Nenek Suri tidak ada di gerbang ketika Kiyo datang—untuk pertama kalinya. Anak magangnya yang menjaga meja, anak dua belas tahun dengan tinta di pipinya, yang berkata bahwa Nenek ada di rumah buku, dan bahwa orang dari utara itu—katanya, meniru nada neneknya dengan hati-hati—“boleh lewat kapan saja, dia tamu buku.”
Rumah buku itu ternyata ada di belakang gerbang, menempel ke tebing—gubuk batu yang lebih kecil dari bengkel Meno, dan dari dalamnya keluar bau kertas tua yang begitu pekat sampai Kiyo merasa masuk ke dalam paru-paru waktu.
“Delapan buku,” kata Nenek Suri dari kegelapan gubuk, tanpa menyapa. “Tujuh di arsip kota, di lemari-lemari megah yang berdebu sopan. Yang pertama di sini, bersamaku, karena buku pertama tidak pernah jadi milik kota.” Ia muncul ke depan, membawa sesuatu dengan dua tangan—buku yang tidak seperti buku: sampulnya kayu, punggungnya kulit yang sudah menghitam, tebalnya tidak masuk akal. “Buku pertama milik penjaga buku. Turun-temurun. Aku penjaga kedelapan—dan aku dinamai Suri bukan karena orang tuaku memberiku nama itu, anak batu. Semua penjaga bernama Suri. Kami melepas nama kami di gerbang dan memakai nama buku ini. Tiga ratus tahun.”
“Siapa Suri yang pertama?”
Nenek Suri membuka buku itu di mejanya—halaman pertama, yang sudah rapuh seperti daun kering, yang tulisannya berlari-lari dengan ketakutan yang masih kelihatan setelah tiga ratus tahun.
“Suri yang pertama,” kata nenek itu, “adalah perempuan yang datang ke gunung ini sendirian, dari jauh, dari negeri yang tidak pernah dituliskannya—dan dialah yang menulis pertanyaan pertama. Bukan di buku ini. Di batu gerbang. Buku ini dibuat kemudian untuk menyalinnya, karena batu gerbang pertama sudah lama runtuh. Pertanyaannya—bacalah. Suaramu besar, dan pertanyaan ini suka suara besar.”
Kiyo membaca:
*“Ada dua suara di dalam gunung ini. Satu lamban seperti tanah, satu manis seperti ibu. Aku sudah mendengarkan tiga puluh malam dan aku tidak bisa membedakan mana yang menjaga dan mana yang meminta. Bagaimana cara tahu suara yang benar?”*
Gubuk itu sunyi. Di luar, jalan gunung berdesis oleh angin.
“Dia mendengar dua suara,” kata Kiyo pelan. “Tiga ratus tahun lalu. Sudah dua sejak awal.”
“Sudah dua sejak awal,” kata Nenek Suri. “Dan ini jawaban yang ditulisnya kemudian—di halaman terakhir, setelah bertahun-tahun. Baca juga. Perlahan. Buku ini sudah terlalu tua untuk dibaca cepat.”
Kiyo membalik ke halaman terakhir. Tulisannya sama, tetapi tangannya lebih tua—guncangannya beda, tintanya beda, bertahun-tahun kemudian:
*“Aku tidak pernah tahu. Tiga puluh tahun aku di sini dan aku tidak pernah tahu. Maka begini kota ini akan kujaga: kami tidak akan menjawab apa-apa. Kami akan bertanya, dan bertanya, dan mengumpulkan pertanyaan seperti orang mengumpulkan kayu bakar untuk musim dingin yang panjang—karena orang yang bertanya tidak bisa disesatkan jawaban. Kalau suatu hari ada yang datang dan bisa membedakan kedua suara itu, berikan dia buku ini. Dia akan tahu caranya membacanya. Dan katakan padanya—”*
Kalimat terakhir itu pudar separuhnya. Kiyo menunduk lebih dekat, dan Nenek Suri membaca dari ingatan, dari tiga ratus tahun penjaga yang menghafal:
“—katakan padanya: *aku tidak pernah berani menjawab. Kumohon dia lebih berani dariku—atau lebih takut dariku, kalau takut itu yang benar.*”
Kiyo berdiri di gubuk kecil itu dengan buku tiga ratus tahun terbuka di tangannya, dan untuk beberapa saat ia tidak bisa bicara.
“Dia membangun kota,” kata Kiyo akhirnya, “dari satu keraguan. Seluruh Meridien—menara-menara, gerbang, majelis, pertanyaan di buku—dibangun oleh satu perempuan yang tidak bisa membedakan dua suara dan memutuskan bahwa tidak tahu adalah hal yang suci.”
