Raja Theron menemui mereka di pelataran, bukan di takhta—karena raja-raja yang dibesarkan laut tidak punya kesabaran untuk takhta.
Ia lebih muda dari dugaan Kiyo: lima puluhan, kulit seperti kulit kapal, tangan yang pernah bekerja, dan mata yang lelah dengan cara yang khusus—cara orang yang sudah lama memerintah sesuatu yang tidak bisa diperintah, seperti cuaca atau masa lalu.
“Jadi kau yang mendengar batu,” katanya, tanpa basa-basi, menatap Kiyo dari bawah ke atas. “Aku mengirim surat yang separuhnya kuharap ditertawakan. Konsulku membawakan batu kecil yang sudah di keluargaku sejak—” ia mengibas tangannya, “—sejak selalu. Dan sekarang kalian di sini, di pelataranku, dan aku harus memutuskan apakah aku senang atau malu.”
“Dua-duanya boleh,” kata Kiyo. “Raja yang dulu menitahkanku juga dua-duanya.”
Theron tertawa—keras, pendek, suara yang sudah lama tidak keluar dari pelataran itu menurut wajah para pengawalnya. Lalu ia serius, dan keseriusannya datang secepat tawanya:
“Pendeta-pendetaku sudah memenuhi sebelah pelataran dengan gerobak batu. Mereka mau menimbun sumur itu, Kiyo Hakai. Seratus dua puluh tahun tutupnya tertutup dan tidak ada yang bertanya kenapa—dan sekarang ia bernyanyi, dan jawaban pertama dari orang-orang yang mengaku paling tahu adalah: *timbun*. Kubur. Lupakan.” Ia menggeleng. “Aku sudah menahannya tiga minggu dengan alasan-alasan protokol. Mereka mulai muak padaku. Jadi kau punya—” ia menghitung di kepalanya, “—dua hari. Mungkin tiga. Sebelum pendeta-pendeta itu mengumpulkan cukup bangsawan untuk memaksaku.”
“Kenapa kau tidak mau menimbunnya?” tanya Francis. “Kau sendiri menulis di suratmu: di atas gajiku. Raja yang menulis begitu bisa saja cuci tangan.”
Raja Theron memandangi sumur itu—mereka sudah berdiri di dekatnya, di pelataran dalam, di depan tutup batu berukir yang dingin—dan menjawab tanpa menoleh:
“Karena kakekku pernah bilang satu hal kepadaku, waktu aku kecil dan duduk di tutup ini—ya, kami anak-anak raja duduk di atasnya, main petak di atasnya, seratus dua puluh tahun tidak ada yang takut pada sumur ini. Kakekku bilang: *Theron, yang di bawah ini bukan milik kita. Kita hanya rumah yang dibangun di sebelahnya.*” Ia mengangkat bahu. “Aku tidak tahu apa maksudnya. Tapi menimbun sesuatu yang bukan milikku rasanya seperti—” ia berhenti, “—seperti mencuri dari orang yang tidak ada, supaya tidak ketahuan.”
“Kakekmu orang bijak,” kata Kiyo. “Dan sekarang, kalau kalian semua mau mundur dua puluh langkah—aku mau sendirian dengan sumur ini.”
---
Tutup batu itu berat—enam orang biasa untuk menggesernya, atau satu Kiyo—tetapi tidak ada yang perlu digeser. Ia berlutut di sampingnya, meletakkan telapak tangannya di atas ukiran yang dingin, dan menutup mata kirinya.
Mata kanannya turun.
Menembus batu, menembus gelap, menembus air—
Air sumur itu dalam, jauh lebih dalam dari yang seharusnya dimiliki sumur pelataran, turun ke kegelapan yang tidak berujung di dasar yang terlihat. Dan di dalam air itu, di kedalaman yang tidak bisa diukur tali timba mana pun, ada batu itu.
Besar. Lebih besar dari pecahan mana pun yang pernah dipegangnya—bukan sebesar Induk, tetapi besar seperti kereta, seperti meja perjamuan—tergeletak miring di dalam air, dan aura yang naik darinya memenuhi seluruh sumur seperti panas memenuhi dapur: aura yang lamban, tua, dan—
Takut.
Bukan takut yang liar. Takut yang sudah lelah. Takut yang sudah berminggu-minggu, yang sudah melewati teriak dan tinggal gemetar. Batu besar itu berdenyut dalam air gelapnya seperti binatang buruan yang sudah berhenti berlari dan tinggal menunggu, dan di sekeliling auranya—di tepi-tepi sumur, di dinding-dindingnya yang basah—menempel sesuatu yang manis dan tipis, seperti lengket madu yang tidak kelihatan, sisa dari lagu yang tiga minggu dinyanyikan ke dalam air.
*Dia sudah dinyanyikan sampai tidak bisa tidur,* kata Kiyo dalam hati, dan kemarahannya—kemarahan yang jarang, yang dalam, yang seratus tahun—bergerak pelan di dadanya seperti tanah longsor. *Mereka tidak membangunkannya dengan paksa. Mereka menyanyikannya sampai insomnia. Sampai dia berdiri di tepi bangun dan tidak tahu cara kembali tidur dan tidak berani bangun.*
Dan dalam air itu, di kedalaman, batu besar itu merasakannya—merasakan mata kanan Kiyo yang turun—dan denyutnya berubah. Gemetar yang mendeteksi kehadiran. Takut yang mendengar langkah.
