Setelah surat Dean tertempel di mading, beberapa hari berlalu dengan jadwal kuliah dan persiapan Seminar Nasional yang semakin padat. Ana mencoba membagi waktunya antara tugas, rapat panitia, dan latihan membaca puisi. Ia belum menjawab surat itu. Setiap kali melewati koridor FK, ia merasa ingin berhenti, tetapi ia memilih terus berjalan sebelum keberaniannya berubah menjadi pengakuan yang belum siap ia sampaikan.
Di Fakultas Sastra, dosen pembimbing memberi tugas makalah tentang pengaruh lingkungan sosial terhadap kesehatan remaja. Ana memilih topik yang dekat dengan minatnya. Ia ingin membahas bagaimana tekanan keluarga, pertemanan, dan pengalaman kehilangan dapat memengaruhi cara seseorang menghadapi kecemasan. Topik itu menuntutnya memakai beberapa istilah medis secara tepat.
Ana sudah membaca sejumlah artikel dan menyusun draf awal. Namun semakin ia menulis, semakin ia ragu pada bagian yang membahas respons tubuh terhadap stres. Ia takut mencampuradukkan istilah sehari-hari dengan definisi klinis. Dosen meminta mereka mencantumkan sumber yang dapat dipercaya, dan Ana ingin memastikan kalimatnya tidak terdengar seperti diagnosis terhadap semua orang.
Ia menandai bagian yang membuatnya ragu dengan pensil. Di tepi halaman, ia menulis beberapa pertanyaan: apakah istilah ini terlalu luas, apakah kecemasan selalu berdampak pada tidur, dan apakah ia perlu membedakan reaksi sesaat dengan gangguan yang menetap. Ia tidak ingin meminta bantuan sembarang orang. Teman-teman sekelasnya memahami sastra, tetapi tidak semuanya akrab dengan istilah kesehatan.
Saat istirahat, Ana membuka daftar kontaknya. Nama Dean muncul di layar. Ia teringat bahwa Dean mahasiswa FK dan pernah membantunya memahami beberapa istilah ketika mereka berbicara tentang tugas kuliah. Ia juga ingat janji mereka di taman. Dean berjanji tidak akan mendesaknya untuk membuka rahasia sebelum seminar. Meminta bantuan akademik tidak seharusnya menjadi cara untuk menghindari janji itu, tetapi Ana tetap ingin menjaga batas pembicaraan.
Ia menutup daftar kontak tanpa mengirim pesan. Mungkin ia bisa mencari sumber tambahan sendiri. Ia kembali membaca artikel, lalu membuka kamus istilah kesehatan yang direkomendasikan dosen. Beberapa definisi membantu, tetapi ia masih ragu bagaimana menerapkannya dalam tulisan berbahasa Indonesia yang mudah dipahami.
Pada sore hari, Ana duduk di perpustakaan pusat untuk menyelesaikan revisi. Ia membawa laptop, map, dan dua buku referensi. Ruangan cukup tenang, hanya sesekali terdengar kursi digeser dan halaman buku dibalik. Ia membaca ulang drafnya dari awal. Ada beberapa kalimat yang perlu diperbaiki, tetapi istilah medis di bagian tengah tetap membuatnya bimbang.
Bagas mengirim pesan menanyakan apakah Ana sudah menyelesaikan tugasnya.
Bagas : Makalahnya aman, An?
Ana : Sebagian besar. Aku masih ragu beberapa istilah.
Bagas : Tanya dosen aja besok.
Ana : Iya, mungkin begitu.
Ana tahu Bagas benar. Dosen pembimbing adalah orang yang paling tepat untuk mengesahkan isi akademik. Namun jadwal konsultasi baru tersedia beberapa hari lagi, sedangkan draf perlu dikumpulkan lebih awal untuk diperiksa teman sekelompok. Ia hanya ingin memastikan istilahnya tidak keliru sebelum menyerahkannya.
Ia akhirnya kembali membuka daftar kontak Dean. Ia mengetik pesan singkat, lalu membacanya berkali-kali. Ia tidak meminta Dean mengerjakan makalahnya, tidak meminta jawaban khusus, dan tidak mengajukan pertanyaan tentang puisi. Ia hanya ingin menanyakan kesediaannya memeriksa istilah medis.
