Mereka tidak menutup Tempat Jatuh.
Keputusan itu diambil dalam sidang kecil di rumah Odo malam itu juga, dan diambil dengan alasan yang sama seperti lorong di bawah istana dulu—Francis tidak ada di ruangan itu, tetapi kalimatnya ada, diwariskan lewat Kiyo seperti orang mewariskan kunci:
“Lubang yang ditutup mengajarimu tidak ada apa-apa. Lubang yang dijaga mengajarimu siapa yang datang.”
Maka yang mereka tutup adalah jalan ke sana. Mulut tambang dipalang baru, dijaga dua belas jam-sekali oleh pelajar-pelajar senior yang mengajukan diri—karena Meridien, sejak malam tanpa bulan, punya cara baru memandang gunungnya: bukan takut, bukan kagum, melainkan *bertanggung jawab*, yang adalah campuran keduanya yang paling dewasa. Odo memasang alat-alat ukurnya di lorong pertama, untuk mencatat napas hangat yang naik dari bawah. Nenek Suri mengirim anak magangnya setiap sore membaca denyut yang tercatat dan melaporkannya ke Majelis.
Dan Raga—Raga pindah.
Tidak jauh: ke rumah kecil di dekat mulut tambang, rumah jaga penambang yang sudah puluhan tahun kosong. Ia membawa barangnya yang sedikit, kursi yang kokoh, dan liontinnya yang sudah pensiun. Ketika Merle bertanya kenapa dia mau tinggal sedekat itu dengan tempat yang memanggilnya saudara, Raga menjawab sambil memaku rak untuk cangkir-cangkirnya:
“Justru karena itu. Aku pernah jadi kail. Sekarang aku jadi pelampung—benda yang mengapung di atas tempat yang dalam, supaya semua orang tahu di mana dalamnya.” Ia mengetuk paku terakhir. “Dan satu hal lagi, anak Corvane. Katakan pada orang batumu ini, karena dia akan bertanya: yang di bawah itu tidak lapar pada batu. Aku memakai satu batu sembilan tahun; aku tahu rasanya dari dalam. Batu cuma garamnya. Yang dia makan—” Raga berhenti memaku, dan matanya pergi jauh ke suatu tempat yang gelap, “—adalah *yang mendengar*. Setiap orang yang berdiri di bibirnya dan mendengarkan—itu makanannya. Jadi jaga bukan hanya pintunya. Jaga telinga-telinganya.”
Ketika ini disampaikan ke Kiyo, Kiyo diam lama.
“Maka delapan pecahan itu bukan makanan,” katanya akhirnya. “Delapan pecahan itu *garam*. Dia sedang membumbui sesuatu.”
“Apa?” tanya Merle.
“Kita,” kata Kiyo. “Atau pintu di atas kita. Atau keduanya, dan dia tidak buru-buru, karena dia sudah menunggu sejak sebelum gunung dan bisa menunggu lagi.” Ia menggosok wajahnya. “Aku harus pulang, Merle. Lenard menunggu jimatnya. Francis menghadapi istana sendirian. Tapi setiap kali aku memikirkan turun dari gunung ini, ada dua ketukan yang belum terdengar, dan aku tidak bisa—”
Burung itu datang sebelum kalimatnya selesai.
Burung Simpul—lelah, basah, dari utara jauh—dengan dua surat. Yang pertama dari Francis, dan tulisannya buru-buru, tidak seperti tulisannya biasanya:
*Kiyo. Jantung di bawah aula—akar yang kau tenangkan—dua malam lalu berdenyut lebih cepat. Tidak gelisah. Lebih seperti—bangun sebentar, memastikan jam, tidur lagi. Raja merasakannya juga; dia bilang mimpinya kembali, tapi berubah: dulu mimpi buruk, sekarang mimpi ramai. Seperti rumah yang banyak tamu. Aku menulis ini bukan untuk menakutimu—untuk memberitahumu: apa pun yang kalian lakukan di gunung itu, bergema sampai ke bawah istana. Dunia ini ternyata satu rumah, anak. Dan dinding-dindingnya tipis.*
*P.S. Ottilie menyampaikan salam—ya, aku tahu, aku juga terkejut aku menyampaikannya. Dia bilang: tanyakan pada anak batu, apakah pecahan-pecahan yang dikumpulkannya puluhan tahun itu, kalau sudah tidak ada yang memaksa mereka bekerja, masih ingin pulang—atau ingin tinggal. Aku tidak mengerti pertanyaannya. Mungkin kau mengerti.*
*P.P.S. Lenard membaca surat-suratmu tiga kali berturut-turut. Rumah nelayan: dua puluh satu beratap. Dia baik. Dia menitahkanmu pulang “kalau ceritanya sudah cukup untuk dibawa”. Kata-katanya persis begitu.*
Surat kedua dari Roswitha—tidak, dari Bastian—dari timur: pendek, kabar biasa, tawanan-tawanan menetap, tidak ada perahu besi yang terlihat sejak musim gugur. Behemoth yang tersisa, tanpa pemimpinnya, sudah pecah jadi gerombolan-gerombolan kecil yang bertengkar satu sama lain. *Laut milik Eiddwen lagi,* tulis Bastian. *Dan timur tenang, untuk pertama kalinya sejak aku jadi perwira.*
Kiyo melipat surat-surat itu pelan-pelan.
“Kau menjawab surat Ottilie?” tanya Merle.
