Lorong itu turun, mendatar, lalu turun lagi—dan langit-langitnya makin rendah sampai Francis harus membungkuk dan pengawal-pengawal di belakang harus berjalan satu-satu. Dindingnya basah. Di beberapa tempat batunya berlumut pucat, lumut yang tidak pernah melihat matahari dan sudah berhenti mencoba menjadi hijau.
Sepuluh orang masuk: Kiyo di depan, Francis di belakangnya, delapan pengawal pilihan Raja. Merle ditinggal di permukaan dengan perintah yang tidak bisa ditawar—membawa surat bertinta emas dan daftar utang itu langsung ke tangan Raja, ke tangan, bukan ke meja, bukan ke kurir, dan menunggu di situ sambil mengawasi siapa saja yang mendekat.
Di dalam lorong, bunyi langkah mereka menjadi sepuluh kali lebih besar dari yang seharusnya.
“Dia di depan kita,” kata Kiyo pelan. “Dengan dua-tiga orang pembawa. Peti-peti besar sudah lewat sore tadi—yang dia bawa sekarang kecil. Yang berharga.” Ia berhenti, memejamkan mata kirinya, membiarkan mata kanannya bekerja sendirian di gelap. Denyut-denyut itu ada di depan—enam sekarang, bergerak, naik-turun pelan seperti barang yang digendong. “Berhenti.”
Mereka berhenti.
“Dia tahu kita di lorong,” kata Kiyo. “Denyutnya berubah. Lebih cepat.”
“Burung-burungnya?” bisik Francis.
“Tidak ada burung di sini. Lorong ini penuh basah—burung benci basah.” Kiyo mulai berjalan lagi, lebih cepat. “Dia tahu karena pecahannya tahu. Mereka merasakanku seperti aku merasakan mereka. Sama seperti Dario dulu, di gerbang. Setiap pecahan di dunia ini menyapaku kalau aku lewat—dan sekarang aku sedang berjalan ke arah enam sekaligus.” Ia mendengus pendek. “Aku ini seperti obor di gua. Tidak bisa disembunyikan.”
“Maka kita cepat,” kata Francis. “Sebelum dia sampai ke ujung lorong ini—yang, kalau hitunganku benar, naik ke—”
“Istana,” kata Kiyo. “Aula. Ruang di bawah aulanya.”
Mereka berlari.
---
Lorong itu berakhir seperti yang Kiyo rasakan: di tangga yang naik, di pintu besi tanpa kunci—pintu yang dari sisi istana sudah dua ratus tahun tidak terbuka, yang pagi tadi menolak semua kunci kerajaan—dan yang sekarang, dari sisi lorong, terbuka lebar.
Di luar pintu: ruang bawah aula. Ruang yang berdenyut.
Ruang itu bundar, berpilar kasar, dan lantainya bukan lantai—lantainya adalah batu besar tunggal, satu lempengan utuh, lebih besar dari aula di atasnya, dan lempengan itu *berdenyut*. Tidak keras. Dalam. Kiyo merasakannya di telapak kakinya, di tulang keringnya, naik ke lututnya: denyut yang sangat tua, sangat lambat, seperti detak jantung sesuatu yang tidur di dasar samudra.
Dan di tengah ruang itu, di atas lempengan itu, berdiri Nyonya Ottilie.
Dua pembawanya—lelaki-lelaki besar dengan wajah yang sudah dilatih tidak punya wajah—meletakkan sebuah peti kecil bertali perak di sampingnya. Peti yang berdenyut enam kali. Nyonya itu sendiri berdiri dengan tangan bersilang di depan, tenang, seolah-olah ruang ini adalah ruang tamunya dan para tamunya terlambat dua ratus tahun.
“Anak batu,” katanya. Suaranya di ruang batu itu lembut dan mengisi, seperti air masuk kendi. “Kau lebih cepat dari dugaanku. Burung-burungku bilang kau membaca aula semalam—kurasa besok kau baru sampai ke rumahku. Seharusnya kuingat: pecahan selalu mengenali pecahannya.”
