetap di sana.”
Alisyah membiarkan jawaban itu terdengar tanpa menambahkan pertanyaan berikutnya. Ia tidak ingin sesuatu yang jelas terjadi diganti menjadi perbedaan perasaan tentang pintu yang tertutup.
“Apa yang kamu pikirkan waktu itu?”
“Aku tidak suka orang lain menatapmu. Aku merasa berhak menyuruhmu berganti pakaian dan mengatur apa yang kamu lakukan. Aku menyebutnya peduli, padahal aku memakai posisiku untuk memaksa.”
“Kalau begitu, jangan bilang aku terlalu bandel sehingga kamu harus tegas.”
“Aku tidak akan mengatakan itu.”
Alisyah mengambil air. Tangannya masih menegang ketika meletakkan gelas. “Aku memang sering malas. Aku pernah bolos dan menitip absen. Tapi itu harus ditangani sebagai urusan kuliah, dengan aturan yang bisa kutahu. Bukan membuatku bekerja untukmu karena takut.”
“Benar.”
“Dan membuatku percaya aku tidak bisa menolakmu di luar kampus.”
Azka menarik napas. Ia mengakui bahwa surat penarikan ancaman tidak dapat membatalkan hari ketika Alisyah ketakutan. Ia juga mengatakan ia tidak akan meminta surat itu dianggap sebagai bukti bahwa ia sudah berubah.
“Aku belum memutuskan tentang pengaduan,” ujar Alisyah. “Kalau aku memilih melanjutkan, aku tidak mau kamu menghubungi keluargaku untuk menghentikannya.”
“Aku akan menjawab melalui pihak yang menangani. Aku tidak akan meminta kamu menariknya.”
Ia mendengar jawaban itu, kemudian mengalihkan pembicaraan kepada perbuatannya sendiri. Alisyah tidak ingin menjadikan kedudukannya sebagai orang yang pernah ditekan alasan untuk memotong bagian ketika dirinya memilih menyakiti.
“Aku berbohong di jalan supaya perempuan yang kupikir pacarmu marah kepadamu. Aku ingin membuatmu panik dan dipermalukan. Aku menyesal menampar dan menuduhmu. Tapi aku tidak pernah melakukannya untuk meminta kamu menikahiku.”
“Aku tahu.”
“Kamu memilih menggunakan cerita itu supaya keluargaku tidak mendengar penolakan. Itu keputusanmu.”
Azka mengangguk. “Aku tidak akan memakai kebohonganmu untuk membenarkan yang kulakukan.”
Alisyah memandang ke luar jendela. Ada mahasiswa berjalan dengan kantong makan siang. Dunia tetap bergerak dengan persoalan yang lebih ringan, sementara ia duduk berhadapan dengan seseorang yang mula-mula hanya dikenalnya sebagai dosen pengganti. Mereka belum pernah menjadi pasangan yang saling memilih. Ia tidak berutang usaha mengembalikan hubungan yang tidak pernah disetujuinya.
“Apa keluargamu masih mengira kita tunangan?”
“Aku sudah mengatakan tidak ada persiapan atau status yang boleh dipakai untuk meminta jawaban darimu.”
“Pastikan mereka tidak menerima kabar lain setelah pertemuan ini.”
“Baik.”
Ketika waktu yang mereka sepakati hampir habis, Alisyah mengatakan ingin berhenti. Azka tidak menawarkan menambah setengah jam atau meminta kesempatan memperbaiki suasana. Ia membayar pesanannya dan berpamitan. Manda menghampiri setelah ia pergi.
Alisyah duduk beberapa menit lagi. Ia tidak merasa lega seperti telah menyelesaikan semua persoalan. Ia justru letih setelah mendengar peristiwa yang selama ini diingatnya sendirian diucapkan orang yang melakukannya.
“Mau ke mana?” tanya Manda.
“Kos. Aku mau makan sesuatu yang tidak harus dibicarakan sebelum ditelan.”
“Gea punya banyak pendapat tentang menu kita.”
“Kalau begitu, tunda pulang lima menit.”
Manda tertawa pelan. Mereka akhirnya berjalan ke halte bersama. Di perjalanan, Alisyah tidak meminta pendapat apakah Azka pantas dimaafkan. Ia hanya mengatakan pertemuan berjalan sesuai kesepakatan dan ia ingin memikirkan langkah kampus berikutnya.
