Joris bercerita selama dua malam, dan Francis mencatat dengan tangan yang tidak pernah berhenti.
Pemuda itu bukan tangan penting—tangan tidak pernah penting; itu prinsip pertama yang diajarkan jaringan kepada tangan-tangannya. Ia direkrut tiga tahun lalu di Osseran, di kota pelabuhan Teluk Putih, ketika kakaknya berutang pada rumah gadai yang ternyata bukan rumah gadai. Tugasnya kecil: membaca salinan surat-surat konsul, menyalin yang menarik, menitipkan ke peti mati di pelabuhan. Ia tidak pernah tahu untuk siapa. Ia tahu hanya dua hal: cap lilin merah tanpa lambang, dan bahwa setiap peti mati yang ia pakai selalu, selalu, berhubungan dengan sumur.
“Mereka tidak menanyaiku tentang kapal, jenderal, atau pajak,” kata Joris. “Tiga tahun, dan satu-satunya yang mereka mau tahu adalah sumur itu. Siapa menjaganya. Kapan Penjaga Tutup berganti. Apakah airnya pernah berbunyi sebelumnya. Tiga tahun, Tuan-Tuan. Mereka sudah mengukur sumur kami jauh sebelum sumur kami berbunyi.”
“Sudah berapa lama mereka tahu?” Francis bertanya pada malam-malam setelahnya, di perpustakaan kecil, di antara Raja, Kiyo, dan Roswitha. “Bukan tiga tahun. Joris direkrut tiga tahun lalu—tapi rumah gadainya sudah berdiri sebelum kakaknya lahir. Lampu Osseran sudah menyala puluhan tahun, menunggu sumur yang tidur. Dan sekarang—” ia mengetuk catatannya, “—sekarang kita tahu kenapa batu-batu di mana-mana mulai bergerak pada musim yang sama. Bukan kebetulan. Ada yang menyalakan lampu-lampu itu satu per satu, dari bawah, dengan suara yang manis.”
“Yang jatuh,” kata Kiyo.
“Yang jatuh,” kata Francis. “Meridien adalah perutnya. Lampu-lampu adalah tangannya. Dan tangan-tangan tua seperti Lingkaran—” ia berhenti, mencari kata yang adil, “—Lingkaran kira mereka memakai jaringan itu. Aku mulai curiga jaringan itu yang memakai Lingkaran. Tiga ratus tahun menunggu, dan yang menyalakan lampunya tetap saja yang dari bawah.”
---
Kiyo turun ke sel Nyonya Ottilie pada sore yang hujan, membawa dua hal: catatan Merle tentang Osseran, dan jawaban atas pertanyaan yang disampaikannya lewat Francis berminggu-minggu lalu.
Sel itu sudah berubah sedikit—ada buku-buku sekarang, dan segelas air, dan di ambang jendela kecilnya, sebutir batu. Bukan pecahan. Batu biasa, dari pelataran, yang dimintanya dari penjaga karena, katanya, “aku sudah tiga puluh tahun hidup bersama batu; aneh rasanya tanpa.”
Ottilie membaca catatan Osseran itu dengan hati-hati. Delapan benda kecil melingkari tutup sumur. Air yang bernyanyi. Anak-anak yang berjalan dalam tidur.
“Lingkaran makanan,” katanya akhirnya, meletakkan catatan itu. “Aku mengenal polanya seperti mengenal tulisan tanganku sendiri. Begini cara mereka membangunkan sesuatu yang tidak bisa mereka buka: mereka tidak membukanya. Mereka *memancingnya bangun*. Delapan pecahan mengelilingi pintu—pecahan-pecahan itu berdenyut, denyutnya memanggil yang tidur, yang tidur mulai bermimpi tentang memanggil balik—dan tiba-tiba anak-anak berjalan ke sumur di malam hari.” Ia menatap Kiyo. “Mereka melakukannya padaku dua puluh dua tahun. Bukan dengan rantai—dengan denyut. Mereka membuatku merasa ditemani sampai aku lupa bertanya siapa yang menemani.”
“Kau bilang kau mau jawabannya,” kata Kiyo. “Pertanyaanmu lewat Francis: pecahan-pecahan yang kau kumpulkan puluhan tahun—kalau sudah tidak ada yang memaksa mereka bekerja, apakah mereka masih ingin pulang, atau ingin tinggal.”
“Ya.”
Kiyo menarik kursi—kursi kecil sel itu, yang mengeluh di bawahnya—dan duduk.
“Mereka tidak ingin dilebur,” katanya. “Mereka tidak ingin kembali ke satu tubuh. Aku sudah bertanya—dengan caraku, dengan tanganku di atas mereka, malam demi malam, di kubah gunung. Yang mereka mau lebih kecil dari itu dan lebih besar dari itu: mereka ingin *dipegang tanpa ditanya*. Dijaga tanpa dipakai. Ditemani tanpa dimintai apa-apa. Pulang bagi mereka bukan tempat, Nyonya. Pulang adalah tangan.” Ia berhenti. “Aku tahu karena aku sama. Aku tidak rindu laut tempatku tidur. Aku rindu tangan bajak laut yang menungguku retak.”
Ottilie diam lama sekali. Hujan menggambar garis-garis kecil di jendela sel.
“Tiga puluh tahun,” katanya akhirnya, “aku menyimpan mereka di beludru, dengan label, dengan tanggal. Tidak pernah sekali pun—” suaranya berhenti, dan ketika kembali, lebih kecil, “—tidak pernah sekali pun kugenggam satu di tanganku sampai hangat. Aku takut. Kalau kugenggam dan dia berdenyut untukku, aku harus mengaku pada diriku bahwa selama ini aku bukan menjaga mereka. Aku menyimpan mereka. Ada bedanya, dan bedanya adalah penjara ini.”
