Dean kembali masuk setelah mengantar Ana ke mobil. Mama sedang merapikan meja makan, Dea menyimpan alat tulisnya, dan Papa membaca berita di tablet. Suasana tampak biasa, tetapi Dean menangkap mata Mama yang masih merah. Ia ingin bertanya, namun mengingat wajah Ana yang pucat ketika nama lengkapnya disebut.
Dea memperhatikan Mama dari dekat. Ia melihat ibunya mengusap sudut mata ketika mengira tidak ada yang memperhatikan. Dea tidak tahu apa yang dibicarakan Mama dan Ana. Namun ia tahu Mama menangis di dapur dan Ana terlihat berusaha menahan diri.
‘Ma, kamu kenapa?’ tanya Dea.
Mama tersenyum tipis. ‘Mama cuma capek sedikit.’
‘Tapi tadi Mama nangis.’
Dean meletakkan gelasnya. ‘Mama nangis?’
Mama segera menggeleng. ‘Enggak apa-apa. Cuma mata Mama perih.’
Dea melihat Dean yang mulai memasang wajah serius. Ia ingin melindungi ibunya, tetapi juga tak mau kakaknya salah paham. ‘Aku lihat Mama habis bicara sama Kak Ana di dapur. Setelah itu Mama nangis.’
Mama memandang Dea, bukan marah, hanya meminta agar ia tidak melanjutkan. Dea mengatupkan mulut. Dean berdiri, tetapi tidak langsung menuju dapur.
‘Aku mau bicara sama Mama nanti,’ katanya.
‘Jangan sekarang, Dean,’ ujar Papa. ‘Ana baru pulang dan Mama juga baru selesai menerima tamu. Beri mereka waktu.’
Dean tahu Papa benar. Ia duduk kembali, tetapi pikirannya sulit tenang. Nama Anaphalis terus berputar di kepalanya. Mengapa Mama mengenal nama lengkap Ana? Mengapa Ana pucat? Dan mengapa Mama menangis setelah berbicara dengannya?
Dea merasa tidak nyaman karena tanpa sengaja membuat kakaknya khawatir. ‘Aku enggak bermaksud bikin Abang kepikiran. Aku cuma bilang yang aku lihat.’
Dean mengusap kepala adiknya. ‘Enggak apa-apa. Abang cuma ingin tahu Mama baik-baik saja.’
Mama menyela bahwa ia memang baik-baik saja dan hanya lelah. Dean mengangguk, tetapi tidak sepenuhnya percaya. Ia memutuskan menunggu sampai rumah lebih sepi. Ia tidak ingin menginterogasi Mama di depan Dea atau Papa.
Malam semakin larut. Dea masuk kamar lebih dulu setelah mengucapkan selamat malam. Papa menutup tabletnya dan mengingatkan Dean agar tidak membuat kesimpulan sendiri. Dean menjawab ia hanya ingin berbicara dengan Mama, bukan menuduh siapa pun.
‘Kalau Mama belum siap bercerita, hormati juga,’ kata Papa.
Dean menatap ayahnya. ‘Kalau ini tentang Ana, aku perlu tahu apa yang terjadi.’
‘Kamu perlu bertanya pada Ana jika dia sudah siap. Mama tidak bisa menceritakan sesuatu yang bukan haknya.’
Kalimat itu membuat Dean terdiam. Ia tahu Papa tidak sedang menyembunyikan sesuatu untuk menyakitinya. Ia hanya merasa tertinggal dari sebuah percakapan yang tampaknya menyangkut Ana. Ia berusaha menerima bahwa rasa ingin tahu tidak serta-merta memberinya hak untuk mengetahui.
Sebelum tidur, Dean memeriksa ponsel. Ana sudah mengirim pesan bahwa ia tiba di kos. Dean membalas terima kasih karena memberi kabar dan berharap ia bisa beristirahat. Ia tidak bertanya tentang pembicaraan di dapur.
Ana : Aku sudah sampai. Terima kasih untuk makan malamnya.
Deanova : Sama-sama. Istirahat ya.
