Mulut tambang tua itu berada di bawah teras terakhir, di tempat kota berhenti berusaha—lubang persegi yang ditutup papan-papan lapuk dan satu papan nama yang sudah luntur sampai hanya Merle yang bisa membacanya: TAMBAH— dilarang — BAHAYA—
“Tambang,” kata Merle. “Dilarang masuk. Bahaya longsor. Sisanya hilang.”
“Sisanya tidak hilang,” kata Roswitha, meraba kayu itu. “Sisanya dilepas. Sengaja.” Ia menunjuk bekas paku-paku yang lebih baru dari papannya. “Papan ini sudah dibuka-pasang berkali-kali. Tambang mati tidak perlu papan yang rajin dibuka.”
Mereka turun berempat: Kiyo, Roswitha, Bastian—dan Raga, yang menolak ditinggal dengan alasan yang tidak bisa dibantah: “Kalau di bawah sana ada batu yang dipaksa bekerja, kalian butuh orang yang tahu rasanya.” Ia berjalan dengan tongkat, napasnya pendek, tetapi matanya bening—dan beningnya itu, di kegelapan tambang, adalah barang baru yang masih ia pakai dengan kaku seperti sepatu baru.
Empat pengawal menjaga mulut tambang. Merle dicegah keras—dan untuk sekali menurut, karena Kiyo mengatakan hal yang benar: “Kalau kami tidak naik sampai besok pagi, kau yang harus menulis surat-suratnya. Hanya kau yang bisa.”
Tambang itu turun dengan cara tambang tua turun: landai dulu, ramah, lalu makin sempit, makin curam, makin basah. Terowongan-terowongan samping bercabang ke pekerjaan-pekerjaan yang sudah lama selesai. Rel gerobak berkarat. Dan makin dalam, lampu-lampu mereka menangkap sesuatu di dinding yang membuat Bastian berhenti berkali-kali.
“Ini bukan lubang galian,” katanya akhirnya, tangannya meraba dinding. “Lihat ini. Tidak ada bekas pahat. Tidak ada bekas ledakan. Dindingnya—halus. Bulat. Seperti—”
“Seperti sesuatu lewat,” kata Kiyo. “Bukan menggali. Lewat. Seperti cacing lewat di tanah.”
“Apa yang bisa lewat di batu?” tanya Bastian, dan menyesal bertanya sebelum selesai bertanya.
“Sesuatu yang sudah lupa bahwa dirinya batu,” kata Kiyo.
Mereka menemukan gerobak Vigo di persimpangan ketiga—gerobak kecil, kosong, satu rodanya patah, ditinggalkan begitu saja di tengah terowongan seperti kuda ditinggalkan orang yang sudah tidak butuh pulang. Tidak jauh dari situ, di relung yang pernah jadi pos penimbangan, mereka menemukan Vigo sendiri.
Mester Vigo duduk bersandar dinding dengan rapi—terlalu rapi untuk orang yang mati sendirian di tambang—jubahnya dilipat di sebelahnya seperti handuk tamu. Matanya terbuka dan tenang. Di bibirnya, sisa bau manis yang sudah mereka kenal dari sel Dario: racun yang sama, kapsul yang sama, sisa cangkangnya di saku. Di pangkuannya, sebuah surat—kertas tebal, tinta keemasan, cap lilin merah tanpa lambang.
Kiyo mengambilnya dengan dua jari, dan membacanya keras-keras karena yang lain berhak mendengar:
*Mester Vigo. Tugasmu lima belas tahun sudah sempurna, dan kesempurnaan tidak perlu diucapkan terima kasih—kau tahu itu, itu sebabnya kau bertahan lebih lama dari semua tangan kami. Kiriman terakhir bawalah ke bawah, ke tempat yang sudah kau kenal. Apa pun yang terjadi di atas pada malam tanpa bulan—berhasil, gagal, atau tertunda—yang di bawah harus tetap makan. Kami tidak bisa menjaga dua pintu dengan satu kunci. Kalau kau membaca ulang surat ini, itu berarti kau sudah selesai. Fajar tidak mengetuk dua kali. Jangan menunggu.*
“Jangan menunggu,” ulang Bastian, datar. “Mereka bahkan memesan kematiannya dengan tinta emas.”
“Mereka tidak memesan,” kata Raga. Ia sedang memandangi wajah tenang itu dengan ekspresi yang tidak bisa dibaca—lelaki yang sembilan tahun menjadi mesin sedang memandangi lelaki yang lima belas tahun menjadi kunci. “Mereka hanya menulis *jangan menunggu*, dan dia mengisi sisanya sendiri. Begitu cara orang-orang ini bekerja. Mereka tidak pernah menyuruh. Mereka hanya membuatmu yakin bahwa pilihanmu sudah dibuat sebelum kau memilih.” Ia menunduk, dan dengan gerakan yang mengejutkan mereka semua—pelan, hampir lembut—menutup mata Vigo yang terbuka. “Lima belas tahun menjaga dua meja,” katanya pelan. “Aku sembilan tahun menjadi kail. Kita berdua tidak pernah bertanya untuk apa. Jangan ada lagi yang begini.”
Mereka mengikuti jejak gerobak dari roda patah itu—garis debu, goresan di batu—turun, turun, ke lorong-lorong yang makin halus dan makin bulat, lorong-lorong yang tidak digali itu, yang semuanya mengalir ke satu arah seperti anak sungai ke muara.
Dan mereka sampai ke galeri terakhir.
Peta tambang tertua menyebutnya Tempat Jatuh—Odo yang menemukan peta itu sore harinya, setelah mereka naik, tetapi namanya sudah ada di sana sebelum ada peta: para penambang menamainya begitu dan menolak menggalinya, dan alasan mereka masih terasa di dinding-dindingnya, di pahatan-pahatan kecil penambang takut: jangan-ganggu, jangan-ganggu, jangan-ganggu, ditulis berulang seperti pagar.
