Merle menemukannya jam tiga pagi, di antara gulungan-gulungan Odo, dengan mata merah dan suara yang berubah jadi bisikan karena terlalu keras untuk ruangan itu.
“Paman. Paman Kiyo. Yang ini—kalian harus lihat yang ini.”
Ia membawa sebuah gulungan tua yang rusak pinggirnya—salinan, bukan asli, disalin tangan oleh seseorang yang tangannya sudah lama mati. Kopian dari kopian. Cap di sudutnya: setengah lingkaran matahari terbit, lambang yang tidak pernah dipakai Lingkaran di surat-surat bertinta emas mereka.
“Piagam pendirian,” kata Odo, dan tangannya gemetar ketika mengambilnya. “Aku menyalinnya sembilan tahun lalu dari arsip dasar kota—waktu aku masih boleh ke arsip dasar. Aku tidak pernah—aku membacanya seratus kali dan tidak pernah—”
“Karena bagian ini pudar,” kata Merle. Jarinya menunjuk baris-baris yang nyaris hilang, yang di gulungan aslinya pasti sudah tidak terbaca sama sekali. “Tapi pudarnya tidak rata. Tinta tua memudar lebih cepat di bagian yang sering disentuh jari—dan bagian ini, Paman, bagian ini tidak pernah disentuh siapa pun. Tiga ratus tahun tidak disentuh. Orang-orang membacanya sampai kalimat yang mereka suka, lalu berhenti.”
Ia membacakan keras-keras, pelan-pelan, kata per kata, seperti orang menurunkan barang pecah belah dari rak tinggi:
“*Kota ini didirikan bukan untuk menjawab, melainkan untuk menunggu. Di dalam gunung tidur Yang Utuh, yang tidak retak. Yang tidur di dalam bukan untuk keluar. Yang tidur di dalam adalah pintu. Jagalah pintunya sampai fajar datang dengan sendirinya—karena fajar tidak mengetuk dua kali. Dia tidak perlu mengetuk. Dia datang.*”
Sunyi.
“Motto mereka,” kata Raga, dari sudutnya yang gelap. Suaranya aneh—datar, seperti orang melihat rumahnya sendiri terbakar dari kejauhan. “Tiga ratus tahun mereka mengutipnya. *Fajar tidak mengetuk dua kali.* Maksudnya: jangan mengetuk. Maksudnya: biarkan pintu itu tertutup, karena yang benar datang sendiri tanpa diketuk.” Ia tertawa, satu hembusan, tanpa humor. “Tujuh keluarga. Tiga ratus tahun. Seluruh kota yang membangun menara-menara dari pertanyaan—dan mereka membacanya *terbalik*.”
“Tidak terbalik,” kata Odo. Ia duduk, perlahan, seperti lututnya menyerah. “Itu yang harus kucatat dengan benar, untuk arsip. Tidak terbalik—*tergeser*. Sedikit demi sedikit, generasi demi generasi. Dari *jagalah pintunya sampai fajar datang* menjadi *jagalah pintunya sampai kami membukanya* menjadi *bukalah pintunya supaya fajar datang*. Tidak ada satu orang pun yang mengubahnya, kalian mengerti? Tidak ada penjahatnya. Hanya para penunggu yang lelah menunggu, selama tiga ratus tahun, sampai akhirnya menunggu dan membuka terasa seperti hal yang sama.” Ia melepas kacamatanya. “Tuhan. Aku bagian dari ini. Dua belas tahun denyut per jam—kupikir aku meneliti. Aku menggali untuk mereka, seperti semua orang.”
“Paman,” kata Merle, dan tangannya di bahu pamannya, “kau satu-satunya yang menyalin kalimat yang tidak pernah disentuh siapa pun.”
---
Pagi harinya, hari terakhir sebelum malam tanpa bulan, kota itu bangun seperti pasar malam.
Kiyo berjalan-jalan sesuai janjinya sendiri—terlihat, santai, penuh rasa ingin tahu yang sopan—dan kota memberinya panggung. Lingkaran Fajar membagikan kain putih; pelajar-pelajar muda menjemurnya di pagar-pagar seperti bendera. Di teras-teras orang berargumen bukan lagi tentang logika melainkan tentang makna: apa yang akan ditemukan di dalam? Perpustakaan dunia lama? Ibu dari semua batu? Fajar itu sendiri? Di kedai Nona Pritt seorang penyair sudah menulis tiga puisi tentang Pembukaan, dan satu-satunya yang bagus tidak akan selesai, karena di bait keempat penyair itu berhenti dan tidak bisa menjelaskan kenapa.
