Tidak ada bulan malam itu, dan Meridien tidak memerlukannya.
Kota itu menyalakan dirinya sendiri—lampu di setiap teras, kain putih di setiap pagar, obor di sepanjang jalan naik—dan orang-orang berjalan ke gunung berbahu bundar seperti sungai yang mengalir ke atas. Pelajar, tukang, nenek-nenek dengan cucu digendong, penyair dengan puisi yang belum selesai, penjaga kios batu pelajar yang sudah kehabisan dagangan sejak siang. Semua naik. Tiga ratus tahun menunggu, kata mereka satu sama lain, dan malam ini malamnya.
Kiyo berjalan di tengah sungai itu dengan Merle di sisinya, dan jimat bulu burung Lenard kembali di lehernya—dikembalikan Merle pagi tadi dengan malu-malu, seperti yang dijanjikan.
“Untuk malam ini saja,” kata Merle waktu itu. “Supaya ada yang menemanimu dari utara.”
Sekarang, di tangga batu merah yang menaiki muka gunung, Kiyo bisa merasakan denyutnya melalui telapak kakinya—dan di dadanya, lewat jimat yang menyentuh kulitnya, denyut itu terasa seperti kata-kata: *jangan jawab.*
Gerbang Kamar Gema berdiri di akhir tangga: dua lempeng batu merah setinggi lima orang, terbuka, dan dari dalamnya keluar cahaya dan dengungan yang sudah tidak perlu ditafsirkan siapa pun.
Di dalam, kubah itu—
Kiyo sudah melihat aula istana, sudah melihat ruang bundar di bawahnya, sudah melihat laut dari punggung paus. Tetapi Kamar Gema membuat semua itu menjadi latihan. Kubah alami yang langit-langitnya hilang di ketinggian; dinding-dinding yang basah oleh cahaya; lantai yang halus seperti dipoles seribu tahun oleh sesuatu yang tidak pernah terlihat. Galeri-galeri batu bertingkat di sekelilingnya, dan di setiap galeri orang-orang berdesakan diam-diam. Di tengah lantai, cincin enam belas tempat beludru, dan di atas setiap tempat sebuah pecahan—kelabu, tua, lelah—berdenyut tidak serempak, seperti enam belas jantung yang belum kenal satu sama lain.
Dan di tengah cincin itu—
Induk.
Besarnya seperti rumah, kata Odo, dan Odo benar, dan Odo tidak cukup. Batu keabu-abuan yang berurat cahaya, mengembang dan mengempis sepersekian, bernapas dengan caranya yang sudah bernapas sebelum ada kota, sebelum ada raja, sebelum ada nama untuk napas. Permukaannya bukan permukaan batu yang diam—permukaannya seperti kulit sesuatu yang tidur nyenyak: tenang, penuh, dan *selesai*. Tidak ada retak. Tidak ada cacat. Satu-satunya yang utuh di dunia yang retak-retak.
Kiyo berdiri di ambang pintu dan tidak bisa bergerak, karena mata kanannya sedang melihat sesuatu yang tidak pernah dilihatnya: aura Induk itu naik dari batu seperti kabut dari danau, dan aura itu—tua, dalam, lamban—adalah warna yang sama dengan cahaya yang dulu memancar dari retakan kepompongnya sendiri, seratus tahun yang lalu, di dasar laut yang gelap.
‘Kau sama sepertiku,’ kata Kiyo di dalam dirinya, dan lututnya lemas dengan cara yang tidak pernah terjadi di depan musuh mana pun. ‘Kau yang tidak retak. Kau aku, yang dibiarkan tidur.’
“Anak batu.”
Suara itu datang dari samping—tua, halus, berwibawa dengan cara orang yang tidak pernah perlu berwibawa. Sevian, Ketua Lingkaran, berdiri di dekatnya dengan jubah putih dan tongkat kayu biasa—tidak ada emas, tidak ada permata, hanya orang tua yang sudah tiga ratus tahun diwarisi satu tugas. Matanya ramah. Itu yang paling menakutkan dari dirinya: matanya ramah seperti kakek, dan di kedalaman ramahnya ada kepastian yang tidak menyisakan ruang untuk keraguan siapa pun.
“Kau melihatnya,” kata Sevian pelan, memandang Induk seperti memandang altar. “Semua orang berhenti di ambang itu. Tiga ratus tahun, dan setiap generasi kami berhenti di ambang itu, dan tidak satu pun dari kami pernah bisa menjelaskan kepada yang belum melihatnya.” Ia menoleh ke Kiyo. “Pertanyaanmu di Buku Pertanyaan—apakah batu yang terjaga masih ingat mimpinya. Aku membacanya dan menangis, anak muda. Kau tahu kenapa? Karena kau satu-satunya yang bertanya dengan benar. Kau tidak bertanya apa yang di dalam. Kau tidak bertanya apa yang kami dapat. Kau bertanya tentang *dia*. Tentang yang tidur.”
“Dan jawabanmu?” tanya Kiyo.
“Jawabanku,” kata Sevian, “adalah malam ini. Setelah malam ini kita tidak perlu bertanya lagi. Kita bisa *menanyakannya langsung kepadanya*.”
---
Tata cara itu berjalan seperti yang dilaporkan Merle dan Odo, kata per kata, seperti mesin yang sudah dilatih tiga ratus tahun.