Dean meletakkan ponsel. Ia ingin bertanya mengapa Mama mengenali nama lengkap Ana, tetapi ia menahan diri. Besok ia akan bicara dengan Mama secara pribadi, bukan untuk memaksa cerita Ana, melainkan memastikan ibunya tidak sedang menghadapi masalah sendirian.
Dean memandang Mama yang sibuk menyusun piring, lalu memilih tidak mendekat dulu. Ia menyadari bahwa Dea mungkin tidak sengaja membagikan sesuatu yang semestinya dibiarkan pribadi. Ia berjongkok di samping adiknya.
‘Dea, kamu tidak salah karena bilang apa yang kamu lihat,’ katanya. ‘Tapi Mama mungkin butuh waktu. Jangan tanya lagi dulu, ya.’
Dea mengangguk. ‘Aku cuma takut Mama sedih.’
‘Abang juga. Tapi kita tidak bisa memaksa Mama cerita.’
Dea menatap Dean. ‘Apa Kak Ana bikin Mama sedih?’
Dean menggeleng. ‘Abang enggak tahu. Jangan menyalahkan Ana.’
Ia mengatakannya tegas agar Dea tidak membangun dugaan sendiri. Ana tidak tampak melakukan sesuatu yang buruk. Ia justru berusaha menjaga suasana makan malam tetap tenang meski Mama mengenalinya. Dean tidak ingin rasa ingin tahunya berubah menjadi tuduhan kepada Ana.
Dea menarik lutut ke dada. ‘Tapi Mama tahu nama lengkapnya. Abang saja enggak tahu.’
Dean tersenyum tipis. ‘Kadang orang tua tahu lebih banyak karena mereka pernah bertemu orang sebelum kita mengenalnya.’
‘Jadi mereka teman lama?’
‘Mungkin. Tapi kita tidak akan menebak.’
Dea mengangguk, kemudian kembali membereskan kartu kertas di lantai. Dean membantu mengumpulkannya. Mereka bekerja dalam diam sampai Dea merasa lebih tenang. Setelah itu, Dean meminta adiknya tidur karena besok sekolah.
Ketika Dea pergi ke kamarnya, Dean kembali ke ruang keluarga. Ia duduk di sofa dan menatap foto keluarga yang pernah Ana lihat saat berkunjung. Ia teringat Ana memuji Dea cantik dan duduk memandang foto itu dengan kehangatan yang aneh. Saat itu ia mengira Ana sekadar menyukai foto keluarga. Sekarang, detail-detail itu mulai terasa seperti potongan cerita yang belum ia pahami.
Dean menghentikan pikirannya sebelum berubah menjadi kesimpulan. Ia tidak tahu apa arti semua itu. Ia hanya tahu Mama mengenal Ana dan tidak ingin membicarakannya. Mungkin ada alasan yang harus dihormati.
Papa keluar dari ruang kerja dan melihat Dean termenung. Ia bertanya apakah putranya ingin bicara. Dean menggeleng. ‘Besok saja. Aku mau tanya Mama berdua.’
Papa setuju bahwa percakapan pribadi lebih baik, tetapi mengingatkan Dean agar menerima jika Mama tetap memilih diam. Dean mengangguk meski belum yakin ia bisa merasa tenang tanpa jawaban.
Ia membantu Papa mematikan lampu ruang tamu, lalu memeriksa pintu rumah sebelum naik ke kamar. Ia menulis pesan kepada Ana bahwa ia berharap ia menikmati malam itu, lalu menghapusnya. Ia tidak ingin Ana merasa harus menjawab pertanyaan atau mengelola rasa penasarannya. Akhirnya ia hanya mengirim ucapan terima kasih karena sudah datang.
Ana : Terima kasih sudah mengundangku. Aku sudah sampai.
Deanova : Sama-sama. Senang lo datang.
Dean meletakkan ponsel, membiarkan percakapan berhenti di sana. Ia berencana bertanya kepada Mama esok hari, tetapi tidak akan menghubungi Ana untuk menuntut penjelasan. Ia harus memisahkan kekhawatirannya terhadap Mama dari rasa ingin tahu tentang masa lalu Ana.