Burung dari ibu kota tiba pagi-pagi, ketika teras-teras Meridien masih biru.
Surat Francis pendek, kering, dan membuat Kiyo membacanya tiga kali di depan jendela rumah Odo:
*Kabar palsu kita berjalan lebih cepat dari kudanya. “Ottilie sakit parah” kuberikan ke meja kepala kurir hari Senin. Hari Jumat, seorang pedagang di pasar selatan ibu kota mengulanginya nyaris kata demi kata—dan pedagang itu, dua hari sebelumnya, baru turun dari Meridien. Jadi pipanya pasti: kurir istana, ke selatan, ke gunungmu. Mereka sudah tahu Ottilie tertangkap sebelum burung resmi mana pun bisa tiba. Mereka sudah tahu kau datang, anak. Hati-hati dengan orang yang tahu kau datang dan tetap menyalakan lampu untukmu.*
*P.S. Raja mulai makan pagi lagi. Tabib barunya dua puluh tahun, gugup, dan meracik semuanya di depan Baginda sambil menggigil. Baginda bilang itu tonik terbaik yang pernah ada.*
*P.P.S. Pecahan di rumahmu—Emeteria menitipkan ini—tidak lagi bergetar ke selatan tiap tengah malam. Sekarang dia berdenyut pelan dan tenang, seperti sudah sampai di tempat yang ditunggunya. Emeteria tidak tahu itu kabar baik atau kabar buruk. Aku juga tidak.*
Kiyo menyentuh sapu tangan di kantongnya. Hangat. Berdenyut pelan, tenang. Sama.
“Dia berdenyut sama dengan yang di rumah,” katanya pada yang lain di ruang penuh gambar gunung itu. “Dua pecahan, satu di tanganku, satu di gudang bawah tanah di utara—berdenyut dengan irama yang sama. Mereka sudah saling menemukan.”
“Melalui apa?” tanya Bastian. “Surat? Burung?” Ia mencoba bercanda, tetapi tidak ada yang tertawa, karena semua orang di ruangan itu sudah cukup tahu untuk tidak tertawa.
“Melalui gunung ini,” kata Odo pelan. Ia berdiri di dindingnya, di antara ratusan gambar gunung berbahu bundar. “Semua denyut di dunia ini berpusat ke satu tempat. Dua belas tahun angka-angkaku berteriak satu hal yang sama: semua pecahan adalah anak panah, dan semua anak panah menunjuk ke Kamar Gema.”
---
Rapat pertama mereka berlangsung di rumah Odo dengan pintu tertutup dan jendela yang dijaga dua pengawal tanpa ciri—yang oleh tetangga Meridien dicatat dengan rajin, karena di kota ini semua hal dicatat.
Odo membentangkan di meja sesuatu yang sudah dua belas tahun tidak pernah dilihat orang luar: gambar Kamar Gema. Bukan gambar resmi—gambar *curian*, disalin tangan dari ingatan, dari dua kali kunjungannya sebagai pelajar tamu sebelum akses ditutup.
“Begini bentuknya,” katanya, jari tuanya menelusuri garis-garis. “Kubah alami, di dalam gunung, lebih besar dari aula istana mana pun. Di tengah—” ia menunjuk sebuah lingkaran kecil di tengah gambar, dan tangannya berhenti di situ, seperti tangannya tidak mau, “—dia.”
“Induk,” kata Kiyo.
“Induk.” Odo menelan. “Bukan batu biasa, anak besar. Kau harus siap untuk ini. Dia—bernapas. Kelihatan. Batu yang mengembang dan mengempis, sepersekian, pelan sekali. Dan dia berurat—urat-urat yang menangkap cahaya lilin dan membalikkannya seperti air. Besarnya seperti rumah. Aku melihatnya dua kali, dua belas tahun lalu, dan sampai sekarang aku tidak pernah bermimpi tentang apa pun yang lain.”
Di sekeliling lingkaran kecil itu, pada gambar, ada cincin: titik-titik kecil berjajar—enam belas, tujuh belas—tempat-tempat yang sudah disiapkan.
“Untuk pecahan-pecahan,” kata Roswitha. “Seperti mejanya Ottilie.”
“Seperti mejanya Ottilie,” kata Odo. “Berdiri di atas beludru. Semuanya sudah diukur.”
“Dan ini?” Merle menunjuk dua titik yang lebih besar, di antara cincin dan pusat—dua lingkaran yang digambar lebih tebal dari yang lain, saling berhadapan, seperti sepasang mata.
Odo diam sejenak. “Itu,” katanya, “tidak ada dua belas tahun lalu. Itu baru. Itu digambar untuk Pembukaan kali ini.”
“Untuk kami,” kata Kiyo.
Dua titik. Dua lingkaran di lantai. Satu untuk pecahan yang berjalan yang pertama, satu untuk yang kedua.
Raga—yang duduk di sudut dengan cangkirnya, mendengarkan seperti orang mendengarkan ramalan cuaca tentang badai yang sudah ada di tulangnya—mengangkat tangannya yang gemetar dan menunjuk gambar itu tanpa bangkit dari kursinya.
“Aku sudah melihat titik itu,” katanya. “Bukan di gambar. Di lantainya. Tiga hari lalu mereka mengajakku turun—tur kasar, cepat, supaya aku tahu di mana harus berdiri. Mereka menyebutnya *tempatku*. Dengan bangga, seperti menunjukkan kamar pengantin.” Ia menarik kerahnya; liontin itu berdenyut gelisah, tidak tenang sejak tiba di kota ini. “Titiknya hangat, kura-kura. Aku berdiri di situ sepuluh detik dan batuku hampir melompat dari talinya. Lantai itu—” ia mencari kata, tidak menemukan, menyerah, “—lantai itu *menyambut*.”
