Surat perintah Raja datang satu jam setelah senja, dibawa pelayan bisu yang sama, disegel dengan cincin bintang—segel yang tidak pernah dipakai untuk surat biasa. Isinya pendek, dan Raja menandatanganinya bukan dengan gelar panjangnya tetapi dengan satu kata: *Aldric.*
“Buka Rumah Kandang malam ini,” baca Francis. “Atas namaku. Siapa pun yang menghalangimu menghalangi takhta.” Ia melipat surat itu. “Dia bahkan tidak bertanya apa yang kau lihat di kebun anggur itu. Raja tua itu sudah memutuskan—dia hanya menunggu seseorang yang matanya bisa dia percaya.”
Mereka membawa dua puluh orang—pengawal istana yang dipilih langsung oleh Raja, bukan oleh kepala pengawal istana, karena Raja sudah belajar. Merle an Corvane datang juga, tidak diundang, dengan pedang yang tergantung miring di pinggangnya seperti alat masak yang asing.
“Lenard menitahkan,” katanya sebelum ada yang mengusirnya. “Saya bisa membaca tulisan tangan paling buruk di dunia, Paman. Saya berlatih pada surat-suratnya.”
Francis membuka mulut untuk menolak. Menutupnya. “Dia tetap di barisan belakang. Dia menyentuh kertas, bukan pedang. Kalau ada suara apa pun, dia keluar.”
“Disepakati,” kata Merle cepat, sebelum ada yang berubah pikiran.
Rumah Kandang membuka pintunya sebelum digedor.
Bukan penghuninya—pintunya memang tidak dikunci, tidak dipalang, terbuka tiga jari seperti pintu rumah yang pemiliknya pergi ke pasar sebentar. Kiyo yang pertama masuk, dan langkah pertamanya memberitahunya segalanya: denyut-denyut di bawah tanah itu sudah pindah. Yang tadi sore tujuh, sekarang tinggal satu—dan yang satu ini berdenyut lemah, dingin, seperti bara yang sudah mati tapi belum tahu.
Rumah itu kosong dengan cara yang sudah mulai mereka kenal: rapi, dicuci, ditinggalkan. Kandang-kandang burung berderet di tiga kamar—kandang-kandang indah, kuningan dan kayu hitam, dan semuanya terbuka, dan semuanya kosong, dan di lantai di bawahnya tidak ada satu kotoran pun. Rumah itu bahkan tidak bau burung. Rumah itu bau cuka.
“Dia tidak kabur,” kata Kiyo, berdiri di tengah ruang tengah yang megah dan kosong. “Dia *berpindah*. Seperti tikus pindah sarang—tenang, sudah direncanakan, mungkin sudah dilatih berkali-kali.”
“Dia punya dua malam sejak jamuan,” kata Francis. “Dua malam untuk memindahkan tujuh pecahan, puluhan burung, dan satu orang tua. Gerobak-gerobak tadi membawa peti-petinya. Tapi orangnya—” ia berhenti.
Di sayap belakang, di kamar yang dulunya kamar kerja, mereka menemukan apinya.
Perapian besar, dan di dalamnya kertas membakar—masih membakar, baru dinyalakan, artinya dibakar untuk dibakar, bukan untuk menghangatkan. Seseorang berdiri di kamar ini setengah jam lalu, menyalakan api, menyumpalkan kertas, dan pergi dengan tenang.
Francis bergerak sebelum berpikir—tangannya terangkat, dan benang-benangnya keluar dari ujung jarinya, cahaya tipis seperti laba-laba perak, dan menyelam *ke dalam api*. Benang-benang itu menjepit, menarik, melemparkan lembaran-lembaran setengah hangus ke lantai, satu demi satu demi satu, dan Kiyo dan dua pengawal menginjak-injak api yang ikut keluar, dan Merle—Merle melakukan tugasnya dengan sempurna, menyambar setiap lembar yang selamat, meratakannya, membacanya dengan mata muda yang terlatih pada tulisan tangan buruk.
