Namanya Seline, dan ia adalah jenis orang yang tidak pernah diperhatikan siapa pun—yang justru karena itu tahu segalanya.
Wakil bendahara istana selama empat tahun. Dua puluh enam tahun umurnya. Map yang dibawanya tebal seperti bantal, dan ketika Francis membukanya, yang di dalamnya bukan pengakuan—melainkan salinan. Salinan dari salinan dari salinan, bertahun-tahun, setiap lembar dengan tanggal dan paraf kecilnya sendiri.
“Aku orang yang menyalin karena takut,” kata Seline. Suaranya datar, terlatih, suara orang yang sudah mengucapkan semuanya di dalam kepala sepanjang perjalanan. “Ayahku berutang. Seseorang membeli utangnya—bukan bank, bukan rumah gadai, seseorang—dan setelah itu utang itu tidak pernah ditagih, hanya dipegang. Seperti tali yang tidak pernah ditarik tetapi tidak pernah dilepas. Tahu-tahu aku sudah jadi wakil bendahara. Tahu-tahu ada pembayaran-pembayaran yang harus kuproses tanpa membaca. Aku memproses semuanya tanpa membaca.” Ia menatap map itu. “Dan menyalin semuanya karena takut.”
“Nama yang tidak akan kami duga,” kata Francis.
Seline menelan ludah.
“Tabib Emeric,” katanya.
Ruangan itu—ruang kecil di belakang perpustakaan pribadi Raja—menjadi sangat sunyi.
Tabib Emeric: tabib istana selama sebelas tahun. Orang yang memeriksa Raja setiap pagi. Orang yang menulis resep tonik pagi Baginda, yang memilih herbalnya, yang menyaksikan sendiri penuaan raja yang makin cepat dua tahun terakhir ini—dan menggeleng dengan bijak, dan berkata usia memang begitu.
“Setiap bulan,” kata Seline, membuka lembar yang sudah ia beri penanda, “ada pembelian herbal atas nama dapur istana yang tidak pernah sampai ke dapur. Jumlahnya kecil—terlalu kecil untuk dicurigai siapa pun. Tapi aku wakil bendahara. Aku tahu harga-harga. Ramuan ini bukan ramuan untuk tonik. Ramuan ini—” ia menunjuk tiga nama tumbuhan, “—kalau digabung, dalam jumlah sangat kecil, sangat lama, membuat orang tua. Bukan membunuh. Menuakan. Persendiannya. Ingatannya. Matanya.” Suaranya akhirnya retak, sedikit, di ujung. “Dia tidak membunuh Raja. Dia membuat Raja tua. Lebih cepat dari yang seharusnya. Aku sudah tahu setahun dan aku tidak berani—sampai kemarin aku dengar kalian menangkap Nyonya Rumah Kandang dan aku pikir: kalau mereka bisa menangkap perempuan itu, mungkin mereka bisa melindungiku dari orang yang memegang taliku.”
Francis memandangi lembar-lembar itu lama sekali. Lalu ia berdiri, mengambil mantelnya, dan berkata hal yang paling Francis yang pernah ia katakan:
“Baginda menjadwalkan pemeriksaan pagi besok jam delapan, seperti biasa. Kita semua akan hadir. Tabib Emeric akan meracik toniknya seperti biasa.” Ia tersenyum tanpa ada senyumnya. “Hanya saja malam ini, dengan seizin Baginda, aku akan duduk di dapur obat. Sendirian. Dengan benangku.”
---
Pagi berikutnya berlangsung seperti teater yang hanya lucu bagi mereka yang tahu naskahnya.
Tabib Emeric datang dengan kotaknya, dengan tangan setenang dan selembut biasanya. Ia meracik di depan semua orang—karena Raja yang bijak selalu ingin melihat ramuannya dibuat, katanya, dan tabib yang baik tidak pernah keberatan. Raja menonton dengan ramah. Francis berdiri di dinding. Kiyo berdiri di pintu, dan mata kanannya sudah sejak semalam mengunci aura tabib itu: abu-abu kusam, datar, warna orang yang sudah lama berhenti bertanya pada dirinya sendiri.
Tonik itu selesai. Tabib Emeric menyodorkannya dengan dua tangan.
“Baginda,” kata Raja Aldric, riang, “maukah kau mencicipinya dulu? Bukan karena tidak percaya—karena aku tua dan cerewet dan tadi malam bermimpi buruk tentang cangkir.”
Tabib Emeric tidak berkedip. Ia mengambil cangkir itu, mengangkatnya ke bibirnya—
Dan berhenti.
Setengah detik saja. Bukan takut—Kiyo melihatnya di aura lelaki itu, dan selamanya ia akan mengingatnya: bukan takut, melainkan *ragu*, ragu yang sangat kecil dan sangat fana, keraguan seorang profesional pada cawan yang sudah tidak berada di bawah kendalinya sejak semalam. Tabib Emeric menurunkan cangkir itu tanpa meminumnya, meletakkannya kembali dengan ketenangan sempurna, dan berkata:
“Baginda bermimpi buruk tentang cangkir. Maka cangkir ini tidak layak diminum siapa pun.”
