Malam sebelum keberangkatan, Lenard menemukan Kiyo di tangga kuil, di tempat yang sudah menjadi tempat mereka berdua.
“Kau mau pergi lagi,” kata Lenard. Bukan pertanyaan. Anak itu sudah belajar membaca rumah ini seperti orang dewasa membaca langit: dari mana-mana yang dikemasi, dari pelayan yang berbisik lebih pelan, dari cara Francis memeriksa gudang.
“Besok sebelum subuh,” kata Kiyo. “Ke ibu kota. Raja yang memanggil.”
“Aku ikut.”
“Tidak.”
Lenard menarik napas—Kiyo melihat dada kecil itu naik, melihat anak itu menyiapkan perdebatan, mengatur argumen seperti Francis mengatur benang. Tetapi kemudian napas itu keluar lagi, pelan-pelan, dan anak itu hanya duduk di tangga sebelahnya.
“Kenapa tidak?” tanyanya, dan suaranya berusaha keras menjadi suara duke.
“Karena terakhir kali kita berdua pergi, rumah ini hampir tidak punya siapa-siapa.” Kiyo menunjuk ke bawah, ke halaman yang remang, ke rangka-rangka rumah nelayan yang berdiri seperti kerangka perahu. “Rumah ini baru saja berdarah, Lenard. Orang-orangnya baru berani tidur lagi. Kalau dukenya pergi dan aku pergi dan Francis pergi—siapa yang mereka lihat di menara waktu mereka bangun pagi?”
“Emeteria.”
“Emeteria memegang segel. Segel tidak kelihatan dari jendela. Dukeya yang kelihatan.” Kiyo mendengus. “Kau tahu berapa kali sehari orang melihat ke menara? Aku menghitung. Terus-menerus. Mereka tidak melihat apa-apa—mereka hanya memastikan ada yang bisa dilihat.”
Lenard diam lama. Jari-jarinya memutar-mutar jimat bulu burung di lehernya.
“Jadi kau menitipkan rumah padaku,” katanya akhirnya, hati-hati, seperti orang menimbang batu di telapak tangan. “Bukan meninggalkanku. Menitipkan.”
“Menitipkan,” kata Kiyo. “Ada bedanya. Yang ditinggalkan tidak punya tugas.”
Anak itu mengangguk pelan. Lalu, dengan dua tangan, ia melepas jimat bulu burung dari lehernya—jimat yang sudah bertahun-tahun tidak pernah lepas, yang ikut ke sidang dewan, ke pengesahan, ke mana-mana—dan mengkalungkannya ke leher Kiyo. Bulu itu hilang separuhnya ditelan leher besar anak batu itu.
“Dipinjamkan,” kata Lenard tegas. “Bukan diberikan. Ada bedanya. Yang dipinjamkan harus kembali.”
Kiyo memegang bulu itu. Bulu camar, sudah kusam, sudah dicintai sampai licin. “Akan kembali,” katanya. “Dengan pemilik lehernya.”
---
Subuhnya, sebelum gerbang kota membuka, sebuah kereta gudang keluar lewat pintu samping—pintu yang dipakai tukang sampah dan pengantar bir, pintu yang tidak pernah dicatat siapa pun. Di dalamnya: Francis dengan pakaian pedagang benang (yang bukan penyamaran, karena ia memang pernah benar-benar berdagang benang), Kiyo dengan caping petani garam yang menutupi matanya, dan empat pengawal pilihan Vera yang semuanya punya satu kesamaan: tidak satu pun dari mereka tampan, tidak satu pun mudah diingat.
Di persimpangan pertama, seorang kurir Simpul menunggu dengan berita yang membuat Francis diam beberapa detik.
“Mester Hubert raib,” kata kurir itu. “Tiga malam lalu. Rumahnya kosong—bukan kosong diburu-buru, kosong *rapi*. Lemari kosong. Laci kosong. Perapian dingin dan bersih, abunya saja tidak ada. Tetangganya tidak melihat gerobak, tidak melihat kuda, tidak melihat apa-apa. Seolah-olah Mester Hubert tidak pernah tinggal di situ.”
