Selat seratus dua puluh mil itu menyeberang dalam tiga hari, dan tiga hari itu adalah tiga hari pertama Kiyo di atas laut sejak laut itu sendiri menjadi tempat tidurnya.
Ia berdiri di haluan sejak kapal meninggalkan teluk—berdiri, tidak duduk, karena tubuhnya yang berat tidak percaya pada bangku—dan memandangi air yang bergerak di bawahnya, hijau tua, dalam, sabar. Seratus tahun ia tidur di bawah permukaan seperti ini. Seratus tahun air seperti ini menekan dari segala arah, dan tidak ada tangan, dan tidak ada suara, hanya denyutnya sendiri dan gelap.
“Kau tidak takut air,” kata Roswitha, datang berdiri di sampingnya. “Aku sudah memperhatikan. Orang yang tidur di laut seratus tahun seharusnya takut air. Kau tidak.”
“Aku tidak dibuat takut oleh laut,” kata Kiyo. “Aku dibuat takut oleh—” ia berhenti, mencari. “Oleh orang yang tidak datang. Lautnya tidak salah. Laut hanya tidak bisa mengangkatku. Dia terlalu besar untuk mengangkat siapa pun.” Ia meletakkan tangannya di pagar haluan. “Aku tidak marah pada tempat tidurku, Roswitha. Aku marah pada—tidak. Tidak marah. Sedih. Aku sedih pada tahun-tahun ketika tidak ada yang mengetuk.”
Roswitha tidak menjawab—Roswitha tidak pernah menjawab kalau jawabannya tidak menambah apa-apa—tetapi ia berdiri di situ lebih lama dari yang dibutuhkan angin, dan bagi orang-orang yang mengenalnya, itu adalah jawaban yang paling mahal.
Di belakang mereka, Francis menghabiskan pelayaran dengan cara yang sudah diramalkannya sendiri: tidak dengan baik.
“Benang basah sulit dipegang,” gerutunya, pucat, di dekat tiang, menolak makan, menolak duduk, menolak segalanya kecuali menyalahkan laut. “Aku membangun jaringan di tiga kerajaan. Aku menyelundupkan orang di bawah hidung dua rezim. Aku tidak pernah—tidak sekali pun—perlu menyeberangi *air sebanyak ini*.”
“Kau memilih datang,” kata Merle, yang sedang mencatat dengan tekun, bersandar ke peti.
“Koreksi itu, juru tulis. Aku tidak memilih datang. Aku memilih tidak membiarkan anak itu—” ia menunjuk dagu ke haluan, “—menghadapi sumur bernyanyi sendirian. Itu berbeda dengan memilih datang. Catat dengan benar.”
Merle mencatat: *Francis tidak memilih datang; ia memilih tidak membiarkan.* Dan di pinggir halamannya, kecil, untuk dirinya sendiri: *begitulah orang-orang ini memilih segalanya.*
Roswitha, untuk catatan sejarah, mabuk laut pada hari kedua dan menolak mengakuinya, berdiri tegak di tengah kapal dengan wajah seperti bendera perang, sementara seluruh awak Osseran—yang menghormati tombak biru itu seperti menghormati badai—pura-pura tidak melihat. Maren an Osseran meletakkan sekerat jahe di sampingnya tanpa berkata apa-apa. Roswitha memakannya tanpa berkata apa-apa. Diplomasi terbaik adalah yang tidak diucapkan.
Malam-malam di kapal itu milik Kiyo dan batu-batu.
Batu kecil Osseran—yang ketakutan, yang tidur di bawah tangannya di istana—berbaring di sarang kain di sampingnya tiap malam, dan kotak besi berisi delapan pecahan persembahan berdiri di sebelahnya, tidak dibuka, dijaga jarak seperti orang menjaga jarak dari sumur. Pada malam pertama, batu kecil itu berdenyut gelisah; pada malam kedua, Kiyo mulai bercerita kepadanya.
Ia bercerita dengan suara rendah supaya tidak mengganggu awak—tentang laut yang dingin dan tangan yang menembusnya. Tentang rumah dengan tangga kuil. Tentang anak kecil yang menitahkan rumah nelayan. Batu kecil itu mendengarkan dengan denyut yang makin lamban, makin damai, sampai pada malam ketiga ia melakukan hal yang baru: ia berdenyut *lebih dulu*—sebelum Kiyo mulai—pelan, sopan, seperti anak yang meminta cerita.
“Oh,” kata Kiyo, dan dadanya hangat. “Kau belajar meminta.”