Dan di tengah semua keramaian itu, menjelang tengah hari, hal itu mulai.
Dengungan.
Awalnya orang mengira lebah. Lalu mengira air di pipa-pipa. Lalu tidak tahu harus mengira apa—karena dengungan itu datang dari lantai, dari dinding, dari pegangan pintu, dari pegangan tangga, dari tulang kering sendiri. Rendah, dalam, tidak keras—seperti raksasa di dasar gunung mulai bersenandung dalam tidurnya. Kota Meridien, kota yang tiga ratus tahun dibangun di atas denyut yang tidak pernah dipercayai para pelajarnya, sore itu berdiri diam di jalan-jalannya, memegangi pagar, memandang gunung berbahu bundar—dan mendengar.
Kiyo berdiri di tengah teras tiga, di tengah orang-orang yang terdiam.
Di kantongnya, pecahan kecilnya berdenyut tenang—tidak ikut berdengung, tidak gelisah, tidak tertarik. Tenang seperti anak yang sudah sampai di rumah. Dan entah kenapa, itu—ketenangan itu—yang membuat tengkuk Kiyo dingin.
‘Dia tidak takut,’ pikir Kiyo. ‘Dia sudah sampai. Itu yang membuatku takut.’
Seekor kucing kota melompati pagar di sampingnya—jantan muda, belang, dengan udara kucing yang selalu tahu lebih banyak dari yang dibicarakannya.
‘Kau yang dari laut,’ kata kucing itu. ‘Kota ini malam ini penuh orang yang pura-pura tidak takut.’
“Dan kau?”
‘Aku kucing. Aku tidak takut pada dengungan. Aku takut pada yang membuat dengungan itu *menunggu*.’ Kucing itu menjilat kakinya, pura-pura santai. ‘Dengungan itu tidak naik, kau tahu. Sejak kemarin. Dia tidak makin keras. Dia hanya—bertahan. Seperti orang yang menahan napas. Kau pernah lihat orang menahan napas, manusia? Mereka menahan napas sebelum melompat.’
Kiyo menatap gunung itu.
“Terima kasih,” katanya.
‘Bawakan ikan kalau kau kembali,’ kata kucing itu, dan turun dari pagar. ‘Kalau.’
---
Malam itu—malam terakhir—mereka berkumpul di rumah Odo untuk terakhir kalinya sebelum semuanya bergerak.
Bastian dan Roswitha melaporkan jalan-jalan gunung: tangga peziarah di muka utara, dua pos penjaga, satu galeri batu di atas kubah yang oleh Odo dikonfirmasi punya jendela alami ke dalam kamar—retakan tipis di batu, tempat dua belas tahun lalu Odo muda dulu menyelundupkan alat ukurnya. “Dua orang bisa berdiri di situ sepanjang upacara,” kata Bastian, “dan tidak terlihat dari lantai.”
Merle dan Odo melaporkan tata cara: lagu pembuka, tujuh nama keluarga, pembacaan piagam—versi yang sudah bergeser—lalu pecahan-pecahan dinyalakan satu per satu oleh para pembawanya, dan terakhir, dua jarum naik ke titiknya. “Puncaknya,” kata Odo, “adalah ketika dua pecahan yang berjalan berdiri di titik mereka dan enam belas pecahan beresonansi lewat mereka ke Induk. Semacam—” ia mengibas tangannya, mencari kata teknis yang tidak ada, “—pintu air. Kau dan Raga pintu airnya, Kiyo. Semua denyut itu disalurkan lewat tubuh kalian.”
“Dan kalau salah satu pintu air mundur?” tanya Roswitha.
“Rangkaiannya patah,” kata Odo. “Tapi ada satu hal—ini penting—rangkaian seperti itu tidak patah rata. Dia bergolak dulu. Ada satu momen, tepat saat patah, di mana semua yang sudah terkumpul—semua denyut itu—tidak punya jalan keluar. Kalau kau mundur terlalu cepat, tidak ada artinya. Kalau terlalu lambat—” ia berhenti.
