Jalan ke Meridien naik dua hari dari Dusun Tungku, dan di hari kedua dunia berubah warna.
Lerengnya merah—tanah liat merah tua, kandungan besi tinggi, warna yang sudah mereka kenal dari cap-cap lilin tanpa lambang. Pohon-pohon menyerah satu per satu pada tinggi, dan yang tersisa adalah rumput gunung yang berdesis dan bunga-bunga kecil yang keras kepala. Lalu jalan itu berbelok di punggung gunung terakhir, dan Meridien terbentang di bawah mereka.
Kota itu menggantung di lembah yang menggantung—teras-teras batu merah turun ke dasar lembah seperti anak tangga untuk raksasa yang sopan, dan bangunan-bangunannya tidak tinggi tetapi lebar, bertingkat-tingkat, dengan jendela-jendela yang semuanya—Kiyo memperhatikan ini dengan rasa aneh yang tumbuh pelan—menghadap ke satu arah. Bukan ke matahari. Ke gunung yang mengapit lembah itu di sebelah selatan, gunung paling tua dari semua yang terlihat, yang puncaknya tidak runcing melainkan bundar, seperti bahu orang tidur.
“Semua jendela menghadap gunung itu,” kata Bastian.
“Semua kota punya gunung,” kata Roswitha.
“Tidak seperti itu,” kata Bastian, yang sebagai perwira istana sudah melihat banyak kota dan banyak gunung. “Kota-kota menghadap sungai, menghadap jalan, menghadap musuh. Kota ini menghadap *gunungnya*. Seperti orang menghadap orang.”
Di dasar lembah, sungai es berkilau. Di teras-teras, asap dapur naik malas. Dan tidak ada tembok—Meridien satu-satunya kota yang pernah mereka lihat yang tidak punya tembok, hanya gerbang.
Satu gerbang kayu tua tanpa pintu, berdiri di tengah jalan, dengan atap kecil seperti rumah anjing yang kebesaran, dan di bawahnya sebuah meja, dan di belakang meja itu seorang nenek dengan tinta dan buku sebesar peti.
“Buku Pertanyaan,” kata nenek itu, sebelum ada yang bertanya. Suaranya seperti kertas dilipat. “Namanya Nenek Suri, kalau kalian orang yang perlu nama. Tiga ratus tahun kota ini dicatat lewat buku-buku—ini buku kedelapan. Aturan: setiap orang yang masuk menulis satu pertanyaan. Bukan nama—nama tidak penting. Bukan urusan—urusan urusan kalian. Pertanyaan. Yang sungguhan. Yang kalian bawa dari rumah.”
“Kalau kami tidak punya pertanyaan?” tanya Bastian.
“Semua orang punya. Orang yang bilang tidak punya hanya malu.” Nenek Suri membuka buku itu; halaman-halamannya tebal, penuh tulisan tangan ribuan orang, beberapa sudah kuning seperti gigi tua. “Menulislah. Atau putar balik. Jalan turun lebih cepat dari jalan naik, itu satu-satunya kemurahan hati gunung.”
Merle maju lebih dulu, karena dari rombongan itu dia yang paling paham bahwa ini bukan formalitas—ini liturgi. Ia menulis, berpikir, menghapus tidak bisa—tinta tidak menghapus—jadi menulis ulang di baris berikutnya, dan akhirnya membiarkan yang pertama tetap di situ, karena pertanyaan pertama biasanya yang paling jujur.
Nenek Suri membacanya keras-keras, karena itu juga bagian dari liturgi: “*Kenapa orang dewasa menyembunyikan sedih di dalam lelucon?*” Ia mengangguk. “Pertanyaan anak orang dagang. Bagus. Masuk.”
Bastian menulis dengan tangan prajurit yang canggung memegang bulu: “*Di mana makan terbaik di kota ini?*”
Nenek Suri membaca, tidak tersinggung, malah terlihat puas. “Kedai Nona Pritt, teras tiga, sup ikan batu. Kau orang keempat minggu ini yang bertanya itu—dan satu-satunya yang jujur mengakuinya perut.”
Roswitha menulis tanpa berpikir, seperti orang melempar tombak: “*Mana yang lebih dulu mematahkan pengecut—tombak atau kata-kata?*”
“Kata-kata,” kata Nenek Suri. “Tapi tombak yang membuat mereka berdiri cukup lama untuk mendengarnya. Masuk.”
Lalu Kiyo.
Ia berdiri di depan buku itu lama sekali. Bulu itu kecil di tangannya, sekecil duri di tangan beruang. Di belakangnya gunung berbahu bundar itu berdiri dalam cahaya sore, dan di bawah telapak kakinya—jauh, dalam, sabar—denyut itu ada: denyut yang sama seperti di lorong, sama seperti di pangkuannya semalam, tetapi di sini, di kota ini, denyut itu *utuh*. Tidak tersendat. Tidak malu-malu. Seperti jantung seseorang yang tidur di kamarnya sendiri.