“Aku menjawabnya,” kata Kiyo, “di sini, sekarang, tanpa surat: mereka tidak ingin pulang ke tubuh yang retak dulu—mereka ingin pulang ke *tangan*. Semua yang retak ingin dipegang tanpa ditanya. Itu jawabannya, dan aku akan menuliskannya untuknya kalau aku sudah punya kata-kata yang tidak sakit untuk menuliskannya.”
---
Malam itu, malam keempat jaganya, Kiyo naik ke Kamar Gema sendirian.
Ia duduk di tempatnya yang biasa—di luar cincin, bersandar pilar—dengan keranjang serpih di satu sisi dan pecahan hangatnya di sisi lain, dan Buku Pertama di pangkuannya, dan Induk bernapas di tengah kubah dengan retakan dua setapaknya yang samar, masuk-keluar, masuk-keluar.
Tengah malam lewat. Tidak ada apa-apa.
Lalu, menjelang fajar, ketukan itu datang lagi.
Dari dalam retakan. Dua kali kali ini—ketuk, ketuk—pelan, sopan, sabar. Bukan mendesak. Tidak pernah mendesak. Itulah yang membuatnya menakutkan: sesuatu di dalam sana tidak perlu mendesak. Sesuatu di dalam sana punya seluruh waktu di dunia.
Fajar tidak mengetuk dua kali.
Yang ini mengetuk dua kali.
Di samping Kiyo, keranjang serpih itu bergetar—empat ratus sembilan belas potong kecil, dan keenam belas di ruang kerja jauh di bawah sana, dan satu di saku bajunya—semuanya berdenyut sekali, serentak, seperti satu jantung yang dibagi ratusan dan masih mengenali iramanya sendiri. Menjawab ketukan itu. Tidak bisa tidak—mereka terlalu kecil untuk tidak menjawab, seperti anak-anak yang mendengar ketukan di pintu rumah ketika orang tuanya sedang tidur.
Dan Kiyo melakukan satu-satunya hal yang dipelajarinya dari semua ini—dari bajak laut yang mati, dari buku yang tidak selesai, dari tukang batu yang lima belas tahun minta maaf, dari nenek yang menjaga pertanyaan tiga ratus tahun:
Ia tidak menjawab ketukan itu.
Ia menjawab yang lainnya.
“Hai,” katanya pelan, kepada keranjang serpih itu, kepada pecahan hangatnya, kepada Induk yang bernapas, kepada dinding-dinding kubah—kepada semua yang retak dan semua yang tidur. “Kau semua dengar ketukan itu? Tidak apa-apa. Aku juga dengar. Kita dengar bersama—itu bedanya malam ini dengan malam-malam sebelumnya. Tidak ada yang mendengarnya sendirian lagi.”
Dan Kiyo bercerita.
Suaranya rendah, tanpa tujuan, seperti orang bercerita kepada api unggun. Ia bercerita tentang laut yang dingin dan gelap, dan tentang tangan yang menembus air dan mengangkatnya. Tentang bajak laut yang menolak emas karena yang tidur tidak dijual—yang tidur dijaga. Tentang tangga kuil dan anak lima tahun yang menitahkan rumah nelayan dibangun. Tentang camar yang pulang ke nisan. Tentang bagaimana rasanya retak di tangan yang tidak meminta apa-apa—bahwa retak di tangan seperti itu tidak terasa seperti jatuh, melainkan seperti *sampai*.
Ia bercerita sampai fajar.
Dan sedikit demi sedikit—tanpa sihir, tanpa denyut, tanpa satu pun dari hal-hal yang dipakai orang-orang untuk mengukur keajaiban—keranjang serpih itu tenang. Enam belas pecahan di ruang kerja tenang. Induk bernapas makin dalam, makin lamban, makin damai. Gunung itu sendiri terasa—Kiyo tidak bisa menjelaskannya dan tidak mencoba—terasa seperti pundak orang yang akhirnya turun.
Ketukan itu tidak datang ketiga kalinya.
Fajar datang—yang sebenarnya—pelan, kelabu, lalu merah di puncak-puncak, lalu emas turun ke lembah yang menggantung seperti susu dituang ke mangkuk. Fajar yang tidak mengetuk, karena fajar tidak perlu mengetuk. Ia datang sendiri, kepada semua orang, kepada yang tidur dan yang terjaga dan yang retak dan yang utuh.
Kiyo berdiri di pintu Kamar Gema dan memandanginya.
“Kau tahu,” katanya, entah kepada siapa—kepada gunung, kepada buku di pelukannya, kepada suara lamban yang mungkin mendengarkan dari bawah segala bawah, “—aku rasa Suri pertama benar. Menjaga pintu bukan akhir tugas kita.” Ia memandang tangannya sendiri, tangan besar yang bisa meremukkan gerbang dan yang sedang memeluk buku tiga ratus tahun seperti memeluk bayi. “Tapi menjaga pintu adalah tugas yang dikerjakan sambil menunggu akhir itu datang. Dan aku pandai menunggu. Seratus tahun di dasar laut, aku pandai sekali menunggu.”
Di belakangnya, di dalam kubah, Induk tidur dengan retakannya yang samar.
Di bawah gunung, di Tempat Jatuh, sesuatu yang manis itu menunggu dengan sabar yang lebih tua dari sabar.
Dan jauh di utara, di rumah yang dindingnya dijaga dua belas lilitan benang cahaya, seorang anak lima tahun bangun pagi itu dan berkata kepada neneknya, tanpa alasan apa pun, sambil menggosok mata:
“Paman Kiyo bercerita semalam. Aku dengar di mimpi. Ceritanya tentang kita.”