Fajar belajar menjadi orang seperti semua anak belajar: dengan salah, dengan heran, dengan lapar yang tidak pernah cukup oleh kukis.
Hari-hari pertamanya adalah penemuan-penemuan kecil yang dicatat Merle dengan kesungguhan seorang juru tulis istana: pertama kali merasakan rumput (*menolak turun dari keranjang, lalu menolak naik kembali*); pertama kali hujan (*denyutnya berhenti lima detik penuh karena takjub, lalu tidak mau masuk*); pertama kali mendengar burung malam (*berhenti bermain, duduk tegak, dan berbisik: “ada yang bernyanyi dan bukan lagu yang salah—itu jangkrik, Fajar, dan jangkrik boleh”*); pertama kali kukis Meridien—“*berbeda,*” kata Fajar, dengan mata kecilnya yang membulat, dan Lenard mengangguk dengan kepuasan seorang peneliti yang hipotesisnya terbukti. “Aku sudah bilang. Secara menyeluruh berbeda.”
Ia tumbuh dengan cara yang retak: tidak seperti anak-anak lain, tidak juga seperti batu. Cangkangnya yang retak-retak kecil tidak pernah hilang—seperti Kiyo, yang keretakannya menjadi jalur-jalur cahaya di kulitnya—dan ketika ia tertawa, retakan-retakan itu berpendar hangat seperti lampu-lampu kecil yang dinyalakan satu rumah di malam hari, dan anak-anak Meridien yang bermain dengannya di teras-teras tidak pernah menganggapnya aneh, karena di Meridien tidak ada lagi yang aneh; di Meridien ada yang dijaga dan ada yang menjaga, dan Fajar keduanya.
“*Aku ini apa?*” tanyanya kepada Kiyo pada suatu malam, di ambang rumah jaga, dengan Kucing Sumur tidur di sebelahnya seperti guling yang mendengkur. “*Aku bukan mereka.*” Ia menunjuk anak-anak yang pulang di jalan. “*Aku bukan kau juga—kau besar. Aku bukan pecahan-pecahan di brankas—mereka kecil dan tidak bicara. Aku ini apa?*”
“Kau yang pertama dari jenismu,” kata Kiyo. “Yang jatuh yang diangkat. Yang ditunggu yang akhirnya datang. Belum ada namanya, karena belum pernah ada—maka kau yang akan memutuskan artinya, dengan caramu hidup.” Ia menepuk tanah di sampingnya, dan Fajar duduk di sana, kecil di samping besarnya. “Itu berat?”
“*Sedikit,*” kata Fajar. Lalu, dengan kejujuran yang tidak pernah hilang dari rumah ini: “*Tapi tidak seberat tiga ratus tahun. Yang ini bisa kupikul.*”
---
Dan sebelum mereka meninggalkan Meridien, Fajar minta turun sekali lagi—ke bawah, ke dasar rumah dua lantai, ke tempat yang sudah bernama Tempat Diangkat.
Ia turun dalam gendongan kain di dada Kiyo, melalui lorong-lorong yang diterangi lampu jaga, dan berdiri—dengan kaki-kakinya yang kecil dan belum sepenuhnya bisa—di tepi ruang besar tempat tubuh raksasa itu tidur. Tidak ada napas yang naik. Tidak ada denyut yang rakus. Hanya batu besar yang selesai, yang berbaring dalam damai seperti gunung kecil yang dicangkokkan ke dalam tanah.
“*Itu aku,*” kata Fajar pelan—heran, tidak sedih, seperti orang memandang rumah masa kecilnya yang sudah dijual. “*Yang besar itu aku. Tiga ratus tahun aku kira aku adalah dia.*” Ia diam sebentar, dan tangannya yang kecil memegang tepi gendongan. “*Ternyata aku cuma tamunya yang paling lama. Tidurlah, yang besar. Aku pamit. Kalau-kalau kau bermimpi—mimpikan kucing.*”
Dan mereka naik, dan tidak menoleh lagi, karena pamitan yang benar tidak perlu ditoleh.