Ana : Deanova, kalau kamu tidak sibuk, bolehkah aku minta bantuan sebentar soal istilah medis di makalah? Aku tidak minta kamu mengerjakan tulisannya, hanya ingin memastikan beberapa istilah yang kupakai tepat.
Ia menekan tombol kirim dan meletakkan ponsel telungkup di meja. Jantungnya berdegup lebih cepat daripada yang seharusnya untuk pesan sederhana. Ia berusaha mengingatkan diri bahwa mereka memang teman. Ia tidak sedang membatalkan janji untuk menjelaskan rahasia setelah seminar.
Dean membalas beberapa menit kemudian.
Deanova : Boleh. Gue bisa baca bagian istilahnya besok setelah kelas. Tetap minta dosenmu memeriksa isi akhir, ya.
Ana tersenyum kecil.
Ana : Pasti. Terima kasih. Aku akan bawa drafnya.
Dean : Oke. Kita ketemu di perpustakaan saja kalau kamu nyaman.
Ana : Iya, di perpustakaan.
Mereka tidak membahas hal lain. Ana menyimpan ponsel dan kembali menyunting makalah. Ia menambahkan sumber pada bagian yang masih kurang, memberi tanda pada kalimat yang ingin ia tanyakan, dan memastikan semua catatan tetap berasal dari dirinya sendiri.
Malam itu, ia memasukkan draf ke dalam map. Ia tidak tahu apakah Dean akan melihat surat yang ia baca di mading atau mengaitkan tulisan tangannya dengan puisi. Ia hanya tahu bahwa keesokan harinya ia akan meminta bantuan sebagai teman, dan ia akan menjawab pertanyaan Dean dengan jujur sejauh yang ia sanggupi.
Seminar Nasional semakin dekat. Ana tidak ingin rasa takut membuatnya terus menghindar. Kali ini ia memilih meminta bantuan dengan jelas, sambil menjaga batas yang sudah mereka sepakati.
Pada malam sebelum bertemu Dean, Ana meninjau kembali tiap bagian makalah. Ia memperbaiki daftar pustaka dan memastikan kutipan yang ia pakai tercatat dengan benar. Ia memberi penanda warna pada istilah yang ingin ditanyakan, supaya permintaannya tetap terbatas dan tidak berubah menjadi tugas tambahan bagi Dean.
Ia juga memeriksa pesan yang sudah ia kirim. Kalimatnya tidak meminta Dean mengerjakan makalah. Ia hanya meminta bantuan untuk istilah medis, lalu sudah menegaskan bahwa dosen pembimbing tetap akan memeriksa hasil akhirnya. Ana ingin menjaga kejujuran dalam tugas akademiknya sekaligus menghargai waktu Dean.
Di layar laptop, dokumen itu terbuka di halaman pengantar. Ana membaca kembali uraian tentang dukungan sosial dan kesehatan remaja. Ia mengganti beberapa kalimat yang terlalu luas dengan penjelasan yang lebih hati-hati. Pengalaman pribadinya sempat muncul di benak, tetapi ia tidak menuliskannya sebagai contoh tanpa sumber. Makalah tersebut harus berdasarkan rujukan, bukan sekadar kisah yang belum siap ia ceritakan.
Sebelum menyimpan dokumen, Ana menulis daftar singkat pertanyaan untuk konsultasi: istilah respons stres, perbedaan kecemasan sesaat dan gangguan, serta cara menyebut dampak pada pola tidur tanpa membuat klaim mutlak. Daftar itu membuatnya lebih tenang. Ia akan meminta bantuan secara jelas, mendengarkan masukan, dan tetap mengambil keputusan atas tulisannya sendiri.
Ia memasukkan laptop dan map ke dalam tas. Untuk sesaat, ia teringat surat di mading. Dean menulis bahwa ia akan mendengarkan jika Eidelweiss siap dikenal. Ana belum menjawab, tetapi bukan berarti ia mengabaikan ketulusan itu. Ia hanya membutuhkan waktu sampai Seminar selesai, sesuai janji yang telah ia buat.
Keesokan harinya, Ana akan membawa makalahnya ke perpustakaan. Ia tidak tahu apakah percakapan akademik itu akan membuat rahasianya terasa lebih dekat. Namun ia bisa memulai dari hal yang sederhana: meminta bantuan, menerima masukan, dan tidak berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja.