Tiga hari setelah kematian Dario, utara mulai mendingin—seperti besi yang dicelupkan ke air, berdesis pelan, dan akhirnya bisa dipegang.
Armada Behemoth benar-benar mundur dari muara. Bukan mundur setengah-setengah, bukan mundur sambil mengintai dari balik kabut—pergi. Eiddwen mengirim kabar lewat camar yang mendarat di tiang kuil: tujuh perahu besi terakhir terlihat melewati tanjung, berlayar ke selatan, dan tidak berbalik. Grimmwolf-nya mengawasi dari bawah air sampai bayangan-bayangan itu hilang dari jangkauan perasaannya. Raga menepati kata-katanya, kata demi kata, dengan ketelitian yang membuat Francis tidak nyaman.
“Orang seperti itu,” kata Francis, “menepati janji bukan karena takut melanggarnya. Dia menepati karena janjinya adalah satu-satunya barang yang masih dia punya yang tidak dibeli dari siapa pun.”
Berita kedua datang dua hari kemudian, dibawa burung yang bulunya basah oleh hujan timur: Roswitha menemukan kamp tawanan di lembah berkabut, menyerangnya malam hari, dan membebaskan dua ratus tiga puluh satu orang—nelayan, petani garam, anak-anak pulau yang diculik Behemoth bertahun-tahun untuk dijadikan awak perahu besi. Sebagian besar dari mereka sudah tidak ingat rumahnya. Roswitha menulis suratnya dengan gaya seorang prajurit: jumlah, keadaan, kebutuhan logistik. Tetapi di baris paling bawah, tulisan tombak-birunya berubah sedikit lebih kecil, seolah ditulis untuk dirinya sendiri: *Ada seorang ibu yang menangis memegangi kakiku karena anaknya pulang. Aku tidak tahu harus berbuat apa. Bastian bilang aku harus mulai membiasakan diri, karena akan ada banyak lagi.*
“Bastian menyusulnya,” kata Emeteria, tersenyum pertama kalinya dalam seminggu. “Lukanya pasti belum sembuh benar.”
“Luka Bastian tidak pernah sembuh benar,” kata Francis. “Dia menyembuhkannya pas-pasan supaya punya alasan terus bergerak.”
Dan di kota, pembangunan rumah-rumah nelayan dimulai—atas keputusan pertama yang ditandatangani Lenard sendiri sebagai duke.
---
Keputusan itu lahir di meja makan, di tengah sarapan, tanpa drama.
“Rumah nelayan yang terbakar,” kata Lenard sambil mengaduk buburnya. “Siapa yang membangunnya?”
“Biasanya,” kata Oswin hati-hati, “nelayannya sendiri, Tuan Muda. Dengan pinjaman dari—”
“Waktu rumah mereka terbakar,” kata Lenard, “mereka sedang mengungsi karena rumah *kita* diserang. Rumah mereka terbakar karena Behemoth mencari kita. Jadi rumah mereka tanggungan kita.” Ia meletakkan sendoknya dengan cara anak-anak meletakkan sendok—dengan bunyi. “Bahan dari gudang kadipaten. Tukangnya dari kota, dibayar. Nelayannya ikut membangun rumahnya sendiri supaya tahu rumahnya, tapi dibayar juga, karena mereka kehilangan musim melaut.”
Oswin membuka mulutnya. Menutupnya. Membuka jilid besar catatan rumah tangga, membuat beberapa hitungan dengan jari yang gemetar—bukan gemetar karena takut—dan berkata, “Bisa. Tidak murah. Tapi bisa.”
“Kalau tidak murah,” kata Lenard, “catat sebagai apa?”
“Sebagai apa, Tuan Muda?”
“Kalau rumah tangga mengeluarkan uang untuk membeli sesuatu yang bukan barang, dicatat sebagai apa? Paman Francis bilang ada kata untuk itu.”
Francis, dari ujung meja, mengangkat alisnya. “Investasi,” katanya. “Kau menanyakan itu tiga minggu lalu dan aku tidak menyangka kau mendengarkan.”
“Aku selalu mendengarkan,” kata Lenard, sedikit tersinggung. “Cuma jarang setuju.”
Emeteria tertawa—suara yang sudah berminggu-minggu tidak terdengar di ruang makan itu—dan harus menyembunyikannya di balik cangkirnya.
