Sel Nyonya Ottilie adalah sel paling baik yang pernah dimiliki istana—jendela kecil yang betulan jendela, tempat tidur kayu, meja, dan tidak ada satu pun burung.
Para penjaga melaporkan hal-hal kecil yang aneh tentang tahanan mereka. Dia tidak pernah mengeluh. Dia makan semua yang diantar, perlahan, seperti orang menghormati masakannya. Dia tidak pernah mencoba menyogok atau membujuk. Dan dia tidur menghadap timur—selalu, tanpa kecuali, memiringkan tempat tidurnya diam-diam dengan tenaga perempuan tua sehingga para penjaga akhirnya berhenti menggesernya kembali.
“Menghadap fajar,” kata Francis, ketika laporan itu sampai ke mejanya. “Perempuan itu tidur menghadap fajar.”
“Atau menghadap sesuatu yang dia harapkan datang dari timur,” kata Kiyo.
“Meridien di selatan.”
“Maka dia menghadap fajar yang sebenarnya,” kata Kiyo. “Yang turun ke semua orang. Itu lebih buruk, Francis. Orang yang menunggu sesuatu dari selatan bisa kecewa. Orang yang menunggu fajar tidak pernah.”
Mereka turun ke sel pagi itu bertiga: Francis, Kiyo, dan Raja Aldric—yang menolak duduk di balik tirai seperti yang diusulkan Francis. “Aku enam puluh tahun memerintah dari balik meja, tirai, dan protokol,” katanya. “Untuk yang satu ini aku mau duduk di kursi yang kelihatan.”
Nyonya Ottilie bangkit ketika mereka masuk—benar-benar bangkit, sopan, seperti menerima tamu di ruang tamunya sendiri. Ia tampak lebih kecil tanpa burung-burungnya. Lebih tenang juga, anehnya, seperti pohon yang akhirnya berhenti menahan angin.
“Baginda,” katanya. “Tuan Francis. Anak batu.” Ia duduk kembali. “Aku sudah menyiapkan apa yang kubutuhkan untuk bicara. Tidak banyak. Satu pagi saja mungkin cukup.”
“Kita tidak buru-buru,” kata Raja Aldric.
“Kita buru-buru,” kata Nyonya Ottilie, lembut, mengoreksi raja seperti mengoreksi cucu. “Baginda hanya belum tahu seburu apa.”
---
Ia bercerita dari awal, karena perempuan seperti Ottilie tidak bisa bercerita dari tengah.
Pecahan pertamanya—Tanjung Rana, dua puluh dua tahun lalu, pasar loak, seorang nelayan yang menjual isi jalanya yang aneh-aneh. Sembilan tahun setelah anaknya pergi. Ia membeli batu itu seharga makan malam, dan malam itu batu itu berdenyut di tangannya, dan ia tidak tidur—bukan karena takut, tetapi karena untuk pertama kalinya dalam sembilan tahun rumahnya tidak terasa kosong.
“Batu itu tidak bicara,” katanya. “Batu itu tidak pernah bicara. Tapi kau tahu apa yang dilakukan batu yang berdenyut di tangan perempuan yang anaknya mati? Ia mengisi. Seperti air mengisi cangkir. Aku tahu itu bukan anakku. Aku tidak gila, tidak pernah gila—aku hanya perempuan yang gelasnya retak dan menemukan ada air yang mau berdiri di dalam retaknya.”
Lalu hal-hal mulai datang.
Pertama, surat. Tanpa nama pengirim, cap lilin merah tanpa lambang, tinta keemasan: ucapan hormat dari “para simpatisan” yang mendengar penemuannya—karena kabar batu berdenyut memang menyebar di pasar loak, kabar seperti itu selalu menyebar—dan menawarkan dana kecil untuk “penelitian pribadinya”. Kedua, hadiah: sebuah rumah di bukit, dibayar lunas, akta diantar kurir, penjualnya yayasan yang tidak pernah bisa ditemukannya kemudian. Ketiga, kabar-kabar: seseorang mendengar ada batu serupa di makam keluarga Verhoeven; seseorang yang lain tahu nelayan di Velles yang menyimpan batu hangat di gudangnya. Alamat-alamat itu datang dengan ketepatan yang mengerikan—dan dengan dana untuk membeli, membungkam, atau menggali, terserah keadaan.
