Enam belas pecahan dari cincin Kamar Gema tidak pernah kembali ke tempat beludru mereka.
Mereka sekarang berbaring di atas kain biasa di ruang kerja yang disediakan Majelis Pelajar—ruangan tanpa ukiran, tanpa lambang, dengan pintu yang kuncinya dipegang tiga orang: Odo, Roswitha, dan Kiyo. Enam belas batu tua yang lelah, ditambah satu keranjang berisi empat ratus sembilan belas serpih, ditambah satu pecahan hangat yang tidak pernah lepas dari saku Kiyo.
“Empat ratus tiga puluh enam,” kata Merle, menutup buku catatnya. “Kalau keenam belas itu dihitung.” Ia ragu. “Kalau liontin Raga dihitung—empat ratus tiga puluh tujuh.”
“Liontin itu tidak dihitung,” kata Kiyo. “Dia sudah pensiun. Dan majikannya yang baru tidak menyuruhnya bekerja.”
Majikan baru itu sedang duduk di balkon ruang kerja, di bawah matahari, dengan kain di lututnya—Raga, yang membersihkan pecahannya sendiri dengan kain lembut, pelan-pelan, seperti orang membersihkan barang pecah belah yang dipinjam. Pecahan itu tidak berdenyut untuknya lagi. Raga tidak keberatan. “Dulu dia menjagaku tetap kuat,” katanya pada Merle yang memandanginya. “Sekarang aku menjaganya tetap bersih. Lebih masuk akal begini.”
Tetapi pekerjaan sesungguhnya pagi itu bukan menghitung. Pekerjaan sesungguhnya adalah melacak mundur—empat ratus sembilan belas serpih itu, dari kios ke kios, dari grosir ke tukang—dan semua benang berakhir di satu bengkel kecil di teras bawah, di gang yang selalu berdebu, dengan papan nama yang sudah luntur: MENO — BATU & KECIL-KECILAN.
Tukang Meno sudah hampir buta.
Matanya dua kolam susu, dan tangannya—tangannya tidak butuh mata. Di bengkel yang berdebu itu tangannya bergerak di antara gergaji kawat, gerinda kaki, dan mangkuk-mangkuk berisi serpih dengan keyakinan orang yang sudah lima puluh tahun berbicara dengan batu. Ia tidak berhenti bekerja ketika mereka masuk. Tangannya terus menggerinda, halus, halus, sambil mendengarkan.
“Kalian yang dari gunung,” katanya. Bukan pertanyaan. “Aku sudah menunggu kalian sejak malam tanpa bulan. Semua orang menunggu kalian, dengan cara masing-masing. Aku menunggu sambil bekerja.” Ia meletakkan serpih yang selesai—sebesar kuku, halus, siap diikat tali—ke dalam mangkuk. Dan Kiyo melihatnya, dengan mata kanannya, melihat tangan buta itu melakukan sesuatu sebelum meletakkan serpih itu: berhenti sepersekian detik, dan bibir tua itu bergerak tanpa suara.
“Kau minta maaf,” kata Kiyo pelan.
Tangan Tukang Meno berhenti. Untuk pertama kalinya sejak mereka masuk, tangan itu berhenti.
“Lima belas tahun,” kata tukang batu itu. “Lima belas tahun aku memotong batu-batu itu, dan lima belas tahun aku minta maaf sebelum memotong, dan aku tidak pernah tahu kepada siapa aku minta maaf.” Ia mengangkat wajahnya yang susu ke arah suara Kiyo. “Kau yang bisa mendengar mereka? Kata orang-orang di kedai, ada orang dari utara yang bisa mendengar batu. Benar?”
“Benar,” kata Kiyo.
“Maka kau sudah tahu,” kata Meno, dan suaranya tidak menangis, tetapi tangannya—tangan yang lima puluh tahun memegang batu—gemetar. “Batu-batu itu hangat, anak muda. Dari pertama kali diantar ke bengkelku, hangat. Tidak seperti batu. Seperti—” ia mencari, dan menemukan kata yang membuat Merle berpaling ke jendela, “—seperti memegang tangan anak yang tidur. Aku memotong tangan-tangan kecil yang tidur, lima belas tahun, jadi potongan sebesar kuku, untuk jimat ujian anak-anak pelajar.” Ia meraba mangkuknya. “Aku pernah berhenti. Tahun keenam. Aku bilang pada faktor yang mengantar batu-batu itu: aku tidak mau lagi. Kau tahu apa yang terjadi?”
