Utusan Osseran masuk bukan seperti utusan—masuk seperti badai yang sudah lelah.
Konsul Maren an Osseran berdiri di depan Raja Aldric tanpa pakaian upacara, dengan garam masih di rambutnya yang mulai putih, dengan tangan seorang yang tiga puluh tahun memegang tali kapal sebelum memegang jabatan. Di belakangnya dua belas orang: pengawal, juru tulis, seorang pendeta dengan jubah yang terlalu berat untuk iklim ini, dan di antaranya—mata kanan Kiyo sudah menemukannya sebelum ia selesai menghitung—satu aura berminyak, tipis di tepinya, pada seorang juru tulis muda yang berdiri paling belakang dan paling diam.
Kiyo tidak berkedip. Francis, yang berdiri di sampingnya, merasakan ketiadaan kedip itu dan mencatat dalam hati: satu.
“Baginda Raja Aldric,” kata Konsul Maren, dan suaranya suara orang yang biasa berteriak melawan angin tetapi sedang berusaha tidak. “Aku membawa surat dari Raja Theron, salam dari selat, dan masalah yang tidak muat di kapal.”
“Masalahmu sudah kupegang,” kata Raja Aldric. “Batu kecilmu ada di kamar sebelah. Dia tidur sekarang—pertama kali dalam tiga minggu, kata penjaganya. Kami tidak menyentuhnya. Kami hanya—menemaninya.”
Maren menatap raja tua itu. Apa pun yang sudah disiapkannya untuk dikatakan—argumentasi, hormat, harga—terlihat bergeser, dan yang keluar adalah kalimat yang lebih jujur: “Tiga minggu saya tidak tidur, dan batu itu tidur dalam satu malam di rumah Anda.”
“Bukan rumahku yang menidurkannya,” kata Raja. “Orangnya itu.” Ia tidak menunjuk Kiyo—tidak perlu; seluruh aula sudah selalu menunjuk ke arah orang tertinggi di ruangan mana pun—tetapi ia berkata, “Nanti. Pertama, ceritakan sumurmu. Dari awal. Jangan ringkas—aku tua, aku punya waktu, dan hal-hal yang diringkas selalu membuang bagian yang penting.”
Maka Maren bercerita, dengan cara pelaut bercerita: lurus, tanpa hiasan, dengan tanggal.
Osseran—kerajaan tebing putih di seberang selat barat, tiga kota pelabuhan dan dinding-dinding kapur yang menghadap laut—berdiri di atas sumur yang lebih tua dari kerajaannya. Sumur Tua, namanya, di pelataran paling dalam kastil raja, ditutup batu berukir yang tidak pernah dibuka selama seratus dua puluh tahun menurut catatan, dan lebih lama lagi menurut kepercayaan. Airnya tidak diambil. Penjaganya—satu keluarga, turun-temurun, gelarnya Penjaga Tutup—tugasnya hanya satu: memastikan tutupnya tetap tertutup.
“Tiga minggu lalu,” kata Maren, “airnya mulai berbunyi.”
“Berbunyi bagaimana?” tanya Francis.
“Seperti ada orang bernyanyi di dalam sumur,” kata Maren. “Pelan. Malam hari. Bukan nyanyian yang jelek—itu masalahnya. Nyanyiannya indah.” Ia menggosok pangkal hidungnya. “Anak-anak Penjaga Tutup mulai bermimpi. Dua anak, tujuh dan sembilan tahun. Mimpi yang sama, kata ibunya: ada yang memanggil mereka dari air, menyanyikan lagu pengantar tidur yang tidak pernah diajarkan siapa pun, dan mereka bangun sudah berdiri di pelataran, setengah jalan ke sumur. Dua malam berturut-turut.”
Ruangan itu berubah dingin. Di kursinya, Raja Aldric tidak bergerak. Francis tidak bergerak. Kiyo merasakan pecahan-pecahan di kamar kerja Emeteria—dua saudara kecil dalam satu kotak—seolah-olah dari jarak ini pun ia bisa merasakan mereka mendengarkan.
“Pendeta-pendeta kami,” lanjut Maren, dan suaranya mendapat tepi, “mengadakan sidang. Kesimpulannya: sumur itu harus diisi. Batu dan kapur, ditimbun, disegel, dilupakan. Sudah ada yang membawa gerobak-gerobak batu ke pelataran sebelum saya berangkat.” Ia menatap Raja Aldric. “Baginda, saya tidak berlayar seratus tahun selat—maaf, seratus dua puluh mil selat—karena saya takut batu itu bangun. Saya berlayar karena saya takut pada apa yang dilakukan orang-orang takut kepada batu yang bangun. Mengubur sesuatu yang bernyanyi tidak pernah mengubur nyanyinya. Itu hanya membuat nyanyinya jadi urusan orang lain, nanti, di masa depan, ketika kita sudah mati dan tidak bisa dimintai pertanggungjawaban.”
Di sisi aula, Marquis Bellamy—yang diundang Raja karena Raja sudah lama berhenti menganggap musuh jujur lebih berbahaya daripada kawan berminyak—mendengus pelan. “Perempuan itu bicara seperti orang utara,” katanya. “Aku mulai suka utusan ini.”