“Berapa lama dia tinggal di situ?” tanya Kiyo.
“Sebelas tahun.”
Francis menggosok pelipisnya. “Sebelas tahun jadi Mester Hubert, lalu semalam jadi bukan siapa-siapa. Itu bukan kabur. Kabur itu berantakan. Itu—dibersihkan. Orang-orang ini membersihkan orangnya sendiri seperti pelayan membersihkan kamar.”
“Jaringanmu bisa begitu?” tanya Kiyo.
“Simpulku menyelundupkan orang *keluar* dari bahaya,” kata Francis. “Tidak pernah menghapus mereka sampai abu perapiannya pun hilang. Itu pekerjaan rumah tangga yang jauh lebih teliti dari rumah tangga mana pun yang pernah kukenal.” Ia menatap jalan ke selatan. “Dan itu berarti Hubert—kalau dia masih hidup—sudah tidak bisa kita jadikan saksi. Mereka tidak menyimpan barang bekas.”
Mereka berjalan empat hari.
Jaringan Simpul membawa mereka seperti arus membawa daun: rumah singgah di kota kecil yang pemiliknya punya cap simpul di bawah pelana kudanya, perahu sayur yang menyeberangkan mereka sebelum jembatan resmi dibuka, gubuk penjaga mercusuar yang ternyata tidak pernah menyalakan mercusuar apa pun—tugasnya hanya memastikan orang-orang tertentu bisa lewat tanpa nama. Kiyo tidak pernah tahu jaringan pamannya seluas ini, dan dari caranya mengedikkan bahu setiap kali rumah singgah baru terbuka, Francis tahu anak itu sedang menghitung ulang segalanya.
“Kau bangun ini kapan?” tanya Kiyo di malam kedua, di loteng rumah singgah yang bau jerami.
“Sebelum kau retak dari batumu,” kata Francis. “Simpul tidak kubuat untuk perang, Kiyo. Kubuat karena dunia ini rajin sekali menelan orang yang salah. Satu-satunya cara melawannya ya rajin-rajin menarik mereka kembali sebelum ditelan.” Ia membaringkan tubuh tuanya dengan keluhan kecil yang tidak pernah diakuinya di siang hari. “Tapi Simpulku tidak punya lawan bicara di ibu kota. Istana itu—setiap kali Simpul mencoba menanam satu orang di dalam temboknya, orang itu pindah agama, atau pindah kota, atau pindah alam. Tiga kali kucoba. Tiga kali gagal. Kubilang pada diriku sendiri itu nasib buruk.”
“Dan sekarang?”
“Sekarang kubilang pada diriku sendiri: tidak ada nasib yang serapi itu.”
Di kota ketiga—kota pasar di lekuk sungai, tempat mereka mampir makan—mata kanan Kiyo menangkapnya lagi: di tengah keramaian pasar yang sehat, ada dua-tiga aura berminyak yang berdiri diam. Tidak berdagang. Tidak membeli. Hanya berdiri di dekat papan pengumuman, dekat pintu gerbang, dekat kantor bendahara kota—seperti lalat di pinggir mangkuk.
“Francis,” kata Kiyo pelan. “Kota ini punya lalatnya.”
“Jaringanmu?”
“Bukan punyaku.”
Malam itu, di loteng, Francis menatap peta lama yang selalu ia bawa—peta yang penuh titik-titik kecil tempat Simpul menanam orangnya. Dengan ujung jari ia menandai kota-kota yang menurut Kiyo punya lalat berminyak: kota pasar sungai ini, dua kota yang mereka lewati, Velles di utara.
“Kota-kota uang,” katanya akhirnya, dan suaranya tua. “Semua kota yang dilewati upeti. Mereka tidak menanam orang di tempat kekuasaan, Kiyo—tempat kekuasaan itu ramai, semua orang menatapnya. Mereka menanam di tempat *uang lewat*. Orang yang menghitung tidak pernah dihitung.”
Hari keempat, matahari belum terbenam ketika menara-menara Kota Raja muncul—dan mereka tidak mendekatinya.
