Satu bulan pertama magang membuat Alisyah membawa dua jenis kalender. Kalender kuliah berisi kelas dan tugas kelompok, sedangkan kalender kerja dipenuhi jadwal yang masih sering bergeser. Ia menyatukan keduanya setelah hampir menyanggupi wawancara lapangan pada jam presentasi. Bu Sinta menyetujui pertukaran jadwal yang diajukannya cukup awal, sambil mengingatkan agar perubahan berikutnya tidak diberitahukan pada pagi hari yang sama.
Pada bulan-bulan berikutnya, ketika ujian akhir semester mendekat, Alisyah mengurangi kegiatan di luar kewajiban tersebut. Ia telah beberapa kali bertemu Azka secara singkat selama bulan-bulan yang berlalu. Belum ada hubungan pacaran, dan komunikasi praktis masih melalui penghubung yang disepakati. Sebuah pesan mengenai buku baru yang dibicarakan pada pertemuan sebelumnya boleh diteruskan kepadanya; ia tidak memberi izin untuk menerima pertanyaan setiap malam.
Ia membaca buku itu tanpa meminjam milik Azka. Pada bagian yang tidak disetujuinya, ia menempelkan kertas kecil. Manda mengira catatan sebanyak itu berarti buku tersebut buruk.
“Tidak. Aku cuma ingin berdebat dengan orang yang tidak bisa memotong kalimatku.”
“Penulisnya?”
“Untuk sekarang.”
Mereka bertemu lagi di taman pada suatu sore sebelum pekan ujian. Azka datang setelah pekerjaannya selesai. Alisyah sudah berada di bangku yang dipilihnya, membawa air dan buku dengan banyak penanda. Pembicaraan mula-mula berkisar pada tokoh yang menurutnya terlalu mudah diberi alasan oleh penulis.
Azka tidak selalu menyetujuinya. Ia menunjukkan bagian yang menurutnya menjelaskan perubahan tokoh, sementara Alisyah menilai penjelasan tidak sama dengan akibat yang harus dihadapi. Perbedaan pendapat itu tidak berakhir dengan perintah atau ancaman. Ketika mereka sama-sama tertawa atas halaman yang lupa dibaca Azka, Alisyah menyadari ia tidak terus-menerus menghitung jarak menuju pintu keluar.
Ia tetap tidak menganggap rasa nyaman satu sore membatalkan hal yang lalu. Namun sesudah diam cukup lama, ia mengatakan sesuatu yang belum pernah ditawarkannya.
“Sesudah ujian, aku mau mencoba makan siang sebagai kencan. Satu kali dulu. Kalau sesudahnya aku tidak ingin melanjutkan, aku akan bilang.”
Azka menatapnya sebelum menjawab. “Aku mau. Kamu tidak harus memberi jawaban lebih jauh sekarang.”
Alisyah memilih kedai dan lama pertemuan. Jadwal persisnya baru akan ditentukan sesudah kalender ujian selesai dipastikan. Mereka tidak menyebutnya kembali pacaran. Tidak pernah ada hubungan semacam itu untuk dikembalikan.
Hari-hari berikutnya diisi ujian, pekerjaan magang yang sudah disesuaikan, dan tidur yang sering terasa kurang. Azka tidak menggunakan rencana makan siang sebagai alasan menanyakan hasil ujian atau muncul di kampus. Alisyah sendiri menahan keinginan menambah jam kerja saat ada rekan membutuhkan pengganti. Ia sudah berjanji kepada kelompok belajarnya, dan untuk sekali ini ia tidak ingin datang hanya membawa alasan.
Ujian terakhirnya jatuh pada Jumat. Ia keluar bersama Gea dengan perasaan campur aduk karena satu jawaban mungkin salah. Mereka berhenti membeli minuman, menertawakan cara masing-masing mencoba mengingat rumus, kemudian pulang. Alisyah baru mengonfirmasi makan siang untuk Minggu setelah beristirahat. Pesan itu diteruskan melalui jalur yang masih mereka gunakan. Ia tidak membuka percakapan pribadi hanya karena telah menyanggupi sebuah kencan.
***
Pada Minggu, Alisyah berangkat bersama Manda yang hendak mengunjungi toko buku di sebelah kedai. Mereka sepakat bertemu lagi sesudah makan siang selesai. Manda tidak duduk mengawasi meja atau diminta mendengar percakapan. Mengetahui temannya berada dekat membuat Alisyah tenang tanpa menjadikan pertemuan itu pemeriksaan yang lain.