“Nyonya,” kata Kiyo, “aku tidak datang untuk membuatmu lebih terluka dari yang sudah.”
“Aku tahu,” kata Ottilie. “Itu yang membuatnya lebih terluka.” Ia mengangkat wajah, dan ada di sana tekad tua yang lelah tetapi belum mati. “Maka dengarkan tawaranku, anak batu, karena aku hanya menawarkannya sekali: kau akan pergi ke Osseran, dan kau akan menemukan lampu-lampu mereka—rumah gadai, peti mati, orang-orang bersih. Aku tidak tahu nama-nama Osseran. Tapi aku tahu *caranya*—tiga puluh tahun aku adalah mejanya, dan meja tahu semua yang diletakkan di atasnya. Beri aku catatan-catatanmu dari sana. Bukan untuk pengampunan—aku sudah selesai dengan pengampunan. Untuk ini saja: supaya tanganku, yang tiga puluh tahun dipakai jaringan itu, di tahun-tahun terakhirnya bekerja *melawan* jaringan itu.”
Kiyo memandanginya—perempuan tua tanpa burung, dengan batu biasa di ambang jendelanya.
“Kau akan mendapat catatannya,” katanya. “Dengan satu syarat: kau menulis jawabanmu sendiri. Tanganmu. Bukan salinan juru tulis. Jaringan itu mencuri tanganmu—aku mau bukti tanganmu kembali.”
---
Keputusan diambil di perpustakaan Raja malam itu juga, dan seperti semua keputusan penting di rumah itu, keputusan itu menyakitkan.
Yang berlayar: Kiyo, karena batu itu hanya mau didengar olehnya. Francis, karena lampu-lampu Osseran hanya bisa dibaca oleh orang yang seumur hidup membaca benang. Roswitha, karena selat itu penuh cerita tentang gerombolan Behemoth yang pecah, dan tongkat biru—tombak biru—adalah surat pengantar yang tidak bisa dipalsukan. Merle, karena Kiyo membutuhkan juru tulis yang bisa membaca tulisan paling buruk dan menuliskan hal-hal yang benar.
Yang tinggal: Lenard, Emeteria, kedua pecahan—di istana, di bawah penjagaan orang-orang yang dipilih Raja dengan menunjuk wajah, dengan Bastian sebagai pintu terakhir.
Perpisahannya di dapur belakang, karena keluarga itu selalu berpisah di dapur belakang.
Lenard tidak menangis. Ia sudah memutuskan—Kiyo bisa melihatnya, bisa melihat anak itu memutuskan di pagi harinya—bahwa duke tidak menangis di depan pelayan. Tetapi ketika pelayan tidak ada, ia datang ke Kiyo dan berdiri di depannya dengan dagu yang keras kepala.
“Aku menitahkan sesuatu,” katanya.
“Duke menitahkan?”
“Duke menitahkan.” Lenard menarik napas. “Batu yang takut itu—kau bilang dia takut karena tidak ada yang memegang tangannya. Maka titahku: pegang sampai dia tidak takut. Jangan pulang sebelum itu. Aku—” suaranya bergetar, dan ia membiarkannya bergetar, karena hanya pelayan yang tidak boleh melihatnya, “—aku akan menjaga dua pecahan di sini. Aku akan membacakan cerita untuk mereka malam-malam. Kalau mereka bisa mendengar dari seberang selat, biar mereka dengar cerita dari rumah.”
Kiyo berlutut—selalu berlutut untuk anak ini—dan menyerahkan sesuatu dari sakunya: bukan jimat, bukan batu. Buku Pertama, sampul kayunya yang hitam.
“Tidak,” katanya ketika Lenard membuka mulut. “Bukan untukmu—untuk dijaga. Buku ini milik orang yang bisa membedakan dua suara. Sampai aku pulang, kau orangnya. Kau yang duduk di sidang dan mendengar dua puluh suara dan tetap tahu mana yang benar. Simpan dia di kamar tidurmu. Baca pelan-pelan. Dia suka dibaca pelan-pelan.”
Lenard memeluk buku itu—berat, tiga ratus tahun—dan mengangguk, dan tidak mengatakan apa-apa lagi, karena kalau ia mengatakan apa-apa lagi dagunya akan kalah.
“Dan kau,” kata Raja Aldric kepada Kiyo, berdiri di ambang dapur dengan tongkatnya, “orang yang kuberi gelar pengawal bersumpah—pulanglah dengan utuh. Kerajaanku sudah kehilangan terlalu banyak orang baik di sumur-sumur dan selokan. Aku tidak mau menulis surat kepada anak itu bahwa pamannya tidak pulang dari seberang selat. Itu surat yang tidak akan kutulis. Titah raja, kalau kau perlu yang resmi-resmi.”
“Titah diterima,” kata Kiyo.
“Bagus. Satu-satunya titah yang pernah ditaati di kerajaan ini,” kata Raja, dan berbalik supaya tidak ada yang melihat wajahnya.
Besoknya, kapal layar kelabu Osseran itu membuka layarnya di pagi yang dingin, dan Kota Raja mengecil di belakang mereka—menara, kanal, istana—dan di depan, selat seratus dua puluh mil membentang seperti halaman yang belum ditulis, dan di dasar lautnya, mungkin, tidur hal-hal yang sudah mulai bermimpi tentang dibangunkan.