Sesudah libur, Alisyah kembali ke kos dengan satu koper, dua kantong oleh-oleh, dan janji kepada Mama bahwa ia akan berhenti menunda tugas sampai malam terakhir. Gea mendengarkan janji itu sambil membantu mengangkat koper.
“Aku tidak minta kamu bersumpah,” katanya. “Aku hanya minta oleh-olehnya tidak ikut dimasukkan ke lemari.”
Semester baru dimulai dengan proyek penelitian konsumen. Kelompok Alisyah memilih kebiasaan membeli makanan di sekitar kampus. Gagasannya semula sederhana: membuat kuesioner pendek dan mengumpulkan sebanyak mungkin jawaban. Pada pertemuan kedua, mereka menyadari pertanyaan tentang harga menggabungkan uang makan satu hari dengan harga satu porsi.
Alisyah yang mengetik formulir harus membetulkannya. Ia ingin mengatakan semua orang telah membacanya, tetapi tangannya sendiri yang menutup diskusi terlalu cepat. Ia mengirim versi perbaikan dan meminta kelompok menguji pertanyaan kepada beberapa orang dahulu. Hasil uji itu membuat mereka membuang satu pertanyaan lain yang hanya dapat dijawab dengan menebak.
Untuk pertama kalinya ia menikmati proses yang sebelumnya akan diserahkan kepada anggota paling rajin. Ada rasa puas ketika jawaban tidak lagi harus dipaksa cocok dengan dugaan awalnya. Ia masih suka menggerutu saat menyusun tabel. Bedanya, ia menggerutu sambil mengerjakannya.
Pada masa itu ia belum berkomunikasi pribadi dengan Azka. Sesudah beberapa minggu menjalani semester baru, ia mengirim pesan melalui penghubung layanan untuk menanyakan apakah Azka bersedia bertemu singkat di tempat umum. Ia memilih sendiri waktu yang tidak berdekatan dengan kewajiban kuliah. Pembicaraan tersebut tidak berhubungan dengan pencabutan keputusan.
Azka datang tanpa hadiah. Ia menjelaskan kegiatan pembinaan yang sedang dijalaninya hanya ketika Alisyah bertanya, tanpa menyerahkan laporan kemajuan sebagai alasan meminta kepercayaan. Ia tidak mengatakan telah menjadi orang yang berbeda dalam beberapa minggu.
“Aku belum tahu ingin mengenalmu lebih jauh atau tidak,” kata Alisyah. “Aku datang karena ingin melihat apakah sekarang aku bisa mengakhiri percakapan tanpa harus bertengkar.”
“Kalau kamu ingin pergi, bilang saja.”
Mereka berbicara tentang hal ringan yang tidak bergantung pada ingatan romantis bersama. Alisyah baru mengetahui Azka menyukai jenis buku tertentu. Mereka belum pernah mempunyai kebiasaan saling meminjam buku atau mendengarkan lagu berdua sebelum semua persoalan terjadi. Kini pun ia belum menawarkan untuk membuat kebiasaan itu.
Ketika waktu yang disepakati selesai, ia mengatakan harus pulang mengolah hasil kuesioner. Azka tidak meminta membawa pekerjaan itu untuk dibantu. Ia berpisah di depan kedai dan naik kendaraan sendiri. Pertemuan berikutnya tidak langsung dijadwalkan.
Di kos, Manda mendengarkan ceritanya sambil menata meja kelompok. Ia tidak menyimpulkan Alisyah sedang jatuh cinta hanya karena pertemuan itu tidak berakhir buruk.
“Kamu ingin ketemu lagi?”
“Mungkin. Tidak minggu ini.”
“Bagus. Minggu ini aku ingin ketemu bagian analisismu.”
Alisyah melempar bantal kecil ke arahnya, kemudian membuka laptop. Pada akhir proyek, kelompoknya mempresentasikan perbedaan antara jawaban mengenai harga dan alasan orang memilih warung tertentu. Salah satu penguji mempertanyakan sampel mereka yang terlalu dekat dengan lingkar pertemanan sendiri. Alisyah menjawab batasnya dengan jujur. Ia tidak menambahkan responden yang tidak pernah diwawancarai hanya agar angka terlihat meyakinkan.
***
Komentar atas proyek itu mendorong Alisyah mencari kesempatan belajar di luar tugas kelas. Ia melihat pengumuman magang riset konsumen melalui layanan karier kampus, lalu membaca persyaratannya sebelum membicarakan dengan siapa pun. Jadwalnya tiga hari kerja setiap minggu selama satu semester. Ada bagian pekerjaan yang dapat dilakukan jarak jauh, tetapi pertemuan dan pengambilan data tetap harus dihadiri.
