Penamaan itu dilakukan tiga hari kemudian, karena Lenard bersikeras pada prosesi yang benar—dan anak yang menamai kucing istana dari cerita pengantar tidur tidak bisa diburu soal nama.
“Begini aturannya,” katanya, di pelataran rumah jaga, di hadapan kota yang datang—Majelis, penjaga-penjaga, pelajar-pelajar, orang-orang yang dulu bersih, Bibi di kursi yang dibawakan, Nenek Suri di kursi yang lain, lebih kecil dari semuanya, dilipat pelan-pelan oleh waktu tetapi hadir, karena ada hal-hal yang ditunggu tiga ratus tahun dan lutut bukan alasan. “Nama itu penting. Nama itu yang pertama kau dengar ketika orang memanggilmu pulang. Jadi nama tidak boleh buru-buru, dan nama tidak boleh seram, dan nama tidak boleh diambil dari kata-kata yang sudah dipakai untuk menakuti.” Ia berhenti, dan memandang keranjang kecil di meja—yang kecil itu berbaring di dalam wol dengan mata barunya yang kecil, yang memandang dunia seperti dunia adalah cerita yang tidak sabar dibacanya. “Aku sudah berjalan-jalan tiga hari memikirkannya. Aku tanya Paman Kiyo, dan dia bilang dia tidak menamai apa-apa—*kamu yang menamai*, katanya, dan itu benar, itu selalu tugasku. Aku tanya Merle, dan Merle memberiku empat belas calon dan semuanya terdengar seperti kapal. Aku tanya Kucing Sumur, dan dia tidur.”
Pelataran itu tertawa—pelan, karena ini upacara, tetapi tawa.
“Lalu semalam aku tidak tidur, dan aku membaca Buku Pertama—yang kami simpan di bawah kaca, yang sudah tiga ratus tahun—dan aku membaca tentang kalian,” kata Lenard, dan ia berbalik, dan memandang orang-orang yang dulu bersih, dan suaranya tidak kejam, hanya jujur, seperti suara anak-anak yang belum belajar berbohong. “Lingkaran Fajar. Kalian menunggu fajar tiga ratus tahun. Kalian kira fajar itu pembukaan—semua dilebur, semua pulang ke satu tubuh, pagi setelah malam yang terlalu panjang. Kalian menunggu dengan benar dan mengartikannya salah, dan itu lebih sedih dari salah, karena menunggu itu pekerjaan yang berat dan kalian tidak pernah curang dalam menunggu.”
Ia berbalik lagi, ke keranjang kecil itu.
“Fajar kalian datang,” kata Lenard. “Dia tidak melebur siapa-siapa. Dia tidak membuka pintu. Dia retak di keranjang berlapis wol di rumah penjaga yang sudah mati, dan kata pertamanya adalah *pagi*, dan dia suka matahari, dan dia mau melihat kucing lebih dulu sebelum apa pun. Kalau itu bukan fajar, aku tidak tahu apa.” Ia mengangkat wajahnya—sembilan tahun, duke, pemberi nama—“Maka namanya Fajar. Bukan untuk menghormati yang menunggu. Untuk *menyelamatkan kata itu*. Kata-kata juga bisa tersesat tiga ratus tahun, dan kata ini sudah pulang.”
---
Tidak ada yang bertepuk tangan—karena di Meridien, yang terlalu besar tidak disambut tepuk tangan, melainkan diam yang penuh.
Penjaga buku kesembilan menuliskannya di Buku Kedelapan dengan lilin merah tanpa lambang. Nenek Suri, di kursinya, mengangguk kecil berkali-kali seperti orang menghitung manik, dan air menggenang di mata susunya, dan ia berkata kepada siapa pun yang cukup dekat untuk mendengar: “Suri pertama akan menulis halaman baru. Dia akan merobek halaman terakhirnya dan menulis ulang. *Akhir dari tugas kita adalah—*” dan suaranya yang seperti kertas dilipat itu menyelesaikannya, untuk buku yang tidak selesai, untuk kalimat yang ditinggalkan tinta tiga ratus tahun:
“*—duduk bersama yang sendirian, sampai selesai, sampai tidak sendirian lagi. Dan kalau sudah tidak sendirian lagi: gendong pulang.*”
Dan Bibi—perempuan tua yang jaringannya menunggu fajar tiga ratus tahun—berdiri dari kursinya dengan susah, ditahan dua pelajar, dan berjalan tiga langkah ke meja itu, dan memandang anak kecil yang bernama Fajar dari dekat untuk pertama kalinya.