“Dia mengancammu,” kata Bastian.
“Dia tidak mengancam.” Meno menggeleng, dan itu lebih buruk—jauh lebih buruk—daripada ancaman. “Dia sopan. Sangat sopan. Dia bilang: Tukang Meno, kalau bukan tanganmu, tangan siapa? Tangan yang tidak minta maaf? Batu-batu ini akan dipotong siapa pun orangnya—satu-satunya pilihan adalah dipotong oleh tangan yang minta maaf atau tangan yang tidak. Dan aku—” tangannya membuka, kosong, “—aku tua, dan buta, dan pengecut, dan aku percaya padanya. Aku memotong lagi. Dengan maaf. Setiap potong, satu maaf. Lima belas tahun.” Ia mengangkat wajahnya lagi. “Itu sebabnya aku menunggu kalian. Bukan untuk diampuni—ampunan bukan barang yang bisa kuminta. Aku menunggu untuk menyerahkan ini, karena ini harus sampai ke tangan orang yang bisa mendengar.”
Ia bangkit, meraba ke rak paling belakang, dan menurunkan sebuah buku—buku pesanan, tebal, tua, sampul kulit yang berminyak oleh lima belas tahun tangan.
“Setiap pengiriman,” kata Meno. “Tanggal, jumlah, berat. Aku tidak pernah bisa membaca rupa orang, jadi aku mencatat yang bisa kucatat: bau, suara, dan tanda tangan. Faktor yang mengantar tidak pernah menandatangani dengan nama—hanya satu huruf.”
Merle membuka buku itu. Di kolom tanda tangan, lima belas tahun pengiriman, satu huruf yang sama, ditulis tangan yang berubah perlahan tapi tidak pernah jadi tangan lain:
V.
“Vigo,” kata Kiyo.
“Kau kenal hurufnya?”
“Aku kenal pemiliknya.” Kiyo menatap huruf itu, dan di dalam dadanya sesuatu yang dingin dan sabar menjadi sedikit lebih dingin. Mester Vigo. Sekretaris Nyonya Ottilie lima belas tahun—dan lima belas tahun pula mengantar pecahan ke bengkel buta di Meridien. Orang yang sama. Tentu saja orang yang sama—tangan-tangan yang dibersihkan selalu berdiri di dua meja sekaligus. “Orang yang menyalurkan uang untuk membunuh Aryeh. Orang yang membeli hasil galian Behemoth. Dan orang yang mengantar batu-batu hangat ke bengkel ini.”
“Orang yang sama menyuruhku,” kata Raga dari ambang pintu—ia turun dari balkon tanpa bersuara, seperti biasa—dengan nada orang yang melihat hantu. “Aku tidak pernah tahu namanya. Tapi kalau kau bilang huruf V dan sopan dan bersih—itu dia. Dia yang datang sesudah penggalian-penggalian kami, membeli apa pun yang kami gali, membayar tunai, tidak pernah tawar-menawar. Aku ingat karena itu. Orang yang tidak pernah menawar adalah orang yang tidak menghitung uang—dia menghitung yang lain.”
“Di mana dia sekarang?” tanya Roswitha.
Meno menjawab, karena bengkelnya, ternyata, tahu lebih banyak dari yang disangka siapa pun—tukang batu buta adalah orang yang tidak pernah dilihat, dan orang yang tidak pernah dilihat didatangi semua orang:
“Terakhir kali—sepuluh hari sebelum malam tanpa bulan. Dia mengantar kiriman terakhir, dan aku mencatatnya, dan dia berdiri di pintu itu lebih lama dari biasa. Bau keringatnya beda. Orang sopan pun berkeringat kalau takut, dan hari itu dia takut.” Tangan tua Meno meraba buku pesanan itu, halaman terakhir. “Dia tidak mengantar batu hari itu. Dia mengambil. Pertama kali dalam lima belas tahun—dia mengambil kembali. Delapan potong besar, yang tersisa belum kupotong, diangkut dengan gerobak kecil. Aku dengar roda gerobaknya menuruni gang ke arah yang salah.”
“Arah yang salah?” tanya Kiyo.
“Gang ini cuma punya dua arah,” kata Meno. “Ke pasar, atau ke mulut tambang tua. Gerobaknya berat, dari bunyinya, dan berat itu tidak naik ke pasar.” Ia berhenti. “Berat itu turun ke tambang. Dan dari tambang, sejak malam itu, sampai hari ini—tidak ada gerobak yang naik.”