Mereka menemukan ekornya di hari kedua, di kota sungai Hulu Cabang—karena Bastian adalah perwira yang selamat dari lembah yang penuh penyergap, dan orang-orang seperti itu punya mata di tengkuknya.
“Jangan menoleh,” katanya sambil membeli kacang di pasar apung, riang seperti orang membicarakan harga. “Dua orang. Yang satu di perahu dagang ketiga dari kita sejak kemarin—topi lebar, tidak pernah menawar. Yang satu lagi di darat, mendahului kita, selalu setengah hari di depan. Mereka berganti posisi tiap kota. Rapi.”
“Dua saja?” tanya Roswitha.
“Dua yang kelihatan,” kata Bastian. “Yang di darat lebih menarik. Dia tidak pernah melihat Kiyo. Orang yang menguntit selalu mencuri lihat—dia tidak. Dia sudah hafal. Dia hanya menjaga jarak.”
Malam itu mereka memasangnya—bukan jebakan pedang, jebakan kesabaran. Rombongan menginap di penginapan dermaga yang sama seperti dulu; Kiyo duduk di halaman belakang yang gelap, sendirian, terlihat, memandangi sungai—umpan yang paling besar dan paling tenang di dunia—dan mata kanannya menutup dan membuka, menutup dan membuka, sampai aura yang dicarinya berani mendekat: muda, berminyak di tepinya saja, dan ketakutan seperti tikus.
“Duduk,” kata Kiyo ke gelap, tanpa menoleh. “Dingin. Ada kursi.”
Ada keheningan panjang. Lalu semak berdesis, dan seorang pemuda keluar ke cahaya perapian kecil—bersih, sopan, tangan halus, tidak lebih tua dari Merle—dengan wajah orang yang sudah tahu dan sudah selesai dengan takutnya dan tinggal menunggu gilirannya.
“Kau tahu aku di situ sejak kapan?” tanyanya.
“Sejak kota kecil di lekuk sungai,” kata Kiyo. “Kau berganti sepatu di situ. Sepatumu yang pertama bunyi di batu. Yang kedua tidak. Tapi baumu sama—kau mencuci tanganmu dengan sabun wangi yang sama sejak ibu kota.”
Pemuda itu duduk di kursi yang ditawarkan, karena lututnya memutuskan untuknya. “Mereka bilang kau tidak bisa didekati tanpa diketahui.”
“Mereka benar. Namamu?”
“Nils,” katanya. Lalu, dengan kejujuran orang yang sudah tidak punya apa-apa untuk dilindungi: “Aku bukan pembunuh. Aku pembawa surat. Mereka tidak pernah menyuruhku menyentuhmu—mereka bilang itu, berkali-kali, seperti orang tua menyuruh anaknya jangan menyentuh api.” Ia merogoh bajunya, pelan, mengeluarkan surat bercap lilin merah tanpa lambang, meletakkannya di tanah di antara mereka seperti menyerahkan senjata. “Bacalah. Aku tahu isinya. Aku tidak keberatan kau tahu.”
Kiyo membuka segelnya. Tinta keemasan, tulisan yang rapi dan sabar:
*Ikuti pecahan yang berjalan. Jangan disentuh. Jangan didekati. Jangan ditakut-takuti. Catat tempat-tempat yang disinggahinya, orang-orang yang ditemuinya, rumah yang dipulanginya. Dia mencari dengan cara yang tidak bisa kita tiru—maka biarkan dia mencari untuk kita. Laporan lewat saluran biasa. Fajar tidak mengetuk dua kali.*
Kiyo membaca dua kali. Api kecil itu berdesis.
“Mereka tidak menguntitku untuk menyerangku,” katanya akhirnya. “Mereka menguntitku supaya aku *mencarikan* untuk mereka. Aku berjalan, aku menemukan yang tidur, mereka membaca laporannya, dan mereka tiba di sana membawa peti-peti beludru.” Ia menatap pemuda itu. “Aku bukan musuh mereka, Nils. Aku *pelingkar* mereka. Anjing pelacak yang tidak tahu dia sedang dipakai berburu.”
Nils menunduk. “Aku hanya pembawa surat.”
“Berapa saluran? Berapa lampu?”
“Aku tidak tahu nama-namanya. Aku tahu tiga kota tempat aku menitipkan laporan—itu saja yang pernah kukenal.” Ia mengangkat wajah. “Kau akan membunuhku?”
“Tidak,” kata Kiyo. “Kau akan melarikan diri.”
Pemuda itu berkedip.
“Besok sebelum subuh, kau melarikan diri,” kata Kiyo, dan di seberang halaman, dari kegelapan gudang, Bastian dan Roswitha muncul dan duduk di dekat api seperti keluarga. “Kau melarikan diri dengan ketakutan yang sungguhan—yang tidak akan sulit, kulihat—dan kau membawa kabar yang kami tuliskan untukmu: bahwa rombonganku berjalan ke ibu kota, dengan bendera, dengan perlahan, karena orang batu itu dipanggil Raja. Itu yang akan kau laporkan. Itu yang akan tercatat di tiga kotamu.”
