Setelah Ana pulang, Mama kembali ke dapur dengan langkah lambat. Piring-piring sudah bersih, tetapi ia berdiri cukup lama di depan meja tanpa melakukan apa-apa. Ia mencoba menahan air mata yang sejak tadi muncul setiap kali melihat wajah Ana. Sudah lama ia ingin bertanya mengapa Ana berada di Jakarta tanpa pernah datang atau menghubunginya.
Dean masih di ruang makan bersama Papa dan Dea. Ia berpura-pura fokus pada obrolan, tetapi sebagian pikirannya tertinggal di dapur. Ia melihat Mama memanggil Ana dengan nama lengkap yang tak pernah ia dengar. Ia melihat Ana pucat. Namun ia sudah berjanji tidak akan memaksa.
Di dalam dapur, Mama meraih lap dan mengusap meja yang sudah bersih. Ia tidak ingin menangis di depan keluarga, tetapi ketika Ana tadi meminta waktu, ia mengingat kembali hari-hari ketika ia bertanya-tanya apakah gadis itu akan kembali. Pertanyaan itu terlalu lama ia simpan.
Ana belum benar-benar pergi dari rumah. Ia kembali sebentar untuk mengambil ponselnya yang tertinggal di meja dapur. Mama masih di sana. Saat mata mereka bertemu, Mama tak sanggup lagi menahan perasaan. Ia menarik Ana ke dalam pelukan, kali ini setelah Ana mengangguk menerima.
‘Kenapa kamu sudah di Jakarta, tapi tidak pernah datang atau mengabari Mama?’ tanya Mama dengan suara bergetar.
Ana memejamkan mata. ‘Maaf.’
‘Mama bukan marah karena kamu tidak datang. Mama cuma ingin tahu kenapa kamu harus menanggung semuanya sendiri.’
Ana tidak langsung menjawab. Ia tidak ingin berbohong, tetapi seluruh ceritanya belum bisa ia ucapkan. ‘Aku belum siap membicarakan semuanya. Ada hal yang ingin aku jelaskan sendiri, tapi belum sekarang.’
Mama melepaskan pelukan sedikit agar bisa melihat wajah Ana. Air matanya mengalir. ‘Apa kamu takut Mama akan memaksamu?’
‘Bukan. Aku cuma takut Dean tahu dari orang lain atau di saat yang salah. Aku ingin menjelaskan kepadanya setelah Seminar Nasional selesai.’
‘Dean tidak tahu hubungan kita?’
Ana menggeleng. ‘Belum. Aku tahu ini tidak mudah, tapi aku minta Mama merahasiakannya sampai seminar selesai.’
Mama menyeka pipinya. Ia tahu permintaan itu tidak ringan. Dean anaknya, dan ia tidak suka menyimpan sesuatu darinya. Namun ia juga melihat Ana sedang berusaha mengatur waktunya sendiri. Ia tidak akan memaksanya membuka semua cerita hanya demi menghilangkan rasa penasaran keluarga.
‘Mama bisa menunggu,’ katanya. ‘Tapi kamu harus berjanji tidak menghilang begitu saja lagi. Kalau kamu belum siap cerita, setidaknya kabari Mama bahwa kamu baik-baik saja.’
Ana mengangguk. ‘Aku janji. Aku tidak akan menghindar. Aku cuma minta waktu sampai acara Dean selesai.’
Mama memeluknya lagi, kali ini lebih lama. Ia menangis tanpa suara di bahu Ana. Ana membalas pelukan itu dan menahan air matanya. Ia tahu janji ini tidak menghapus tahun-tahun mereka tidak berkomunikasi. Namun ini langkah pertama agar hubungan mereka bisa dibicarakan kembali.
‘Kamu sudah makan?’ tanya Mama setelah beberapa saat, mencoba menenangkan diri.
Ana tersenyum kecil. ‘Sudah. Tadi makan bersama.’
