Mereka duduk berhadapan di meja luar Kedai Nona Pritt, dan Meridien berjalan terus di sekeliling mereka tanpa tahu bahwa dua dari benda paling aneh di dunia sedang berbagi meja yang goyang.
Raga telah berubah.
Bukan banyak—lima musim tidak banyak—tetapi cukup. Di gerbang dulu ia adalah banjir: penuh, kuat, ke mana-mana. Sekarang airnya surut dan kelihatan dasarnya. Tulang pipinya naik. Matanya masih mata yang sama, tetapi di bawahnya ada kantung yang gelap, dan tangannya—Kiyo melihatnya ketika lelaki itu mengangkat cangkir—gemetar halus, terus-menerus, seperti daun yang tidak pernah berhenti dari angin.
“Lima hari aku di kota ini,” kata Raga. “Kau tahu apa yang kulakukan lima hari? Membaca. Aku, yang tidak pernah membaca apa pun selain wajah orang, membaca di perpustakaan umum mereka sampai penjaganya curiga.” Ia menyeringai, seringai lama, tetapi ada lelah di bawahnya. “Kota aneh. Tidak ada yang menanyaiku dari mana. Mereka hanya bertanya apa yang kucari. Aku bilang: cara menceraikan istri.”
“Dan?”
“Dan mereka menjawab. Semua orang di kota ini menjawab, itu penyakitnya.” Raga menyender, dan gerakannya hati-hati—gerakan orang yang tahu persis bagian tubuhnya yang mana yang tidak boleh digerakkan cepat. “Mereka punya tabib di sini. Bukan tabib orang sakit—tabib *pertanyaan*. Lingkaran Fajar memelihara mereka seperti orang memelihara kuda. Dan tabib-tabib itu bilang kepadaku: ya, batumu bisa dilepas. Sudah lama mereka meneliti caranya. Pecahan dan tuan rumah, katanya, bisa diceraikan tanpa membunuh yang satu atau menghabiskan yang lain.”
“Gratis?”
Raga tertawa—yang berubah jadi batuk, yang ditahannya dengan punggung tangan. Ketika tangan itu turun, Kiyo melihat noda hitam di sana, dan Raga melihat Kiyo melihatnya, dan tidak menyembunyikannya. Untuk itu, paling tidak, Kiyo berterima kasih dalam hati.
“Tidak ada yang gratis di kota yang tidak menjual apa-apa,” kata Raga. “Harganya satu: aku hadir. Di Pembukaan. Di dalam gunung, di Kamar Gema, berdiri di samping batu besar itu ketika mereka membukanya—dengan liontinku di leherku. Mereka tidak menjelaskan untuk apa. Mereka tidak pernah menjelaskan, mereka hanya—mengundang. Dengan sopan. Dengan tinta yang bagus.” Ia mencondongkan tubuh, dan suaranya turun. “Dan kemarin, kura-kura, kemarin aku dengar kabar yang membuatku duduk di kedai ini menunggu aura yang kukenal. Undangan mereka bukan hanya untukku.”
Kiyo menunggu.
“Mereka ingin dua,” kata Raga. “Dua yang berjalan. Aku dan kau. Pecahan yang berjalan, kata surat-surat mereka—kau sudah baca surat mereka, jangan pura-pura, seluruh ibu kota pasti sudah baca surat mereka sekarang.” Matanya menyipit, tajam, sedih, geli. “*Pastikan dia tidak tahu, sampai waktunya.* Waktu itu kubaca sebagai ancaman. Sekarang aku mengerti. Itu bukan ancaman. Itu *daftar tamu*. Mereka tidak mau membunuhmu, Kiyo Hakai. Membunuhmu merusak barang. Mereka mau kau datang ke gunung ini dengan kakimu sendiri, penuh rasa penasaran, merasa jadi pahlawan—dan berdiri persis di titik yang sudah mereka gambar di lantai.”
Angin gunung lewat di antara teras-teras. Lampu-lampu kota bergoyang.
“Kita kira kita pemburu,” kata Raga pelan. “Ternyata kita undangan.”
---
Mereka berjalan setelah itu—kedai terlalu penuh telinga—menyusuri tepi teras tertinggi, di mana kota berhenti dan jurang mulai, dengan gunung berbahu bundar menghitam di depan mereka seperti dinding akhir dunia.
Raga bercerita, karena malam itu adalah jenis malam ketika orang-orang tertentu akhirnya bercerita.
