Wawancara pertama berlangsung beberapa minggu sesudah laporan diterima. Sebelum Alisyah masuk, Bu Ratna menyampaikan nama tiga pemeriksa beserta perannya. Seorang koordinator akademik akan memeriksa pengaturan belajar, sementara seorang anggota unit pengawasan yang tidak berada dalam kewenangan pengajaran Azka memimpin pemeriksaan perilakunya. Bu Ratna mendampingi proses layanan mahasiswa.
Alisyah meminta Manda ikut pada bagian yang mengizinkan pendamping. Temannya tidak menjawab menggantikannya. Ketika ditanya tentang hari pertama, Alisyah menjelaskan pakaian yang dipermasalahkan Azka, pengusiran dari kelas, serta perintah ikut dari kantin.
“Apakah saat itu Anda menawarkan diri menjadi asisten?”
“Tidak. Saya disuruh. Saya menolak, kemudian dia mengatakan saya bisa dikeluarkan.”
Ia memisahkan peristiwa itu dari pekerjaan yang kemudian dibawanya ke kos. Tidak ada masa awal ketika ia memilih pekerjaan tersebut lalu berubah pikiran setelah bertengkar sebagai pacar. Mereka belum pernah menyepakati hubungan pribadi apa pun.
Pemeriksa menanyakan pintu ruangan. Alisyah menceritakan Azka meninggalkannya, pintu yang tidak dapat dibuka ketika ia bangun, serta Azka akhirnya datang membuka dari luar. Ia memperkirakan tiga jam berada di dalam berdasarkan urutan hari itu, sebagaimana diingatnya sejak kejadian.
“Apakah pendamping Anda berada di sana?”
“Tidak. Manda mengetahui sebagian sesudahnya. Saya tidak meminta keterangannya dipakai seolah dia melihat pintunya.”
Manda mengangguk ketika mendapat giliran. Ia menjelaskan tugas yang dilihat di kos dan keluhan Alisyah mengenai perintah pada hari libur. Ia tidak menambah cerita tentang ruangan yang tidak pernah dimasukinya.
Sesudah itu Alisyah keluar sebentar untuk minum. Ia ingin seluruh pemeriksaan segera selesai, tetapi ketika ditawari meneruskan tanpa jeda, ia memilih sepuluh menit. Di halaman, Manda menggeser kursinya ke tempat teduh.
“Aku terdengar menyebalkan?” tanya Alisyah.
“Kamu terdengar capek.”
“Aku takut mereka berpikir aku hanya mahasiswa yang marah karena disuruh belajar.”
“Kamu tetap harus belajar. Itu tidak menjawab kenapa pintu dikunci.”
Alisyah menatap gelasnya, lalu kembali ketika waktu jeda berakhir. Pada bagian berikutnya ia menyerahkan pesan yang masih tersimpan. Beberapa tanggal cocok dengan tugas dan jadwal kuliah. Ada pula keterangan yang hanya bersandar pada ingatannya. Ia membiarkan perbedaan itu tercatat tanpa mencari percakapan lain untuk mengisi bagian yang tidak mempunyai dokumen.
Azka dimintai keterangan pada jadwal terpisah. Alisyah tidak menunggu di luar ruangannya. Beberapa hari kemudian ia menerima ringkasan bagian yang perlu ditanggapinya. Azka mengakui ancaman status, pemaksaan pekerjaan, serta tindakannya mengunci pintu dari luar. Ia tidak menyebut pintu sekadar tertutup atau menganggap Alisyah bebas pergi sepanjang waktu.
Membaca pengakuan tertulis itu tidak membuat Alisyah gembira. Ia memikirkan betapa lama dirinya berusaha meyakinkan orang mengenai penolakan pernikahan, lalu kini membaca kalimat sederhana bahwa keputusan awalnya memang tidak dihormati.
Ia memberi satu koreksi pada ringkasan: tugas pribadi dan tugas akademik yang dipaksa dikerjakannya harus dibedakan, tanpa mengubah kenyataan bahwa keduanya bukan pekerjaan yang dipilihnya. Ia juga menegaskan tidak ada keputusan DO yang benar-benar diterbitkan. Ancaman itu tetap terjadi meskipun administrasi tidak pernah menjalankannya.
Marcel memberikan keterangan mengenai penilaian yang kemudian ditanganinya. Ia tidak diminta membenarkan kejadian pintu, karena tidak berada di sana. Catatan administrasi dipakai untuk memastikan status aktif dan tindak lanjut tugas. Tidak ada rekaman yang tiba-tiba ditemukan atau saksi yang mengetahui semua percakapan.
Pemeriksaan berlangsung melalui beberapa jadwal, diselingi hari ketika Alisyah tetap harus mengerjakan kuis dan mencuci pakaian. Pada suatu sore Nana menanyakan kabar sambil menyebut betapa sulitnya menghadapi dosen yang menjadi keluarga. Alisyah mendengarkan kisah temannya, kemudian menjawab bahwa keadaannya sendiri tidak sama.
“Aku belum menikah dengan Azka. Aku juga tidak membuat laporan untuk memutuskan akan menikah atau tidak.”
Nana terdiam, lalu meminta maaf karena terlalu cepat menghubungkan keduanya. Sesudah itu mereka membicarakan tugas. Alisyah bersyukur percakapan berhenti tanpa nasihat agar ia mengalah demi keluarga yang bahkan belum menjadi keluarganya.
***
Seminggu setelah tanggapan terakhirnya dikirim, Alisyah menerima pemberitahuan bahwa hasil pemeriksaan siap dijelaskan. Ia memilih datang bersama Manda. Kali ini ia membawa buku kecil, bukan seluruh map yang membuat bahunya pegal selama berminggu-minggu.
Pemeriksa menyampaikan kesimpulan tentang penyalahgunaan kewenangan: ancaman status akademik, pekerjaan asisten yang dipaksakan sejak awal, dan pembatasan kebebasan keluar dari ruangan. Pengakuan Azka serta keterangan yang saling bersesuaian dicatat bersama batas bukti pada bagian lain. Keputusan itu tidak menyebut pertengkaran pasangan sebagai asal peristiwa.
Azka tidak boleh mengajar, menilai, membimbing, atau mengambil keputusan akademik mengenai Alisyah selama masa studinya. Pengaturan pengajar pengganti dan jalur administrasinya dijelaskan agar larangan tersebut tidak hanya menjadi kalimat yang harus dijaga Alisyah sendirian. Ia tidak perlu menghubungi Azka untuk meminta suatu tanda tangan yang sebelumnya menjadi kewenangannya.
Selain pembatasan tersebut, Azka diwajibkan mengikuti pembinaan etika dan pengawasan profesional. Jadwal peninjauan dicantumkan dalam keputusan. Selesainya kegiatan pembinaan tidak akan menghapus larangan akademik terhadap Alisyah, dan peninjauan bukan janji bahwa tidak mungkin terjadi pelanggaran baru.
“Kalau saya mengalami tekanan setelah ini?” tanyanya.
Bu Ratna menunjukkan kontak yang dapat dihubungi dengan nomor perkara yang sama. Alisyah meminta salinan pengaturan itu. Ia tidak diminta menandatangani pernyataan telah memaafkan Azka atau berjanji tidak membawa persoalan lain di kemudian hari.
Ia membaca lembar penerimaan sebelum menandatangani. Keputusan kampus itu tidak memulihkan tiga jam yang hilang atau mengembalikan rasa aman seketika. Namun ketika keluar, ia mengetahui perkuliahannya tidak lagi bergantung pada apakah Azka sedang menyukainya.
Di kantin, Manda bertanya apakah ia ingin merayakan. Alisyah memesan makan siang dan menambahkan telur.
“Ini perayaan?”
“Ini aku lapar karena tadi terlalu tegang untuk sarapan.”
Manda tidak memaksanya memilih perasaan yang lebih indah. Mereka makan, lalu berpisah menuju kelas masing-masing.
Azka menerima penjelasan keputusan secara terpisah. Ia mengirim tanggapan melalui pihak yang menangani, menerima kewajiban dan pembatasan tanpa meminta Alisyah mengubah keterangan. Alisyah membaca pemberitahuannya sekali. Ia tidak mengirim ucapan terima kasih atas kepatuhan yang memang diwajibkan.
Menjelang akhir semester, pengaturan itu mulai terlihat pada hal kecil. Surat yang membutuhkan penanggung jawab ditangani koordinator lain. Nilainya keluar dari pengajar yang mengajarnya. Ketika ada pertanyaan tentang jadwal, petugas tidak menyuruhnya mencari Azka di ruang kerja. Tidak semuanya menjadi mudah, tetapi ia tidak lagi berdiri di depan pintu yang sama untuk meminta kebebasan belajar.
Ia masih marah pada beberapa hari. Pada hari lain ia dapat menonton film sampai lupa memeriksa ponsel. Keduanya tidak mengubah keputusan yang sudah berlaku. Ketika ujian terakhir selesai dan teman-temannya merencanakan libur, Alisyah memasukkan salinan hasil pemeriksaan ke map rumah. Buku catatannya yang lain berisi daftar mata kuliah semester berikutnya dan tiga tempat makan yang ingin dicoba bersama Gea.