“Kalian—” Nils memandangi mereka satu per satu. “Kalian melepaskanku dengan kabar bohong.”
“Kami melepaskanmu dengan kabar bohong,” kata Kiyo. “Dan satu pertanyaan, yang boleh kau jawab boleh tidak: kenapa kau bergabung dengan orang-orang bertinta emas?”
Pemuda itu diam lama. Apinya turun jadi bara.
“Ibuku sakit,” katanya akhirnya. “Bertahun-tahun. Ada tabib mereka yang datang—obatnya tidak ada di pasar mana pun. Ibuku hidup. Aku membawa surat-surat.” Ia menatap tangannya. “Kalian akan bilang itu harga yang murah. Aku tahu. Semua orang yang dibeli tahu harganya murah. Itu yang membuatnya bisa ditanggung—kalau mahal, kami tidak akan pernah sanggup membayar rasa malunya.”
Kiyo mengangguk pelan. “Pulang ke ibumu, Nils. Bawa kabar bohong itu, karena aku perlu kabar itu berjalan—tapi setelah itu berhenti. Orang-orang bertinta emas sedang sekarat; kapal mereka sudah pecah di gunung. Ketika mereka jatuh, orang-orang yang membawa surat mereka akan jatuh bersama mereka—dan ibumu butuh anaknya lebih dari ia butuh tabib mereka.”
“Kau tidak tahu apa yang ibuku butuhkan,” kata Nils, pelan, tanpa marah.
“Tidak,” kata Kiyo. “Tapi aku tahu apa yang dibutuhkan semua orang yang sakit: orang yang pulang.”
---
Sebelum subuh, kurir muda itu “melarikan diri”—dengan teriakan pengawal yang disusun, dua anak panah yang sengaja meleset, dan kabar bohong yang hangat di dadanya.
Dan dengan matahari terbit, rombongan itu membelah diri seperti sungai di batu.
Bastian berangkat ke ibu kota dengan dua pengawal—dengan bendera kecil kadipaten yang dikibarkan sengaja, dengan penginapan-penginapan besar, dengan kereta yang terlihat. Perwira istana pulang membawa laporan untuk Raja, kata semua orang yang bertanya, dan orang batu dari utara itu menyusul, katanya, dua-tiga hari di belakang, tidak kuat naik kuda, perutnya tidak baik—Bastian menceritakan detail-detail tidak penting itu dengan riang kepada siapa saja yang membelikannya minum, karena kabar bohong yang terbaik adalah kabar bohong yang membosankan.
Kiyo, Merle, Roswitha, dan dua pengawal menghilang ke dalam jaringan Simpul seperti batu ke dalam saku.
Jalan-jalan kecil. Rumah-rumah singgah bercap simpul. Perahu sayur, kereta garam, gubuk penjaga mercusuar yang tidak menjaga mercusuar apa pun. Di sebuah rumah singgah di tepi hutan, dua hari dari utara, pemiliknya—petani tua dengan cap simpul di bawah pelananya—menyuguhkan sup dan bertanya kabar, dan Kiyo bertanya satu hal yang tidak pernah ditanyakannya sebelumnya:
“Jaringan ini—berapa jauh? Sampai ke seberang selat?”
Petani tua itu mengangkat alisnya yang seperti lumut. “Simpul tidak pernah menyeberang laut, Tuan. Francis tidak pernah percaya kapal—katanya benang basah sulit dipegang.” Ia mengaduk apinya. “Tapi ada kawan-kawan di pelabuhan-pelabuhan. Orang-orang yang berutang nyawa pada benang. Kalau suatu hari Tuan perlu menyeberang—katakan saja dari simpul yang mana.”
“Mudah-mudahan tidak perlu,” kata Kiyo.
“Tuan,” kata petani itu, dengan kesabaran orang yang sudah menampung seratus pelarian, “orang tidak mampir ke rumah singgah kalau tidak sedang dikejar sesuatu. Yang kau kejar atau yang mengejarmu, sama saja buat pintuku. Tapi kulihat kau membawa keranjang yang berat dan mata yang lebih berat. Kalau suatu hari perlu menyeberang—jangan tunggu air sampai ke lutut.”
Malam itu Kiyo tidur di loteng yang bau jerami, dan bermimpi—bukan mimpi IBU, bukan bisikan—mimpi biasa, mimpi orang pulang: tangga kuil, dan anak kecil yang duduk di nisan ayahnya, dan camar yang bertengger, dan rumah yang masih berdiri.
Dan di sakunya, pecahan kecil itu berdenyut ke utara, tenang, seperti kompas yang akhirnya selesai berputar.