Ia menemukan pecahannya sembilan tahun lalu, di reruntuhan desa yang sudah tidak punya nama—di pegunungan kecil sebelah timur jauh, desa yang dibakar sampai rata, yang tidak pernah dibangun lagi. Ia menggali di abunya bukan untuk mencari batu. Ia menggali untuk mencari sisa-sisa yang bisa dijual.
“Desa itu,” kata Raga, memandang jurang, “dibakar oleh Behemoth. Kau tahu itu bagian yang mana? Aku sudah jadi orang Behemoth waktu itu. Bukan pemimpin—belum. Hanya tangan yang kuat. Aku tidak ikut pembakaran desa itu—tapi aku tahu siapa yang membakarnya, dan aku tidak kehilangan tidur karenanya, dan itu sama saja.” Tangannya memegang liontin di bawah bajunya, bukan untuk kekuatan, seperti orang memegang bekas luka. “Jadi aku menemukan batu ini di abu rumah yang kubakar sendiri—tidak dengan tanganku, tapi dengan namaku. Dan batu ini berdenyut, dan aku lapar dan dingin dan tidak pernah menang, dan kupikir—” ia berhenti. Menelan. “Kupikir itu ampunan. Semesta memberiku sesuatu dari abu yang kubuat. Bertahun-tahun kupikir itu ampunan.”
“Dan sekarang?”
“Sekarang aku tahu itu kail.” Raga tertawa kecil. “Batu ini tidak pernah memilihku, kura-kura. Batu ini *ditinggalkan* untuk ditemukan. Di abu. Di tempat yang dilalui orang-orang sepertiku—lapar, kuat, tidak punya apa-apa. Kail untuk ikan yang tepat.” Ia menatap Kiyo. “Sembilan tahun aku membangun Behemoth dari segerombolan perampok jadi armada. Sembilan tahun aku menggali di mana mereka suruh menggali—oh, mereka tidak pernah menyuruh langsung; kabar saja, desas-desus saja, *ada batu bernyanyi di runtuhan sana*—dan aku menggerakkan seribu orang untuk menggali, dan hasil galiannya selalu dibeli orang-orang bersih yang datang sesudahnya. Aku kira aku membangun kerajaan.” Suaranya tidak marah. Itu yang paling buruk—suaranya hanya benar. “Aku mesin galinya. Armadaku mesin galinya. Perang sembilan tahun, dan hasilnya masuk peti-peti yang naik ke gunung ini.”
“Raga,” kata Kiyo. “Kenapa kau ceritakan ini padaku?”
“Karena kau satu-satunya yang bisa mengerti tanpa mengasihaniku,” kata Raga. “Dan karena—” ia berhenti, dan kali ini senyumnya benar-benar senyum, senyum orang miskin yang memberikan satu-satunya koinnya, “—karena waktu kau memutus taliku di depan gudang itu, kau tidak mengambil batuku. Tanganmu sudah di sana. Kau bisa. Dunia ini tempat orang mengambil, kura-kura—kau satu-satunya yang pernah tidak mengambil. Jadi dengarkan baik-baik, karena aku hanya mengatakannya sekali: aku tidak percaya Lingkaran Fajar, aku tidak percaya Pembukaan, dan aku tidak berniat berdiri di titik yang mereka gambar di lantai. Tapi aku juga tidak bisa lari—batuku tidak mau lari, dengarkan dia—”
Ia membuka kerah bajunya.
Liontin itu tergantung di dadanya, pecahan abu-abu bertali kulit, dan di malam pegunungan itu, di bawah mata kanan Kiyo, pecahan itu *bercahaya*—redup, dari dalam, seperti bara yang ditiup lembut. Denyutnya cepat, gelisah, riang—denyut anjing yang mencium kampung halamannya.
“Dia pulang,” kata Raga, dan suaranya nyaris patah di tengah, dan ia membiarkannya patah karena sudah terlalu malam untuk pura-pura. “Sembilan tahun dia memakanku, dan sekarang dia pulang, dan dia *senang*. Yang paling menyakitkan, kura-kura? Aku juga senang. Bagian dari diriku yang sudah bukan aku lagi—dia senang.”
Kiyo membuka sapu tangannya.
Pecahan dinginnya terbaring di telapak tangan—dan malam ini, di teras tertinggi Meridien, pecahan itu tidak dingin lagi. Hangat. Berdenyut pelan, tersendat, belajar—dan ketika Kiyo mengangkatnya mendekati liontin Raga, kedua batu itu menjawab satu sama lain: denyut melambat, mencari, lalu *selaras*—dua detak yang berjauhan bertahun-tahun, berdiri bersebelahan lagi, dua anak ayam dari telur yang sama di dua kamar yang akhirnya menemukan dindingnya tipis.
