Rumah itu mencium mereka sebelum melihat mereka—atau begitulah rasanya: asap dapur, kayu baru, garam laut, dan bunyi palu yang tidak pernah berhenti sejak musim pembangunan dimulai.
Kiyo datang lewat gerbang belakang, tanpa bendera, tanpa pengumuman—dan Lenard tahu bukan dari penjaga, bukan dari pelayan, tetapi karena ia sedang duduk di tangga kuil dengan Sultan di pangkuannya, seperti setiap sore musim itu, menghadap jalan.
Anak itu tidak berlari. Ia berdiri, menaruh Sultan di tangga dengan hati-hati—seperti menaruh gelar—lalu berlari.
Kiyo menangkapnya di udara, seperti biasa, dan anak itu menguburkan wajahnya di leher besar itu, dan untuk beberapa saat tidak ada yang mengucapkan apa-apa, karena ada hal-hal yang sudah selesai diucapkan jauh sebelum ada kata-kata.
“Kau lama,” kata Lenard akhirnya, dengan suara yang berusaha menjadi suara duke dan gagal di tengah.
“Ceritanya panjang,” kata Kiyo. “Aku bilang jimatmu akan kembali dengan cerita. Cerita yang panjang butuh waktu yang panjang.”
“Cukup panjang untuk dibawa pulang?”
“Cukup panjang,” kata Kiyo. “Dan belum selesai. Tapi bagian selatannya selesai.”
Lenard menurunkan dirinya, mengambil jimat bulu burung yang dikalungkan kembali ke lehernya dengan dua tangan besar yang berusaha halus, memeriksanya seperti juru sita memeriksa barang titipan—kusam, licin, utuh—lalu mengangguk dengan kesungguhan negara.
“Diterima kembali,” katanya resmi. Lalu, lebih kecil: “Dia berbau gunung.”
“Dia sudah melihat gunung yang tidur,” kata Kiyo. “Dan dia tidak takut.”
“Karena dia jimat,” kata Lenard, seolah menjelaskan hal yang sudah jelas, dan mengalungkannya, dan selesailah upacara itu.
---
Emeteria menunggu di tangga rumah—tidak memeluk, karena Emeteria tidak memeluk di depan orang; ia menatap Kiyo dari atas ke bawah seperti orang menghitung kerusakan, dan menemukan jumlahnya lebih sedikit dari yang ditakutkannya, dan mengangguk.
“Kau kurus,” katanya.
“Kau juga,” kata Kiyo.
“Rumah ini mengurus dirinya sendiri. Anakmu—” ia berhenti, mengoreksi, “—duke kita mengurus sisanya. Dua puluh tiga rumah nelayan beratap sekarang. Kongsi Kincir Selatan bubar bulan lalu—tanpa Hubert, tanpa Dario, mereka seperti pabrik yang kehilangan mesinnya; Oswin membeli hutang-hutang kecil mereka dan mempekerjakan orang-orangnya yang jujur. Bastian sudah dua kali mengirim surat dari ibu kota, tulisannya buruk. Dan—” ia berhenti lagi, dan sesuatu di wajahnya yang keras melunak sepersekian, “—pecahan di bawah menunggumu. Tiga minggu terakhir dia berdenyut ke selatan setiap malam, pelan, sabar, seperti mendengarkan sesuatu yang sangat jauh. Lima malam lalu dia berhenti. Sekarang dia tenang. Aku tidak tahu apa yang terjadi lima malam lalu, Kiyo, tapi aku bersyukur kau masih hidup.”
Lima malam lalu: malam ketika Kiyo bercerita sampai fajar di Kamar Gema.
“Dia mendengarnya,” kata Kiyo pelan. “Dari sini. Melalui—” ia tidak tahu melalui apa. Melalui rumah yang satu ini, yang dinding-dindingnya tipis. “Melalui rumah.”
---
Mereka turun ke gudang bawah tanah malam itu, ketika rumah sudah tidur.
Pecahan itu terbaring di dalam kotak kayu berlapis lilitan benang cahaya Emeteria—dua puluh empat lilitan sekarang—dan ketika Kiyo membuka kotaknya, pecahan itu tidak berdenyut. Ia menunggu. Tenang. Seperti orang yang sengaja menahan napasnya untuk kejutan.
Kiyo mengeluarkan pecahannya sendiri—yang hangat, yang seminggu terakhir belajar berdenyut mantap—dan meletakkannya di sampingnya.
Untuk sesaat, tidak ada apa-apa.
Lalu kedua batu kecil itu—yang satu dikuras sampai mati di atas meja beludru, yang satu dijual duke tersenyum demi koin—berdenyut bersamaan. Bukan selaras saja: *menyatu iramanya*, dua detak menjadi satu detak, lebih lambat, lebih dalam, lebih damai dari yang pernah dicapai salah satunya sendirian—seperti dua anak yang berbagi selimut. Hangatnya naik ke jari-jari Kiyo yang menyentuh tepi kotak.
“Mereka pulang,” kata Emeteria, dan suaranya retak sedikit di ujungnya.