“Baginda Bellamy menyukai saya,” kata Maren tanpa menoleh. “Tragis sekali hari ini penuh hal-hal yang tidak terduga.”
Bellamy tertawa—keras, pendek—dan untuk pertama kalinya Kiyo melihat sesuatu di wajah marquis tua itu yang bukan permusuhan: hormat yang enggan, jenis hormat yang paling tahan lama.
Raja Aldric mengetuk lututnya sekali. “Maka kita sepakat tidak ada yang menimbun apa pun sebelum orangku melihat sumurmu.” Ia menatap Maren lama. “Tapi aku sudah enam puluh tahun menjabat, Konsul, dan aku tahu ada yang tidak kau katakan. Batu berbunyi tidak membuat konsul berlayar sendiri. Ada yang lain. Katakan.”
Maren diam. Tangannya—tangan tali kapal itu—saling menggenggam.
“Ada,” katanya akhirnya. “Seminggu sebelum airnya berbunyi, Penjaga Tutup menemukan sesuatu di pelataran, di sebelah sumur. Delapan benda kecil, dibungkus kain, diletakkan melingkari tutup sumur seperti—seperti persembahan. Atau seperti makanan.” Ia menelan. “Batu-batu kecil, Baginda. Kelabu. Hangat. Kami tidak tahu apa-apa tentang batu-batu, saat itu. Kami menyimpannya di kotak besi. Tiga hari kemudian air mulai bernyanyi, dan pada malam ketiga—penjaga yang bertugas bersumpah dia melihat tutup batu itu *bergerak*. Bukan terbuka. Bergetar. Seperti ada yang mengetuk dari bawah.”
Delapan benda kecil. Delapan.
Kiyo dan Francis tidak bertukar pandang—mereka sudah tidak perlu. Delapan potong besar dari bengkel Tukang Meno, ditarik ke mulut tambang tua, diturunkan ke Tempat Jatuh. Yang di bawah tetap makan—dan sekarang, rupanya, yang di bawah *memasak*: makanan dibagikan ke rumah-rumah lain, delapan di antaranya sampai ke Osseran, melingkari sumur tua seperti lingkaran yang menggambar dirinya sendiri di peta dunia.
“Konsul Maren,” kata Kiyo, dan itu pertama kalinya ia bicara, dan seluruh rombongan Osseran menoleh ke suara yang dalam itu. “Batu-batu kecil itu—di mana sekarang?”
“Di kapalku. Di kotak besi. Aku tidak bodoh—aku tidak membawa mereka ke istana tanpa tahu apa—”
“Bagus,” kata Kiyo. “Jangan dibuka. Jangan disentuh kulit. Dan malam ini, ketika kotak itu mulai hangat—karena akan—jangan ada yang menjawab kalau ada yang terdengar memanggil dari dalamnya.”
Maren memandanginya, dan di matanya tumbuh sesuatu yang sudah tiga minggu tidak tumbuh: harapan yang berhati-hati.
“Kau percaya padaku,” katanya. “Begitu saja.”
“Tidak begitu saja,” kata Kiyo. “Aku membaca ceritamu di wajahmu, dan aku membaca rombonganmu—” mata abu-abu itu menyapu dua belas orang, berhenti seperseribu detik lebih lama di juru tulis muda paling belakang, lalu jalan terus, “—dan aku percaya sebelas dari dua belas. Yang kedua belas kita bicarakan nanti, empat mata, di ruangan lain.”
Sunyi. Dan kemudian hal yang paling menarik terjadi: juru tulis muda itu—Joris, menurut daftar rombongan—tidak lari, tidak pucat, tidak memegang racun. Ia hanya menunduk, sedalam-dalamnya, seperti orang yang akhirnya boleh berhenti berpura-pura, dan berkata dengan suara yang gemetar dan lega sekaligus:
“Saya sudah menunggu tiga hari untuk ditangkap, Tuan. Terima kasih sudah menunggu sampai Konsul selesai bicara. Ceritanya penting, dan saya tidak mau merusaknya.”
---
Malam itu, setelah Joris diserahkan kepada orang-orang Francis—yang menginterogasinya dengan sopan, dengan sup, dengan kesabaran yang lebih menakutkan dari ancaman mana pun—seekor burung dari Meridien mendarat di menara surat, membawa tulisan Odo yang berlari-lari:
*Kiyo. Angka-angka tidak berbohong, dan malam ini aku berharap mereka berbohong. Tiga minggu lalu—malam yang sama persis ketika sumur Osseran mulai bernyanyi, cocokkan dengan suratmu—napas di Tempat Jatuh berhenti sepersekian detik. Berhenti. Aku memeriksa tiga kali. Seperti orang yang sedang mendengarkan sesuatu yang jauh.*
*Dan malam ini—malam ketika batu Osseran tidur di bawah tanganmu, kalau hitunganku dan burung-burung benar—napas di bawah sana melambat juga. Melambat dengan... aku tidak punya kata yang ilmiah, maka aku menulis kata yang benar: dengan tidak puas.*
*Dia mendengar kita semua, Kiyo. Atau—dan malam ini aku tidak bisa membedakan keduanya, dan perbedaan itu membuatku tidak tidur—*
*kita semua sedang mendengarnya.*