“Aku kurator yang baik,” katanya datar. “Aku menyimpan, memberi label, tidak memakai. Tujuh belas tempat di mejaku—kalian sudah melihatnya. Enam belas hidup, satu mati karena kupakai menenangkan yang lain. Setiap kali aku bertanya untuk apa, jawabannya sama: simpan. Setiap kali aku bertanya siapa kalian, tidak ada jawaban. Dan setiap kali aku berhenti bertanya—hadiah berikutnya datang. Seperti gaji untuk orang yang tahu cara tutup mulut.”
“Lilinnya,” kata Francis. “Cap merah tanpa lambang. Kau perempuan yang meneliti. Kau pasti meneliti lilinnya.”
Untuk pertama kalinya pagi itu, Nyonya Ottilie tersenyum bangga—bangga yang murni, bangga seorang perempuan yang diakui kecerdasannya.
“Sembilan tahun lalu aku mengirim serpihnya ke tiga ahli tanah di tiga kota, tanpa memberi tahu satu pun dari mereka untuk apa,” katanya. “Ketiganya kembali dengan jawaban sama: tanah liat merah, kandungan besi tinggi, hanya ada di satu tempat. Lereng merah di sebelah timur kota pelajar.” Ia menatap Kiyo. “Meridien. Aku sudah tahu sembilan tahun, anak batu. Aku hanya tidak pernah pergi ke sana. Kau mau tahu kenapa?”
“Kenapa.”
“Karena selama aku tidak tahu, aku boleh terus percaya bahwa aku orangnya. Bukan barangnya.”
Sunyi mengisi sel itu seperti air mengisi cangkir.
“Mereka tidak menamai diri,” lanjutnya, dan suaranya makin pelan, seperti orang membuka peti yang paling bawah. “Tapi di surat pertama—yang kuterima dua puluh dua tahun lalu, yang kusimpan sampai hari rumahku digerebek—ada satu kalimat yang tidak seperti kalimat lain. Di bawah ucapan hormat, di bawah tawaran dana. Berdiri sendiri.” Ia menutup matanya, membaca dari ingatan: “*Fajar tidak mengetuk dua kali.*” Ia membuka mata. “Aku tidak tahu apa artinya. Dua puluh dua tahun aku tidak tahu apa artinya. Tapi kadang-kadang, ketika aku mengantar batu baru ke meja beludru itu dan menutup pintu bawah tanah, aku merasa seperti orang yang sedang mengetuk. Dan aku takut—takut sekali—pada hari ketika sesuatu menjawab ketukannya.”
Raja Aldric bersandar di kursinya, tua dan diam. Francis tidak bergerak. Kiyo bertanya hal yang paling perlu ditanyakan:
“Tangan-tanganmu. Orang-orang yang menyalurkan uangmu tanpa seizinmu. Yang membayar kematian Aryeh dari mejamu.”
“Mester Vigo,” kata Nyonya Ottilie. Nama itu keluar seperti gigi yang akhirnya tanggal. “Sekretarisku. Lima belas tahun. Dia yang mengatur kurir-kurir, dia yang memegang buku kedua—aku tahu ada buku kedua, aku pura-pura tidak tahu, itu juga bagian dari gaji tutup mulut. Dialah yang menyalurkan pembayaran ke utara untuk bajak lautmu, aku yakin itu—lewat Kongsi Kincir, lewat duke kecil yang tersenyum, lewat tangan-tangan yang seharusnya tanganku.” Ia berhenti. “Malam rumahku digerebek, Vigo tidak ada. Tidak ada jejak. Kamarnya rapi. Kau tahu cara mereka membersihkan orang, anak batu—kau sudah lihat rumah singgah di Lorong Kain. Vigo tidak kabur. Vigo *dipanggil pulang*.”
“Pulang ke mana?” tanya Francis.