Ia menulis:
“*Kalau batu yang tidur bermimpi, apakah batu yang terjaga masih ingat mimpinya?*”
Nenek Suri membaca.
Dan tidak mengatakan apa-apa.
Ia membalik buku itu, memandangi pertanyaan itu, memandangi Kiyo, memandangi pertanyaan itu lagi—tangan tuanya meratakan halaman dengan gerakan yang tiba-tiba sangat hati-hati, gerakan orang yang menyadari ada barang antik di mejanya.
“Tiga ratus tahun buku-buku ini,” katanya akhirnya, pelan. “Delapan buku. Aku penjaga buku kedelapan, dan aku sudah membaca mundur sampai buku kelima.” Ia mengangkat wajah; matanya abu-abu susu, tua, tetapi tajam ke arah Kiyo dengan cara yang tidak perlu mata. “Pertanyaanmu baru. Tidak ada yang pernah bertanya itu. Delapan buku, anak besar—manusia bertanya tentang cinta, mati, uang, Tuhan, hujan, dan makan terbaik. Tidak satu pun pernah bertanya apa yang diingat batu yang terjaga.” Ia mengambil stempel lilinnya—lilin *merah*, Kiyo mencatat, merah tanah gunung ini, merah tanpa lambang—dan menandai halaman itu bukan di pinggir seperti biasa, melainkan di tengah, seperti menyematkan bunga. “Masuk. Dan kau—kau harus sering-sering lewat gerbangku. Kota ini sudah lama tidak mendapat pertanyaan baru. Kami mulai kehabisan.”
---
Di dalam, Meridien terasa seperti pasar yang komoditinya bukan barang.
Di sudut-sudut jalan orang berdiri di atas bangku dan berargumen—bukan bertengkar, berargumen, dengan wasit-wasit kecil dari kalangan penonton yang menilai ketahanan logika seperti menilai timbangan. Anak-anak magang berlarian membawa gulungan. Toko-toko menjual kertas, tinta, lensa, jam, boneka anatomi, dan—di sebuah kios kecil di teras dua, di antara cenderamata—
Batu-batu kecil. Sebesar kuku. Kelabu, biasa, diikat tali kulit.
“Batu pelajar,” kata penjaga kios riang. “Dari gunung tua. Katanya membawa fokus. Setiap calon pelajar beli satu—tradisi. Tiga tembaga saja.”
Mata kanan Kiyo memandangi keranjang batu-batu itu, dan yang dilihatnya membuat tangannya menggenggam terlalu kuat sebelum ia menahannya: batu-batu itu *berasap*. Lemah sekali, hampir tidak ada—tapi masing-masing menyimpan sisa denyut yang sudah dipotong kecil-kecil sampai tidak bisa lagi memanggil pulang. Serpih. Bubuk yang masih bernama.
“Kupikir satu,” kata Kiyo, dan suaranya keluar lebih berat dari yang ia maksud.
Ia membayar tiga tembaga. Batu kecil itu terbaring di telapak tangannya, dan dari dalamnya naik sesuatu yang bukan kata—sisa rindu yang sudah terlalu kecil untuk diingat, seperti gema yang tidak tahu lagi suara aslinya.
‘Potongan,’ kata Kiyo dalam hati, dan dadanya panas dengan cara yang baru. ‘Mereka memotong-motong kalian jadi jimat ujian.’
“Kiyo.” Roswitha di sikunya, pelan. “Wajahmu.”
“Aku baik.”
“Wajahmu seperti mau merobohkan kios.”
“Aku baik,” ulang Kiyo, dan menyimpan batu kecil itu ke kantong yang berbeda dari kantong pecahan dinginnya—dipisahkan, entah kenapa, seperti memisahkan anak ayam dari elang. “Catat kiosnya. Nanti.”
---
Rumah Odo an Corvane ada di teras lima, di gang yang semua pintunya penuh gambar kapur—diagram, orbit, tanda tanya besar yang dilukis orang iseng atau orang putus asa, sulit dibedakan. Merle mengetuk dengan ragu orang yang mengetuk pintu masa kecilnya.
Yang membuka adalah lelaki tua kurus dengan rambut yang berdiri ke segala arah seperti rumput tertiup badai, mengenakan jubah yang sudah jadi bagian dari bentuk tubuhnya.
“Merle,” katanya. Tidak ragu, tidak terkejut—seperti surat yang akhirnya sampai. “Kau mirip ibumu. Masuk, masuk, sebelum tetangga mencatat kalian. Semua hal dicatat di kota ini.”
Rumahnya penuh sampai langit-langit dengan yang di Meridien disebut *bekas pikir*: gulungan, batu-batu bertanggal, gunung mini dari tanah liat, mangkuk-mangkuk berisi air yang diberi label, dan di dinding terbesar—gambar. Gunung berbahu bundar itu, digambar ratusan kali, dari semua musim, semua jam, dengan catatan kecil di pinggirnya: denyut per jam. Denyut per hari. Naik. Turun. Naik.