“Dan Lingkaran?” kata Nenek Suri. “Lingkaran adalah cucu-cucu orang yang tidak tahan dengan ketidaktahuan itu. Mereka menunggu dua generasi, lima generasi, sepuluh—dan mulai berbisik: *kalau kita buka pintunya, kita tidak perlu bertanya lagi.*” Ia menutup buku itu, pelan, seperti menutup mata orang tidur. “Kau tahu apa bedanya kotaku dan Lingkaran, anak batu? Kotaku berdiri di depan pintu dan bertanya. Lingkaran berdiri di depan pintu yang sama dan merasa *berhak* atas jawaban. Hak—itu kata yang merusak semuanya. Pertanyaan tidak pernah merusak apa pun. Hak merusak segalanya.”
“Suara yang manis,” kata Kiyo. “Yang seperti ibu. Aku mendengarnya di malam tanpa bulan. Dia memakai suara yang kukenal—suara yang menjaga kepalaku di laut, seratus tahun.”
Nenek Suri menatapnya dengan mata susunya.
“Dan kau tidak menjawab.”
“Hampir,” kata Kiyo. Kejujuran itu keluar dengan mudah, di gubuk itu, di depan buku itu. “Sedetik, aku hampir. Yang menyelamatkanku bukan keberanian—melainkan ingatan tentang tangan yang memegang tanganku waktu aku retak. Suara yang benar tidak pernah meminta dibukakan pintu. Yang meminta dibukakan pintu tidak pernah suara yang benar.”
“Tiga ratus tahun,” kata Nenek Suri, dan suaranya gemetar untuk pertama kalinya, “dan akhirnya ada yang menjawab pertanyaan pertama. Bukan dengan kata-kata. Dengan *tidak menjawab* suara yang salah.” Ia mengulurkan tangan, menutup buku itu, lalu—dengan gerakan yang mengejutkan Kiyo—mendorong buku itu ke arahnya. “Bawa. Buku pertama tidak lagi milik penjaga buku. Sudah tertulis di halaman terakhirnya: *berikan dia buku ini.* Aku sudah menunggumu tiga puluh tahun di gerbang itu, anak batu, dan aku kira aku akan mati sebelum kau datang. Ternyata tidak. Ternyata aku hidup cukup lama untuk menyerahkan buku yang tidak pernah kubaca tanpa takut.”
“Aku tidak bisa membawanya,” kata Kiyo. “Dia milik gunung ini.”
“Dia milik yang bisa membedakan dua suara,” kata Nenek Suri, keras kepala dengan cara para penjaga. “Dan kau akan pergi dari gunung ini, cepat atau lambat—orang sepertimu selalu dipanggil ke tempat lain. Buku ini harus ikut orang yang bisa membacanya tanpa takut. Buku-buku tidak butuh lemari, anak batu. Buku-buku butuh tangan.”
Kiyo menerimanya akhirnya—dengan dua tangan, seperti menerima bayi. Buku itu berat, dan hangat, atau mungkin tangannya yang dingin.
“Penjaga kesembilan,” kata Nenek Suri, menyebut ke anak magangnya di pintu, yang sedang menyalin sesuatu dengan tekun dan pura-pura tidak mendengarkan. “Anak itu. Aku sudah mengajarinya tiga tahun. Gerbang akan tetap dijaga. Buku-buku lain tetap di arsip. Hanya yang pertama yang berjalan—karena yang pertama bukan catatan, anak batu. Yang pertama adalah *pertanyaan itu sendiri*, dan pertanyaan itu sudah tiga ratus tahun mencari orangnya.”
---
Malam itu Kiyo membaca Buku Pertama sampai lilinnya habis.
Ada banyak hal di dalamnya—catatan cuaca, harga kertas, nama-nama pelajar pertama—tetapi yang dibacanya berulang-ulang adalah satu paragraf pendek di tengah, yang ditulis Suri pertama di tahun-tahun terakhirnya, yang tidak ditujukan kepada siapa-siapa:
*Kadang aku berpikir dua suara itu bukan dua. Kadang aku berpikir suara manis itu adalah suara lamban yang jatuh sakit. Sesuatu yang manis menjadi salah bukan karena lahir salah—melainkan karena sendirian terlalu lama. Kalau benar begitu, maka menjaga pintu bukan akhir dari tugas kita. Akhir dari tugas kita adalah—*
Kalimat itu tidak selesai. Tinta berhenti di tengah kata, dan tidak pernah disambung lagi, karena Suri pertama mati—kata catatan kecil di pinggirnya, oleh tangan Suri kedua—pada malam musim dingin, di gubuk batu itu, dengan buku ini terbuka di pangkuannya.
Kiyo menutup buku itu dan memandangi kegelapan lama sekali.
‘Sesuatu yang manis menjadi salah karena sendirian terlalu lama,’ pikirnya. ‘Maka menjaga pintu bukan akhir tugas kita.’
Di sakunya, pecahan kecil yang hangat berdenyut pelan. Di dalam gunung, Induk bernapas. Dan jauh di bawah keduanya, di tempat yang belum pernah dilihat siapa pun, sesuatu yang manis dan salah dan sendirian itu menunggu jawaban yang tidak datang—seperti yang sudah ditunggunya, mungkin, sejak sebelum ada gunung.