Keesokan harinya, Ana tiba di perpustakaan pusat beberapa menit sebelum waktu yang mereka sepakati. Ia memilih meja dekat jendela, mengeluarkan laptop, lalu meletakkan makalahnya dalam map. Tiga tanda warna kecil menempel pada halaman yang ingin ia tanyakan. Ia memastikan tidak ada catatan pribadi yang tertinggal di dalam map.
Dean datang setelah kelasnya selesai. Ia membawa buku referensi dan duduk di seberang Ana.
'Kamu sudah menandai bagian yang bikin ragu?' tanyanya.
'Sudah. Aku hanya minta bantuan soal istilah. Dosenku tetap akan memeriksa isi akhirnya.'
'Oke. Gue baca yang kamu tandai saja.'
Ana mengangguk dan membuka map. Ia tidak meminta Dean menulis ulang kalimatnya. Dean pun tidak mengambil alih laptop. Ia membaca halaman yang ditunjuk, bertanya tentang sumber yang dipakai, lalu memberi masukan dengan pensil pada kertas salinan.
Mereka membahas istilah respons stres terlebih dahulu. Dean menjelaskan bahwa reaksi tubuh bisa berbeda pada tiap orang dan mendorong Ana menghindari kalimat yang terdengar mutlak. Ia juga menyarankan Ana menambahkan sumber ilmiah pada bagian hubungan kecemasan dengan pola tidur.
'Kalau aku menulis bahwa kecemasan dapat memengaruhi tidur, itu lebih tepat?' tanya Ana.
"Iya, selama sumbermu mendukung. Kata 'dapat' memberi ruang bahwa dampaknya tidak sama untuk semua orang."
Ana menulis ulang kalimat itu di buku catatan. Ia memperhatikan cara Dean menjelaskan: sederhana, tidak meremehkan pertanyaannya, dan tidak memaksanya memakai istilah yang sulit. Sedikit demi sedikit, kecemasannya tentang makalah berkurang.
Dean membalik ke halaman berikutnya. Pada pinggir kertas, ada catatan tangan Ana yang berbunyi: ‘Jangan menyimpulkan pengalaman satu orang sebagai pengalaman semua orang.’ Dean berhenti. Bentuk huruf r yang melengkung dan jarak antarhurufnya membuatnya teringat puisi Eidelweiss.
Ia tidak ingin menatap terlalu lama. Ia kembali membaca isi makalah, tetapi pikirannya sudah tertarik pada kemiripan itu. Ia mengingat kertas puisi yang pernah ia foto, lalu tulisan tangan pada surat di mading lama. Cara Ana menulis huruf s dan menyambungkan beberapa kata tampak sangat serupa.
Dean mengeluarkan buku catatan kecil dari tas. Ia membuka halaman berisi salinan salah satu puisi Eidelweiss, kemudian segera menutupnya lagi. Ia sadar tindakan itu bisa terasa seperti pemeriksaan. Ia tidak ingin Ana merasa sedang diuji.
'Ada yang kurang?' tanya Ana, menyadari Dean mendadak diam.
'Nggak. Gue cuma kepikiran sesuatu.' Dean menurunkan pandangannya ke makalah. Ia memilih bertanya dengan santai, bukan menuduh. 'Lo sering baca puisi yang ditempel di mading FK?'
Ana terdiam sesaat. Ia mengenali arah pertanyaan itu. Surat Dean masih terbayang jelas di pikirannya. Namun ia belum siap mengungkap bahwa nama Eidelweiss adalah dirinya.
'Kadang. Aku suka membaca puisi,' jawabnya.
'Puisi Eidelweiss juga?'
'Iya. Puisinya bagus.' Ana berusaha menjaga suaranya tetap biasa. 'Tapi aku cuma penggemar.'
Dean melihat kegugupan kecil di wajah Ana. Dugaan itu terasa semakin kuat, tetapi ia tidak punya kepastian dan tidak berhak menuntut pengakuan. Ia mengangguk seolah menerima jawaban tersebut.
'Gue juga suka puisinya. Ada beberapa yang menemani gue waktu lagi susah.'