Malam itu ia menulis ringkasan untuk dirinya: Azka mengakui mengunci pintu, mengancam status, dan memaksakan pekerjaan sejak awal. Ia tidak menuliskannya sebagai bukti bahwa tindakannya sudah berubah. Catatan itu menyimpan apa yang dikatakan, sementara keputusan tentang proses tetap perlu ditangani melalui orang yang tepat.
Sesudah menutup buku, ia membuka kembali panduan layanan mahasiswa. Ada jam konsultasi pada Senin. Ia mengirim permintaan jadwal dari alamat surel kampus dan menanyakan apakah boleh datang untuk mencari informasi sebelum memutuskan membuat laporan.
Balasannya tiba keesokan hari. Ia dapat berkonsultasi dan membawa pendamping jika menginginkan. Alisyah menyimpan jadwal tersebut. Untuk pertama kalinya, pintu yang akan dimasukinya dipilih dengan mengetahui siapa yang berada di baliknya dan untuk apa ia datang.
***
Bu Ratna memperkenalkan diri ketika Alisyah masuk ke ruang layanan mahasiswa. Ia menunjukkan kursi dan bertanya apakah Alisyah ingin Manda ikut duduk. Alisyah memilih memulai sendiri, sementara temannya menunggu di luar.
“Saya belum memutuskan akan mengajukan laporan,” katanya. “Saya ingin tahu prosesnya dahulu.”
Bu Ratna menjelaskan perbedaan konsultasi awal dan pengaduan formal. Ada hal yang dapat dibicarakan untuk memperoleh informasi, dan ada keterangan yang perlu dibagikan kepada pihak terkait jika pemeriksaan diteruskan. Ia tidak menjanjikan seluruh proses akan berlangsung tanpa membuat Alisyah lelah. Ia juga tidak menjanjikan keputusan tertentu.
Alisyah bertanya siapa yang akan memeriksa jika orang yang diadukan mempunyai kedudukan sebagai pemilik sekaligus pengajar.
“Saya takut pada akhirnya semua pertanyaan kembali kepadanya,” katanya.
Bu Ratna menjawab bahwa perkara tersebut tidak dapat diperiksa Azka atau orang yang dipilihnya sendiri untuk membenarkan tindakannya. Unit pengawasan yang tidak berada di bawah keputusan pengajarannya akan dilibatkan, dengan pembagian kewenangan yang disampaikan dalam pemberitahuan proses. Alisyah meminta penjelasan itu tertulis sebelum memberikan persetujuan melanjutkan.
“Saya tidak meminta orang percaya hanya karena saya bercerita,” tambahnya. “Tapi saya ingin tahu saya tidak harus meminta izin orang yang saya laporkan supaya keterangannya diperiksa.”
Permintaan itu dicatat. Bu Ratna menunjukkan jalur untuk bertanya kembali dan menjelaskan siapa yang dapat mengakses berkas. Tidak semua rincian akan diumumkan ke fakultas. Namun jika laporan diajukan, Azka perlu menerima informasi yang cukup untuk menjawab peristiwa yang diperiksa.
Alisyah mendengarkan sampai selesai sebelum bertanya tentang pendamping, kemungkinan jadwal terpisah, dan cara memperbaiki catatan jika ada tanggal yang salah. Ia tidak menyerahkan ponsel atau meminta Bu Ratna membaca seluruh hidupnya. Hari itu ia pulang membawa formulir kosong, panduan, serta alamat kontak.
Di luar, Manda mengulurkan roti.
“Bagaimana?”
“Lebih jelas. Ternyata jelas tidak selalu berarti lebih ringan.”
“Roti ini cukup ringan. Gea tidak membuatnya.”
Alisyah tersenyum dan duduk di bangku halaman. Mereka makan sebelum menuju kelas. Ia tidak menelepon Azka untuk menceritakan konsultasi tersebut, dan tidak ada pemberitahuan kepada pria itu mengenai percakapan awal yang belum menjadi laporan.
***
Pada Rabu sore Alisyah mulai menyusun kronologi. Ia menulis pengenalan di kelas, perintah membersihkan ruangan, ancaman DO, pintu terkunci, serta tugas-tugas yang kemudian dibawa ke kos. Ia memberi tanda ketika tidak mengingat tanggal persis, tanpa mengubah urutan dasarnya.
Manda memeriksa setelah diminta. Ia menunjukkan satu paragraf yang mencampurkan pesan pada hari libur dengan kejadian di ruang kerja.
“Ini yang waktu kamu tidur dan pura-pura sinyalnya jelek?”
“Iya.”
“Kalau begitu, pisahkan. Aku ingat kamu mengomel tentang itu belakangan, bukan hari pertama.”
Alisyah membetulkan susunannya. Ia mencatat bahwa Manda mengetahui tugas yang dibawa serta cerita setelah kejadian, bukan berada dalam ruangan ketika pintu dikunci. Ia tidak ingin temannya dijadikan saksi untuk sesuatu yang tidak dilihatnya.
Pesan Azka tentang tugas masih ada. Alisyah menyimpan bagian yang relevan, menjaga tanggal dan pengirimnya tetap terbaca. Percakapan mengenai hal pribadi yang tidak berkaitan tidak dimasukkan. Surat penarikan ancaman dan pengakhiran tugas asisten dilampirkan sebagai tindakan sesudah kejadian, bukan dokumen yang menyatakan ia pernah setuju sejak awal.
Ketika menulis dampaknya, ia berhenti lama. Ia ingin menghapus kalimat tentang rasa takut memasuki gedung karena terdengar lemah. Akhirnya ia membiarkannya. Berteriak kepada Azka dalam kejadian lain tidak membuat dirinya selalu berani ketika masa kuliahnya diancam.
Ia juga tidak menulis bahwa dirinya telah benar-benar dikeluarkan. Pemeriksaan administrasi membuktikan statusnya tetap aktif. Yang perlu dijelaskan adalah ancaman yang dipakai untuk memaksa, bukan akibat administratif yang tidak pernah terjadi.
Keesokan harinya, penjelasan tertulis mengenai penanganan perkara dan batas akses informasi tiba. Alisyah membaca, mengirim dua pertanyaan tambahan, kemudian menerima jawaban sebelum menandatangani. Ia meminta agar komunikasi proses melalui layanan mahasiswa, sementara nilai dan kelas tetap dikelola pengajar lain.
Mama mengetahui ia sedang mempertimbangkan laporan. Ia menawarkan menyimpan salinan dokumen di rumah, tetapi tidak menghubungi keluarga Azka. Alisyah menerima bantuan penyimpanan setelah memastikan hanya bagian yang ingin diberikannya yang dibawa.
Pada Jumat malam ia membaca berkas terakhir kali. Ada keinginan mengirim pesan kepada Azka bahwa ia tidak bermaksud menghancurkan hidupnya. Ia hampir mengetik, lalu meletakkan ponsel. Jika ia menenangkan Azka sebelum memberi keterangan, keputusan itu akan kembali berputar pada reaksinya.
Sabtu pagi ia mengirim laporan melalui alamat resmi yang diberikan. Tanda penerimaan otomatis disimpannya. Ia tidak mengirim ulang hanya karena belum ada jawaban orang yang membacanya. Setelah itu ia menutup laptop dan membantu Gea membersihkan meja.
“Sekarang apa?” tanya temannya.
“Menunggu konfirmasi. Lalu mengerjakan tugas kelompok.”
“Aku berharap jawaban keduanya melibatkan makan.”
“Makan dulu. Tugas tetap ada.”
Tiga hari kemudian layanan mahasiswa memberikan nomor rujukan dan menjelaskan bahwa Azka akan menerima pemberitahuan terpisah. Alisyah diminta mengonfirmasi kebutuhan akademiknya dan menghubungi petugas bila ada tekanan baru. Ia membalas melalui jalur yang sama.
Azka tidak datang ke kos atau meminta Dion membicarakan laporan. Pemberitahuan bahwa tanggapannya sedang disiapkan diterima Alisyah dari pihak kampus, tanpa percakapan pribadi yang harus dibalasnya. Untuk sementara, semua orang mempunyai bagian yang jelas: ia memberikan keterangan, Azka menjawab, dan pemeriksa membandingkan fakta.
Alisyah masih gelisah setiap melihat surel baru. Ia menaruh nomor rujukan di bagian depan map, kemudian menyimpan berkasnya di laci. Ia mempunyai kelas pagi dan ingin tidur sebelum terlalu larut. Membiarkan proses berjalan tidak mengharuskannya berjaga di depan layar sepanjang malam.