Perjalanan ke Kota Raja kali ini adalah perjalanan yang paling aneh dari semua yang pernah dilakukan keluarga itu—karena dilakukan seluruhnya di bawah nama yang salah.
Rombongan resmi—dengan bendera kadipaten, dengan kereta duke yang terkenal, dengan keriuhan yang sopan—berangkat tiga hari lebih lambat, dikawal orang-orang Vera, membawa juru tulis dan barang-barang upacara, berjalan siang hari di jalan besar seperti arak yang jujur—pelan, terlihat, dan mudah diikuti semua mata. Rombongan yang sesungguhnya—Lenard dalam pakaian anak petani garam, Emeteria sebagai janda pedagang benang (peran yang membuatnya hampir tertawa, satu-satunya yang pernah tercatat), Kiyo di bawah capingnya, Roswitha sebagai kakak sepupu yang pendiam—sudah tiba di Kota Raja sembilan hari sebelumnya, lewat jaringan Simpul, lewat pintu air, lewat perahu tanpa lampu yang pendayungnya mengangguk pada Kiyo seperti mengangguk pada kawan lama.
“Suatu hari,” kata Francis, menyambut mereka di dapur belakang istana dengan panci di tangannya—ia sedang merebus sesuatu yang berbau obat, “—suatu hari aku ingin keluarga ini masuk lewat gerbang depan seperti orang normal. Sekali saja. Untuk kesehatanku.”
“Kau merebus obat sendiri?” tanya Kiyo.
“Sejak Tabib Emeric, aku merebus segalanya sendiri. Raja sekarang makan hanya apa yang direbus oleh orang yang memasak di depannya sambil menggerutu. Kami menemukan bahwa itu standar keamanan terbaik: yang meracik harus terlihat tidak menikmati prosesnya.” Ia memeluk Kiyo—sebentar, keras, seperti orang memastikan pagar masih berdiri—lalu berlutut, dan memeluk Lenard, lebih lama. “Tuan Muda. Kau tumbuh satu tumit selama aku tidak melihat.”
“Aku duke sekarang,” kata Lenard. “Duke tidak tumbuh satu tumit. Duke tumbuh sesuai anggaran.”
Francis memandanginya, lalu memandang Emeteria. “Siapa yang mengajarinya bicara begitu?”
“Oswin,” kata Emeteria dan Lenard bersamaan.
---
Raja Aldric menerima mereka di perpustakaan kecilnya—bukan di aula, bukan di takhta—dengan kursi-kursi yang ditarik melingkar seperti orang mengadakan kenduri, dan dengan kucing istana yang malas itu, yang ketika melihat Lenard berdiri, menurunkan dirinya dari tumpukan buku, berjalan melintasi ruangan dengan marah yang khusus, dan duduk di kaki anak itu.
“Dia ingat aku,” kata Lenard, penuh kemenangan.
“Dia tidak pernah duduk di kaki siapa pun,” kata Raja, dan tawa lamanya masih ada—lebih pelan sekarang, lebih hemat, tetapi ada. “Enam puluh tahun aku memberinya makan dan dia tidak pernah duduk di kakiku. Kucing istana memiliki selera politik yang jelek.” Ia menepuk lututnya sendiri. “Duduklah, duke kecil. Kau dan aku sama-sama orang yang rumahnya penuh lubang. Kita harus saling memberi tahu di mana lubangnya.”
Raja terlihat lebih tua dan lebih muda sekaligus—lebih tua di wajahnya, yang keriputnya makin dalam, lebih muda di matanya, yang tidak lagi kabur. Tubuhnya masih membayar dua tahun racun pelan, tetapi matanya sudah kembali: mata yang berkedip di pesta taman dulu, mata yang membaca orang seperti orang membaca cuaca.
“Mereka membuatku tua sebelum waktuku,” katanya tanpa pahit, dengan nada orang membaca laporan cuaca yang lewat. “Sekarang aku menua dengan kecepatan biasa dan itu terasa seperti anugerah. Lucu, ya. Kau dirampok dua tahun, dan kau bersyukur rampoknya berhenti.” Ia mencondongkan tubuh. “Tapi bukan itu kenapa aku memanggil keluarga yang sedang membangun rumahnya. Utusan itu tiba besok. Dan sebelum mereka tiba, aku mau anak batuku tahu apa yang sudah kuketahui.”
Ia mengetuk meja; pelayan bisu itu meletakkan sebuah peti kecil di atasnya—peti kantor, biasa, tidak bertanda—lalu menghilang lewat pintu yang tidak kelihatan.
“Peti ini datang seminggu lebih dulu dari utusannya,” kata Raja. “Diantar ke gerbang istana oleh kurir Osseran yang tidak menunggu jawaban. Di dalamnya ada surat dari rajanya—Raja Theron, namanya, orang yang tidak pernah kutemui, yang menulis seperti orang yang tidak percaya surat—dan surat itu berkata begini.” Ia membuka peti, mengeluarkan satu lembar, dan membacanya: “*Di dalam peti ini ada sesuatu yang kami jaga sejak kakek dari kakek kami. Ia tidur, dan kami menjaganya tidur, dan itu seluruh yang kami tahu tentangnya. Bulan lalu ia berhenti tidur. Para pendeta kami menyebutnya pertanda, para jenderal kami menyebutnya bahaya, dan aku menyebutnya: di atas gajiku. Kami mendengar apa yang terjadi di Meridien—selat tidak bisa menahan kabar sebesar itu. Kami dengar ada orang di kerajaanmu yang bisa mendengar batu. Maka aku mengirim barang ini lebih dulu, supaya ketika utusanku tiba, kau sudah tahu suratku bukan tipuan dan bukan perang. Kirimkan aku pendengarmu, atau kirimkan aku kebijaksanaanmu—tapi jangan kirimkan aku diam.*”
Raja meletakkan surat itu. Tangannya tidak gemetar, tetapi Kiyo melihatnya memutuskan untuk tidak gemetar.
