Penurunan ke bawah aula ditunda satu hari—pintu besi di dasar tangga itu ternyata tidak punya kunci yang cocok dengan satu pun kunci istana, dan Raja menolak membongkarnya dengan ramai. “Pintu yang bertahan dua ratus tahun,” katanya, “bisa menunggu satu hari lagi. Kalian berdua: pakai harinya untuk kaki lain dari meja ini. Kurirnya. Rumah singgah dari catatan duke mati itu. Temukan aku sesuatu yang hidup.”
Maka pagi itu Kiyo dan Francis pergi ke Lorong Kain.
Lorong Kain ada di bagian kota tempat semua hal diperjualbelikan tanpa ditanya asalnya—kain bekas, kain curian, kain yang jatuh dari gerobak, kain yang tidak pernah ada di manifest mana pun. Rumah singgah di ujung lorong itu bernama Kepundung, tiga lantai, catnya mengelupas, dan menurut catatan pembayaran Dario, kurirnya bermalam di situ setiap kali membawa uang untuk Nyonya.
Pintunya tidak dikunci. Di dalam, tidak ada siapa-siapa.
Bukan kosong kacau—kosong *rapi*. Tempat tidur terlipat. Perapian bersih. Bahkan baunya sudah dibersihkan: rumah singgah seharusnya bau keringat dan sup, dan rumah ini bau cuka. Seseorang sudah mencuci rumah ini seperti mencuci piring.
“Dua hari,” kata Francis, meraba meja. “Debu dua hari. Mereka membersihkannya dua hari lalu—tepat ketika kita menembus dinding selokan.” Ia tertawa tanpa humor. “Ada yang memberi tahu mereka kita datang. Atau ada yang memberi tahu mereka tiga nama itu sudah terbaca di jamuan. Kurir, bendahara, arsip—salah satunya pasti sempat mengirim kabar.”
“Belum tentu kosong,” kata Kiyo.
Ia sudah berlutut di lantai, caping petaninya dilepas, dan di bawah meja dapur, di kegelapan yang hangat dekat perapian yang dingin, sepasang mata kecil memandanginya.
“Halo,” kata Kiyo.
Tikus itu—betina tua, gemuk, satu telinga sobek—tidak lari. Manusia tidak berlutut dan bicara; manusia berdiri dan melempar. Ia maju selangkah, hidungnya bekerja.
‘Makanan?’ tanyanya, dalam bahasa yang bukan kata—bau, gerak, lapar.
“Nanti,” kata Kiyo, dan mengeluarkan sepotong roti dari sakunya, meletakkannya di lantai. “Dulu rumah ini ramai. Orang-orang datang malam. Perempuan dengan banyak burung. Kau ingat?”
Tikus itu makan. Di antara dua gigitan, jawabannya datang, samar dan tak berbentuk seperti mimpi siang: *burung-burung di kerangkeng, suaranya bikin telinga sakit. Perempuan itu membawa bau manis. Bau manis membuat kaki gatal, membuat tidur. Orang-orang malam memakai sepatu bunyi. Yang terakhir datang memakai sepatu halus—bunyi seperti di lantai licin, bukan lantai kayu.*
“Sepatu halus,” ulang Kiyo. “Seperti sepatu istana?”
‘Istana?’ Tikus itu tidak kenal kata itu. ‘Lantai licin. Batu dingin. Tempat kucing-kucing gemuk malas berburu.’
“Kucing gemuk malas berburu,” kata Kiyo pada Francis, yang berdiri di pintu dengan alis terangkat. “Dia menggambarkan istana lebih baik dari para pujangga.”
Di lantai dua, di bawah atap yang bocor sedikit, seekor kucing rumah singgah—jantan, tua, bulu abu-abu, pemilik sah rumah ini menurut pendapatnya sendiri—menguap ketika Kiyo mendekat.
‘Kau yang dari laut,’ kata kucing itu, membuka satu mata. ‘Baumu seperti badai yang memutuskan tinggal. Kucing pelabuhan membicarakanmu.’
“Kucing pelabuhan membicarakanku?”
‘Kucing pelabuhan membicarakan semua orang. Tidak ada kerja lain.’ Kucing itu meregang, kukunya keluar-masuk. ‘Perempuan burung itu. Kau mau bertanya tentang perempuan burung itu. Semua orang akhirnya bertanya tentang perempuan burung itu.’
“Kau kenal dia?”
‘Dia tidak pernah ke sini. Orang-orangnya saja. Tetapi burung-burungnya—’ mata kucing itu menyipit, dan untuk pertama kalinya ada sesuatu di sana yang bukan kelaparan atau kesombongan, sesuatu yang mendekati jijik, ‘—burung-burungnya tidak bernyanyi. Burung di kerangkeng bernyanyi, manusia. Selalu. Cengkerik di toples pun bernyanyi. Burung-burungnya *mendengarkan*. Itu bukan cara burung. Itu cara—’ kucing itu mencari, ‘—cara mata.’
Kiyo diam sebentar. “Burung-burung itu mata baginya.”
‘Dibawa pergi dua malam lalu. Semua. Kerangkeng-kerangkeng itu ke bukit. Rumah besar di bukit, tempat elang tidak mau hinggap. Burung-burung di sana berhenti bernyanyi sama sekali, kata camar-camar. Camar tidak banyak bicara, tetapi tentang bukit itu mereka bicara.’ Kucing itu menutup matanya lagi, urusan selesai. ‘Makanan.’
