Yang pergi: Kiyo, Merle an Corvane, dan empat pengawal tanpa ciri yang dipilih Vera dari utara dan dikirim lewat jalan-jalan kecil—dengan janji bertemu dua lagi di kota sungai Hulu Cabang: Roswitha dan Bastian.
Yang menjaga: Francis, yang akan menetap di istana selama musim ini—Raja memintanya dengan kalimat yang tidak bisa ditolak orang seperti Francis: “Aku tidak punya lagi orang yang tahu cara membaca rumahku.” Emeteria dan Lenard di utara, memegang rumah. Eiddwen di muara, memegang laut. Dan di lorong-lorong ibu kota, kepala kurir istana—satu-satunya mata berminyak yang masih utuh—dibiarkan bekerja seperti biasa, tidak tahu bahwa mulai hari ini setiap kabar yang lewat tangannya adalah kabar yang sudah dipilihkan untuknya.
“Kau dan umpanmu,” kata Raja Aldric, ketika Francis menjelaskan rencana itu.
“Baginda dan aula jamuanmu,” kata Francis.
“Kena,” kata Raja, dengan cara raja-raja mengakui kalah dengan senang hati.
Umpan pertama sudah disiapkan sebelum Kiyo berangkat: sebuah kabar yang dibiarkan lewat di meja kepala kurir—bahwa Nyonya Ottilie sakit di selnya, parah, mungkin tidak lewat musim. Kabar bohong yang tidak penting bagi siapa pun kecuali bagi orang yang sangat perlu tahu Nyonya Ottilie masih bisa bicara atau sudah tidak.
“Kalau kabar itu berjalan,” kata Francis, “kita lihat ke mana kakinya melangkah. Dan kalau kakinya melangkah ke selatan—”
“Kita sudah tahu jawabannya,” kata Kiyo.
“Kita sudah tahu jawabannya,” setuju Francis. “Tapi ada bedanya antara tahu dan *melihat*. Tahu membuatmu bergerak. Melihat membuatmu bergerak ke arah yang benar.”
---
Surat terakhir sebelum keberangkatan datang dari utara—dari Lenard, tulisan tangan sendiri, miring-miring, dengan gambar di halaman belakang: seekor paus yang bentuknya lebih mirip sandal, diberi label dengan huruf-huruf besar yang berjuang keras: EIDDWEN.
*Untuk Paman Kiyo. Emeteria bilang kau ke selatan, bukan pulang. Aku tidak marah karena aku sudah menebaknya dari cara burung-burung datang dan pergi. Aku duke yang membaca burung sekarang. Rumah aman. Rumah nelayan sudah beratap dua belas. Mistress Bara masak terlalu banyak karena dia sedih dan aku harus menghabiskannya supaya dia tidak makin sedih, jadi aku berkorban. Sultan baik-baik. Dia ikut sidang sekarang, duduk di sebelahku. Jangan lupa jimatku harus kembali. Dipinjamkan, bukan diberikan. Ada bedanya. P.S. Emeteria menyuruhku tidur dan aku pura-pura tidak dengar. P.P.S. Aku menyimpan surat-suratmu di kotak simpul yang lama. Yang sudah tidak menyala. Aku masih menyimpannya.*
Kiyo membaca surat itu dua kali, lalu melipatnya dan menyelipkannya ke dalam baju, di kantong yang sama dengan sapu tangan pembungkus pecahan dingin. Pecahan itu tetap dingin. Tetapi setiap malam, tanpa kecuali, persis ketika kota mulai sunyi, Kiyo merasakannya—bukan berdenyut, belum—*berat*. Beratnya berubah. Seperti batu itu sedang mendengarkan sesuatu dari jauh, dan mendengar memerlukan tenaga.
“Dia mau bangun,” kata Kiyo pada Francis, malam terakhir.
“Atau dia mau kau bawa ke tempat yang bisa membangunkannya,” kata Francis. “Hati-hati, anak. Kau mulai berjalan ke arah yang ditunjuk semua batu. Aku sudah tua; aku curiga pada arah yang terlalu disepakati.”