“Kau menghitung denyutnya,” kata Kiyo.
Odo an Corvane berhenti. Ia menatap tamu besarnya—sungguh-sungguh menatap, untuk pertama kalinya—dan sesuatu di wajahnya yang tadinya hanya tua menjadi tua dan takut.
“Dua belas tahun,” katanya lirih. “Dua belas tahun aku menghitung denyut gunung itu, dan tidak ada satu pun pelajar di kota ini yang percaya gunung itu berdenyut, sampai—” ia berhenti. Matanya turun ke kantong Kiyo, ke sapu tangan yang tidak kelihatan, seperti orang yang mendengar detak jantung orang lain dari seberang ruangan. “Kau bukan pelajar,” katanya. “Kau bukan utusan. Astaga. Astaga, akhirnya—kau *dari sana*.”
“Dari mana?” tanya Kiyo, walaupun ia sudah tahu.
“Dari pertanyaan itu,” kata Odo. “Pertanyaan yang kami hampir selesaikan.” Ia duduk—jatuh ke kursi, lebih tepatnya—dan tangannya gemetar waktu menuangkan air, dan airnya tumpah, dan dia tidak peduli. “Mereka menyebutnya Pembukaan. Lingkaran Fajar—tujuh keluarga tua yang membiayai kota ini sejak sebelum kota ini punya nama—mereka sudah menunggu, meneliti, mengumpulkan. Aku meneliti untuk mereka. Kami semua meneliti untuk mereka, tanpa tahu kami meneliti untuk mereka—itu cara Meridien bekerja, keponakanku: semua pertanyaan gratis, semua jawaban mengalir ke satu meja.” Ia menatap keponakannya, dan untuk sesaat dia hanya paman yang gagal menulis surat. “Aku berhenti menulis karena surat-suratku mulai dibaca. Kubuktikan—kutulis kabar bohong tentang ibumu, Merle, dan sebulan kemudian ada orang menanyakan kabar itu di toko kain. Maaf. Maaf. Aku memakai keluargaku sebagai kanari.”
“Tidak apa-apa, Paman,” kata Merle, dan suaranya teguh. “Kami juga suka kanari. Kawan kami di utara ahli kanari.”
Odo tertawa—bunyi yang sudah lama tidak dipakai, berkarat. Lalu ia serius, dan menunjuk dinding bergambar gunung.
“Malam tanpa bulan,” katanya. “Tiga hari lagi. Mereka akan membukanya—Induk, begitu surat-surat tertua menyebutnya. Di Kamar Gema, di dalam gunung itu. Pecahan-pecahan dari seluruh kerajaan sudah berdatangan dua tahun ini, peti demi peti. Dan dua minggu lalu—” suaranya turun, hampir hilang, “—dua minggu lalu gunung itu berubah iramanya. Dari tidur menjadi—mendengarkan. Dua belas tahun aku menghitung, dan aku tidak pernah takut. Sekarang aku takut. Bukan pada yang akan keluar dari batu itu.” Ia menatap Kiyo dengan mata orang yang sudah menghitung terlalu lama. “Aku takut pada yang sudah ada di dalam kota ini, menunggu, sambil tersenyum.”
---
Mereka keluar dari rumah Odo ketika teras-teras Meridien mulai menyalakan lampu—ratusan lampu kecil di lembah menggantung, seperti bintang yang turun untuk membaca.
Dan di teras tiga, di kedai kecil dengan papan nama Nona Pritt, di antara para pelajar dan argumen-argumen yang mengapung, mata kanan Kiyo menangkap aura itu dari seberang jalan—merah tua, hampir hitam, ditambal denyut yang dikenalnya lebih baik dari denyut jantungnya sendiri.
Raga duduk sendirian di meja luar, dengan semangkuk sup ikan batu yang sudah dingin, dengan liontin yang berdenyut gelisah di bawah bajunya seperti burung di dalam saku. Ia tidak menyembunyikan diri. Tidak menyamar. Ia sudah di situ—mungkin sudah dari tadi—memandangi jalan, menunggu aura yang ia kenal lewat.
Ketika mata mereka bertemu, lelaki besar itu—fakir yang menamai dirinya sendiri, yang pernah mematahkan dinding gudang dengan bahu Kiyo, yang batuk darah hitam di tengah hujan—mengangkat cangkirnya, pelan, seperti mengangkat bendera yang bukan bendera siapa-siapa.
“Kura-kura,” katanya, cukup keras untuk melewati jalan. “Kau datang juga. Duduk. Supnya jelek, tapi pemandangannya—” ia menoleh ke gunung berbahu bundar yang menghitam di langit malam, “—pemandangannya sedang berdebar.”