Azka tiba beberapa menit lebih awal. Ia berdiri ketika Alisyah datang, kemudian menunggu Alisyah memilih kursi. Mereka memesan sendiri-sendiri. Tidak ada hadiah mahal, tidak ada pembicaraan pekerjaan kampus, dan tidak ada pengumuman bahwa keluarga sedang menunggu kabar.
Pada awalnya Alisyah terlalu sadar sedang berkencan sehingga kesulitan memilih topik. Ia hampir menanyakan hal tentang pengawasan profesional Azka, kemudian menyadari ia hanya memakai perkara serius untuk menghindari kegugupan. Akhirnya ia mengakui bahwa dirinya tidak tahu bagaimana memulai makan siang yang sudah dipikirkannya berhari-hari.
“Kita bisa mulai dengan makanannya,” kata Azka.
“Kalau makanannya tidak enak?”
“Kita punya topik.”
Alisyah tertawa. Sesudah itu mereka membicarakan film yang akhir ceritanya dianggap Alisyah curang, buku yang belum ditamatkan Azka, dan kebiasaan Manda menata peralatan makan seakan seluruh kos akan kedatangan tamu. Tidak semua cerita perlu menjelaskan luka atau memperlihatkan keberhasilan berubah. Ada beberapa menit ketika ia hanya ingin menyelesaikan kalimat lucu sebelum lupa bagian akhirnya.
Ketika Azka bertanya tentang magang, ia menceritakan pengalaman mengatur waktu. Ia tidak menunjukkan data atau menyebut identitas orang yang diwawancarai. Azka mendengarkan tanpa menawarkan jalur khusus agar ia mendapat posisi lebih baik.
Menjelang satu jam, Alisyah melihat ponselnya. Manda mengirim foto rak buku yang dicari, bukan tanda meminta segera diselamatkan. Ia menjawab akan segera datang. Azka tidak menahan ketika ia mulai merapikan tas. Mereka membayar bagian masing-masing dan keluar bersama sampai depan kedai.
“Aku senang hari ini,” kata Alisyah. “Aku masih ingin memikirkan sesudahnya.”
“Baik.”
Ia menyusul Manda dan tidak langsung diminta memberi nilai pada kencannya. Mereka mencari buku yang salah diletakkan, lalu pulang setelah Manda menyerah bahwa judul yang diingatnya rupanya tidak persis benar.
Beberapa hari kemudian, Bu Sinta menawarkan perpanjangan magang satu bulan sesudah masa semula berakhir. Ada pekerjaan lanjutan yang sesuai dengan tugas Alisyah. Ia meminta waktu memeriksa jadwal kuliah dan menyampaikan bahwa perpanjangan itu tidak dapat disertai penambahan hari kerja. Bu Sinta mengonfirmasi batas tersebut sebelum Alisyah menerima. Persetujuan tertulisnya disimpan; tidak ada tawaran yang harus diterima lagi pada minggu berikutnya.
Sementara itu ia belum menghubungi Azka setelah makan siang. Diam tersebut bukan ujian yang sengaja dibuat untuk melihat siapa lebih dahulu gelisah. Ia sedang mencari tahu apakah keinginannya bertemu lagi berasal dari dirinya, bukan karena merasa harus menghargai usaha seseorang.
Sesudah beberapa hari, jawabannya cukup jelas. Ia mengirim melalui penghubung bahwa dirinya ingin membuka percakapan langsung dengan Azka untuk urusan pribadi. Ia menyebutkan boleh berkirim pesan tanpa tuntutan segera dijawab, dan urusan kampus tetap melalui pihak yang berwenang. Azka menyetujui sebelum nomor tersebut digunakan sebagai jalur baru.
Pesan langsung pertama justru sederhana: sebuah foto sampul buku, tanpa orang lain di dalamnya, disertai pertanyaan apakah itu edisi yang mereka bicarakan. Alisyah membalas setelah selesai bekerja. Tidak ada teguran karena jedanya tiga jam.
Malam itu ia meletakkan ponsel di meja dan kembali membantu Gea menyiapkan makan. Gea bertanya mengapa ia tersenyum sendiri. Alisyah menjawab bahwa seseorang akhirnya bertanya tentang sesuatu yang benar-benar ingin dijawabnya. Temannya mengangguk seolah penjelasan itu masuk akal, lalu menyuruhnya mengupas bawang sebelum senyum tersebut menghabiskan seluruh waktu memasak.