Sesuai surat, mereka menunggu gelap di pinggiran kanal, di antara tong-tong ikan. Perahu yang menjemput tidak berlampu. Pendayungnya seorang lelaki tua bungkuk yang tidak mengucapkan satu kata pun—dan ketika Francis mencoba bicara, lelaki itu menunjuk mulutnya dan menggeleng: bisu. Raja mengirim orang yang secara harfiah tidak bisa membocorkan apa pun.
Perahu masuk ke kota lewat pintu air—gerbang besi berkarat yang dijaga dua orang yang sibuk bermain dadu dan tidak menoleh sama sekali, dengan kedisiplinan yang justru menandakan mereka sudah dibayar mahal untuk tidak disiplin. Air kanal bau dan hitam. Di atas mereka, Kota Raja berkilau dengan lampu-lampunya yang terkenal, dan di bawahnya, di air hitam, rombongan duke utara masuk seperti sampah.
“Jangan lewat gerbang depan,” tiru Kiyo, hampir tertawa. “Aku sudah dua kali ke kotamu ini, Raja tua. Sekali lewat gerbang dengan bendera. Sekali lewat selokan.”
Perpustakaan pribadi Raja Aldric berada jauh di dalam istana, di ujung tangga yang makin sempit, di balik pintu yang tidak lebih besar dari pintu dapur. Ruangannya kecil, hangat, penuh kertas, dan sama sekali tidak mirip ruang raja—mirip kamar kakek yang tidak pernah dibersihkan sejak cucunya lulus.
Raja duduk di antara tumpukan buku. Ia terlihat lebih tua dari terakhir kali Kiyo melihatnya—tidak bulan, tidak musim, melainkan lebih tua dengan cara yang salah, seperti rumah yang atapnya mulai turun. Tetapi matanya masih mata yang sama: mata yang di pesta taman dulu berkedip pada Kiyo seperti kakek berbagi rahasia.
“Anakku yang tersumpah,” kata Raja Aldric. “Maafkan selokannya. Gerbang depanku punya terlalu banyak mata yang bukan mataku.” Ia menunjuk dua kursi. Pelayan bisu itu menuangkan anggur, lalu menghilang—bukan keluar, menghilang, ada pintu kedua yang tidak kelihatan.
“Baginda menemukan lubang-lubang,” kata Francis.
“Aku menemukan kuburan,” kata Raja.
Ia menarik sebuah jilid tipis dari bawah bantal kursinya—menyimpannya seperti orang menyimpan surat cinta atau surat ancaman—dan membukanya. Tiga nama ditulis di sana dengan tangan tua yang gemetar.
“Dua tahun terakhir, tiga orangku mati. Bendahara kecil di kantor upeti, jatuh dari tangga—dia penjaga tangga paling hati-hati yang pernah kupunya. Penasihat lamaku, tidur dan tidak bangun—dia tidur paling gelisah dari semua manusia yang kukenal, tikus bersin pun membangunkannya. Penjaga arsip, tenggelam di pemandian—dia tidak pernah mandi di pemandian, dia takut air, semua orang tahu dia takut air.” Raja menutup jilid itu. “Semua kematian wajar. Semua ada saksi. Semua rapi. Kau tahu berapa umurku, Francis? Aku sudah melihat enam puluh tahun kematian. Kematian tidak pernah serapi itu. Kematian itu jorok dan tidak tahu malu. Kematian yang rapi adalah kematian yang dibayar.”
Ia menatap Kiyo, dan untuk pertama kalinya malam itu senyum lamanya muncul—tipis, lelah, tetapi asli.
“Waktu kau membaca aulaku dulu, kau menemukan juru tulis yang berkedip. Kali ini aku tidak minta kau membaca aulaku, anak batu. Kali ini aku minta kau membaca rumahku. Semuanya. Sampai ke dinding-dindingnya.” Ia berdiri, dan tangannya bergetar sedikit di tongkatnya. “Karena aku curiga ada sesuatu yang hidup di dalam dinding rumahku—dan sudah lama sekali, jauh lebih lama dari umurku—yang tidak pernah diundang siapa pun.”