---
Mereka berangkat sebelum fajar, lewat pintu air yang sama, dengan perahu yang sama, pendayung bisu yang sama—yang kali ini, ketika Kiyo menaiki perahu, menatapnya sejenak dan mengangguk kecil. Pengakuan, mungkin. Atau hormat. Atau keduanya, dari satu orang yang tidak bicara kepada orang yang bicara terlalu jarang.
Perjalanan ke selatan adalah perjalanan yang menaiki dunia pelan-pelan.
Dataran ibu kota menguning, lalu berbukit, lalu bergigi. Sungai-sungai membelit jalan seperti tali yang malas. Mereka lewat kota-kota kecil tempat kabar ibu kota datang terlambat dan salah—di satu kedai, seorang pendongeng sedang menceritakan penangkapan Nyonya Rumah Kandang dengan tujuh ekor naga dan satu putri, dan Kiyo membelikannya minum karena versinya lebih baik dari kenyataan.
Di kota-kota itu juga, mata kanan Kiyo melihat sesuatu yang tidak dilihatnya di perjalanan-perjalanan sebelumnya—karena sekarang ia tahu cara mencarinya: jejak-jejak berminyak yang *meninggalkan* kota-kota. Bekas orang hilang. Rumah kosong yang rapi. Toko tutup yang bersih. Keluarga yang “pindah ke sanak saudara” tanpa kereta yang pernah terlihat. Dibersihkan—semuanya mengalir satu arah.
“Mereka mengosongkan papan,” kata Merle, yang mulai belajar membaca jejak-jejak itu dengan bimbingan dua mata paling berpengalaman di kerajaan. “Semua bidak ditarik dari kota-kota—ke selatan.”
“Untuk apa orang mengosongkan papan?” gumam Kiyo.
“Untuk langkah terakhir,” jawab Merle, dan terlihat ngeri pada jawabannya sendiri.
Di Hulu Cabang—kota sungai tiga cabang, pasar apung, jembatan-jembatan yang berderit—dua orang menunggu mereka di dermaga paling tua.
Roswitha berdiri seperti tombaknya: lurus, biru, tidak ramah pada angin. Bastian duduk di tong dengan kaki kirinya diluruskan, tongkat di sebelahnya, dan senyumnya yang selalu terdengar lebih dulu dari orangnya.
“Yang datang terlambat membawa roti,” kata Bastian.
“Yang menunggu sambil duduk tidak berhak menagih,” kata Kiyo, dan memeluk perwira itu dengan hati-hati yang masih canggung—tubuhnya tidak pernah benar-benar belajar cara memeluk tanpa mengangkat.
Roswitha menatap Merle, menilai. “Ini anaknya.”
“Merle an Corvane,” kata Merle, membungkuk. “Saya bisa membaca tulisan paling buruk di dunia.”
“Kau akan berguna,” kata Roswitha, yang dari mulutnya adalah sambutan resmi dengan bendera.
Malam itu, di penginapan dermaga, Roswitha menceritakan sisanya—bagian yang tidak masuk surat. Orang tua dari kampung yang dibakar itu bernama Olof; sembilan tahun ia bungkam, dan yang membukanya bukan pertanyaan, melainkan kebetulan: ia melihat Roswitha memahat kayu untuk anak-anak tawanan, dan entah kenapa itu yang membukanya. Orang-orang penggali itu datang dua musim sebelum perampok. Mereka menggali di runtuhan bukit—runtuhan yang sudah jadi bukit, yang sudah tidak diingat sebagai runtuhan. Mereka bertanya: *pernah dengar batu yang bernyanyi?* Orang kampung tertawa. Orang-orang itu tidak tertawa balik.