“Dan isi petinya,” kata Raja, “ada di kamar sebelah. Aku tidak membawanya ke sini karena—” ia mengangkat bahunya yang tua, “—karena aku sudah enam puluh tahun tidur di atas sesuatu yang berdenyut, anak batu. Aku sudah selesai tidur di dekat hal-hal yang tidak kumengerti.”
---
Kiyo masuk ke kamar sebelah sendirian, atas permintaannya.
Batu itu ada di atas meja, di dalam sarang kain—sebesar dua kepalan, kelabu kecoklatan, berbentuk tidak beraturan seperti semua pecahan, dan—
Berdenyut.
Bukan denyut tidur yang lamban. Bukan denyut riang pecahan yang pulang. Denyut ini cepat, pendek-pendek, tersentak-sentak—dan mata kanan Kiyo membaca aura yang naik darinya seperti asap dari rumah kecil: pucat, tipis, berputar-putar ke segala arah seperti orang mencari jendela di ruangan yang tidak dikenalnya.
Kiyo berdiri di sana lama. Lalu ia melakukan apa yang selalu dilakukannya: ia mendengarkan—bukan dengan telinga, dengan seluruh dirinya yang seratus tahun pernah jadi batu.
Dan yang didengarnya membuat dadanya sesak.
Ketakutan. Batu itu tidak marah. Batu itu tidak lapar. Batu itu—ketakutan. Ketakutan yang besar dan buta dan tidak tahu namanya sendiri, ketakutan makhluk yang bangun di tempat yang gelap dan tidak menemukan siapa pun di sampingnya. Di bawah ketakutannya, dalam sekali, ada satu denyut lain yang lebih tua dan lebih sedih: seperti tangis yang sudah terlalu lama ditangisi sampai lupa caranya berhenti.
*Dia dibangunkan,* kata Kiyo dalam hati, dan tangannya—tanpa diminta otaknya—sudah bergerak, meletakkan telapak tangannya di atas batu itu, seperti dulu di atas lempengan di bawah aula, seperti dulu di atas Induk yang mengerang. *Seseorang di Osseran membuka tempatnya. Memaksanya. Atau—*
Denyut batu itu melambat di bawah tangannya. Pelan-pelan. Seperti anak yang dipegang.
*—atau sesuatu di bawah sana membangunkannya. Sesuatu yang manis. Sesuatu yang sudah makan delapan pecahan di tempat yang jatuh dan sekarang mencoba suaranya di rumah-rumah lain.*
“Kau tidak sendirian,” kata Kiyo kepada batu itu, pelan, dalam bahasa yang bukan kata. “Sekarang kau tidak sendirian.”
Batu itu berdenyut. Sekali. Dua kali. Lalu, untuk pertama kalinya sejak Osseran—berminggu-minggu ketakutan tanpa jawaban—batu itu tidur. Di atas meja istana. Di bawah tangan orang yang juga pernah menjadi batu.
Kiyo berdiri di sana sampai punggungnya pegal, tidak berani mengangkat tangannya.
Ketika ia akhirnya keluar, Raja, Francis, Emeteria, Roswitha, dan Lenard semua memandanginya dengan wajah yang sama—wajah orang-orang yang sudah belajar membaca wajahnya.
“Batunya takut,” kata Kiyo. “Sudah berminggu-minggu. Dia tidak bangun sendiri—dia *dibangunkan*. Ada yang mengaduk tempat tidurnya dari bawah, dan caranya—” ia mencari kata, dan menemukan yang paling jelek dan paling benar, “—caranya seperti orang mengaduk api orang lain dari jauh, pakai tongkat yang panjang. Yang di Meridien sudah mulai bicara ke rumah-rumah lain.”
Wajah-wajah itu menyerap kalimatnya seperti tanah menyerap air.
“Maka utusan besok,” kata Francis pelan.
“Utusan besok,” kata Kiyo. “Dan Francis—persiapkan Simpulmu. Karena aku sudah membaca daftar rombongan Osseran yang tercatat di gerbang, dan besok aku akan membaca aura mereka satu per satu—dan aku sudah tahu apa yang kutakutkan akan kutemukan, karena orang-orang bersih tidak pernah membiarkan utusan berlayar seratus tahun selat tanpa ikut di dalamnya.” Ia menatap keluarganya. “Utusan itu membawa batu yang ketakutan. Dan hampir pasti, di antara pelayannya, utusan itu juga membawa tikus.”
Di luar jendela perpustakaan, Kota Raja turun malam—lampu-lampu, kanal-kanal, dan di pelabuhannya sebuah kapal asing yang sudah berlabuh, yang layarnya kelabu, yang besok pagi akan menurunkan orang-orang dari seberang selat yang membawa batu yang berhenti tidur.
Dan jauh di bawah mereka semua—di bawah istana, di bawah kota, di bawah selat, di bawah gunung-gunung kerajaan-kerajaan yang belum pernah didengar nama mereka—rumah besar yang tua itu berdenyut dalam tidurnya, dan dinding-dindingnya tipis, dan musim batu-batu bangun sudah tiba di pintu-pintu semua orang.