“Nyonya Ottilie,” kata Francis, dan benang cahayanya sudah keluar dari ujung jarinya, sepuluh helai, siaga. “Atas nama Raja, kau kutitahkan untuk—”
“Untuk ditahan, diperiksa, diadili.” Ia mengangguk sopan. “Ya. Baiklah.”
Dua pembawanya bergerak—dan pengawal-pengawal Raja bergerak lebih banyak, dan perkelahian di ruang bundar itu singkat dan sunyi dan brutal, perkelahian orang-orang yang sama-sama tidak berniat bersuara. Kiyo tidak ikut. Ia berjalan melewati semuanya, lurus, ke tengah ruang, ke perempuan tua itu—dan Nyonya Ottilie tidak mundur, tidak memanggil, tidak meracuni siapa pun. Ia hanya berdiri dan memandang Kiyo datang dengan mata yang—Kiyo melihatnya sekarang, dari dekat, dengan mata kanannya—mata yang *haus*. Bukan serakah. Haus. Mata orang yang sudah puluhan tahun minum dan tidak pernah basah.
“Aku boleh bertanya satu hal dulu,” kata Nyonya itu, ketika Kiyo sudah dua langkah darinya, “sebelum tanganmu yang besar itu menyentuhku dan semuanya jadi resmi.”
“Bertanyalah.”
“Ketika kau tidur—di dalam, dulu, seratus tahun—kau bermimpi tentang apa?”
Kiyo tidak menjawab. Tetapi sesuatu di wajahnya pasti menjawab, karena Nyonya Ottilie tersenyum—dan senyumnya sedih, sedih yang tulus, yang lebih menakutkan dari semua minyak di auranya.
“Tentang rumah,” katanya pelan. “Semua yang tidur bermimpi tentang rumah. Aku tahu, karena aku sudah bertanya pada semua pecahanku, bertahun-tahun, dan pecahan-pecahan kecil itu—yang tuli, yang bisu, yang hampir mati—semuanya, kalau dipegang cukup lama, membalas satu hal yang sama: *rindu*. Bukan marah. Bukan lapar. Rindu. Batu-batu itu rindu pada sesuatu yang lebih besar dari mereka.” Ia menunduk, dan untuk sesaat ia hanya perempuan tua di ruang bawah tanah. “Aku tidak mengumpulkan pecahan, anak batu. Aku mengumpulkan rindu. Karena aku tahu rasanya rindu pada yang sudah pergi dan tidak bisa dipanggil kembali.”
“Anakmu,” kata Kiyo.
Untuk pertama kalinya, wajah tenang itu retak—sebentar saja, seperti es di danau di pagi musim semi, lalu menutup lagi.
“Anakku,” ia setuju. “Tiga puluh satu tahun lalu. Umur empat. Demam—tiga hari, dan pergi. Kau tahu apa yang kudengar di malam ketiga? Aku duduk di sampingnya dan dia bermimpi, dan dalam mimpinya dia memanggil ibunya, dan aku di situ, aku memegang tangannya, dan dia tetap memanggil—seolah-olah yang dipegangnya bukan aku. Seolah-olah ibu yang dimaksudnya ada di tempat lain.” Ia mengangkat wajah. “Sembilan tahun kemudian aku menemukan pecahan pertamaku di pasar loak Tanjung Rana, dan pecahan itu berdenyut di tanganku seperti detak jantung, dan aku pikir: *inilah yang memanggil anak-anak dalam mimpi mereka*. Ada ibu yang lebih tua dari kita semua, anak batu. Dan anak-anaknya retak dan terserak, dan aku—aku hanya seorang perempuan yang mengumpulkan mereka. Seperti orang mengumpulkan anak-anak yang tersesat di pasar.”