“Ke selatan,” kata Nyonya Ottilie. “Selalu ke selatan. Tiga puluh tahun aku memperhatikan barang-barang bergerak, dan semua yang bergerak tanpa pernah kembali bergerak ke selatan. Mereka sedang berkumpul. Seperti burung sebelum musim.” Ia menatap jendela kecil selnya, ke arah timur, ke arah fajar yang sudah lewat pagi ini. “Aku tidak tahu untuk apa mereka berkumpul. Tapi aku tahu satu hal yang kalian tidak tahu, karena kalian tidak pernah memegang tujuh belas batu yang rindu—”
“Tujuh belas,” potong Kiyo, “termasuk yang mati.”
“Tujuh belas termasuk yang mati.” Ia mengangguk. “Dan semuanya, semua—yang hidup, yang sekarat, yang sudah jadi batu biasa—menunjuk ke satu arah yang sama. Bukan fajar, anak batu. Bukan timur. Arah lain. Arah yang membuat mereka berdenyut di malam-malam tertentu.” Ia menatapnya. “Kau tahu arah itu. Kau sudah merasakannya sejak kau tiba di kota ini. Ada yang lebih tua dari kita semua sedang berbalik dalam tidurnya—dan semua pecahan, semua, ingin pulang.”
Kiyo menyentuh sapu tangan di sakunya—pecahan dingin dari meja beludru, yang ia bawa ke mana-mana sejak malam penggerebekan. Dingin seperti biasa. Belum. Tetapi untuk pertama kalinya ia memperhatikan sesuatu yang lain: bukan denyut—arah. Seperti jangkar di dasar laut yang menarik talinya dengan sabar.
Selatan.
Sebelum mereka keluar, Nyonya Ottilie memanggil—bukan memanggil, mengucapkan satu kalimat yang sudah disiapkannya rapi, seperti orang menyerahkan barang titipan:
“Kalau suatu hari kalian berdiri di depan Induk itu, dan mereka membukanya, dan di dalamnya ada anak—” suaranya tidak bergetar; ia tidak mengizinkannya bergetar, “—jangan biarkan anak itu bangun sendirian di lantai yang dingin. Seseorang harus memegang tangannya. Itu satu-satunya hal yang kuketahui yang tidak kudapat dari surat-surat bertinta emas.”
Kiyo mengangguk. Ia tidak berkata apa-apa. Tidak ada yang perlu dikatakan—bajak laut yang memegang tangannya waktu ia bangun sudah mati dua puluh tahun, dan kalimat itu duduk di dadanya seperti batu yang hangat.
---
Mereka naik ke permukaan ke dalam berita yang sedang menunggu.
Dua berita, diantar bersamaan, seperti dua burung yang tiba di ambang yang sama.
Pertama: penjaga arsip—lelaki pendiam yang tiga kali berdiri terlalu lama di dekat pintu-pintu di jamuan itu—ditemukan tergantung di kamarnya subuh tadi. Ada surat pengakuan. Tulisannya rapi. Terlalu rapi. Polanya sudah mereka kenal sampai ke tulang.
“Memotong jari,” kata Francis, meremas surat laporan itu perlahan. “Mereka tahu Ottilie bicara. Atau mereka tahu dia *akan* bicara—mereka tidak menunggu. Telinga mereka di istana ini masih utuh.”
Kedua, dibawa penjaga gerbang dengan wajah bingung: sejak subuh ada perempuan muda berdiri di pintu samping istana, tidak mau pergi, tidak mau masuk, hanya mengulang satu kalimat setiap kali ditanya—bahwa ia mau mengaku, tetapi hanya kepada orang yang kemarin menangkap Nyonya Rumah Kandang.
Wakil bendahara. Perempuan muda dengan senyum rajin yang di jamuan itu menghitung gelas para tamu.
“Dia datang sendiri,” kata penjaga itu. “Dengan map. Dia bilang—” penjaga itu membaca catatannya karena tidak percaya hafalannya, “—dia bilang dia membawa satu nama. Satu nama yang tidak akan kami duga.”
Francis dan Kiyo berpandangan.
Di luar, matahari pagi memanjat menara-menara kota tempat raja-raja duduk—dan di suatu tempat di bawah cahaya itu, jaringan yang lebih tua dari istana sedang menghitung ulang jarinya.