“Mereka saling menemukan,” kata Kiyo. “Pulang adalah tempatnya. Ini lebih dulu: saling.” Ia menutup kotak itu, tidak rapat—sengaja tidak rapat, karena malam itu ia belajar sesuatu yang akan ia catat nanti untuk buku yang suatu hari harus ditulisnya: lilitan benang itu tidak lagi untuk menahan. Lilitan itu sekarang hanya pagar, supaya tidak ada yang menyentuh tanpa permisi. “Mulai malam ini, mereka dijaga bersama. Satu kotak. Biar mereka tidur bersebelahan. Batu yang tidur bersebelahan tidak bermimpi buruk.”
“Kau tahu itu bagaimana?” tanya Emeteria.
“Aku batu yang tidur sendirian seratus tahun,” kata Kiyo. “Aku tahu.”
---
Sebelum tidur, ia naik ke kuil—ke tangganya, di bawah bintang-bintang utara yang tajam—dengan sebotol arak murah dan dua cangkir, karena ada percakapan yang sudah terlambat dua puluh tahun.
Nisan Aryeh berdiri di sisinya yang biasa. Camarnya tidak ada—malam—tetapi Kiyo sudah belajar bahwa camar itu tahu kapan harus tidak ada.
Kiyo menuang dua cangkir. Satu di tangga, satu di tanah di depan nisan.
“Aku tahu sekarang,” katanya.
Angin lewat. Daun-daun kuil menjawab dengan suara yang mereka simpan untuk malam.
“Aku tahu kenapa mereka membayarmu mati,” kata Kiyo. “Bukan dendam kadipaten. Bukan utang. Itu kulitnya saja. Isinya begini: dua puluh dua tahun lalu, seorang perempuan kaya mengirim utusan dengan emas untuk membeli batu yang kau angkat dari laut—dan kau menolak. *Yang tidur tidak dijual. Yang tidur dijaga.* Kau bilang begitu. Aku tahu sekarang. Kata-katamu disimpan dua puluh tahun oleh perempuan itu, disalin, dibaca ulang—kau tahu betapa jarangnya orang seperti itu mendengar kata *tidak*?” Ia meminum cangkirnya. Arak murah itu terbakar turun, seperti biasa, tidak enak, seperti biasa, jujur, seperti biasa. “Mereka mencuri uangnya sendiri untuk membunuhmu. Dia sendiri tidak menyuruhnya—dia bilang begitu, dan aku percaya dia, karena perempuan itu tidak pernah harus membunuh untuk mendapatkan apa yang dia mau. Tapi orang-orang di sekelilingnya sudah lelah menunggu. Mereka membunuhmu supaya batumu tidak punya penjaga. Dan batunya—” Kiyo tertawa, kecil, serak, “—batunya menolak diambil. Tenggelam. Sepuluh tahun lagi di dasar. Mereka mengaduk laut sepuluh tahun, Aryeh. Dan ketika aku akhirnya retak, aku retak di tangan yang sama yang menolak emas. Di tanganmu.”
Ia duduk lama di situ, dengan angin, dengan nisan, dengan laut yang jauh terdengar sabar.
“Jadi aku menulis ini supaya kau tahu,” katanya akhirnya, “kalau-kalau mati itu seperti tidur dan kau bisa mendengar dari dalam seperti aku dulu: kau tidak gagal. Aku bangun. Aku tumbuh. Anak-anakmu—Lenard, Emeteria, Francis—mereka berdiri semua. Rumahnya masih berdiri. Dan batu-batu kecil yang retak—aku mengumpulkan mereka sekarang, seperti yang akan kaulakukan kalau kau tahu mereka ada. Bukan untuk dijual. Untuk dijaga.” Ia mengangkat cangkir keduanya, menuangkannya pelan-pelan ke tanah di depan nisan, dan tanah itu minum tanpa suara. “Kalau suatu malam kau mendengar ketukan, di mana pun kau tidur—jawab kalau kau mau. Kau boleh. Kau bukan pintu siapa-siapa.”
Ia turun dari kuil menjelang pagi, dan di tangga bawah Mistress Bara sudah berdiri dengan selimut dan muka masam, karena nenek-nenek dapur selalu tahu siapa yang tidur di tangga batu.
“Anak besar,” katanya, menyampirkan selimut itu ke bahu raksasa itu, “kau pulang dari gunung yang berdebar, dan hal pertama yang kaulakukan adalah mengobrol dengan kuburan dan masuk angin.”
“Itu obrolan yang paling penting,” kata Kiyo.
“Tentu saja,” kata Mistress Bara. “Makannya sudah kusiapkan sejak kemarin. Orang yang mengobrol dengan kuburan tidak boleh dibiarkan lapar—nanti kuburannya yang bicara balik.”
Kiyo tertawa—suara besar yang jarang, yang membangunkan dua burung di atap—dan masuk ke rumahnya, ke hangat, ke bau roti, ke tempat yang masih berdiri.
Dan jauh di dalam gudang bawah tanah, di dalam kotak yang tidak rapat, dua pecahan kecil berdenyut satu irama—tidak ke selatan, tidak ke mana-mana—hanya berdenyut, bersama, seperti dua orang yang akhirnya selesai mencari dan boleh tidur.