“Sepakat,” kata Raja Aldric. “Termasuk aku, selama dua tahun terakhir, tiga kali sehari.”
Tabib Emeric memandangi rajanya. Lalu—perlahan, dengan kesadaran yang turun ke wajahnya seperti malam turun ke kota—ia mengerti. Ia tidak lari. Orang-orang seperti dia tidak lari; mereka hanya berdiri, memikul kehancuran mereka seperti memikul kotak obat, dan menunggu.
Di kamarnya kemudian ditemukan tiga botol kecil, satu surat bercap lilin merah tanpa lambang—baru, belum sempat dijawab—dan satu kalimat di surat itu yang disalin Francis ke bukunya sebelum suratnya dikunci:
“*Rajamu sudah tua. Yang kau lakukan bukan membunuh—kau menghormati musim. Fajar tidak mengetuk dua kali.*”
“Mereka membacakan doa untuk orang yang mereka suruh membunuh,” kata Raja Aldric, ketika surat itu sampai ke tangannya. Ia duduk di kursi perpustakaannya, dan Kiyo melihat sesuatu di mata tua itu yang lebih menakutkan dari kemarahan: kesedihan yang sudah selesai. “Sebelas tahun, anak batu. Sebelas tahun dia memegang tanganku untuk memeriksa denyutnya.”
---
Sore itu mereka turun—bertiga, seperti janji Raja di malam jamuan: Raja, Francis, Kiyo—lewat pintu besi tanpa kunci di dasar tangga sayap barat, yang sejak semalam tidak terkunci lagi karena Raja memerintahkan gembolnya dibuka dan engselnya diminyaki. “Pintu yang dikunci dua ratus tahun,” katanya, “cukup dikunci. Hari ini ia belajar jadi pintu.”
Ruang bundar itu menunggu mereka dalam gelap yang basah.
Lempengan lantai itu berdenyut—lebih jelas sekarang, mungkin karena sunyi, mungkin karena sudah tahu. Kiyo merasakannya naik dari telapak kakinya: lambat, dalam, sabar, detak jantung sesuatu yang tidur di dasar samudra waktu.
“Berapa lama ini di sini?” bisik Raja.
“Lebih lama dari istanamu,” kata Kiyo. “Lebih lama dari kotamu. Mungkin lebih lama dari bukit tempat kotamu berdiri.” Ia berlutut, dan—dengan kehati-hatian yang sama seperti waktu tangannya turun ke bahu Nyonya Ottilie—ia meletakkan telapak tangannya di atas lempengan itu.
Denyutnya berhenti.
Satu detik. Dua. Dan kemudian kembali—tetapi berubah: lebih lambat, lebih teratur, seperti napas orang yang akhirnya ditenangkan. Lempengan itu menghangat di bawah telapak tangan Kiyo, tidak banyak, satu-dua derajat kehangatan yang sopan, seperti tangan yang digenggam balik.
“Dia mengenalimu,” kata Francis pelan.
“Dia mengenali sesuatu yang sepertiku,” kata Kiyo. Ia menunduk, mendengarkan dengan cara yang tidak pakai telinga. Tidak ada suara. Tidak ada mimpi. Hanya kehadiran yang sangat tua, sangat besar, dan sangat tidur—tidur yang sudah begitu lama sampai lupa bahwa ada yang namanya bangun. “Dia bukan Induk. Terlalu tua, terlalu diam, terlalu—mendarat. Ini bukan kepompong. Ini—” ia mencari kata, “—akar. Potongan yang sudah jadi tanah.”
Raja Aldric, dengan bantuan tongkat dan sedikit bantuan Kiyo, ikut berlutut—enam puluh tahun umurnya, lututnya protes keras—dan meletakkan tangannya yang keriput di atas batu itu.
“Enam puluh tahun aku tidur di atasnya,” katanya pelan, “dan tidak pernah sekali pun menyapanya.”
Batu itu tidak menghangat untuknya. Tidak apa-apa. Raja tua itu tetap di sana beberapa saat, tangannya di atas lantai istananya sendiri, dan ketika ia bangkit, ada air di matanya yang ia hapus dengan punggung tangan tanpa merasa perlu menjelaskannya kepada siapa pun.
Malam itu Raja Aldric tidur tanpa mimpi—untuk pertama kalinya sejak ia anak-anak di kamar lamanya. Pagi-pagi ia mengatakannya sendiri kepada Francis, setengah tertawa, setengah tidak: “Kalau begitu selama ini yang berdiri di kamarku bukan hantu, Francis. Hanya rumah yang ingin disapa.”
Dan Raja membuat dua keputusan: ruang bundar itu dijaga siang malam oleh orang-orang yang dipilihnya dengan menunjuk wajah, dan lorong tua itu—lorong dua ratus tahun dari Rumah Kandang—tidak ditutup.