“Dengan membunuh,” kata Francis, dingin. “Dengan racun di sel dan pisau di malam hari. Dengan membayar kematian orang.”
“Dengan membayar,” Nyonya Ottilie setuju, tanpa malu, dan matanya pergi jauh, ke suatu tempat dua puluh tahun ke belakang. “Semua hal besar dibayar, orang benang. Raja-raja membayar dengan perang. Aku membayar dengan koin. Lebih jujur, kurasa—koin tidak berpura-pura jadi kehormatan.”
Lalu ia menatap Kiyo lagi, dan ada belas kasihan di sana—belas kasihan yang sungguhan, yang terasa seperti pisau yang dibungkus sutra.
“Mereka tidak pernah bercerita kepadamu, ya. Tentang bagaimana batumu sampai ke tangan orang-orang utara itu.”
Kiyo tidak bergerak.
“Dua puluh dua tahun lalu,” kata Nyonya Ottilie, “aku mendengar kabar dari pelabuhan-pelabuhan: bajak laut muda menemukan batu aneh di laut. Batu yang berdenyut. Batu yang hangat. Dia mengangkatnya dari air dengan jala dan tangannya sendiri, dan batu itu—” ia menatap dada Kiyo, seolah melihat menembusnya, “—batu itu merangkak ke dadanya dan tidur di situ, dan tidak mau turun. Pelabuhan membicarakannya. Camar-camar membicarakannya. Dan aku—aku sudah punya sembilan pecahan waktu itu, dan aku mengirim utusan dengan emas yang cukup untuk membeli kapal kedua.”
Ruangan itu sunyi. Bahkan para pengawal berhenti bergerak.
“Utusanku kembali tanpa emasnya,” kata Nyonya Ottilie. “Dengan satu kalimat dari bajak laut muda itu. Kau mau tahu kalimatnya? Aku menyimpannya. Bertahun-tahun aku menyimpannya, karena kalimat itu menghabisiku.” Suaranya menjadi sangat pelan, sangat hati-hati, seperti orang membuka kotak kecil berisi satu-satunya barang yang dimilikinya:
“Katanya: *Batu ini tidak dijual. Batu ini tidur. Yang tidur tidak dijual—yang tidur dijaga. Pulang dan beritahu nyonyamu: kalau dia mau batu ini, dia harus lewat aku dulu, dan aku tidak lewat-lewat.*”
Kiyo menemukan bahwa ia sudah tidak bernapas.
‘Aryeh,’ pikirnya. ‘Aryeh. Kau menolak emas. Kau, yang mencuri apa saja yang tidak dipaku, yang mengangkatku dari laut karena aku tidak dipaku—kau menolak emas untuk batu tidur yang bahkan belum retak.’
“Dia menjagaku,” kata Kiyo. Suaranya keluar aneh, terlalu besar untuk ruang itu.
“Dia menjagamu,” kata Nyonya Ottilie. “Dan kau tahu sendiri bagaimana cerita itu berakhir. Tiga tahun kemudian seseorang membunuhnya di malam hari—secara resmi karena utang, secara tidak resmi karena dendam kadipaten. Tapi aku tahu siapa yang membayar, anak batu, karena aku *mengenal* uangku sendiri. Uangku dicuri dari mejaku—disalurkan tanpa seizinku, lewat tangan-tangan yang seharusnya tanganku—oleh orang-orang yang sudah lama bosan menungguku berhasil dengan cara yang sopan. Mereka membunuh penjagamu supaya batunya tidak punya yang menjaga. Mereka hanya tidak menyangka batunya menolak diambil—tenggelam, hilang, sepuluh tahun di dasar laut lagi.” Ia tersenyum, lelah. “Aku menghabiskan sepuluh tahun itu mencari di setiap pasar ikan di pesisir. Dan ketika kutemukan—kau sudah retak, sudah bangun, sudah jadi anak kecil yang memegang tangan bajak laut mati.”