“Daftar nama,” kata Merle, suaranya makin tinggi tiap lembar. “Nama-nama bangsawan, dan di sebelahnya jumlah—Paman, ini bukan daftar tamu. Angkanya terlalu besar untuk hadiah. Ini daftar *utang*. Separuh meja makan ibu kota ada di sini—”
“Merle,” kata Francis tajam, menyelamatkan lembar berikutnya. “Jangan dibaca keras-keras. Belum.”
“—dan ini surat-surat kapal, dan ini—” Merle berhenti. Wajahnya berubah. “Paman Kiyo. Yang ini... yang ini ditandatangani.”
Surat itu satu-satunya yang utuh—berada di atas tumpukan, baru dimasukkan ketika mereka datang, belum sempat terbakar. Kertasnya tebal, mahal, dan tintanya keemasan. Tidak ada lambang di cap lilinnya—hanya lilin merah tua, kosong, halus.
Merle membacanya keras-keras, dan suaranya menggantung di kamar yang bau asap:
“Kurator yang terhormat. Kerja bertahun-tahun tidak sia-sia: *Induk* sudah ditemukan, dan keadaannya melebihi harapan—utuh, tidak retak, masih bernapas dengan caranya. Meridien akan mengurus pembukaannya; para pelajar di sana sudah menunggu sejak kakek-kakek mereka. Simpan pecahan-pecahanmu dengan tenang; waktu pengumpulan hampir selesai. Satu-satunya peringatan: pastikan tidak ada lagi pecahan yang jatuh ke tangan yang salah—terutama *pecahan yang berjalan*. Jangan mencoba menangkapnya. Jangan mencoba membunuhnya. Cukup pastikan dia tidak tahu, sampai waktunya.”
Kamar itu sunyi. Api di perapian berdesis kecil, sekarat.
“Pecahan yang berjalan,” kata Francis akhirnya, pelan. “Dua orang di dunia ini yang berjalan sambil membawa batu itu di tubuhnya. Kau. Dan Raga.”
“Mereka tidak mau aku mati,” kata Kiyo. Ia menatap surat itu, dan mata kanannya membaca tinta emas itu seperti membaca aura—hati-hati, dari jauh. “Mereka mau aku *tidak tahu*. Bukan musuh, Francis. Bahan. Mereka mengumpulkan pecahan seperti orang mengumpulkan bagian mesin—dan aku bagian yang masih berjalan-jalan, yang akan mereka pasang *nanti*.”
“Meridien,” kata Merle pelan. “Kota pelajar di pegunungan selatan. Ayah saya menyebutnya kota yang tidak menghasilkan apa-apa kecuali pertanyaan.”
“Dan Induk,” kata Francis. “Utuh. Masih bernapas.” Ia menatap Kiyo. “Bukan pecahan. Induk. Kalau kau dari pecahan—kalau Raga kuat karena pecahan sebesar ibu jari—apa yang mereka temukan, Kiyo? Kepompong yang lain? Yang tidak pernah retak?”
Kiyo tidak menjawab. Ada suara di dalam dirinya—bukan suara Ibu, bukan dari mimpinya, sesuatu yang lebih kecil dan lebih pribadi: rasa takut yang sangat tua, yang dibawanya dari laut seratus tahun, yang selama ini tidak pernah punya nama. Sekarang ia tahu namanya.
‘Aku bukan satu-satunya yang tidur. Dan yang lain tidak bangun dengan cara yang sebaik caraku.’
Mereka menemukan ruang bawah tanah di balik rak anggur—tangga batu yang licin, turun jauh, lebih jauh dari dasar bukit seharusnya.
Ruangan di bawah itu panjang dan rendah, dan di tengahnya ada meja. Meja panjang seperti meja perjamuan, dilapisi beludru hitam, dan di atas beludru itu ada tempat-tempat—cekungan-cekungan kecil yang dijahit rapi, masing-masing dengan label kertas kecil yang ditulis tangan dengan tulisan yang rapi dan sabar.