Kiyo melakukan satu-satunya hal yang benar: ia tidak bergerak cepat.
‘Hai,’ katanya, dalam bahasa yang bukan kata, meletakkan kehadirannya di atas kehadiran batu itu seperti meletakkan selimut, tidak menekan. ‘Aku di atas. Kau di bawah. Tidak ada yang menyuruhmu apa-apa. Aku hanya duduk di sini.’
Denyut itu tersentak—lalu ragu—lalu, pelan-pelan, turun dari langit-langit ketakutannya sedikit.
‘Aku tahu kau dinyanyikan,’ kata Kiyo. ‘Aku tahu lagunya indah. Aku tahu dia bilang dia ibumu, atau yang menjagamu, atau yang menunggumu pulang. Aku tahu karena dia bilang hal yang sama kepadaku, dengan suara yang dia curi dari orang yang paling kurindukan.’
Denyut itu berhenti. *Mendengarkan.*
‘Dia bukan ibumu,’ kata Kiyo, pelan, sabar, seperti menenangkan anak yang diganggu mimpi buruk. ‘Ibumu tidak menyanyi dari dalam sumur. Ibumu tidak membuat anak-anak berjalan dalam tidur. Yang manis itu bukan ibu siapa-siapa. Dia yang jatuh—dan dia kesepian, dan kesepiannya sudah membusuk jadi sesuatu yang lain, dan dia memakai suara ibumu karena suara itu satu-satunya pintu yang dia tahu.’
Air sumur itu diam. Batu besar di dalamnya diam.
Lalu—pelan, tersendat, seperti tangis yang sudah lupa caranya—batu itu menjawab. Bukan kata. Batu-batu tidak pernah kata. Yang datang adalah gambar-gambar, samar, yang naik dari air seperti lelehan lilin: *gelap. Lama sekali gelap. Lalu lagu. Lagu itu tahu namaku—nama yang kuberikan pada diriku sendiri, yang tidak pernah kuberi tahu siapa pun—*
Kiyo menarik napas.
‘Dia tahu namamu,’ katanya. ‘Yang kamu buat sendiri.’
*Ya,* denyut itu berkata, dan ketakutannya kembali naik seperti air pasang. *Dia tahu. Bagaimana dia tahu? Aku tidak pernah memberi tahu siapa pun. Aku menyimpannya—itu satu-satunya milikku—*
Dan Kiyo, di tepi sumur, dengan tangan di atas batu ukir, merasakan sesuatu yang dingin merayapi tulang punggungnya—karena ia tahu jawabannya, dan jawabannya adalah hal paling menakutkan yang ia pelajari sejak Meridien:
Yang jatuh itu tahu nama-nama karena nama-nama itu bukan rahasia yang dicuri. Nama-nama itu adalah nama yang dia *ingat*—dari waktu sebelum retak, dari waktu ketika semua yang retak dan semua yang tidur dan semua yang jatuh masih satu tubuh, satu napas, satu yang utuh.
Suara manis itu tidak mencuri apa pun dari mereka.
Suara manis itu adalah bagian dari keluarga mereka—bagian yang jatuh lebih dulu, yang bangun sendirian, yang tidak pernah dipegang tangannya—dan dia mengingat mereka semua seperti kakak mengingat adik-adiknya yang belum lahir waktu dia terpisah.
‘Keluargamu,’ kata Kiyo pelan, dan kata itu terasa aneh dan berat di mulutnya. ‘Dia keluargamu.’
Dan batu di dalam air itu berdenyut—sekali, dalam, seperti pintu besar yang bergeser di engselnya yang berkarat—
*Maka kenapa dia memanggilku dengan lagu yang membuatku takut? Kenapa keluarga memanggil dengan cara yang membuat takut?*
Kiyo tidak punya jawaban yang tidak sakit. Ia memberikan satu-satunya yang dia punya:
“Karena dia sudah terlalu lama sendirian,” katanya keras-keras, dan suaranya turun ke dalam sumur seperti batu kecil, “dan yang terlalu lama sendirian lupa cara memanggil tanpa membuat takut. Tapi kau tidak harus menjawabnya. Tidak malam ini. Tidak dengan rasa takutmu. Kau tidur—aku menjaga di atas—dan kita bicara lagi besok, dan besoknya lagi, sampai lagunya tidak lagi terdengar seperti satu-satunya suara di dunia.”
Ia tinggal di sana sampai denyut di dalam sumur itu melambat menjadi napas tidur. Sampai matahari miring. Sampai Francis datang dengan mantel untuk bahunya dan tidak mengatakan apa-apa.
Ketika Kiyo akhirnya bangkit, lututnya menjerit dan matanya basah dan ia tidak peduli siapa yang melihat.
“Dua hari,” katanya kepada Raja Theron, yang menunggu di seberang pelataran bersama Maren dan para pendeta yang waspada. “Aku tidak butuh dua hari untuk batunya. Aku butuh dua hari untuk orang-orangmu. Ada yang meletakkan delapan persembahan di pelataran ini tiga minggu lalu—lewat penjaga, lewat pintu, lewat semua yang kalian kira tertutup. Sumurmu dinyanyikan dari bawah *dan* dari atas, Baginda. Dan yang dari atas itu masih berjalan-jalan di kotamu, bersih, sopan, dan mungkin sedang mendengarkan kita sekarang.”