‘Kalau begitu, bawa kue yang tadi kamu bawa. Dea pasti suka, tapi Mama mau sisakan buat kamu juga.’
Ana tertawa pelan. ‘Biar Dea saja yang makan. Aku sudah bawa untuk kalian.’
Mereka keluar dari dapur beberapa menit kemudian. Mama telah menghapus air mata, tetapi matanya masih merah. Ana kembali ke ruang makan dan mengambil ponsel. Dean melihat ibunya, lalu Ana, tetapi tidak bertanya. Mama menyibukkan diri dengan mengatur piring, sementara Dea mengajak Ana melihat kartu selamat datang yang dibuatnya.
Ana mengucapkan terima kasih kepada Dea dan memuji gambarnya. Ia tidak ingin membuat suasana keluarga menjadi berat. Mama juga berusaha tertawa dan menanggapi obrolan. Hanya Dean yang semakin menyadari ada sesuatu yang tidak mereka ceritakan.
Ketika Ana akhirnya pulang, Mama berdiri di ambang pintu. ‘Kabarin kalau sudah sampai.’
Ana mengangguk. Dean mengantarnya ke mobil daring dan memastikan ia masuk dengan aman. Ia tidak menuntut penjelasan. Setelah mobil menjauh, ia kembali ke rumah dengan pertanyaan yang semakin banyak, sementara Mama membawa janji mereka ke dalam hati.
Setelah mobil Ana pergi, Mama tetap berdiri di teras beberapa saat. Ia tidak ingin Dean bertanya lebih jauh di depan Dea, tetapi tahu putranya pasti menyimpan banyak pertanyaan. Ia menarik napas dan kembali masuk. Di ruang keluarga, Papa sedang menunggu dengan ekspresi memahami.
‘Kamu baik-baik saja?’ tanyanya.
Mama mengangguk, meski matanya kembali berkaca-kaca. ‘Ana sudah besar. Dia bisa menentukan kapan harus bicara.’
Papa tidak meminta penjelasan. Ia hanya menyentuh bahu Mama sebentar, lalu mengajaknya duduk. Mereka sepakat tidak memberi Dean petunjuk yang bisa membuatnya mendesak Ana. Jika Ana sudah berjanji akan menjelaskan setelah seminar, mereka akan menghormati waktu itu.
Di perjalanan pulang, Ana memandangi lampu-lampu kota dari jendela mobil. Ia mengirim pesan kepada Bagas bahwa makan malam berjalan baik, meskipun Mama Dean mengenalinya. Bagas membalas bahwa ia ada jika Ana ingin bicara. Ana menjawab bahwa ia akan bercerita nanti, bukan malam ini.
Sesampainya di kos, Ana meletakkan ponsel di meja dan membuka buku catatan. Ia menuliskan tiga hal yang perlu ia pikirkan sebelum berbicara kepada Dean: kapan ia siap, bagian mana yang harus ia ceritakan terlebih dahulu, dan bagaimana memastikan pembicaraan itu tidak berubah menjadi pengakuan yang dipaksakan. Ia tidak menuliskan rahasia itu sendiri. Ia hanya menyusun langkah agar tidak terus menghindar.
Ana menutup buku dan menyiapkan alarm untuk pagi. Ada seminar yang harus dipersiapkan, kuliah yang harus dihadiri, dan janji kepada Mama yang perlu ia jaga. Ia belum menemukan semua jawaban, tetapi malam itu ia tidur dengan satu keputusan: setelah seminar selesai, ia tidak akan lagi bersembunyi dari Dean.
Ia mengirim pesan kepada Mama sebelum mematikan lampu, hanya menyampaikan bahwa dirinya sudah sampai dan berterima kasih karena telah memberinya waktu. Mama membalas dengan kalimat singkat bahwa ia menyayanginya. Ana membaca pesan itu dua kali, lalu menyimpannya tanpa membalas lagi.