Jamuan itu diumumkan dua hari kemudian, dengan alasan yang tidak bisa diprotes siapa pun: Raja merayakan sembuhnya musim dingin.
Bukan ulang tahun—terlalu mudah diingat. Bukan hari jadi penobatan—terlalu politik. Sembuhnya musim dingin, kata pengumuman itu, adalah hari yang dirayakan raja-raja tiga ratus tahun lalu dan tidak pernah dirayakan lagi sejak itu, dan Raja Aldric dalam kebijaksanaan tuanya memutuskan menghidupkannya kembali. Para bangsawan menggerutu tentang raja senewen dan tradisi karangan, lalu datang juga semuanya, karena tidak datang ke jamuan raja adalah cara tercepat menjadi bahan pembicaraan yang salah.
“Kau tahu kenapa alasan ini bagus?” kata Francis kepada Kiyo, pagi itu, sambil memakaikan seragam pengawal bersumpah yang sudah digosok semalam. “Karena tidak ada yang tahu cara merayakannya. Tidak ada yang tahu duduk di mana, berdiri di mana, bicara dengan siapa. Jadi semua orang berdiri di mana saja—dan aulanya jadi cair. Tidak ada posisi. Tidak ada kelompok yang sudah jadi. Semua aura berkeliaran bebas untuk kau baca.”
“Kau yang mengarang tradisi ini,” kata Kiyo.
“Aku mengusulkan. Raja yang mengarang. Raja tua itu pengarang yang lebih berbakat dari dugaanku—kau harus dengar pidatonya nanti, dia bahkan menangis di bagian yang dia karang sendiri.”
Sebelum jamuan, Kiyo melakukan sesuatu yang tidak pernah dilakukannya di istana: ia berjalan-jalan di dalamnya.
Dengan seragam pengawal bersumpah dan cincin bintang di jarinya, tidak ada satu penjaga pun yang menahannya. Ia berjalan dari dapur ke menara, dari gudang anggur ke kandang kuda, pelan-pelan, seperti orang mengagumi bangunan—sementara mata kanannya membuka dirinya lebar-lebar dan menelan istana itu lantai demi lantai.
Istana tua itu dipenuhi aura manusia seperti pasar dipenuhi bau: ribuan, bertumpuk, bertahun-tahun mengendap di batu. Kebanyakan pudar dan jujur. Di sana-sini ada yang berminyak—juru masak yang mencuri, penjaga yang memeras, pegawai kecil yang menjual kabar. Biasa. Setiap rumah besar punya tikusnya.
Yang tidak biasa ada dua.
Yang pertama: di sayap barat, di koridor yang tidak dilewati siapa pun, ada aura yang tertinggal di dinding seperti bekas tangan berminyak di pegangan tangga—tetapi bekas ini *tua*. Berlapis-lapis. Puluhan tahun. Seseorang sudah lewat di koridor ini, malam demi malam, selama puluhan tahun, dan koridornya sendiri sudah jadi berminyak karenanya. Kiyo berdiri di sana lama sekali. Koridor itu menuju ke satu tempat: tangga turun. Terkunci. Gembolnya baru.
Yang kedua ia temukan justru di ruang paling ramai—aula jamuan itu sendiri. Di bawah lantai utamanya, di bawah kaki semua orang yang akan berdansa malam itu, ada denyut.
Samar. Dalam. Seperti detak jantung rumah.
‘Pecahan,’ kata Kiyo dalam hati, dan tengkuknya dingin. ‘Di dalam istana. Di bawah aulanya sendiri.’
---
Malam itu aula penuh cahaya dan kebohongan yang sopan.
Kiyo berdiri di dinding, di tempat pengawal bersumpah seharusnya berdiri, dan membaca.
Ia membaca Marquis Bellamy lebih dulu—karena Bellamy datang langsung ke arahnya, dengan dua gelas dan senyum yang tidak ramah.
“Anak batu dari utara,” kata Bellamy, menyodorkan satu gelas. “Kau tiba lewat pintu mana kali ini? Kubilang pada Raja, pengawal bersumpah yang tidak pernah terlihat di istana adalah pengawal yang buruk. Dia bilang kau sedang bertugas di tempat rahasia. Sangat rahasia, konon, sampai tidak ada satu orang pun di istana ini yang tahu—padahal aku tahu segalanya.”
“Aku di utara, Tuan Marquis. Menjaga anakku.”
“Anak dukemu.” Bellamy mendengus. “Lima tahun umurnya dan sudah mengesahkan pembangunan rumah nelayan dengan uang kadipaten. Kau tahu apa kata orang sini? Duke kecil itu menghamburkan uang seperti kakeknya menabur garam.”
“Kata orang sini juga,” kata Kiyo, mengangkat gelasnya sedikit, “Marquis Bellamy tidak pernah membangun apa pun dengan uangnya sendiri.”
Beberapa orang di dekat situ menahan napas. Bellamy menatapnya—dan mata kanan Kiyo membaca auranya sejelas membaca papan pengumuman: merah marun, keras, kasar di tepinya, tetapi *bersih*. Tidak berminyak. Tidak ada satu noda pun dari jenis yang dicarinya. Lelaki ini membenci mereka dengan jujur, menyerang mereka di depan umum dengan jujur, dan pulang ke rumahnya dengan jujur.
‘Musuh,’ pikir Kiyo, ‘tapi bukan musuh yang ini.’
Bellamy tertawa—pendek, keras, seperti anjing menggonggong. “Berani juga mulutmu. Bagus. Istana ini terlalu penuh orang yang tersenyum.” Ia berjalan pergi, dan Kiyo menandai dalam hati: bukan dia. Musuh terbuka itu bukan dia.