Galeri itu bundar—terlalu bundar—dan di tengahnya ada celah.
Bukan retakan seperti di puncak Induk. Celah yang tua, yang lebarnya muat orang, yang tepinya halus seperti tepi sumur yang seribu tahun dipakai. Udara naik dari dalamnya—hangat, naik-turun, naik-turun, napas yang naik dari kedalaman yang tidak diukur peta mana pun. Dan napas itu berbau.
“Manis,” kata Roswitha, dan tombak birunya sudah di tangannya tanpa ia sadari mengeluarkannya. “Seperti bunga busuk.”
Di sekeliling bibir celah itu berdiri tempat-tempat beludru—tujuh, delapan—kosong semua. Standar-standar kecil yang sudah dikenal Kiyo dari meja Ottilie, dari cincin Kamar Gema. Kosong. Dan di lantai di sekitarnya, serpih-serpih beludru, satu tali perak yang putus—
“Delapan potong besar,” kata Kiyo. “Kiriman terakhir dari bengkel Meno. Dia membawanya ke sini.”
“Dan pecahan-pecahan itu—” Bastian tidak menyelesaikannya. Tidak ada yang menyelesaikannya. Mereka semua memandang celah itu, dan napas hangat yang naik dari dalamnya, dan jawabannya sudah ada di sana, di dalam gelap, di bawah, di tempat yang tidak diukur peta.
*Yang di bawah harus tetap makan.*
Kiyo maju satu langkah—satu saja, karena Roswitha memegang lengannya—dan membuka mata kanannya ke dalam celah itu.
Yang dilihatnya tidak punya bentuk. Aura itu bukan aura yang naik dari satu titik—aura itu *memenuhi* kedalaman, ke bawah dan ke bawah dan ke bawah, seperti asap memenuhi sumur: merah tua yang sudah menghitam di bagian-bagiannya, denyutnya tidak lamban seperti Induk, tidak sabar seperti pecahan-pecahan kecil—denyutnya *rakus*, cepat, gelisah, denyut sesuatu yang sudah sangat lama lapar dan sudah sangat lama diberi makan sedikit demi sedikit supaya tetap lapar.
Dan denyut itu merasakannya.
Kiyo tahu—dengan kepastian yang dingin—bahwa denyut itu berhenti sesaat ketika matanya menyentuhnya, seperti orang mengunyah yang berhenti karena mendengar langkah di tangga. Lalu, dari kedalaman itu, naik—bukan suara. Keinginan. Hangat, manis, akrab, yang berbicara langsung ke bagian dirinya yang paling tua dan paling sepi:
*Kau. Akhirnya. Yang berjalan datang kepada yang jatuh. Turunlah. Kita saudara. Kita dari retakan yang sama—*
Kiyo mundur selangkah. Dua. Tangannya sendiri yang menariknya, dan tangan Roswitha, dan kepalanya berkata jangan dengarkan tetapi tulang-tulangnya sudah mendengar, sudah tercatat—
“KIYO.” Suara Raga—keras, gemetar, bening—dan tangan besar lelaki itu mencengkeram bahu Kiyo dengan sisa-sisa kekuatan yang dulu meremukkan gerbang. “Jangan jawab. Kau sendiri yang menulis aturannya. Jangan jawab.”
Kiyo memejamkan mata kanannya—memejamkannya seperti orang membanting pintu—dan ruangan itu kembali gelap dan sunyi, dan napas hangat itu naik dan turun, naik dan turun, tidak terganggu, sabar.
“Dia mengenaliku,” kata Kiyo, dan suaranya keluar serak. “Dari bawah sana. Dia memanggilku—saudara.”
“Kita naik,” kata Roswitha, dan itu bukan usul. “Sekarang. Semua yang perlu kita tahu hari ini sudah kita tahu: Vigo mati, delapan pecahan hilang ke bawah, dan ada sesuatu di dasar tambang ini yang mengenali Kiyo dari jauh. Sisanya kita pelajari dari atas, dengan peta, dengan lingkar—dengan orang-orang yang lebih banyak dan lebih kuat dari empat orang lelah di lubang gelap.”
Mereka naik tanpa bicara, membawa Vigo—karena tidak ada yang pantas ditinggalkan di lorong itu, bahkan tangan-tangan Lingkaran—dan di setiap tikungan, di setiap tanjakan, Kiyo merasakannya menempel di tulang punggungnya: denyut rakus itu, mengikuti, tidak naik, hanya—mengikuti. Seperti bunyi langkah di tangga rumahmu yang kamu harap hanya bunyi rumah.
Di mulut tambang, cahaya sore menampar mereka seperti ibu menampar anak yang hilang seharian.
Dan di saku Kiyo, pecahan kecil yang hangat itu—yang sejak Meridien selalu berdenyut tenang—membeku. Tidak berdenyut. Tidak hangat. Membeku seperti anak kecil yang berhenti bicara di depan pintu kamar yang salah.
Kiyo menggenggamnya melalui kain, erat, seperti menggenggam tangan.
“Tidak apa-apa,” bisiknya. “Kita tidak turun ke sana. Tidak hari ini. Tidak dengan cara mereka.”
Jauh di bawah mereka, di dalam Tempat Jatuh, di kedalaman yang tidak diukur peta mana pun, sesuatu yang manis dan salah dan sudah terlalu lama sendirian itu kembali menunggu—dengan delapan potong batu baru di dalam gelapnya, dan dengan satu rasa baru yang baru saja dicicipnya dari atas:
Rasa saudara yang berjalan.