Dan ia bercerita, dan di bawah geladak laut berjalan, dan di kejauhan camar-camar malam menjerit, dan untuk pertama kalinya sejak seratus tahun, laut di bawahnya terasa bukan seperti penjara—melainkan seperti halaman belakang yang luas dan gelap dan dipenuhi suara-suara yang tidak jahat.
‘Kau mendengar itu?’ tanyanya pada air, sekali, pada malam kedua, ketika tidak ada yang melihat. ‘Aku di atas sekarang. Di permukaan. Masih ada tangan yang memegang. Masih.’
Laut tidak menjawab. Laut tidak pernah menjawab. Tetapi malam itu, di belakang kapal, lumba-lumba kelabu mengikuti sampai fajar, dan awak kapal—yang takhayul seperti semua pelaut—menganggapnya pertanda baik, dan menyimpan cerita itu untuk anak-anak mereka: malam ketika lumba-lumba mengawal orang batu dari seberang.
---
Mereka melihat Osseran di pagi hari keempat: tebing-tebing putih yang naik dari laut seperti dinding raksasa yang dipugar matahari, dan di atasnya kota teras-teras kapur yang berkilau, tiga menara mercusuar, dan bendera-bendera biru-putih yang mengibas di angin yang asin.
“Indah,” kata Merle.
“Tua,” kata Francis, yang matanya membaca kota seperti membaca buku besar. “Kota tua yang kaya dan tidak pernah diperangi. Lihat pelabuhannya—dermaga untuk seratus kapal, pasar yang menghadap laut, tidak ada tembok yang menghadap darat. Kota yang percaya laut menjaganya.” Ia menyipit. “Kota seperti itu tidak tahu apa yang tumbuh di bawah lantainya sendiri.”
Kiyo tidak menjawab. Ia sedang membaca.
Mata kanannya menelan kota itu dari kejauhan: aura-aura manusia yang ribuan, pasar dan pelabuhan dan rumah-rumah; dan di bawah semuanya, di pusat kastil yang bertengger di atas pelataran tertinggi—satu denyut besar, lamban, dalam. Sumur Tua. Batu di dalam air. Tidur—tetapi tidur yang terganggu, tidur yang bergerak-gerak, tidur orang yang kamarnya dimasuki cahaya dari bawah pintu.
Dan di sekeliling denyut besar itu, samar, tipis, manis—lingkaran kecil itu. Delapan titik. Masih melingkari tutup sumur, walau batu-batu persembahannya sudah diamankan ke kotak besi: jejak mereka tinggal di batu pelataran seperti bekas lilin di meja.
Dan satu hal lagi. Yang membuat tengkuknya dingin di bawah matahari pagi.
“Tidak ada camar di kastil,” katanya.
“Apa?” kata Roswitha.
“Lihat menara-menaranya. Kota pelabuhan tanpa camar di kastilnya. Camar hinggap di segala yang tinggi dan dekat ikan—tapi tidak di kastil itu.” Ia menatapnya. “Burung-burung tahu sesuatu tentang sumur itu. Sudah lama. Burung-burung selalu tahu lebih dulu.”
Maren an Osseran datang berdiri di samping mereka, wajahnya menatap rumahnya sendiri dengan cinta dan cemas yang bergantian.
“Selamat datang di Osseran,” katanya. “Negeri tebing putih, garam, dan rahasia yang kami simpan dari diri kami sendiri selama seratus dua puluh tahun.” Ia menarik napas garam itu. “Raja Theron menunggu di pelataran. Dan Penjaga Tutup sudah tiga malam tidak tidur—anak-anaknya berhenti berjalan dalam tidur sejak batu-batu itu diangkat, tetapi mereka masih bermimpi. Mereka bilang pada ibunya—” suaranya berhenti sebentar, “—mereka bilang: yang di dalam sumur itu bukan lagi yang menyanyi. Yang di dalam sumur itu sekarang *menunggu jawaban*. Dan mereka takut, karena anak-anak tahu hal yang orang dewasa lupa: kalau ada yang menunggu jawaban, cepat atau lambat ada yang menjawab.”
Kapal itu merapat. Tali-tali dilempar. Dan di pelataran tertinggi kota putih itu, di balik dinding-dinding yang tidak pernah diperangi, di bawah tutup batu yang seratus dua puluh tahun tidak dibuka, sesuatu di dalam air yang gelap berdenyut—sabar, manis, dan sudah lebih dekat ke permukaan dari yang dikira siapa pun.