Pertemuan mereka tidak berubah menjadi kewajiban setiap akhir pekan. Selama beberapa bulan berikutnya, Alisyah dan Azka biasanya bertemu dua atau tiga minggu sekali, menyesuaikan waktu yang sama-sama tersedia. Kadang mereka hanya sempat membeli minuman sebelum Alisyah kembali mengerjakan tugas. Tidak ada tuntutan mengganti pertemuan singkat dengan kunjungan mendadak ke kos.
Masa magang dan tambahan satu bulannya selesai. Pada evaluasi terakhir, Bu Sinta menawarkan pekerjaan paruh waktu dua hari setiap minggu. Pekerjaannya serupa, tetapi tanggung jawabnya perlu dibicarakan kembali. Alisyah meminta melihat pembagian tugas dan membandingkannya dengan kuliah sebelum menerima.
Ia tidak bisa selalu menjadi orang yang menggantikan rekan absen. Batas itu disepakati, dan Bu Sinta menunjukkan kepada siapa pekerjaan mendesak harus dialihkan jika jatuh di luar jadwalnya. Alisyah menandatangani pengaturan baru setelah memahami jam serta imbalannya. Ia merayakannya dengan mentraktir Manda dan Gea makanan yang dahulu sering diperdebatkan harganya.
Manda datang membawa kabar bahwa ia akan pindah ke kos yang lebih dekat dengan kegiatan rutinnya. Alisyah langsung memikirkan meja yang akan kosong, kebiasaan makan yang berubah, serta siapa yang akan meminjamkan pengering rambut.
“Kamu sedih aku pergi atau barangku pergi?” tanya Manda.
“Aku sedang menyusun jawaban yang membuatmu tetap sayang.”
Pada hari pindahan mereka mengangkut kotak bersama. Satu kardus terlalu berat karena Alisyah memasukkan semua buku ke dalamnya. Setelah ditegur, ia membongkar dan membaginya menjadi dua. Mereka makan di lantai kamar baru Manda sebelum semua barang selesai ditata. Perpisahan itu hanya mengubah jarak, tetapi Alisyah merasa perlu mengaku ia akan merindukan suara temannya dari balik pintu.
Ia tidak meminta Azka menggantikan Manda sebagai orang yang harus selalu tersedia. Mereka masih mengenal bagian-bagian hidup masing-masing. Azka mengetahui ia dapat marah ketika pekerjaan berantakan, sementara Alisyah mengetahui Azka kadang menjawab terlalu cepat sebelum mendengar pertanyaan selesai.
Salah satu kebiasaan itu menimbulkan masalah ketika mereka berjalan di taman. Alisyah menyebut kelelahan membagi waktu, tanpa membicarakan nilai atau meminta bantuan kuliah. Azka mulai menyarankan agar dirinya menghubungi orang di kampus mengenai salah satu jadwalnya.
Alisyah berhenti berjalan. “Jangan. Itu harus kuurus lewat bagian akademik.”
Azka hendak menjelaskan bahwa ia hanya bermaksud mempermudah, lalu menutup mulut. Ia mengulangi dengan lebih tepat bahwa ia telah membawa kedudukannya ke percakapan pribadi tanpa diminta. Ia tidak jadi menghubungi siapa pun.
“Kalau aku mengeluh, kamu boleh mendengar,” kata Alisyah. “Kalau aku butuh mencari informasi, aku bisa bertanya sendiri kepada orang yang menanganinya.”
“Aku mengerti.”
Ia tidak meminta pujian karena berhenti. Alisyah juga tidak mengatakan semua terasa baik seketika. Ia memilih pulang lebih awal hari itu. Azka mengantarnya sampai tempat kendaraan berhenti, lalu berpisah sebagaimana diminta.
Keesokan harinya Alisyah mengurus pertanyaan jadwal melalui petugas yang memang berwenang. Azka tidak ikut campur. Beberapa hari kemudian, ia sendiri membuka percakapan pribadi lagi. Mereka membahas kejadian di taman tanpa mengubahnya menjadi bukti bahwa batas tidak perlu dijaga lagi sesudah sekian bulan.