Kiyo meletakkan sisa rotinya. “Kau kucing yang berguna.”
‘Semua kucing berguna. Manusia saja yang lambat menyadarinya.’
---
Bukit yang dimaksud bernama Bukit Biduk—di utara kota, tempat rumah-rumah besar berdiri di antara kebun anggur tua. Rumah besar itu bernama resmi Rumah Asoka, tetapi camar-camar dan kucing-kucing dan akhirnya juga orang-orang menyebutnya dengan nama lain.
“Rumah Kandang,” kata pemilik warung di bawah bukit, sambil memandang ke atas. “Penghuninya janda kaya. Nyonya Ottilie. Dermawan—mendanai rumah sakit, panti, panti yang lain. Setiap bangsawan di kota ini pernah makan di mejanya atau berutang padanya, biasanya dua-duanya. Tidak pernah keluar rumah sejak suaminya mati. Hanya burung-burungnya yang keluar.” Ia mengedikkan bahu. “Burung-burungnya ke mana-mana.”
Kiyo dan Francis menghabiskan senja di kebun anggur di seberang jalan, pura-pura memeriksa gerobak rusak, sementara mata kanan Kiyo menembus tembok dan pohon.
Rumah itu auranya berminyak sampai Kiyo harus menyipit—puluhan tahun noda yang menempel di batu, berlapis-lapis. Di lantai duanya, satu aura menyala pekat seperti gumpalan minyak di atas air: dia. Nyonya Ottilie. Dan di bawah rumah itu, di ruang bawah tanah—
Kiyo menahan napas.
Bukan satu denyut. *Banyak.* Lima, enam, tujuh—berdenyut tidak serempak, seperti jantung-jantung beberapa makhluk tidur yang dijejerkan dalam satu kamar. Pecahan-pecahan. Rumah itu bukan rumah; rumah itu sarang, dan di dasarnya bertelur batu-batu.
“Francis,” bisik Kiyo. “Dia mengoleksinya. Seperti orang mengoleksi kerang. Ada tujuh denyut di bawah rumah itu.”
“Tujuh,” ulang Francis. Wajahnya pucat di bawah warna senja. “Kamu dari satu kepompong. Raga memakai satu pecahan dan jadi pembantai. Dia punya tujuh di bawah rumahnya—dan tidak memakai satu pun. Dia bukan petarung, Kiyo. Dia *kurator*.”
Menjelang gelap, halaman rumah itu mulai sibuk.
Gerobak-gerobak tertutup masuk dari jalan belakang. Peti-peti—panjang, rata, seperti peti penyimpan dokumen atau peti penyimpan sesuatu yang tidak boleh bergerak—diangkat keluar dari pintu samping oleh orang-orang yang bekerja dengan ketenangan menakutkan dari orang-orang yang sudah sering melakukannya. Peti-peti itu diberi cap lilin tanpa lambang. Gerobak-gerobak itu, kata penjaga kebun yang sudah dibeli Francis, akan turun ke pelabuhan, ke kapal yang menyala lampunya sejak sore: kapal layar cepat, layar abu-abu, tanpa nama.
“Dia berkemas,” kata Francis. “Dua malam membersihkan rumah singgah, sekarang mengosongkan sarangnya. Dia tahu, Kiyo. Entah siapa yang membisikkan—dia tahu kita sudah di kotanya.”
Dan pada saat itu, di halaman rumah besar itu, di antara lampu-lampu yang mulai menyala, Kiyo melihatnya.
Nyonya Ottilie keluar ke teras—perempuan tua yang tidak tua dengan cara yang biasa, tubuhnya masih lurus, rambutnya putih disanggul ketat, dan di pundaknya, di bajunya, di kereta dorong kecil yang penuh kerangkeng di sampingnya—burung. Burung di mana-mana, bertengger diam seperti pakaiannya. Gagak, camar, burung pipit, burung hantu siang hari. Tidak satu pun bernyanyi.
Ia berdiri di teras, dan tangannya mengelus kepala seekor gagak, dan matanya menyapu jalan, kebun anggur, tembok—
Dan berhenti.
Tepat di kebun anggur. Tepat di gerobak rusak. Tepat di dua titik gelap yang adalah Kiyo dan Francis di antara rimbun daun, seratus lima puluh langkah, di balik dua lapis dahan, dalam cahaya yang sudah mati.
Mustahil. Tidak ada yang bisa melihat mereka di sana.
Nyonya Ottilie memandangi kegelapan itu selama tiga detik yang panjangnya seperti tiga musim.
Lalu ia mengangkat tangannya—pelan, sopan, seperti seorang nyonya rumah menyapa tamu yang datang terlalu pagi—dan melambai.
Gagak di pundaknya membuka paruhnya. Tidak ada suara yang keluar. Tetapi Kiyo tahu, dengan dingin yang turun dari tengkuknya ke tumitnya, bahwa burung itu sedang berbicara di tempat lain, kepada seseorang, di dalam istana atau di bawahnya.
“Kita masuk malam ini,” kata Kiyo.
“Kita butuh surat Raja—”
“Dia sudah membaca kita, Francis. Sebelum matahari terbit rumah itu kosong dan kapal abu-abu itu sudah di laut.” Kiyo berdiri, dan caping petaninya jatuh ke tanah kebun anggur, dan mata kanannya—abu-abu, tua, lebih tua dari bukit tempatnya berdiri—menyala samar di bawah langit yang mati. “Beritahu rajamu. Rumah Kandang malam ini.”