“Tiga ratus tahun,” katanya, pelan, bukan kepada siapa-siapa, kepada tiga ratus tahun itu sendiri. “Kami menyanyi untuknya. Kami memberinya garam. Kami membangun meja-meja dan lampu-lampu dan menunggu pintu—” dan ia mengulurkan satu tangannya yang sudah sangat tua, dan berhenti, dan bertanya dengan sopan, karena ia sudah belajar: “Boleh?”
Dan Fajar—yang kecil, yang baru tiga hari punya mata—berdenyut ke arah tangan itu, dan denyutnya hangat, dan tidak takut, dan tidak lapar.
Maka Bibi meletakkan tangannya—tangan yang tiga puluh tahun menjadi meja jaringan itu, yang menandatangani kiriman-kiriman tinta emas—di samping keranjang itu, tidak menyentuh, hanya di samping, sedekat yang diizinkan sopan. Dan ia berdiri di sana lama, di bawah matahari, dengan tangannya di samping anak yang ditunggu jaringannya selama tiga ratus tahun, dan ketika ia akhirnya bicara, suaranya sudah menjadi suara perempuan yang lain, suara yang tidak lagi menjaga apa-apa:
“Fajar tidak mengetuk dua kali,” katanya—kalimat tua jaringannya, kalimat perintah kematian, kalimat yang dulu—dan ia menunduk dalam, kepada anak itu, kepada kata yang sudah diselamatkan itu. “Ternyata Fajar mengetuk sekali—dan yang membukakan bukan kunci. Yang membukakan tangan yang datang dan tidak pergi.” Ia mengangkat wajahnya, basah dan selesai. “Pulanglah, jaringanku. Kalian yang masih di sini—dengarkan aku untuk yang terakhir: bubar. Bukan kalah—*selesai*. Yang kita tunggu sudah datang, dan dia tidak butuh kita sebagai apa pun selain tetangga. Pulanglah dan jadi tetangga. Itu perintah terakhirku, dan perintahku yang pertama yang benar.”
---
Malam itu, di rumah jaga di samping mulut tambang, dengan lampu Raga menyala di luar dan lampu-lampu kecil menyala di dalam, Kiyo duduk di kursi kokoh menghadap dua anak—yang sembilan tahun dan yang tiga hari—dan memandang mereka dengan mata orang yang sudah seratus tahun lebih dan masih bisa dibuat tidak berkata-kata.
Lenard sedang mengajari Fajar tentang kukis—dengan sungguh-sungguh, dengan gambar-gambar yang digambar Merle, dengan daftar: *kukis biasa, kukis Meridien, kukis pinggiran*—dan Fajar mendengarkan dengan seluruh denyutnya, dan dari waktu ke waktu suaranya yang kecil dan pecah mengulang kata-kata seperti orang menghafal doa yang baru:
“*Kukis.*”
“Benar,” kata Lenard. “Kukis.”
“*Kucing.*”
“Kucing. Dia sedang tidur di kakiku. Besok kau boleh—pelan-pelan—”
“*Pulang,*” kata Fajar.
Dan kamar itu berhenti. Lenard mengangkat wajahnya. Kiyo tidak bergerak.
“*Pulang,*” ulang Fajar, dengan mata kecilnya yang baru, memandang keduanya—dua yang retak, dua yang diangkat—dengan kepastian anak yang sudah tahu satu kata yang paling penting dari semua kata. “*Semua cerita kalian pulang. Sumurnya pulang. Batunya pulang. Burungnya pulang.*” Ia berhenti, mencari kata yang belum ada, dan menemukan yang paling dekat: “*Aku juga mau. Nanti. Kalau sudah besar. Aku juga mau—pulang ke mana-mana.*”
Dan Kiyo tersenyum di dalam lampu yang rendah, dan berkata, dengan suara yang dalam dan pecah di tepinya:
“Maka kau sudah punya rumah, Fajar. Rumah bukan tempat—kata seorang perempuan tua yang sudah berpulang. Rumah adalah tangan. Dan tangan—” ia mengangkat tangannya yang besar, dan Lenard mengangkat tangannya yang kecil, dan keduanya berbaring terbuka di atas meja di samping keranjang—“tangan ada di mana-mana. Ke mana pun kau pergi, akan selalu ada tangan.”
“*Itu aturan kelima?*” tanya Fajar.
“Aturan keenam,” kata Kiyo. “Yang terakhir. Yang tidak ditulis di kitab mana pun, karena tidak perlu—karena kau sudah mengetahuinya sebelum kau retak.” Ia memandang dua anak itu, dan lampu-lampu, dan malam Meridien yang damai di luar jendela, dan gunung berbahu bundar yang berdiri di atas rumah dua lantai yang akhirnya selesai dengan tangisnya. “Ke mana pun kau pergi, akan selalu ada tangan. Dan kalau tidak ada—kau jadi tangannya.”