Keputusan pulang diambil di rumah Odo, dengan peta kerajaan terbentang di meja dan lima cangkir yang mendingin.
“Kau tidak bisa tinggal di dua gunung sekaligus,” kata Odo, yang sudah menerima jabatan barunya—Penjaga Kubah, gelar yang diciptakan Majelis khusus untuknya—dengan wajah orang yang akhirnya menemukan pekerjaan yang dua belas tahun lalu sudah mulai dikerjakannya tanpa nama. “Kamar Gema dijaga. Tempat Jatuh dijaga. Dan rumahmu—rumahmu punya anak lima tahun yang menitahkanmu pulang lewat surat resmi kadipaten. Itu perintah yang lebih tinggi dari Majelis mana pun.”
“Ada satu hal yang harus selesai sebelum aku turun gunung,” kata Kiyo.
Raga tahu hal itu apa. Mereka sudah membicarakannya semalam, di rumah jaga dekat mulut tambang, sampai lampunya padam. Sekarang, di depan yang lain, Raga meletakkan di atas meja sesuatu yang digulung rapi: kulit kambing yang sudah dipenuhi garis-garis tinta—kasar, tebal, tidak indah, dan berharga seperti tidak ada peta lain di dunia.
“Sembilan tahun,” kata Raga. “Sembilan tahun aku menggerakkan armada untuk menggali. Setiap runtuhan, setiap bukit yang curiga, setiap desa yang dibakar karena di bawahnya ada sesuatu—aku mengingatnya, karena aku kira itu kerajaanku.” Tangannya yang gemetar menelusuri tanda-tanda itu: titik-titik dari timur jauh sampai ke perbatasan barat, puluhan. “Setiap titik adalah tempat kami menggali. Titik yang berlingkar: kami menemukan sesuatu—batu hangat, batu berdenyut, batu yang bernyanyi. Titik polos: tidak ada apa-apa, atau sudah kosong lebih dulu. Titik yang kucoret—” ia berhenti, “—titik yang kucoret adalah tempat yang tidak mau kudekati lagi. Aku tidak pernah tahu kenapa. Tangan-tanganku yang selalu tahu.”
Kiyo memandangi peta itu lama. Puluhan titik. Beberapa berdiri di tempat-tempat yang sudah dikenalnya—Velles. Tanjung Rana. Dan beberapa berdiri jauh di tempat-tempat yang belum pernah didengarnya—di seberang selat, di kerajaan-kerajaan yang namanya hanya ada di lagu-lagu pelaut.
“Lampu-lampu,” kata Bastian pelan. “Seperti kata Sevian. Mereka menyalakan lampu di banyak kota—dan peta ini peta tiang-tiang lampunya.”
“Peta ini peta bekas kail,” kata Raga. “Dan aku menyerahkannya kepada satu-satunya orang yang tidak akan menggunakannya untuk memancing.” Ia menatap Kiyo. “Kau akan pergi ke titik-titik itu, cepat atau lambat. Aku tahu kau. Kau tidak akan bisa tidak pergi—mereka semua rindu, dan kau satu-satunya yang bisa mendengar rindu. Jadi bawa petaku. Supaya kau tiba di sana sebelum orang-orang bersih yang baru.”
“Orang-orang bersih yang baru,” ulang Merle. “Masih ada.”
“Vigo punya kawan-kawan,” kata Raga. “Tangan tidak tumbuh sendirian.”
---
Perpisahan-perpisahan itu berlangsung satu hari penuh, karena Meridien adalah kota yang berpisah dengan upacara.
Odo memeluk keponakannya di tangga rumahnya, lama, dan berkata, “Suratmu tiga tahun tidak sampai bukan karena aku tidak menulis. Aku menulis semuanya. Ada di laci. Tiga tahun surat yang tidak dikirim—bawa pulang, baca di jalan, dan maafkan pamanmu yang menjadikan keluarganya kanari.” Merle membawa gulungan surat-surat itu seperti membawa kaca.
Nenek Suri menunggu di gerbang, di mejanya, dengan Buku Kedelapan terbuka—dan ketika rombongan itu lewat, ia mengangkat tangannya menghentikan mereka, karena ada tradisi baru yang ia ciptakan pagi itu juga dan yang akan berlaku mulai sekarang untuk selama-lamanya:
“Masuk menulis pertanyaan,” katanya. “Keluar menulis apa yang kalian bawa pulang. Mulai hari ini. Meridien sudah terlalu lama hanya menampung—waktunya kota ini belajar apa yang dibawa pergi orang-orangnya.”
