Ibu kota menerima mereka di musim semi—kanal-kanal penuh cahaya, pohon-pohon yang tidak tahu apa-apa tentang tiga ratus tahun dan berbunga juga, dan di gerbang istana, raja baru berdiri menunggu tanpa takhta di dekatnya: perempuan dua puluh tujuh tahun dengan mata yang mendengarkan dulu.
“Aku tidak akan berpidato,” katanya, ketika kereta itu berhenti—dan ia tidak berpidato. Ia berjalan ke kereta, dan membuka pintunya sendiri sebelum pelayan sempat, dan memandang ke dalam: kepada Kiyo yang besar dan kuyu, kepada Lenard yang tidur di pundak pamannya dengan Sultan di tangannya, kepada keranjang kecil berlapis wol yang berdenyut pelan di pangkuan Emeteria. “Inilah yang dia tulis di surat-suratnya,” kata raja muda itu, pelan. “Raja Aldric. Tiga tahun aku diajari olehnya, dan di setiap akhir pelajaran dia berkata: *kita ini rumah, bukan benteng; benteng menunggu yang datang dengan takut, rumah menunggu yang datang dengan lapar.* Selamat datang di rumah, kalian semua. Yang kecil itu terutama.”
Bastian berdiri tiga langkah di belakang rajanya—tua, pincang, lurus—dan tidak mengucapkan apa pun pada siapa pun sampai semua upacara selesai, dan kemudian ia berjalan ke Kiyo, dan dua orang yang sudah terlalu tua untuk pelukan itu saling menepuk pundak dengan keras, seperti orang memeriksa dinding. “Kaki masih jalan,” kata Bastian. “Hati masih ada. Laporan selesai.” Lalu, lebih pelan, dengan mata ke keranjang kecil itu: “Aku sudah membaca semua suratnya keras-keras kepada para perwira. Tidak ada yang tidak menangis. Aku tidak mengembalikan surat-suratnya—aku membingkainya. Perwira-perwira itu perlu tahu bahwa perang terakhir kita dimenangkan oleh orang yang duduk dan tidak pergi.”
---
Ada dua reuni di kamar kerja Emeteria malam itu, dan keduanya tanpa kata.
Yang pertama: Kiyo membuka kotak kayu berlilit benang cahaya—tiga puluh satu lilitan sekarang, karena Emeteria tidak pernah berhenti melilit—dan di dalamnya, saudara pecahannya menunggu: yang dulu disimpan orang-orang jahat untuk bekerja, yang dulu menahan napas untuk kejutan, yang tiga tahun ini dibacakan cerita setiap malam oleh seorang adipati kecil supaya tahu saudaranya pulang membawa cerita.
Kiyo mengeluarkan pecahan hangatnya dari kantong di dadanya, dan meletakkannya di samping saudaranya, dan mundur selangkah.
Dua denyut itu bertemu di dalam kotak—yang satu sudah berjalan ke selatan dan kembali, yang satu sudah menjaga rumah dan menunggu—dan menemukan irama satu sama lain dalam waktu yang lebih singkat dari satu tarikan napas, dan denyut gabungan itu naik melalui lantai, melalui meja, melalui tulang-tulang semua orang di kamar itu, dan tidak ada yang berkata apa-apa, karena ada hal-hal yang tidak diucapkan, hanya dirasakan di tulang.
*Sampai nanti*, kata yang satu, sekarang, dengan cara denyut berkata. *Aku tahu kau akan datang*, kata yang lain. *Kita penjaga. Penjaga yang pergi selalu kembali kepada penjaga yang tinggal. Itu aturannya.*
Yang kedua: di taman, di bawah pohon, Akar—keping kecil yang bangun dengan benar, yang sudah lebih besar dari telur sekarang, yang berdenyut seperti anak yang selalu pagi—dipertemukan dengan Fajar. Dua yang retak, satu dari akar di bawah aula, satu dari dasar gunung, berbaring bersisian di atas rumput di antara kucing gemuk yang tidak terkesan dan adipati kecil yang terlalu gembira untuk duduk diam—dan denyut mereka saling mencari, dan menemukan, dan menjadi dua irama yang bertetangga.
“Kau tahu apa artinya ini?” kata Francis, yang berdiri di pagar taman dengan bukunya. “Dua pecahan besar bertemu dan tidak ada yang melebur, tidak ada yang menelan, tidak ada yang membuka pintu. Mereka hanya—bertetangga.” Ia menuliskannya, dan berhenti, dan menggeleng pada halamannya sendiri. “Tiga ratus tahun Lingkaran ingin melebur mereka jadi satu. Ternyata yang mereka butuhkan cuma diperkenalkan.”
---
Peta Raga digantung di kamar peta malam itu—untuk terakhir kalinya dalam arti yang lama, karena setelah malam ini peta itu akan menggantung bukan sebagai pekerjaan yang belum selesai, melainkan sebagai kenang-kenangan dari seorang kail yang belajar menjadi pelampung.
Dua puluh enam lingkaran, semuanya tebal. Di pinggirnya, tulisan miring ke kanan: *Semua sudah dijaga. Semua sudah punya yang datang.* Dan di bawahnya, malam itu, Lenard menambahkan dengan huruf yang besar dan berhati-hati, sambil berjinjit di atas bangku:
*Peta ini bukan peta bahaya lagi. Peta ini daftar keluarga.*
Mereka tidak melipatnya. Mereka membiarkannya tergantung—karena daftar keluarga tidak disimpan di laci; daftar keluarga dipasang di dinding, supaya semua yang masuk ke kamar itu tahu bahwa dunia ini, dari ujung timur ke ujung barat, dari palung laut ke puncak gunung, tidak punya lagi tempat yang tidak dijaga.
Merle menulis bab terakhirnya malam itu juga—di perpustakaan, dengan lilin yang banyak, dengan Kucing Sumur berjalan di atas halaman-halamannya dan tidak diusir, karena penulis yang baik tahu kapan sejarah berjalan di atas mejanya. Di sebelahnya, tanpa diminta, Lenard meletakkan Sultan di sudut meja—ikan kayu oranye dengan mata yang agak miring, saksi semua surat dan semua sidang—karena ada hal-hal yang harus hadir ketika sebuah kitab ditutup. Bab terakhir itu pendek. Buku yang benar selalu tahu kapan berhenti:
*Maka berakhirlah catatan tentang tiga ratus tahun yang panjang—bukan dengan pintu yang dibuka, bukan dengan yang retak dilebur, bukan dengan perang. Dengan anak yang diangkat dari gelap oleh dua tangan, yang melihat kucing lebih dulu sebelum apa pun, yang kata pertamanya adalah pagi.*
*Kalau kau membaca ini di rumah jaga yang jauh, di tambang atau sumur atau gubuk atau perahu: aturannya tidak berubah. Datang. Jangan menjawab apa yang meminta dijawab. Temani. Dan kalau anaknya menangis—duduk.*
*Dan satu lagi, yang tidak ada di halaman-halaman awal, yang kami pelajari paling belakang dari yang paling kecil:*
*Semua rumah di dunia ini berdiri di atas sesuatu. Jangan takut pada yang di bawah rumahmu. Turunlah. Bawa cerita. Jangan bawa beludru.*
*— Kitab Penjaga, jilid pertama. Ditulis oleh Merle an Corvane, juru tulis; dijaga oleh semua yang namanya tidak perlu ditulis di sini.*
---