***
Menjelang akhir semester berikutnya, Alisyah telah mempunyai cukup banyak pertemuan biasa untuk mengenali apa yang dirasakannya. Ia senang melihat nama Azka muncul di layar. Ia ingin menceritakan hal lucu yang tidak dapat disampaikan karena orang lain masih berbicara di ruang rapat. Ketika menemukan buku yang mungkin disukainya, ia berhenti lebih lama di rak.
Perasaan itu tidak sama dengan ketakutan ketika nama Azka dahulu muncul bersama perintah. Ia tetap mengingat perbedaannya, termasuk saat pertemuan di taman menunjukkan bahwa masa lalu tidak hilang hanya karena mereka mulai akrab.
Sesudah ujian selesai, ia mengajak Azka bertemu. Mereka memilih tempat yang sudah dikenal, tanpa pendamping yang harus menunggu di meja lain. Manda mengetahui jadwalnya karena mereka akan menelepon malam itu, bukan karena diminta memberi persetujuan.
Alisyah menunggu pesanan datang sebelum berbicara. Kali ini ia tidak ingin mengakhiri sore dengan kalimat bahwa semuanya akan dipikirkan nanti.
“Aku ingin hubungan yang jelas,” katanya. “Aku mau kita menjadi pasangan, kalau kamu juga mau. Bukan karena keluarga pernah menyusun pernikahan atau karena aku sudah memberi kesempatan bertemu.”
Azka diam sejenak. “Aku mau. Tapi aku ingin memastikan kamu tidak merasa harus memberi nama karena aku menunggu.”
“Aku tidak sedang membayar masa tunggumu.”
Ia mengucapkannya tanpa marah. Kalimat tersebut membuat pembicaraan lebih mudah, sebab setelah itu mereka dapat membahas hal yang benar-benar dipilih: hubungan eksklusif, kejujuran ketika ada masalah, dan kebebasan mengatakan tidak pada rencana yang tidak sanggup dijalankan.
Alisyah tidak menawarkan tanggal pertunangan. Ia ingin menyelesaikan kuliah serta membangun pekerjaannya terlebih dahulu. Azka menerima tanpa mengubah jawaban itu menjadi perkiraan berapa bulan sampai ia dapat mulai menanyakan hal yang sama.
“Keputusan kampus tetap berlaku,” tambahnya.
“Aku tahu. Hubungan ini tidak memberiku kewenangan baru atas studimu.”
Mereka sepakat menyampaikan kabar kepada orang terdekat sendiri-sendiri sebelum keluarga memperluasnya. Alisyah akan berbicara kepada Mama lebih dahulu. Ia tidak ingin orang lain menerima ucapan selamat untuk pertunangan yang tidak pernah ada.
Saat pulang ia menelepon Manda. Temannya mendengarkan penjelasan sampai selesai, kemudian bertanya apakah ia bahagia. Pertanyaan yang singkat itu justru membuatnya perlu berpikir.
“Iya. Aku juga masih ingin hati-hati.”
“Dua-duanya boleh.”
Mama menerima kabar pada kunjungan akhir pekan. Ia senang, lalu sempat hampir menyebut keinginan ayah Alisyah dahulu. Sebelum kalimat itu menjadi alasan, ia berhenti sendiri.
“Ini pilihanmu sekarang,” kata Mama. “Mama tidak akan membuat undangan dari percakapan ini.”
Alisyah tertawa, kemudian memeluknya. Ia tidak perlu membuktikan keseriusan dengan menyetujui hal yang belum diinginkan.
Pada pesan malam berikutnya, Azka menulis ingin tetap hadir dalam hidupnya. Alisyah membaca kalimat itu dua kali. Ia menyukai keinginannya, tetapi tidak ingin membuat janji yang hanya besar karena terdengar indah.
Ia membalas, “Kalau bilang selalu, kita tetap harus memilih caranya setiap hari.”
“Aku bersedia belajar melakukannya.”
Alisyah menyimpan ponsel setelah mengucapkan selamat malam. Mereka baru menjadi pasangan untuk pertama kali. Tidak ada hubungan lama yang berhasil direbut kembali, dan tidak ada akhir yang wajib datang lebih cepat karena keluarga pernah menginginkannya. Besok ia masih harus mengirim revisi pekerjaan sebelum berangkat kuliah. Untuk malam itu, ia memberi dirinya waktu menikmati jawaban yang telah dipilih tanpa ancaman.