Ruangan itu meresapkan kata itu pelan-pelan.
“Mereka tidak memerlukan kita untuk menonton,” kata Kiyo akhirnya. “Mereka memerlukan kita untuk *berdiri*. Di titik itu. Kau dan aku—kita bukan tamu di upacara ini. Kita *alatnya*. Dua jarum di mesin mereka.”
“Maka kita tidak datang,” kata Bastian. “Kita patahkan pintu Kamar Gema malam sebelumnya, empat pengawalku—”
“Dan ratusan pelajar yang percaya, dan penjaga Lingkaran, dan tujuh keluarga yang memiliki kota ini sampai ke batu bata terakhirnya?” Francis tidak ada di situ, tetapi kalimatnya datang dengan sendirinya ke mulut Kiyo, kalimat yang pernah ia dengar dari orang benang itu di utara: “Kalau kau menyerang orang yang sedang berdoa, kau tidak menghentikan doanya. Kau membuatnya jadi martir.”
“Jadi kita datang,” kata Merle, pelan. “Kita berdiri di titik-titik itu. Kita biarkan mesin mereka menyala—dengan dua jarumnya tahu persis kapan harus keluar.” Ia mengangkat wajah; pemuda yang tiga bulan lalu hanya tahu membaca surat-surat buruk itu kini menatap gambar ruang upacara seperti jenderal kecil yang pucat. “Perangkap hanya bekerja kalau tikusnya tidak tahu itu perangkap. Kita tahu. Itu satu-satunya kelebihan kita—dan mereka sudah membayar mahal supaya kita tidak tahu.”
“Ada satu hal lagi yang perlu kalian tahu sebelum memutuskan,” kata Kiyo.
Ia menceritakan mimpi itu. Bukan semuanya—bagian tentang IBU disimpannya di tempat yang tidak ada namanya—tetapi bagian yang penting, bagian yang adalah peraturan: “Di dalam batu itu ada sesuatu yang berbicara dengan suara yang bukan suaranya. Kalau besok kalian mendengar suara dari dalam Induk—suara apa pun, walau suara itu terdengar seperti ibumu, seperti anakmu, seperti orang yang paling kau rindukan—jangan jawab. Jangan mendekat. Apa pun yang dikatakannya.”
“Kau tahu ini bagaimana?” tanya Roswitha, tajam, tidak menuduh—hanya prajurit yang memeriksa senjata sebelum dipakai.
“Dari sumber yang sama yang memberitahuku bahwa aku tidak sendirian,” kata Kiyo. “Dari satu-satunya suara yang boleh kupercaya. Dan dia bilang: suaranya tidak akan datang dari dalam batu.”
Odo an Corvane, di dinding gunungnya, menggigil pelan.
“Dua belas tahun,” bisiknya. “Dua belas tahun aku menghitung denyutnya dan tidak pernah bertanya apa yang di dalamnya. Semua pelajar di kota ini sama—kami menghitung, mengukur, menimbang—dan tidak satu pun dari kami pernah bertanya *siapa*.”
---
Surat itu datang sore, diantar kurir Lingkaran yang bersih dan sopan dan tidak menunggu jawaban.
Kertas tebal. Tinta keemasan. Cap lilin merah tanpa lambang. Merle membacanya keras-keras dengan suara yang makin kecil:
*Kepada pecahan yang berjalan, Kiyo Hakai dari utara. Ketujuh keluarga Lingkaran Fajar, dengan segala hormat, mengundang Anda berdiri di samping saudara Anda pada malam Pembukaan. Kota ini sudah membaca pertanyaan Anda di Buku Pertanyaan—pertanyaan yang indah, pertanyaan yang baru. Kami percaya jawabannya akan Anda temukan di Kamar Gema, dua malam lagi, di titik yang sudah kami siapkan untuk Anda sejak sebelum kami tahu nama Anda. Fajar tidak mengetuk dua kali.*
*—Sevian, Ketua Lingkaran.*
“Mereka membaca Buku Pertanyaan,” kata Bastian.
“Mereka membaca segalanya,” kata Odo pahit. “Aku sudah bilang. Di kota ini semua jawaban mengalir ke satu meja.”
“Titik yang sudah disiapkan sejak sebelum mereka tahu namaku,” kata Kiyo, melipat surat emas itu pelan-pelan. Ia berdiri di jendela, memandang gunung berbahu bundar yang kemerah-merahan dalam cahaya sore. “Mereka menungguku sejak sebelum aku lahir dari batuku. Mungkin sejak sebelum batuku diangkat dari laut.”
Di pangkuannya, di dalam sapu tangan, pecahan kecil itu berdenyut tenang—seperti anak yang tidur di kereta, yang tidak tahu keretanya sedang menuju ke mana.
“Baik,” kata Kiyo. “Kita datang ke undangan mereka.” Ia berbalik. “Tapi kita tidak datang seperti tamu. Roswitha, Bastian—malam ini kalian berdua belajar jalan gunung. Odo, kau dan Merle membuka setiap gulungan yang pernah kau simpan—aku mau tahu *tepatnya* apa yang mereka lakukan di dalam kamar itu, dari lagu pertama sampai kata terakhir. Dan aku—” ia berhenti, dan senyumnya lelah, “—aku akan berjalan-jalan di kota yang indah ini, dan membiarkan semua orang melihatku berjalan-jalan, supaya Lingkaran yang baik itu yakin undangan mereka diterima dengan penuh rasa penasaran dan tanpa rasa curiga.”
“Satu-satunya kelebihan kita,” kata Merle.
“Satu-satunya,” kata Kiyo. “Perangkap yang mengira tikusnya tidak tahu.”