Yang berminyak muncul satu per satu sepanjang malam, dan tidak satu pun dari mereka orang penting.
Kepala kurir istana—lelaki kurus yang mengatur semua surat masuk dan keluar—auranya berminyak sampai hampir menetes, dan ia tidak minum, tidak makan, hanya berdiri di dekat pilar seperti orang yang sedang bekerja. Wakil bendahara—perempuan muda dengan senyum rajin yang menghitung gelas para tamu alih-alih menikmatinya. Dan penjaga arsip baru—pengganti yang tenggelam di pemandian—seorang lelaki pendiam yang tiga kali malam itu berdiri terlalu lama di dekat pintu-pintu yang seharusnya tidak menarik baginya.
Kiyo melaporkan ketiganya kepada Francis lewat bisikan, nama per nama. Francis mengangguk setiap kali, dan matanya makin tua setiap kali.
“Kurir, bendahara, arsip,” gumamnya kemudian, di sudut yang sepi. “Surat, uang, dan ingatan. Mereka tidak menanam orang di takhta, Kiyo. Mereka menanam di bawahnya—di tiga hal yang membuat takhta bisa berjalan. Siapa pun yang memegang tiga itu memegang kerajaan tanpa pernah tercatat, tanpa pernah dihujat, tanpa pernah jadi sasaran siapa pun.”
“Dan raja yang menua di atasnya,” kata Kiyo pelan, “tidak pernah tahu.”
Di tengah aula, Raja Aldric berpidato tentang musim dingin—dan benar kata Francis, ia menangis di bagian yang dikarangnya sendiri, tentang musim semi yang selalu datang kepada orang yang sabar, dan beberapa bangsawan ikut menangis tanpa tahu kenapa.
Di antara mereka, seorang pemuda berdiri canggung dengan pakaian terlalu baru, memandangi Kiyo dari jauh dengan ekspresi orang yang menahan sesuatu yang meledak-ledak. Akhirnya ia tidak tahan lagi. Ia menyelinap ke dinding tempat Kiyo berdiri.
“Paman Kiyo,” bisik Merle an Corvane.
Kiyo menoleh. Pemuda itu—teman pena Lenard, bangsawan muda yang dulu di pesta taman menempel pada Lenard seperti bayangan—sekarang berdiri di depannya, mengeluarkan sesuatu dari dalam bajunya dengan dua tangan seperti mengeluarkan pusaka.
Sebuah surat. Miring-miring, penuh coretan.
“Dari Lenard,” bisik Merle. “Dua hari lalu sampai. Isinya—” suaranya makin kecil, “—dia menitahkan saya. Katanya: kalau Paman Kiyo ke ibu kota, Merle harus menjaga Paman Kiyo karena Paman Kiyo tidak tahu mana orang jahat yang pakai sepatu bagus.” Wajah Merle memerah. “Dia duke saya juga. Secara tidak resmi. Menurut dia. Jadi saya di sini. Menjaga Paman.”
Kiyo memandangi pemuda kurus itu, lalu memandangi aula penuh bangsawan, lalu kembali ke pemuda itu. Sesuatu di dadanya—yang sudah terasa berat sejak turun dari perahu kanal—menjadi sedikit lebih ringan.
“Tugas berat,” kata Kiyo serius. “Kau lihat sepatu-sepatu di sini? Hampir semuanya bagus.”
“Saya tahu,” kata Merle, sungguh-sungguh dan sedih. “Itu masalahnya, Paman.”
Jamuan bubar lewat tengah malam. Ketika aula sudah kosong dan lilin-lilin dipadamkan, Raja Aldric duduk di kursinya yang bukan takhta, di sudut, dengan wajah orang yang baru selesai memerankan dirinya sendiri.
Kiyo datang dan berlutut di samping kursinya—bukan karena protokol, tetapi supaya suaranya bisa sangat pelan.
“Kurir, bendahara, arsip,” katanya. “Tiga orang. Berminyak semua.”
Raja mengangguk pelan. Ia tidak terkejut, dan itu membuatnya tampak lebih tua lagi.
“Tapi bukan itu yang penting, Baginda.” Kiyo ragu sesaat, mencari kata untuk hal yang tidak punya kata. “Di bawah aula ini. Di bawah lantai tempat semua orang berdansa tadi. Ada sesuatu yang berdenyut. Seperti detak jantung.” Ia menatap mata tua itu. “Aku lahir dari batu, Baginda. Batuku berdenyut seperti itu dulu. Dan di bawah rumahmu ada satu yang sudah berdenyut—dari caranya tertidur di batu lantai, aku tebak—sejak sebelum rumahmu berdiri.”
Raja Aldric tidak menjawab untuk waktu yang lama.
Di luar, angin malam menggerakkan jendela. Lilin terakhir bergetar.
“Dua ratus tahun istana ini,” kata Raja akhirnya, lirih, “dan raja-rajanya tidur di atas jantung yang bukan jantung mereka. Aku selalu bermimpi buruk di kamar lamaku, kau tahu. Sejak kecil. Kukira semua raja memang begitu.” Ia bangkit, lambat, berat. “Besok kita turun ke bawah. Kau, aku, dan orang benangmu. Tidak ada penjaga. Tidak ada kurir.” Ia berhenti di pintu. “Kalau ada sesuatu yang hidup di bawah rumahku dan tidak pernah diundang—sudah waktunya aku, sebagai tuan rumah, menemuinya sendiri.”