---
Nenek Suri meninggal pada musim itu juga—di gubuk batunya, di antara buku-buku, pada tidur yang damai, dengan teh yang masih hangat di mejanya.
Delapan penjaga, tiga ratus tahun, satu buku yang dimulai dengan pertanyaan dan diakhiri—di tangannya, di tahun-tahun terakhirnya—dengan jawaban. Anak magangnya dulu, penjaga buku kesembilan, menemukan halaman terakhir yang ditulisnya dengan tangan yang sudah hampir tidak bisa memegang pena, huruf-huruf yang gemetar seperti huruf Suri pertama di halaman pertama, melingkari tiga ratus tahun seperti dua ujung kain yang akhirnya bertemu:
*Pertanyaan pertama sudah dijawab. Bukan dengan kata-kata—dengan anak yang diangkat dari gelap oleh tangan yang tidak pergi. Yang retak bisa pulang tanpa dilebur. Aku sudah melihatnya dengan mata susuku. Delapan dari kami menunggu di gerbang, dan yang kesembilan tidak perlu menunggu apa-apa lagi—dia hanya perlu menjaga, dan menjaga lebih ringan dari menunggu. Buku ini kututup dengan tidak takut. Buku-buku tidak butuh lemari, anak-anakku. Buku-buku butuh tangan.*
*— Suri, kedelapan dan terakhir yang menunggu.*
Pemakamannya dihadiri seluruh kota dan satu anak yang retak, yang berdiri di barisan depan di sebelah Kiyo, dan yang—ketika buku-buku itu dibawa melewatinya dalam prosesi—berdenyut pelan, dalam, seperti orang memberi hormat kepada penjaga yang menjaga lebih lama dari siapa pun. Fajar tidak sempat mengenalnya lama. Tetapi malam itu ia bertanya kepada Kiyo, dengan suara kecilnya, hal yang membuat Kiyo diam lama sebelum menjawab:
“*Dia menunggu jawaban tiga ratus tahun dan aku jawabannya. Apakah aku... apakah aku membuatnya menunggu?*”
“Tidak,” kata Kiyo. “Kau membuat penungguannya *berarti*. Bedanya itu seluruh bedanya di dunia, Fajar. Yang menunggu tanpa jawaban itu tragedi. Yang menunggu dan jawabannya datang—itu cerita yang layak ditulis delapan buku.”
---
Surat-surat terbang ke mana-mana dengan kabar kematian penjaga kedelapan, dan balasannya datang dari tiga belas kerajaan—dan dari ibu kota, dari meja duke, sepucuk surat yang dibacakan Kiyo di tepi tempat tidur rumah jaga dengan suara yang pecah di beberapa tempat:
*Paman Kiyo. Aku menangis membaca kabar Nenek Suri. Aku tidak pernah bertemu dengannya tapi aku membaca bukunya, dan orang yang bukunya kaubaca tidak pernah benar-benar orang asing. Di sini musim dingin dan Akar bertambah besar dan Emeteria bilang aku harus tidur lebih awal dan aku pura-pura tidak dengar, beberapa hal tidak berubah. Bastian mengirim salam dan tidak menulis apa-apa karena, katanya, surat-suratnya kalau ditulis akan jadi terlalu panjang untuk orang yang sedang berkabung. Kami menunggu kalian pulang. Rumah tidak sama tanpa orang-orangnya. Cepatlah—tapi pelan-pelan saja. Aturan pertama bukan cepat. Aturan pertama adalah datang.*
*P.S. Fajar, kalau kau membaca ini lewat Paman Kiyo: aku Lenard. Aku yang menamaimu. Di sini ada Akar dan ada kucing dan ada peti penuh saudara-saudaramu yang hangat, dan semuanya menunggu dengan cara yang benar: tanpa menuntut. Pulanglah. Rumahmu juga di sini.*
---