“Dan sembilan tahun kemudian,” kata Roswitha, “aku menangkap kapten perahu besi di lembah—kau tahu, yang kuseret ke pos perbatasan—dan sebelum dia mati karena lukanya, dia mengatakan satu hal yang kupikir omong kosong orang sekarat. Katanya: *kami bukan tukang rampok, kami tukang gali yang dipercepat.*” Ia menatap Kiyo. “Behemoth merampok. Tapi Behemoth juga menggali. Dan orang-orang bersih datang setelahnya, membeli hasil galian dari tangan berdarah tanpa bertanya kenapa tangannya berdarah.”
“Jaringan yang lebih tua dari perampoknya,” kata Bastian pelan. “Kami semua ini—peta, pasukan, kadipaten—kota-kota yang mereka bersihkan—kita mengira kita melihat seluruh papan.”
“Kita baru melihat papan,” kata Kiyo. “Belum pemainnya.”
---
Dusun terakhir sebelum pegunungan bernama Dusun Tungku—satu jalan, dua belas rumah, satu penginapan, dan gunung-gunung yang mulai berdiri di depan jendela seperti tamu yang sudah masuk tanpa dipersilakan.
Pemilik penginapannya perempuan tua yang menyapu sambil bicara dan bicara sambil menyapu. Ketika mendengar mereka mau naik ke Meridien, sapunya berhenti—hanya sesaat—lalu jalan lagi.
“Orang tidak naik ke Meridien tanpa undangan,” katanya.
“Kami punya nama di dalam,” kata Merle. “Odo an Corvane.”
Sapu itu berhenti lagi. Lebih lama kali ini.
“Orang tua yang menggambar gunung,” kata perempuan itu. “Dua belas tahun dia turun ke dusun ini membeli kertas. Tiga tahun lalu berhenti turun. Semua orang Meridien berhenti turun tiga tahun lalu—tahu-tahu kota itu menutup tokonya untuk orang luar, menutup gerbangnya untuk yang tidak punya pertanyaan.” Ia menyapu ke arah pintu, menyapu debu yang tidak ada. “Dan dua tahun ini—kau lihat sendiri nanti—jalan itu ramai ke atas, sepi ke bawah. Orang-orang bersih. Sopan. Rumah mereka di kota-kota bawah sana rapi waktu ditinggalkan, terlalu rapi, seperti kuburan yang dirapikan. Mereka naik ke Meridien membawa peti-peti dan tidak pernah turun lagi.”
Ia menatap Kiyo—mata tua yang sudah melihat cukup banyak untuk tidak bertanya kenapa tamunya setinggi pintu.
“Apa yang mereka buka di atas sana?” tanyanya lirih.
“Itu yang mau kami cari tahu,” kata Kiyo.
“Kalau kau menemukannya,” kata perempuan tua itu, kembali menyapu, “dan jawabannya jelek—jangan bawa turun ke sini. Dusun ini sudah cukup punya jawaban. Kami butuhnya pertanyaan.”
---
Malam itu Kiyo tidak bisa tidur.
Ia duduk di depan penginapan, di bawah bintang-bintang yang di pegunungan terlihat lebih dekat dan lebih tua, dengan sapu tangan terbuka di pangkuannya. Pecahan dingin itu terbaring di sana, kelabu, biasa, mati.
Tengah malam, gunung itu—jauh, di balik dua punggung gunung lagi, di dasar lembah gantung yang belum kelihatan—berdenyut.
Sekali. Dalam. Seperti jantung yang membalikkan badan.
Dan di pangkuan Kiyo, untuk pertama kalinya sejak meja beludru di bawah Rumah Kandang, pecahan mati itu menjawab: satu denyut kecil, malu-malu, tersendat—denyut pertama dari batu yang mulai ingat bahwa dirinya pernah hangat.
Kiyo menatapnya lama.
“Tidak apa-apa,” katanya pelan, kepada batu itu, kepada gunung yang belum terlihat, kepada dirinya sendiri yang juga pernah jadi batu di pangkuan seseorang. “Pelan-pelan saja. Kita sama-sama belajar.”
Di dalam dadanya, jauh di bawah tulang, sesuatu yang besar dan sabar mendengarkan—dan kali ini, Kiyo mendengarkan balik.