Ana merapatkan map. 'Kamu pernah ketemu penulisnya?'
'Belum. Dan gue nggak akan mencari tahu kalau dia belum mau dikenal.'
Ana menatap Dean. Ada kelegaan dalam matanya, meski ia segera menunduk untuk merapikan kertas. Dean tidak melanjutkan pertanyaan. Ia kembali pada makalah, membahas dua istilah terakhir dan menyarankan Ana membawa daftar sumber kepada dosen pembimbing.
Setelah selesai, Dean menyerahkan lembar catatan kepadanya. 'Ini cuma saran istilah. Keputusan akhirnya tetap di kamu dan dosenmu.'
'Aku mengerti. Terima kasih, Deanova. Kamu membantu sekali.'
'Sama-sama.'
Ana menyimpan catatan itu. Ia merasa lega karena Dean tidak memaksanya menjawab. Ia juga tahu pertanyaan itu bukan pertanyaan biasa bagi mereka. Dean mulai menduga sesuatu, dan ia harus memutuskan bagaimana menjaga janji setelah Seminar Nasional.
Mereka keluar dari perpustakaan bersama. Dean berbicara soal jadwal latihan seminar, sementara Ana mendengarkan. Tidak ada yang menyebut tulisan tangan lagi. Namun dugaan Dean tetap tinggal di benaknya, dan Ana menyadari bahwa rahasia yang ia simpan tidak akan selamanya mudah disembunyikan.
Dean mengusulkan agar Ana membedakan istilah ‘stres’ sebagai respons terhadap tekanan dengan istilah yang digunakan untuk menyebut kondisi klinis. Ia tidak memberikan diagnosis dan mengingatkan Ana agar tulisannya tidak memberi kesan bahwa satu reaksi otomatis berarti seseorang mengalami gangguan.
Ana menulis sarannya di margin lain. Ia bertanya apakah perlu menyebutkan bahwa tiap individu dapat merespons tekanan secara berbeda. Dean menjawab bahwa itu akan membantu pembaca memahami batas kesimpulannya, selama kalimat tersebut didukung sumber. Mereka membuka artikel yang Ana pakai dan memeriksa definisi yang tercantum di sana.
Ana senang Dean tidak hanya memberi jawaban singkat. Ia menunjukkan bagian yang perlu diperiksa kembali dan membiarkan Ana memilih redaksi. Ketika Dean memberi saran, Ana mengetik ulang dengan kata-katanya sendiri. Makalah itu tetap terasa seperti hasil pikirannya, bukan tulisan orang lain.
Di sela pekerjaan, Dean kembali teringat pada kemiripan tulisan tangan. Ia mengamati catatan Ana sekilas, lalu mengalihkan pandangan sebelum rasa ingin tahunya tampak jelas. Ia mengingat isi surat yang ditempel di mading: Eidelweiss tidak harus memberitahu siapa dirinya. Jika dugaan Dean benar, ia tidak ingin membuat Ana merasa terjebak oleh kalimatnya sendiri.
Ana menyadari Dean beberapa kali berhenti sebelum bertanya. Ia tahu ada kemungkinan Dean mencurigai sesuatu, tetapi ia menghargai bahwa ia tidak memaksanya. Ia kembali memusatkan perhatian pada istilah yang perlu direvisi.
Setelah hampir satu jam, mereka menyelesaikan tiga catatan. Ana menuliskan sendiri sumber yang perlu dicek dan menandai satu bagian untuk dibawa kepada dosen pembimbing. Dean tidak membaca halaman lain di luar yang Ana tunjukkan. Ketika selesai, ia menutup buku catatannya dan menunggu Ana mengemas makalah.
'Kalau nanti ada yang belum jelas, aku bisa tanya lagi?' kata Ana.
'Boleh. Tapi jangan merasa harus mengikuti semua saranku. Cek juga dengan dosen dan sumbermu.'
Ana mengangguk. Sikap Dean membuatnya merasa aman untuk meminta bantuan, tanpa kehilangan kendali atas tugasnya sendiri.