Ia membandingkan jam tersebut dengan jadwal kuliah semester yang sedang dijalaninya. Tidak ada permintaan kepada Azka agar mencarikan lowongan atau mengenalkannya dengan pemilik perusahaan. Ketika Manda menyarankan memasukkan proyek kelompok ke riwayat hidup, Alisyah menuliskan bagian yang benar-benar dikerjakannya, termasuk perbaikan kuesioner. Ia meminta izin anggota lain sebelum mencantumkan tautan hasil bersama.
Wawancaranya dilakukan Bu Sinta. Alisyah sempat menghafal kalimat tentang kelebihan diri, tetapi pertanyaan pertama justru meminta contoh kesalahan dalam proyek.
Ia menceritakan dua pengertian harga yang tercampur. Bu Sinta menanyakan cara mengetahui bahwa perubahan pertanyaannya sudah lebih mudah dipahami. Alisyah menjelaskan uji kecil mereka, lalu mengakui bahwa sampel akhirnya masih terbatas. Ia pulang tanpa mengetahui apakah kejujuran itu membuatnya lebih mungkin diterima.
Pekan berikutnya tawaran tertulis datang. Alisyah tidak langsung membalas sambil bersorak. Ia membaca jam kerja, uang saku, kewajiban menjaga data, dan orang yang menjadi pembimbingnya. Ada satu benturan dengan jadwal kuliah yang ia tanyakan dahulu. Setelah pengaturan itu disepakati dan dinyatakan tertulis, ia menerima tawaran.
Mama senang, lalu bertanya apakah ia masih akan pulang saat libur. Alisyah belum tahu tanggalnya. Ia menjawab akan memberi kabar setelah jadwal benar-benar keluar. Untuk kali ini, ketidakpastian tersebut terasa biasa: ia sedang menunggu kalender pekerjaan, bukan menunggu orang lain menentukan masa depannya.
Orientasi pertama berlangsung daring dari kamar kos. Ia memakai penyuara telinga dan menempatkan layar agar data contoh tidak terlihat orang yang lewat. Manda mengetuk untuk menawarkan makan siang, menunggu sampai Alisyah keluar, kemudian bertanya apakah ia dapat melupakan urusan kantor selama sepuluh menit.
“Bisa. Yang tidak bisa kulupakan, kamu menghabiskan sambal kemarin.”
“Ternyata pelanggaran yang masih dibahas.”
Pada hari kerja pertama di kantor, Alisyah bertemu Rani, sesama peserta magang. Bu Sinta membagi mereka dalam pekerjaan penyiapan data. Alisyah mengira memindahkan jawaban ke kategori akan lebih mudah daripada membuat pertanyaan. Menjelang siang, ia menemukan bahwa tanggapan tentang waktu pengantaran telah dimasukkan ke kelompok harga karena dirinya mengikuti kata pertama, bukan maksud jawaban.
Ia hampir memperbaiki diam-diam lalu menyerahkan tabel tanpa catatan. Akhirnya ia menunjukkan kekeliruannya kepada pembimbing. Mereka memeriksa bagian yang sudah terlanjur dikerjakan dan menyepakati contoh acuan untuk jawaban yang memuat dua persoalan sekaligus. Alisyah memperbaiki barisnya sebelum pekerjaan berikut diteruskan.
Rani bertanya apakah ia sangat takut ditegur. Alisyah tertawa pendek.
“Aku lebih takut kesalahannya ditemukan sesudah aku bilang semuanya rapi.”
Ia memperoleh tugas lanjutan setelah hasil perbaikannya diperiksa. Tidak ada penghargaan besar atau jabatan mendadak. Ia hanya diizinkan mengerjakan bagian yang sedikit lebih sulit, dengan pemeriksaan yang tetap berjalan.
Malamnya ia terlalu lelah untuk menonton dua film seperti rencana. Ia makan bersama teman-teman kos, mengabari Mama bahwa hari pertama selesai, lalu tidur. Keesokan pagi ia bangun sebelum alarm kedua. Gea sempat memotret jam di dinding untuk memperingati kejadian langka itu; Alisyah merebut bantal dan mengancam akan menagih pajak dokumentasi. Mereka tertawa, sementara tas kerjanya sudah menunggu di dekat pintu.