Hari itu juga surat keputusan keluar dengan segel duke yang masih perlu ditekan pakai dua tangan. Hari itu juga Lenard duduk di meja kecilnya dan menulis surat—surat pertamanya yang benar-benar ditulis sendiri, tanpa disuruh juru tulis—kepada Merle an Corvane di ibu kota. Suratnya miring-miring dan penuh coretan:
*Untuk Merle. Ayahku mati diracun orang jahat yang tidak pernah kutahu namanya. Pamanku mati di sel karena dia membantu orang jahat itu, atau dibantu, aku masih bingung bagian itu. Behemoth datang ke rumah kami dan Paman Kiyo berkelahi dengan pemimpinnya di tengah hujan dan menurut Kapten Vera itu seperti melihat dua gunung berkelahi tapi aku tidak boleh melihat dari jendela. Sekarang kami membangun rumah untuk nelayan karena itu tanggungan kami. Kau pernah bilang di ibu kota orang tidak pernah membayar apa yang mereka rusak. Di sini kami membayar. Kalau kau datang ke utara aku akan tunjukkan rumah-rumahnya dan juga kuil dan juga kalau kau beruntung Eiddwen mengangkat kepala dari laut. Dia paus. Dia temanku. Salam, Lenard Hakai, Duke. P.S. aku menulis ini sendiri.*
Surat itu dikirim dengan burung. Merle akan membacanya tiga kali berturut-turut, lalu menyimpannya di laci paling dalam, dan bertahun-tahun kemudian—pada hari-hari ketika ibu kota membuatnya muak—ia akan mengeluarkannya dan membacanya lagi. Tetapi itu cerita untuk nanti.
---
Sore itu Kiyo duduk di tangga kuil, di tempatnya yang biasa, memandangi pekerjaan di bawah sana.
Tembok barat sudah ditambal. Rangka-rangka rumah nelayan berdiri di atas arang rumah-rumah lama seperti tunas di atas bekas kebakaran hutan. Anak-anak yang dua minggu lalu bersembunyi di gudang bawah tanah sekarang berlarian di antara tukang-tukang, pura-pura membantu, benar-benar menghalangi, dan tidak ada satu tukang pun yang mengusir mereka.
Di nisan Aryeh, di sisi kuil, ada camar baru yang bertengger—atau camar yang sama yang rajin pulang, Kiyo tidak pernah bisa memastikan, dan memutuskan untuk tidak perlu memastikan.
‘Kamu lihat ini, Aryeh?’ pikirnya, karena akhir-akhir ini ia sering berbicara pada nisan itu dalam hati, cara orang berbicara pada rumah yang sudah kosong. ‘Uangmu dari istana. Nyonya. Pecahan batu. Benangnya makin panjang, bukan makin pendek. Kau menyeretku ke laut dan laut itu ternyata tidak ada dasarnya.’
Camar itu menoleh ke arahnya.
‘Tapi rumahnya masih berdiri,’ kata Kiyo, dan entah kepada camar, kepada nisan, atau kepada dirinya sendiri. ‘Dan selama rumahnya masih berdiri, benangnya bisa ditarik. Sampai ke ujung. Sampai ke wanita itu di kamarnya yang penuh burung.’
Ia tidak tahu bahwa tepat pada saat itu, di sebuah penginapan pinggir jalan tiga hari perjalanan ke selatan, Raga duduk sendirian di kamarnya yang gelap, memegangi liontinnya yang berdenyut—dan mendapati bahwa denyutnya berubah.
Selama bertahun-tahun denyut itu hanya satu arah: masuk ke tubuhnya, mengisinya, memakannya. Tetapi sejak pertemuannya dengan Kiyo, sejak tangannya sendiri memungut pecahan itu dari genangan di depan gudang, denyut itu kadang berhenti—berdiam—seolah-olah batu itu sedang *mendengarkan* sesuatu di kejauhan. Dan malam ini batu itu berdengung, pelan sekali, ke arah utara, dan Raga tahu tanpa ada yang memberitahunya bahwa di utara sana ada pecahan lain yang menjawabnya.
“Saudaramu mulai bangun,” kata Raga kepada liontinnya, dan suaranya di kegelapan terdengar lelah dan geli sekaligus. “Tenang saja. Kita ke Meridien dulu. Kucari tahu cara melepasmu tanpa mati—lalu kita kembali ke utara dan kuberikan anak batu itu pertarungan yang dia pantas dapatkan.”
Pecahan itu berdenyut. Raga tertawa pelan, lalu batuk, dan di telapak tangannya ada darah hitam yang ia hapus diam-diam ke kain sebelum sempat dilihat siapa pun.
Di utara, matahari turun ke laut. Di selatan, Nyonya membuka peta dan mulai menghitung ulang. Dan di kota tempat raja-raja duduk, seekor burung pembawa surat menembus malam ke arah rumah Hakai, membawa sepucuk surat bercap cincin bintang—surat yang akan tiba besok pagi, yang isinya hanya dua kalimat, yang akan mengubah musim itu menjadi musim perjalanan:
*Anakku yang tersumpah. Istana ini ternyata lebih penuh lubang dari yang kukira. Datanglah—dan jangan lewat gerbang depan.*