“Aku bukan barang bukti,” kata Kiyo pelan, “yang bisa kau bicarakan seperti itu. Tapi kau baru memberiku sesuatu yang tidak bisa dibeli siapa pun.” Ia maju satu langkah terakhir, dan tangannya—besar, pelan, bisa meremukkan gerbang kota—turun ke bahu perempuan tua itu dengan kehati-hatian yang absurd, kehati-hatian orang yang tidak ingin melukai apa pun hari ini, bahkan ini. “Namanya Aryeh. Dan sekarang aku tahu kenapa dia mati. Dan karena itu, Nyonya, kau akan hidup—lama, di dalam sel yang tidak ada burungnya—supaya setiap nama yang kau sembunyikan keluar satu per satu, dan setiap orang yang membayar lewat mejamu menghitung malamnya. Itu hukumannya. Bukan mati. *Didengarkan.*”
Nyonya Ottilie memandangi tangan besar di bahunya itu. Lalu ia tertawa—pelan, terkejut, tulus, seperti orang yang sudah dua puluh tahun tidak mendengar lelucon baru.
“Ditahan oleh batu yang tidak pernah dijual,” katanya. “Baiklah. Aku sudah lama ingin tahu seperti apa rasanya jadi barang yang akhirnya sampai ke tangan pembelinya.”
---
Mereka menyerahkannya lewat tengah malam kepada Raja—kepada Raja sendiri, yang turun ke ruang bundar itu dengan tongkatnya dan berdiri lama memandangi lantai yang berdenyut di bawah kakinya, lantai yang sudah menjadi kasurnya selama enam puluh tahun, dan tidak mengucapkan apa-apa. Penjaga-penjaga yang mengawal Nyonya Ottilie ke sel dipilih Raja satu per satu dengan menunjuk wajah—bukan pangkat, wajah. Peti bertali perak itu dibawa ke ruang yang dikosongkan khusus, dikunci dengan kunci yang dibagi tiga: Raja, Francis, Kiyo.
Dan menjelang pagi, ketika semuanya sudah selesai dan Kiyo duduk di tangga istana memandangi langit yang mulai pucat, seekor burung datang dari utara.
Burung Simpul—cepat, kecil, lelah. Suratnya pendek, tulisan Emeteria, dan Kiyo membacanya dua kali sebelum memanggil Francis:
*Kakak. Pecahan di bawah rumah—yang disegel dengan dua belas lilitan benang—mulai semalam bergetar. Bukan berdenyut. Bergetar. Seperti kaca yang mendengar suara yang tidak bisa didengar anjing. Tiga malam berturut-turut, selalu tengah malam, selalu ke arah selatan. Lenard tidak tahu; jangan beritahu dia dulu, dia sudah cukup tidur malamnya dikorbankan untuk negara. Tapi ada satu hal lagi, dan ini yang membuatku menulis: malam ketiga, getarannya berhenti—dan pecahan itu hangat. Seperti tangan yang akhirnya digenggam kembali.*
*Apa pun yang kalian sentuh di selatan—ada bagian dari dirinya yang ikut bangun di sini.*
Kiyo menatap langit pagi di atas kota tempat raja-raja duduk.
Jauh di selatan sana, di pegunungan, ada kota bernama Meridien yang tidak menghasilkan apa-apa kecuali pertanyaan. Dan di bawahnya, utuh, tidak retak, masih bernapas dengan caranya—Induk menunggu dibuka oleh orang-orang yang sudah menunggu sejak kakek-kakek mereka.
Dan di dadanya, di bawah tulang, di tempat yang tidak bisa ditunjuk siapa pun, Kiyo merasakannya untuk pertama kalinya sejak ia bangun dari laut: sesuatu yang besar, jauh, dan sabar, baru saja membalikkan badannya dalam tidurnya—dan mendengarkan.