Mereka pulang dengan jalan yang panjang—karena pulang, kata Kiyo, tidak boleh melewatkan keluarga.
Pertama ke Osseran. *Langau* tua membawa mereka melintasi selat seratus dua puluh mil, dan di pelataran di atas tebing putih, di samping Sumur Tua yang tutupnya tidak pernah ditutup lagi, dua anak Penjaga Tutup berdiri tegak seperti prajurit upacara—yang sulung sebelas tahun sekarang, kurus dan serius seperti ibunya; yang bungsu sembilan tahun, dengan rambut yang masih tidak bisa diam.
Fajar turun dari kereta dengan hati-hati, di gendongan kain di dada Kiyo, dan memandang dua anak asing itu dengan mata kecilnya—dan dua anak asing itu memandang Fajar—dan kemudian anak yang bungsu, yang tidak pernah tahan pada upacara, berkata:
“Kau kecil sekali. Aku kira kau besar. Yang di sumur kami *besar*.”
“*Aku baru,*” kata Fajar, seolah itu menjelaskan segalanya—dan memang menjelaskan.
Mereka turun ke tepi air hitam, ke batu besar yang tidur dan batu kecil yang disarangkan kain di sisinya, dan Fajar berbaring di atas tanah di antara keduanya—tiga yang retak, satu raksasa yang damai, satu kecil yang seratus dua puluh tahun menjaga tangga, satu yang baru tiga bulan punya mata—dan tidak ada yang bicara untuk waktu yang lama, karena ada pertemuan-pertemuan yang bahasanya denyut, dan Ilse berdiri di tangga dengan tangannya menutup mulutnya, dan anak-anaknya duduk bersila dengan sopan, dan air itu berdenyut di bawah mereka semua seperti rumah yang berbahagia dengan cara rumah berbahagia: pelan, dalam, dan tanpa perlu diberi tahu.
“*Dia bilang,*” kata Fajar kemudian, di kereta yang menurun, dengan mata kecilnya yang penuh, “*batu yang besar bilang—selamat jalan. Dan jangan jadi asing. Airnya sama-sama dalam di mana-mana, katanya, dan yang jauh itu cuma air yang belum kau dengar.*”
Di kastil di atas tebing, Raja Theron menyambut mereka dengan meja yang panjang dan anggur yang encer, dan ketika ia mendengar seluruh cerita turunnya—tentang keranjang dan wol, tentang tubuh yang tidur dengan benar—raja kecil kerajaan garam itu mengangkat cawannya ke arah gunung yang tidak terlihat dari jendelanya. “Untuk yang diangkat,” katanya. “Dan untuk kapalku yang ikut mengangkat. Aku sudah memutuskan: *Langau* tidak kujual-jual lagi. Kapal itu sudah dua kali membawa pulang orang dari tempat yang jauh. Kapal seperti itu bukan kapal—itu anggota keluarga yang berlayar.”
---
Lalu laut.
Eiddwen datang di tengah perjalanan mereka menyusuri pesisir—kolom air setinggi pohon, punggung hitam seluas pulau, mata biru besar yang naik ke permukaan di samping kapal—dan berhenti total ketika melihat keranjang kecil di haluan.
‘*Kecil,*’ kata suara paus itu di dalam kepala semua orang, dan untuk pertama kalinya dalam ingatan siapa pun, suara tua yang dalam itu ragu. ‘*Kau bilang dia anak yang di bawah gunung. Kau tidak bilang dia sekecil ini.*’
“Anak-anak memang kecil,” kata Kiyo. “Itu cara mereka mulai.”
‘*Aku tahu itu. Aku paus; kami juga begitu.*’ Mata besar itu mendekat—pelan, hati-hati, seperti gunung belajar menjadi lembut—sampai bayangannya menaungi keranjang. ‘*Hai, yang kecil. Aku Eiddwen. Aku teman laut utara, dan aku membawa cerita ikan.*’
“*Cerita ikan harus dilihat,*” kata Fajar, yang sudah menghafal itu dari cerita-cerita Kiyo, seperti anak-anak menghafal kunci-kunci rumah. “*Kata kau. Aku ingat.*”
Eiddwen terdiam. Lalu, di dalam kepala semua orang di kapal itu, paus terbesar di laut utara tertawa—gelombang kecil menjalar sampai ke pantai—dan berkata, kepada Kiyo, dengan sesuatu yang berkilau di suaranya: ‘*Dia mengutipku. Tiga ratus tahun di bawah gunung, tiga bulan di dunia, dan dia sudah mengutipku. Anak ini akan jadi orang besar, Kiyo. Bukan besar tubuh—besar yang lain.*’
Dan Fajar melihat cerita ikan sore itu—ikan-ikan perak yang meloncat beriringan di cahaya matahari turun, di sekeliling kapal, seperti laut sedang memainkan musik—dan denyutnya tidak berhenti-henti sampai bintang-bintang keluar, dan Lenard, di sampingnya, menangkap semuanya dengan mata yang sudah belajar bahwa melihat itu juga menjaga. Malam itu, di kabin, Fajar berkata sebelum tidur: “*Laut itu ramah. Aku takut sedikit tadi—air yang dalam itu rumahku dulu juga, di bagian yang salah. Tapi laut ini ramah. Ada yang menjaganya. Aku bisa merasakan yang menjaga itu dari sini.*”
---
Terakhir, bukit di atas laut.
Nisan itu tidak besar—batu biasa, tanpa lambang, menghadap ke air. Tidak ada nama di atasnya; orang yang menanamnya tidak tahu cara menulis, dan orang yang dikuburnya tidak butuh dibaca, butuh diingat. Seekor camar tua bertengger di atasnya, seperti camar selalu bertengger di atasnya, karena ada camar-camar yang memilih satu nisan dan tidak pindah, dan tidak ada yang tahu kenapa, dan semua orang tahu kenapa.
Kiyo berdiri di depannya dengan Fajar di gendongan kain di dadanya.
“Ini Aryeh,” katanya. “Bajak laut yang mengangkatku dari laut dengan jala dan tangannya sendiri. Yang menolak emas untuk batu tidur—*yang tidur tidak dijual; yang tidur dijaga.* Yang dibunuh di malam hari oleh orang-orang yang menungguku tanpa tangan.” Ia berhenti. Angin laut lewat di rumput bukit. “Aku membawamu ke mari bukan untuk sedih. Aku membawamu ke mari supaya kau tahu dari mana kau datang: kau datang dari tangan ini. Dua puluh dua tahun lalu tangan ini mengangkatku; kemarin tanganku mengangkatmu; besok tanganmu—” ia memandang anak kecil itu, “—tanganmu akan mengangkat orang lain. Itu satu-satunya warisan yang kami punya, kita yang retak. Bukan nama. Bukan tanah. Tangan.”
Fajar memandang nisan itu lama—dengan mata kecilnya yang baru, yang sudah belajar bahwa melihat adalah menjaga—dan berdenyut pelan, sekali, dalam, seperti orang yang mengangguk dengan seluruh dirinya.
“*Aryeh,*” katanya, mencoba nama itu di mulutnya yang baru. Dan camar tua di atas nisan itu mengangkat kepalanya, dan memandang anak kecil yang retak itu, dan tidak pergi—dan malam itu, ketika mereka turun dari bukit, camar itu masih di sana, menghadap laut, menjaga, seperti yang selalu dilakukannya, karena burung-burung pun tahu aturan pertama.
---