Musim itu, utara membangun—dan membangun, ternyata, lebih sulit dari berperang, karena perang selesai ketika musuh pergi, sedangkan membangun tidak pernah selesai.
Dewan Tujuh Kursi bersidang tiga hari setelah Kiyo pulang, dan ada yang berubah di ruangan itu: kursi kerabat—kursi Dario—sudah tidak ada. Bukan diberikan kepada siapa-siapa. Dikeluarkan. Oswin yang memerintahkannya, dan tidak ada yang bertanya, dan enam kursi yang tersisa melengkung menghadap meja batu dengan jarak yang tidak disesuaikan—dibiarkan berjarak tidak rata, supaya semua yang masuk ruangan itu tahu ada yang sudah dibuang dari lingkarannya.
Lenard memimpin dari kursi dukenya—kakinya masih tidak menjangkau lantai, dan sekarang tidak ada yang berani menawarkan bangku kaki, karena Vera pernah mencoba dan diberi tatapan yang mengakhiri pembicaraan.
“Agendanya tiga,” kata Lenard, membaca dari catatan yang ditulisnya sendiri, huruf-huruf miring yang berjuang. “Satu, rumah nelayan. Dua, orang-orang Kongsi. Tiga—” ia berhenti, dan menatap Kiyo, “—tiga, kita bicarakan sesudahnya, karena itu surat yang baru datang.”
Rumah nelayan: dua puluh tiga beratap, sembilan belas sudah dihuni, dan empat keluarga baru datang dari kampung-kampung yang dibakar Behemoth—tersiar kabar bahwa di kadipaten utara ada duke kecil yang membangun rumah bagi yang kehilangan rumah, dan orang-orang mulai datang dengan gerobak yang kosong dan harapan yang penuh. Vera melaporkan garnisun: dua belas veteran Behemoth yang menyerah—bukan orang bersih, bukan tangan-tangan, hanya orang lapar yang dulu ikut armada—ditampung sebagai pekerja tambang garam di bawah pengawasan. “Mereka mengira akan digantung,” kata Vera. “Sekarang mereka bekerja seperti orang yang diberi hidup kedua—cepat, diam-diam, dan sambil mengawasi pintu.”
Orang-orang Kongsi: Oswin melaporkan hutang-hutang yang dibeli, pekerja jujur yang dipindah, dan satu gudang di pelabuhan yang isinya membuat alis Francis—ketika membaca laporannya dari ibu kota—naik sampai tidak turun-turun.
Lalu sidang ditutup, dan hanya enam kursi yang tinggal, dan Lenard menyerahkan surat itu.
Surat Francis, cap Raja, ditulis dengan tangan yang lebih mantap dari tulisan Francis yang biasa—tanda bahwa ada juru tulis istana yang dipaksa menuliskan, yang berarti surat ini *resmi*:
*Untuk Duke Lenard Hakai, walinya, dan pengawalnya yang tersumpah. Baginda Raja memberitahukan: sepuluh hari lagi tiba di Kota Raja utusan resmi dari Kerajaan Osseran di seberang selat barat, dipimpin Konsul Maren an Osseran, membawa surat dari rajanya dan satu—aku menyalin kata-kata Baginda persis—“satu barang yang tidak bisa dijelaskan dengan sopan lewat surat”. Osseran bukan kawan lama, bukan musuh lama; selatnya memisahkan kami seratus tahun, dan surat-surat mereka biasanya tentang ikan dan tarif. Surat ini bukan tentang ikan dan tarif. Baginda meminta—tidak menitahkan, meminta—kehadiran keluarga Hakai. Dia percaya apa yang dibawa utusan itu adalah urusan yang hanya bisa didengar oleh telinga tertentu. Bukan dibaca. Didengar. Kalian tahu apa artinya. Datanglah kalau bisa. Rumah lebih penting dari istana—Baginda menulis ini sendiri—tapi kali ini istana mengira rumah kalian dan rumah kami sedang berdiri di atas hal yang sama.*
*P.S. Dari Francis, bukan dari istana: Ottilie membaca kabar kedatangan utusan ini di wajah penjaganya—kalian tahu dia bisa membaca apa saja—dan minta menyampaikan satu kalimat, yang kusampaikan tanpa mengerti: “Tanyakan kepada utusan itu apakah batu mereka juga diberi makan.”*
Ruang dewan itu diam.
“Mereka punya batu,” kata Roswitha.
“Mereka punya batu yang bergerak,” kata Emeteria. “Dan kabar tentang Meridien sudah menyeberangi selat—sebelum burung kita sendiri sampai ke mana-mana.”
“Fajar punya lampu di Osseran,” kata Kiyo. “Sevian memperingatkan kita. Mungkin utusan ini datang karena lampu mereka mulai bergoyang juga—dan rajanya tidak tahu harus takut atau harus bersyukur.” Ia meremas surat itu pelan di tangannya. “Atau utusan ini bukan dari rajanya sama sekali. Orang-orang bersih pandai menyurati.”
“Maka kau harus ada di sana untuk membaca auranya,” kata Francis—tidak, Francis tidak ada; kalimat itu datang dari Vera, yang tidak pernah bicara di dewan, dan semua orang menoleh, dan Vera mengangkat bahunya yang seperti pintu. “Apa. Aku boleh bicara sekali setahun.”