“Terlalu lambat, aku jadi pintu air yang terbuka,” kata Kiyo.
Odo tidak membantahnya.
Raga, sepanjang rapat itu, diam. Baru di ujung ia bicara—dari sudut gelapnya, dengan suara orang yang sudah selesai dengan keraguan:
“Kau mundur dari titikmu, kura-kura. Aku mundur dari titikku dengan cara lain.” Ia memegang liontinnya. “Aku tidak mundur. Aku *putus*. Mereka mau batuku jadi jarum—maka batuku harus lepas dari jarumnya, di atas titiknya, tepat di puncaknya. Dua-duanya patah sekaligus.”
“Raga.” Kiyo menatapnya. “Kita tidak tahu apa yang terjadi kalau kau memutusnya begitu. Batumu sudah sembilan tahun menyambungkanmu ke dirinya sendiri.”
“Lima tahun,” kata Raga. “Mungkin enam. Kau sendiri yang bilang, di tengah hujan, di depan gudang. Jangan pura-pura lupa sekarang.” Ia tersenyum—senyum yang paling jujur yang pernah Kiyo lihat di wajah itu, karena tidak ada lagi yang disembunyikan di belakangnya. “Aku sudah menghitungnya, kura-kura. Dua pilihan: batu ini memakanku sampai habis dalam lima tahun, atau aku menceraikannya besok malam di atas titik yang mereka gambar sendiri—di satu-satunya tempat di dunia ini yang mungkin cukup kuat untuk menampungnya waktu lepas. Kalau aku selamat, aku bebas. Kalau aku tidak selamat—” ia mengangkat bahunya yang besar, “—setidaknya bukan Lingkaran yang memetikku seperti buah.”
Kiyo tidak menjawab langsung. Di luar, dengungan gunung itu bertahan, sabar, seperti napas yang ditahan.
“Besok malam,” kata Kiyo akhirnya. “Kita berdiri di titik-titik mereka. Kita biarkan mereka menyalakan mesin mereka sampai puncaknya—dan di puncaknya, kita mematahkannya berdua. Bersamaan. Odo menghitung momennya dari galeri—dia dua belas tahun menghitung denyut gunung ini, dia akan tahu kapan puncaknya datang.” Ia memandang mereka satu per satu: perwira yang pincang, tombak biru, pembaca tulisan buruk, pelajar tua yang tangannya gemetar, dan fakir yang menamai dirinya sendiri. “Kita masuk lewat pintu perangkapnya, keluar lewat pintu yang kita buat. Dan satu aturan yang tidak berubah, apa pun yang terjadi di dalam—”
“Kalau batu itu bicara,” kata Roswitha.
“—dengan suara siapa pun, jangan jawab,” kata Kiyo. “Yang di dalam boleh memanggil. Yang di luar tidak memanggil balik.”
Merle muda itu mengangguk paling dulu, dan wajahnya pucat dan keras seperti batu kecil.
“Satu lagi,” kata Kiyo, dan dari sakunya ia mengeluarkan dua barang dan meletakkannya di meja: jimat bulu burung Lenard yang kusam dan licin, dan pecahan kecil yang hangat. “Kalau besok malam salah—kalau aku tidak turun dari gunung itu—Merle. Jimat ini kembali ke utara. Dipinjamkan, bukan diberikan. Dan yang ini—” ia menutupkan tangannya di atas pecahan hangat itu, dan denyutnya terasa di jari-jarinya, sabar, percaya, “—yang ini tidak boleh jatuh ke tangan yang mengukur sebelum mendengar.”
“Kau akan turun dari gunung itu,” kata Merle, dan suaranya tidak izin bergetar.
“Maka kau menyimpan ini semalam saja,” kata Kiyo, “dan besok malam mengembalikannya dengan malu-malu.”
Malam tanpa bulan berikutnya, Meridien menyala putih oleh kain-kain dan lampu-lampu, dan gunung berbahu bundar menahan napasnya—dan rombongan kecil dari utara naik ke gerbang batu merah di muka gunung, dua demi dua, seperti orang-orang yang datang memenuhi undangan.