Mereka pulang ke utara sebelum musim panas—ke kadipaten di tanjung, ke rumah dengan tangga kuil dan atap-atap nelayan yang sudah semuanya beratap, ke dapur Mistress Bara yang masih memasak terlalu banyak ketika sedih dan ketika gembira dan ketika hari biasa.
Dan di rumah itu, pada malam-malam yang damai, berlaku aturan rumah yang lebih tua dari semua aturan penjaga: cerita pengantar tidur.
“*Yang tentang kucing,*” kata Fajar, dari keranjangnya yang sudah diganti ranjang kecil—karena anak-anak tumbuh, dan keranjang menjadi kenangan, dan kenangan diletakkan di atas lemari untuk dilihat sesekali. “*Yang jatuh ke sumur.*”
Lenard, di sebelah ranjang kecil itu, mengangkat wajah dari bukunya. “Itu ceritaku,” katanya—bukan protes; kagum. “Paman menceritakannya untukku dulu. Waktu aku—” ia berhenti, menghitung, dan sembilan tahun itu sudah cukup tua untuk merasa heran pada dirinya yang lima tahun, “—waktu aku masih kecil.”
“Cerita yang benar tidak pernah jadi milik satu anak,” kata Kiyo, dari kursi besarnya, dengan pecahan hangatnya di dadanya berdenyut pelan dan dua anak di depannya dan malam yang tenang di luar jendela. “Cerita yang benar itu seperti sumur: yang datang menimba boleh minum, dan airnya tidak habis-habis. Dan cerita yang paling benar tumbuh setiap kali diminum—dulu cerita ini cerita untuk anak yang takut gelap; malam ini cerita untuk anak yang lahir dari gelap; besok mungkin cerita untuk anak yang belum ada. Dengarkan—kau boleh mendengar lagi, Lenard; cerita tidak keberatan didengar dua kali.”
Maka ia bercerita.
“Dulu ada kucing yang jatuh ke dalam sumur. Sumur itu gelap, dan dindingnya licin, dan dia tidak bisa memanjat keluar—dan di atas, jauh, ada cahaya kecil berbentuk bulat yang tidak bisa dijangkaunya. Jadi apa yang dilakukannya? Dia tidak memanjat. Dia duduk, membersihkan kukunya, dan *mendengarkan*. Di dalam gelap, telinganya menjadi sepuluh kali lebih tajam. Dia bisa mendengar napas tikus di lubang dinding. Dia bisa mendengar air menetes tiga lantai di bawahnya. Dia bisa mendengar—jauh di atas, di mulut sumur—suara orang-orang rumah yang mencarinya.”
“*Dia tidak takut?*” tanya Fajar, seperti anak-anak bertanya pada bagian yang sama sejak cerita itu ada.
“Dia takut,” kata Kiyo. “Semua yang jatuh takut. Tapi dia sudah tahu rahasianya, dan sekarang kau juga: gelap itu tidak jahat. Gelap itu hanya tempat yang belum kau kenal. Maka kucing itu menjadikan gelap itu miliknya—dan ketika ember diturunkan untuk menimba air, dia sudah tahu dari suaranya, dan dia melompat ke dalamnya sebelum ember itu menyentuh air, dan dia naik, dan dia melihat cahaya bulat itu makin besar, dan makin besar—”
“*—dan itu matahari,*” kata Fajar, pelan, dengan mata kecilnya yang membulat, dengan retakan-retakan di cangkangnya yang berpendar hangat. “*Itu matahari. Aku tahu bagian itu. Aku *tahu* bagian itu.*”
“Kau tahu bagian itu,” kata Kiyo, dan suaranya dalam dan hangat seperti tangan. “Karena kau pernah di sana. Kucing itu jatuh ke sumur—kau jatuh lebih jauh dari sumur mana pun. Kucing itu menunggu dalam gelap—kau menunggu tiga ratus tahun. Dan ember itu turun, Fajar. Ember itu selalu turun. Mungkin lambat. Mungkin tiga ratus tahun lambatnya. Tetapi kalau kau duduk dan tidak panik memanjat—kalau kau menjadikan gelap itu milikmu—akan ada tangan di ujung talinya. Selalu ada tangan di ujung talinya.”
---
Di luar, malam berjalan di atas dunia yang sudah berubah—dan tidak ada yang menjaganya dengan ketakutan lagi, hanya dengan jadwal.
Di ibu kota, di peti tiga kunci di menara, lima belas pecahan berdenyut dalam satu irama yang dijaga tiga pemegang kunci. Di taman, Akar tidur di tanah di bawah pohonnya, dan pohon itu berdiri lebih tegak dari pohon-pohon lain, seperti pohon yang tahu tanahnya dijaga. Di Meridien, di Kamar Gema, Induk terjaga berbaring dengan damai, dan di bawahnya rumah dua lantai itu tidur, dan penjaga buku kesembilan menulis di Buku Kedelapan dengan huruf yang mantap: *hari ini tenang. Semua yang dijaga tenang. Ditulis bukan karena ada kabar—karena tidak ada kabar adalah kabar yang kami jaga.* Di Osseran, air sumur berdenyut di bawah tutup yang terbuka, dan dua anak bergantian datang, pagi dan sore, seperti orang menyapa tetangga. Di laut utara, Eiddwen berenang di bawah bintang-bintang, dan seluruh lautnya tenang, dan tidak ada lagu yang salah di palung mana pun. Dan di bukit di atas laut itu, seekor camar tua duduk di atas nisan tanpa nama, seperti setiap malam, menjaga—karena ada janji-janji yang tidak ditulis di kitab mana pun: janji burung kepada orang yang dulu mengangkat batu dari air.
Dan di rumah kecil di tanjung utara, dua anak mendengarkan satu cerita—yang sembilan tahun, yang sudah tahu akhirnya dan tidak pernah bosan; dan yang tiga bulan, yang mendengarnya dengan seluruh denyutnya.
“*Paman Kiyo,*” kata Fajar, ketika cerita itu selesai, dengan suara kecilnya yang pecah, yang sudah tidak pernah lagi terdengar salah—“*kalau besok aku mendengar ketukan—di mana pun, di sumur, di tanah, di laut—apa yang harus kulakukan?*”
Dan Kiyo tersenyum, dan menyelimuti anak itu, dan meniup lampu—dan dalam gelap yang ramah itu, gelap yang sudah menjadi milik semua orang di rumah ini, ia berkata:
“Kau sudah tahu jawabannya. Katakan padaku.”
Dan dari ranjang kecil itu, dengan suara yang sudah mulai kantuk, dengan kepastian anak yang lahir dari tiga ratus tahun dan tidak lagi sendirian, Fajar menjawab—aturan-aturan yang sudah menjadi napasnya, yang akan dibawanya ke mana-mana, yang kelak akan diajarkannya kepada yang lain, di tempat-tempat yang belum punya nama:
“*Datang. Duduk. Dengarkan. Sampai selesai.*”
“Benar,” kata Kiyo. “Sekarang tidur. Besok ada matahari—dan matahari, kata seorang kawan, lebih bagus dari cerita.”
Dan malam itu tidak ada yang bermimpi buruk di rumah itu, tidak ada yang mengetuk, tidak ada yang menunggu—
hanya dua anak yang tidur, dan satu penjaga yang berjaga, dan dunia di luar jendela yang, untuk pertama kalinya sejak buah pecah dan biji-bijinya terserak, tidak punya lagi satu pun yang sendirian.
TAMAT