Lenard tidak bicara sepanjang itu. Ia memandangi surat itu, lalu memandangi jendela, ke arah kota yang sedang membangun, ke arah tangga kuil di kejauhan. Dan ketika ia bicara, suaranya kecil dan berhati-hati, suara orang yang menimbang dua barang yang sama beratnya:
“Aku baru saja mendapatkan Paman Kiyo pulang.”
“Tuan Muda—” mulai Emeteria.
“Tapi,” kata Lenard, dan menelan, dan melanjutkan, “aku sudah membaca surat-surat Merle. Semuanya. Dia menulis bukan kabar—dia menulis *alasan*. Dan satu alasan yang kutangkap: rumah ini tidak aman karena temboknya tinggi. Rumah ini aman karena orang-orangnya pergi ke tempat bahaya sebelum bahayanya sampai ke pintu.” Ia menatap mereka satu per satu, anak lima tahun di kursi yang terlalu besar, dengan mata yang sudah melihat terlalu banyak tetapi belum berhenti berharap. “Jadi aku tidak akan mengatakan jangan pergi. Aku akan mengatakan: aku ikut.”
“Lenard—”
“Aku ikut,” kata Lenard, dan tangannya terkatup di atas meja batu. “Bukan karena aku tidak tahu beratnya. Karena aku tahu: orang-orang bertinta emas sudah tahu rumah ini. Mereka tahu aku. Mereka tahu kamar tidurku—Paman Dario menggambar rumah ini untuk mereka bertahun-tahun.” Kata-kata itu keluar datar, dan datarnya lebih menyakitkan dari tangis. “Kalau rumah ini tidak lagi tempat yang tidak mereka ketahui, maka rumah ini bukan benteng—hanya peta. Tempat paling aman untukku bukan di dalam peta. Tempat paling aman untukku adalah di sebelah orang yang bisa mendengar batu.”
Tidak ada yang menjawab langsung. Francis pernah berkata hal yang sama dengan kata-kata yang berbeda, di sidang yang lain, bertahun-tahun lalu, dan Kiyo mendengar gema kalimat itu berdiri di ruangan seperti orang ketujuh.
“Emeteria?” tanya Kiyo.
Emeteria—yang seumur hidupnya adalah orang yang tinggal, yang menjaga, yang menunggu di rumah sementara orang lain pergi ke laut dan tidak pulang—memandangi surat itu, lalu memandangi keponakannya, lalu menatap Kiyo dengan tatapan yang sudah selesai berdebat dengan dirinya sendiri.
“Aku ikut juga,” katanya. “Dan pecahan bawah tanah ikut. Dua-duanya.”
“Emeteria—”
“Dengar dulu,” katanya, tajam dan tenang. “Pecahan itu tidak pernah aman di mana pun—kalian semua tahu itu, aku tahu itu, dua puluh empat lilitan benangku tahu itu. Tapi ada bedanya antara tidak aman dan sendirian. Di rumah ini, kalau sesuatu mulai berbisik kepada mereka di tengah malam, yang mendengar pertama adalah batu-batu itu sendiri—dan mereka terlalu kecil untuk tidak menjawab. Di sebelah Kiyo—” ia menatapnya, “—kalau mereka ketakutan, ada yang mendengar mereka ketakutan. Itu satu-satunya keamanan yang ada di dunia ini untuk barang-barang seperti mereka: didengar.”
Kiyo mengangguk pelan. “Seperti anak-anak,” katanya. “Mereka tidak perlu tempat yang tidak pernah menakutkan. Mereka perlu orang yang datang ketika mereka menangis.”
“Maka diputuskan,” kata Lenard, dan suaranya bergetar sedikit di ujung, tetapi ia menutup sidangnya dengan ketukan telapak tangan kecil di atas meja batu, seperti yang pernah dilihatnya dilakukan Francis, seperti yang dilakukan semua orang yang memerintah rumah sebelum dia. “Kita pergi ke Kota Raja. Semuanya. Vera dan Oswin memegang rumah—bukan menjaga peta, menjaga *rumah*: rumah nelayan tetap dibangun, garam tetap jalan, orang-orang tetap makan. Dan—” ia berhenti, dan ada cahaya kecil di matanya, cahaya lima tahun yang tidak bisa ditahan, “—dan aku akan bertemu Raja lagi. Dia masih punya kucing istana yang malas itu? Aku ingat kucingnya.”
“Kucingnya ingat kamu,” kata Kiyo, yang tidak tahu itu benar atau tidak, tetapi menduga—karena kucing istana adalah kucing, dan kucing tidak pernah lupa siapa yang pernah menggaruknya dengan benar.
Malam itu, dari tangga kuil, Kiyo memandangi rumahnya—atap-atap baru yang berderet, lampu-lampu nelayan, menara barat yang ditambal—dan di dadanya ada dua rasa yang bertetangga: hangat rumah yang masih berdiri, dan dingin peta yang terbentang, dengan titik-titiknya yang berlingkar, di seberang selat, di kerajaan yang belum pernah dilihatnya.
‘Musim batu-batu bangun,’ pikirnya. ‘Dan aku satu-satunya yang tahu cara mereka tidur.’