“Lubang yang ditutup mengajariku tidak ada apa-apa,” kata Francis, setuju. “Lubang yang dijaga mengajariku siapa yang datang.”
---
Malam yang sama, di kamar tamu yang terlalu megah untuk pemuda sepertinya, Merle an Corvane mengetuk pintu Kiyo dengan dua buku di tangannya dan satu kalimat yang sudah tidak tahan di dadanya sejak malam penggerebekan.
“Paman. Ada nama ayah saya.”
Kiyo membukakan pintu lebar-lebar.
Merle duduk di tepi tempat tidur yang terlalu tinggi, memeluk buku-bukunya. “Di daftar utang itu. Corvane. Ayah saya meminjam—tidak besar, dibanding yang lain—untuk kebun anggur, bertahun-tahun lalu. Utangnya tidak pernah ditagih.” Ia menelan. “Sekarang saya tahu kenapa utang tidak pernah ditagih. Supaya talinya tidak pernah lepas.”
“Ayahmu bukan orang mereka,” kata Kiyo. “Orang mereka tidak pernah ditagih *dan* diminta apa-apa? Kalau tidak pernah diminta apa-apa, dia hanya—diternak. Disimpan untuk hari yang belum datang.”
“Itu yang membuat saya takut, Paman. Hari yang belum datang.” Merle mengangkat wajah. “Dan satu hal lagi. Ayah saya punya kakak—Paman Odo. Pelajar. Satu-satunya anak Corvane yang tidak berdagang. Pergi ke Meridien dua belas tahun lalu untuk meneliti—sesuatu, kami tidak pernah paham apa. Dulu dia menulis surat tiap bulan. Surat-surat yang aneh, penuh gambar.” Ia membuka buku yang dibawanya—tumpukan surat lama. “Tiga tahun lalu suratnya berhenti. Yang terakhir ini.”
Kiyo mengambil surat teratas. Kertasnya tipis, tulisannya berlari-lari, dan di tengah paragraf yang membingungkan tentang akustik gua dan frekuensi batu, satu kalimat berdiri sendiri:
*Kami hampir selesai menanyakan pertanyaan yang benar. Setelah itu tinggal jawabannya. Doakan aku berani mendengarnya.*
“Paman Odo masih di sana,” kata Merle. “Menurut buku tamu musiman kota itu—ayah saya tetap mengirim uang, jadi kami tahu dia masih terdaftar. Tapi dia sudah tiga tahun tidak menulis, dan surat terakhirnya—” suara Merle mengecil, “—bunyinya seperti orang yang berdiri di tepi sesuatu.”
“Maka kita jemput dia dari tepinya,” kata Kiyo. “Kau ikut ke selatan, Merle. Bukan karena Lenard menitahkan—karena pamanmu menulis surat itu kepada orang yang tepat, tiga tahun lebih awal.”
---
Surat terakhir malam itu datang dari timur, dari Roswitha—tulisan tangan seperti bekas tombak, lurus dan dalam:
*Tawanan 231 sudah menemukan rumah atau menemukan orang yang mau mencarikan rumah. Bastian bisa berjalan satu jam tanpa berhenti, jangan bilang dia aku yang memberitahu. Ada satu orang tua di antara tawanan, dari kampung yang dibakar Behemoth sembilan tahun lalu. Dia baru bicara minggu ini. Katanya, sebelum dibakar, kampungnya didatangi orang-orang yang menggali di runtuhan bukit—menggali batu, bukan emas. Mereka bertanya pada orang kampung: pernah dengar batu yang bernyanyi? Lalu datang perampok, lalu api, lalu orang kampung diangkat ke perahu besi. Dan katanya: sesudah perampok pergi, datang orang-orang lain. Bersih. Sopan. Membeli dari para perampok itu apa saja yang digali dari runtuhan. Kiyo—perampoknya menggali untuk orang lain. Selama ini. Beritahu Francis: burung-burung Simpul di timur mulai dengar kata yang sama di kedai-kedai. Kata itu bukan kata timur. Kata itu datang dari selatan, naik ke utara seperti ikan melawan arus.*
*Kata itu: Meridien.*
Francis meletakkan surat itu di meja di antara mereka, di samping surat bertinta emas, di samping daftar utang, di samping kalimat Tabib Emeric tentang musim.
“Semua sungai ke satu muara,” katanya.
“Selatan,” kata Kiyo.
“Meridien,” kata Merle.
Dan Raja Aldric—yang mendengarkan dari kursinya dengan surat-surat itu terpeta di depannya seperti medan perang—mengetuk mejanya sekali, pelan, seperti hakim kecil yang tua.
“Maka ke Meridien,” katanya. “Bukan dengan bendera. Bukan dengan rombongan. Empat-lima orang, cepat, tidak tercatat.” Ia menatap Kiyo, lalu ke jendela, ke arah selatan yang gelap. “Mereka menunggu di sana sejak kakek-kakek mereka, anak batu. Jangan biarkan mereka menunggu sendirian.”