Raga memandanginya. Untuk waktu yang lama tidak ada yang bicara.
“Saudara,” kata Raga akhirnya, serak.
“Saudara,” kata Kiyo.
“Kau bawa pecahan mati menyeberangi kerajaan untuk apa?”
“Waktu kutemukan, dia sudah dikuras sampai mati untuk menenangkan pecahan-pecahan lain.” Kiyo membungkusnya kembali, hati-hati, dan hangatnya tinggal di telapak tangannya seperti bekas menggendong. “Aku tidak tahu untuk apa. Waktu itu aku hanya tahu dia tidak boleh tinggal di meja itu.”
Raga mengangguk. Lalu ia berkata, dengan nada orang yang memasang batu terakhir di dinding: “Maka kita sepakat. Bukan kawan—aku terlalu banyak membunuh untuk jadi kawanmu, dan kau terlalu banyak menjaga untuk jadi kawanku. Tapi dua orang yang sama-sama tidak mau dibuka.” Ia mengulurkan tangannya yang gemetar. “Satu syaratku: kalau saatnya tiba dan mereka benar-benar bisa menceraikanku dari batu ini tanpa membunuhku—kau biarkan aku mencoba. Jangan khotbahi aku. Aku sudah tahu khotbahnya.”
“Satu syaratku,” kata Kiyo, tidak langsung menjabat. “Selama kita sejalan, tidak ada orang di kota ini yang mati oleh tanganmu. Tidak ada. Bukan yang menyerangmu dulu—kita bicara kalau itu terjadi—tapi tidak ada yang kau bunuh karena itu lebih cepat.”
“Kalau mereka menyentuhku dulu—”
“Itu bukan janji, Raga.”
“Itu doa,” kata Raga, dan menyeringai seperti serigala yang sudah lama tidak menyeringai. “Baik. Tidak ada yang kubunuh karena lebih cepat. Sumpah pada—” ia berhenti, mencari sesuatu yang layak disumpahi, dan menemukannya di dadanya sendiri. “Sumpah pada batuku. Satu-satunya benda yang tidak pernah berbohong padaku, karena tidak pernah bicara.”
Mereka berjabat tangan—tangan raksasa dan tangan yang gemetar, dua orang yang pernah saling menghancurkan dinding gudang—dan di bawah mereka, di dasar lembah yang menggantung, lampu-lampu Meridien berkedip seperti buku yang sedang dibaca.
---
Malam itu Kiyo bermimpi.
Bukan mimpi biasa—ia tahu bedanya sekarang, sudah belajar membedakannya seperti orang belajar membedakan langkah ibu dari langkah orang asing di tangga rumah. Mimpi ini datang dari bawah: melalui lantai, melalui tanah, melalui seratus tahun laut, suara yang sudah dua kali berbicara kepadanya dan yang ia simpan di tempat yang tidak ada namanya.
IBU.
Suaranya samar—tersaring dalam, seperti dipanggil melalui air tebal—tetapi kata-katanya jatuh satu per satu, berat, seperti batu ke sumur:
*ANAKKU. KAU SUDAH BERJALAN JAUH, DAN SETIAP LANGKAHMU DIDENGAR.*
*MEREKA MEMBUKA PINTU YANG BUKAN PINTU. MEREKA MENGERAUKAN SESUATU YANG TIDAK MENGERAUKAN.*
*YANG TIDAK RETAK HARUS TETAP TIDAK RETAK—ATAU RETAK DENGAN CARANYA SENDIRI.*
*JAGA MATAMU. JAGA TANGANMU. DAN KALAU KAU MENDENGAR SUARAKU DARI DALAM BATU ITU—BUKAN AKU.*
*ITU BUKAN AKU.*
Kiyo terbangun dalam gelap, jantungnya menggedor, tangannya menggenggam—dan di dalam genggamannya, pecahan yang seminggu lalu mati di atas meja beludru itu berdenyut mantap, hangat seperti telapak tangan anak yang tidur.
Di luar jendelanya, gunung berbahu bundar berdiri hitam melawan bintang-bintang.
Dan jauh di dalamnya, di Kamar Gema yang belum pernah dilihat siapa pun dari luar Lingkaran, sesuatu yang utuh dan tidak retak berbalik dalam tidurnya yang berumur lebih panjang dari kota, lebih panjang dari raja-raja, lebih panjang dari nama-nama—dan, untuk pertama kalinya sejak dunia masih muda, *mendengarkan ke atas*.