Tujuh belas tempat.
Enam belas kosong—pecahan-pecahannya sudah dibawa gerobak-gerobak tadi sore. Tetapi label-labelnya masih di situ, dan Kiyo berjalan pelan di sepanjang meja itu sementara Francis membacakan label-labelnya dengan suara yang makin kecil:
“Tanjung Rana, ditemukan di jala nelayan, dua puluh dua tahun lalu. Makam keluarga Verhoeven, digali malam, sembilan belas tahun lalu. Runtuhan kuil tua di Velles—” Francis berhenti, menelan. “Velles. Enam belas tahun lalu. Kiyo—Velles. Kota tempatmu memungut camar.”
“Dia sudah lama di utara,” kata Kiyo. “Dia sudah lama di mana-mana.”
Label demi label. Dari sungai, dari tambang, dari pasar loak, dari rumah orang mati. Pecahan demi pecahan, diburu selama puluhan tahun, disabari, disimpan—tidak dipakai, tidak diteliti, hanya *ditunggu*. Seperti orang menabung bukan untuk membeli sesuatu, melainkan untuk hari yang ditentukan orang lain.
Dan di ujung meja, di tempat ketujuh belas, satu pecahan masih ada.
Kecil, kelabu, biasa—dan ketika Kiyo mendekat, pecahan itu tidak berdengung, tidak menyapa, tidak mengenali. Pecahan itu *dingin*. Mati. Kiyo menyentuhnya dengan satu jari, dan yang dirasakannya hanya batu: batu tua, batu lelah, batu yang sudah ditarik terlalu lama dari denyutnya sampai lupa caranya berdenyut.
“Kenapa ini tertinggal?” bisik Merle.
“Karena sudah tidak berguna baginya,” kata Kiyo, dan ada sesuatu yang aneh di dadanya—marah, ia sadar kemudian, marah untuk batu kecil mati ini, marah dengan cara yang tidak bisa dijelaskannya. “Dia mengurasnya. Bertahun-tahun. Menyimpan pecahan-pecahan lain di dekatnya, memakai denyut yang ini untuk—memancing, mungkin. Menenangkan yang lain. Sampai habis.” Ia membungkus pecahan dingin itu dengan sapu tangannya, pelan, seperti membungkus burung yang jatuh dari sarang. “Aku bawa. Dia tidak tinggal di meja ini.”
Di dinding belakang ruangan itu, di balik meja, ada pintu.
Bukan pintu anggur, bukan pintu gudang—pintu besi tanpa pegangan, dan di depannya lantai batu aus oleh kaki. Puluhan tahun kaki. Francis meraba bingkai pintu itu dan menemukan celahnya, dan benang cahayanya masuk seperti air, mencari, dan dengan bunyi berat yang sudah dua ratus tahun tidak terdengar, pintu itu membuka ke gelap.
Gelap itu bukan ruangan. Gelap itu *lorong*—turun, lalu mendatar, berbatu tua, lebih tua dari rumah di atasnya, lebih tua dari bukit, berjalan dengan keyakinan garis lurus yang tidak punya keraguan.
Ke arah kota. Ke arah istana.
“Koridor sayap barat,” kata Kiyo. “Yang berminyak puluhan tahun. Yang berakhir di tangga turun yang terkunci.” Ia menatap kegelapan itu, dan jauh di dalam kegelapan itu, samar, dingin, seperti detak jantung yang menunggu ditemani—ia merasakan denyut yang tadi sore ada di bawah aula istana. “Lorong ini tidak menuju istana, Francis. Lorong ini *dari* istana. Selalu begitu. Dia tidak membangun sarang di dekat takhta—dia sudah tinggal di bawah takhta sejak sebelum ada yang menyangkanya.”