Merle menulis dulu, dengan tangan yang sudah lebih mantap dari tangan yang menulis di buku ini berminggu-minggu lalu: *Aku membawa pulang pamanku—bukan orangnya, surat-suratnya. Ternyata sama beratnya.*
Bastian: *Aku membawa pulang kaki yang pincang dan alasan untuk berjalan.*
Roswitha menulis paling cepat, seperti melempar tombak: *Aku membawa pulang jawaban untuk orang tua bernama Olof.*
Kiyo berdiri paling lama di depan buku itu, bulu di tangannya yang besar, dan menulis dengan miring ke kanan semua:
*Aku membawa pulang buku yang pertama, keranjang yang penuh, dan satu pertanyaan yang belum terjawab: apa yang retak kalau dijaga dengan benar—dan apakah yang retak bisa pulang tanpa dilebur.*
Nenek Suri membacanya, dan mengangguk, dan mencap halaman itu di tengah—seperti dulu pertanyaannya—dengan lilin merah tanpa lambang.
“Kau tahu,” katanya, “bahwa pertanyaan terakhirmu adalah dua pertanyaan.”
“Aku tahu,” kata Kiyo. “Aku belajar di kota ini bahwa itu boleh.”
Raga tidak ikut ke gerbang. Ia menunggu di tikungan jalan turun, di luar tradisi, dengan tongkatnya dan pecahannya yang pensiun tergantung diam di lehernya—bukan sebagai sumber tenaga lagi, hanya sebagai benda yang sudah selesai dengan tugasnya dan boleh istirahat di dekat orang yang dulu dipakannya. Keduanya tidak bersalaman. Orang-orang tertentu hanya bersalaman sekali.
“Peta itu kubuat dari ingatan,” kata Raga. “Ingatan orang yang dulu tidak ingin mengingat. Jadi kalau ada titik yang meleset—”
“Kau pernah bilang sesuatu di depan gudang,” kata Kiyo. “Waktu kita pertama berkelahi. Kau bilang tidak ada yang masih berdiri setelah pukulanmu, lima tahun. Sekarang dengar ini: tidak ada yang pernah memberiku peta dari dalam badai. Kau satu-satunya orang yang selamat dari dirinya sendiri yang kukenal.”
Raga tertawa—pendek, serak, bening. “Pergi, kura-kura. Anak kecilmu menunggu. Dan—” ia mengangkat tangannya yang gemetar, setengah melambai, setengah memberi hormat, “—sampai jumpa di utara.”
---
Jalan turun dari pegunungan selatan berjalan cepat, seperti janji Nenek Suri: jalan turun lebih cepat dari jalan naik, satu-satunya kemurahan hati gunung.
Di Dusun Tungku, penginapan itu menyambut mereka dengan sup dan dengan kabar—perempuan tua penyapu itu menarik Kiyo ke samping sambil tangannya terus menyapu:
“Tiga hari lalu ada yang turun dari atas. Dua orang. Bersih. Sopan. Bawa peti panjang—peti kurir, bukan peti batu, aku tahu bedanya dari cara mereka memanggulnya. Mereka tidak bertanya tentang gunung.” Ia menyapu ke arah jalan utara. “Mereka bertanya tentang *kalian*. Orang besar dari utara—ke mana biasanya dia kalau sudah selesai di gunung. Aku bilang: orang besar dari utara biasanya ke mana orang besar pergi—ke mana angin suka. Mereka tidak tertawa.”
Bastian dan Roswitha bertukar pandang di atas mangkuk sup mereka.
“Mereka sudah turun lebih dulu,” kata Bastian. “Dan mereka tidak menunggu di gunung. Mereka mendahului ke jalan pulang.”
“Mereka tahu aku akan pulang,” kata Kiyo. “Semua orang tahu aku akan pulang—anak lima tahun di utara bukan rahasia bagi siapa pun yang pernah membaca surat-surat kadipaten. Jadi mereka tidak perlu menyerangku di gunung. Mereka hanya perlu—”
“Mengikutimu pulang,” kata Roswitha, “dan mencatat rumahmu.”
Malam itu mereka tidur bergiliran. Dan Kiyo berdiri lama di depan penginapan, memandangi jalan utara yang gelap, dengan peta seorang kail di dalam bajunya dan pecahan hangat di sakunya—dan untuk pertama kalinya sejak Meridien, pecahan itu berdenyut gelisah ke arah utara, bukan ke arah gunung.
Seperti rumah yang memanggil. Atau seperti rumah yang memperingatkan.