Lagu pembuka—ratusan suara pelajar, tanpa alat, naik ke kubah dan kembali lagi. Tujuh nama keluarga, dibacakan dengan jeda panjang: nama-nama yang sudah menunggu sebelum ada yang menamai gunung ini. Piagam pendirian—versi yang sudah bergeser, dan Kiyo mendengarkan kalimat *fajar tidak mengetuk dua kali* diucapkan dengan khidmat oleh orang yang membacanya terbalik, dan rasanya seperti menonton seseorang membaca peta sambil menghadap ke arah yang salah.
Lalu, satu per satu, para pembawa pecahan maju.
Enam belas orang, enam belas pecahan, enam belas nyala. Setiap pecahan yang disentuh tangan pembawanya menjawab—bercahaya redup dari dalam, seperti bara yang ditiup—dan dengan setiap nyala, dengungan di tulang-tulang semua orang naik satu tingkat. Pecahan-pecahan itu mulai selaras. Mencari. Menemukan. Kiyo merasakannya seperti merasakan enam belas orang mulai bernapas dengan napas yang sama.
Dan di titiknya, di seberang cincin, Raga sudah berdiri—dibawa ke tempatnya lebih dulu, sesuai tata cara, dengan liontinnya di luar baju, menyala merah tua, berdenyut begitu cepat sampai Kiyo bisa melihatnya bergerak dari jauh. Wajah Raga tenang. Terlalu tenang. Mata mereka bertemu sekali melintasi cincin itu, dan Raga mengangguk—nyaris tidak terlihat—dan tangannya naik ke tali liontinnya, dan tinggal di situ.
“Dan sekarang,” kata Sevian, suaranya naik, tua dan penuh dan gemetar oleh tiga ratus tahun, “kedua pecahan yang berjalan. Yang retak dan yang ditemukan. Yang datang kepada kami dari utara dan dari abu. Ke titikmu, anak-anakku. Fajar tidak mengetuk dua kali.”
Kiyo berjalan ke titiknya.
Lantainya hangat. Menyambut. Mata kanannya melihat seluruh rancangan itu dari atas seperti Francis melihat benang: enam belas pecahan, dua jarum, satu Induk—dan denyut yang akan disalurkan melalui tubuhnya dan tubuh Raga seperti air melalui dua pintu air, naik, naik, sampai pintu yang tidur itu terdorong dari dalam.
Di galeri tertinggi, di balik retakan tipis di batu, ia tahu—tanpa melihat—Odo sedang menghitung. Roswitha dan Bastian berdiri di kegelapan. Empat pengawal di pintu-pintu. Merle di barisan pelajar dengan surat-surat di dadanya.
Enam belas pecahan bernyanyi.
Denyut itu datang ke Kiyo seperti pasang datang ke pantai—pelan dulu, lalu pasti, lalu tidak bisa ditolak. Tubuhnya, tubuh Hakai yang tidak pernah sakit, yang ditempa di dasar laut seratus tahun, menjadi saluran: denyut masuk dari lantai, naik, melalui tulang-tulangnya, dan dari tubuhnya melompat ke Induk—dan Induk menjawab, dan jawabannya kembali melalui dia, dan lingkarannya mengencang, dan mengencang, dan—
Induk itu terengah.
Seluruh kubah mendengarnya: napas batu yang memburu, urat-urat cahaya yang menyala lebih terang, permukaan yang mengembang lebih dalam dari yang pernah dicatat alat ukur mana pun. Para pelajar menahan napas. Sevian mengangkat tongkatnya tinggi-tinggi, dan air mata mengalir di wajah tuanya, dan ia berseru sesuatu dalam bahasa tua yang tidak perlu diterjemahkan siapa pun.
Dan di dalam batu itu, sesuatu bangun—bukan bangun: *terdorong*. Kiyo merasakannya dengan seluruh tubuhnya, merasakan perbedaannya seperti orang merasakan perbedaan antara anak yang bangun sendiri dan anak yang diseret dari tempat tidurnya. Induk itu tidak bangun. Induk itu *ditarik*. Dan di balik tarikan itu, di dalam batu yang mulai tegang seperti kulit di atas buku jari—
Satu retakan. Setipis rambut. Turun dari puncaknya seperti petir turun dari awan.
Dan melalui retakan itu, lembut, keibuan, dengan suara yang sudah dua kali datang kepadanya lewat dasar laut dan lantai dunia—
“*ANAKKU.*”
Sedetik, Kiyo lupa segalanya.
Sedetik, ia berumur seratus tahun dan dingin dan baru saja retak, dan suara itu adalah satu-satunya hal di alam semesta, dan ia ingin menjawabnya lebih dari ia pernah menginginkan apa pun—
*BUKAN AKU. ITU BUKAN AKU.*
Peringatan itu membakarnya dari dalam seperti kilat. Kiyo membuka matanya—tidak sadar kapan ia memejamkannya—dan suara itu masih di sana, dari dalam retakan, memanggil dengan nada yang sempurna, dengan kelembutan yang sempurna, dengan kata-kata yang sempurna—
Terlalu sempurna. Ibu yang sebenarnya tidak pernah sesempurna itu. Ibu yang sebenarnya berbicara seperti tanah: berat, lamban, dan tidak pernah mengatakan apa yang ingin kau dengar.
“Kau bukan dia,” kata Kiyo.
Dan ia turun dari titiknya.