Dua hari di Osseran berjalan seperti dua hari yang diawetkan—terlalu lambat untuk yang cemas, terlalu cepat untuk yang berharap.
Francis bekerja dengan caranya: tidak terlihat, tidak tergesa, seperti hujan yang meresap. Pada malam pertama, penjaga malam pelataran—kapten muda bernama Doren—didatangi bukan oleh algojo, melainkan oleh orang benang tua yang duduk di kamarnya ketika ia pulang, dengan dua cangkir yang sudah dituang, dan yang berkata: “Utangmu sudah lunas sejak kau membiarkan orang itu lewat tiga minggu lalu. Sekarang kita bicara tentang bagaimana kau membayar sisanya—dengan penjara atau dengan membantuku.” Doren memilih membantu sebelum cangkirnya habis. Dari mulutnya: satu malam, satu perahu kecil tanpa lampu, dua orang bersih yang membawa paket melingkar ke tutup sumur—dan satu nama yang dibayar untuk tidak ditanyakan: Mester Colm, pemilik rumah gadai di pelabuhan bawah, yang tiga puluh tahun membeli utang orang-orang pelabuhan dan tidak pernah menagihnya.
Pada fajar kedua, Francis dan Roswitha mendatangi rumah gadai itu—dan menemukan Mester Colm sudah menunggu, sudah tua, sudah selesai, dengan dua surat di mejanya: satu dari jaringannya yang memerintahkannya *jangan menunggu*, satu yang ditulisnya sendiri untuk anaknya dan tidak pernah dikirim. Ia menyerahkan keduanya tanpa diminta.
“Aku tahu cara cerita seperti ini berakhir,” katanya kepada Francis, dengan kesopanan orang yang sudah lama meramalkan hari ini. “Aku tidak menelan apa-apa, Tuan. Terlalu tua untuk kematian yang rapi. Tanyakan saja.”
Yang diketahuinya tidak banyak—tangan tidak pernah tahu banyak—tetapi satu kalimatnya masuk ke catatan Merle dengan tinta yang terasa lebih dingin dari tinta biasa: “Perintahnya berubah setelah gunung kalian. Sebelumnya: kumpulkan, simpan, tunggu. Setelahnya—” Colm mengangkat bahunya yang tua, “—setelahnya: *bangunkan*. Apa pun caranya. Di mana pun. Semua sekaligus.”
“Mereka panik,” kata Francis, di pelataran, kepada Kiyo dan Raja Theron. “Tiga ratus tahun sabar—dan satu malam tanpa bulan merusaknya. Sekarang mereka berlari, dan orang yang berlari menjatuhkan barang-barangnya. Kita akan menemukan lebih banyak barang dalam beberapa bulan ini daripada dalam tiga puluh tahun terakhir.”
Dan para pendeta—yang gerobak-gerobak batunya masih berdiri di sebelah pelataran seperti ancaman yang belum dibaca—dilunakkan oleh sesuatu yang tidak bisa dilawan pendeta mana pun: kesaksian. Raja Theron membawa mereka ke tepi sumur, dan Kiyo bercerita—tentang Meridien, tentang malam tanpa bulan, tentang suara manis yang bukan ibu siapa-siapa—dan ketika ia selesai, pendeta tertuanya, yang tangannya sudah gemetar oleh umur, berjalan ke gerobak pertama dan menepuk batu-batu itu dan berkata, “Bawa kembali ke tambang. Kalau kami salah mengubur yang bernyanyi, biarlah kesalahan itu dicatat atas nama kami—bukan atas nama anak cucu.”
---
Malam keduanya, Kiyo berjaga sendirian di tepi Sumur Tua.
Bulan naik perak di atas tebing putih. Kota di bawah sana tidur, lampu-lampu pelabuhannya berkedip di air. Dan di dalam sumur, di bawah tutup batu berukir, batu besar itu tidur—benar-benar tidur, denyutnya lamban dan damai, untuk pertama kalinya dalam tiga minggu.
Kiyo duduk bersandar ke tutupnya, dengan batu kecil Osseran yang disarangkan kain diletakkan di sampingnya, dan membiarkan malam berjalan.
Tengah malam lewat. Lalu—
Air itu berbunyi.
Bukan dari batu besar yang tidur. Dari *jauh*—dari kedalaman yang tidak berujung, dari tempat sumur ini berhubungan dengan semua air dalam di dunia—naik suara itu. Manis. Keibuan. Sempurna.
“*Anakku.*”
Kiyo tidak menjawab. Ia sudah menunggu ini—takut menunggu ini—sejak malam ia memahami bahwa sumur ini jendela.
“*Anakku, kau datang ke jendelaku yang lain. Kau rajin sekali berjalan. Aku melihatmu dari dalam gunung. Aku mendengarmu bercerita kepada yang kecil-kecil. Cerita yang bagus—tentang tangan yang tidak meminta apa-apa. Aku mendengarkannya sampai habis. Dua kali.*”
“Kita dua yang tahu itu bukan suaramu,” kata Kiyo, tenang, memandang bulan. “Lepaskan. Bicara dengan suaramu sendiri—kalau kau masih punya.”
Diam.
Air itu diam lama sekali, dan Kiyo merasakannya—melalui tutup batu, melalui tulang-tulangnya—sesuatu di kedalaman itu sedang *memutuskan*. Memutuskan adalah hal yang paling manusiawi yang pernah dilakukannya, dan itu lebih menakutkan dari semua lagu.
Lalu suara itu datang lagi—dan kali ini berbeda.
Kecil. Pecah-pecah, seperti piring tua. Kuno dengan cara yang tidak bisa ditiru—cara kata-kata orang yang sudah lupa kebiasaan berkata-kata. Suara anak yang sudah sangat, sangat tua, dan tidak pernah besar.
“*Seperti ini?*”
“Seperti itu,” kata Kiyo, dan tenggorokannya kering. “Terima kasih.”
“*Aku tidak ingat kapan terakhir memakainya. Tidak ada yang mengajakku bicara. Mereka menyanyi untukku—mereka melemparkan batu kecil-ke—kecil padaku—tapi tidak ada yang mengajakku bicara. Mereka pikir aku pintu. Mereka pikir aku jendela. Mereka tidak tahu aku—*” suara kecil itu berhenti, mencari, “*—anak.*”
Bulan berjalan satu derajat. Kiyo tidak bicara.
“*Aku mau bertanya satu hal,*” kata suara kecil itu. “*Aku sudah lama ingin bertanya, sejak aku merasakanmu berjalan di dunia. Kau—retak. Seperti aku. Tapi kau diangkat. Ada tangan. Ada yang menunggumu. Aku jatuh, dan tidak ada tangan, dan aku menunggu di dalam gelap, dan gelap tidak pernah datang menjemputku, dan aku—aku menunggu, dan menunggu, dan tidak ada—kenapa?*”
Suara itu tidak marah. Itu yang paling buruk. Marah bisa dilawan. Suara itu hanya bertanya—pertanyaan yang sama yang ditanyakan setiap anak yang ditinggalkan, di setiap rumah yang gelap, sejak dunia punya anak-anak:
“*Kenapa kau dijaga—dan aku tidak?*”
Kiyo menutup matanya.
Ia bisa berbohong. Ia bisa mengarang jawaban yang megah—tentang takdir, tentang rencana, tentang Yang Satu. Tetapi ia sudah berdiri di atas terlalu banyak orang yang mengarang jawaban megah untuk luka yang sederhana.
“Tidak ada alasannya,” kata Kiyo. “Aku beruntung. Kau tidak. Seorang bajak laut lewat di atas lautku dan tidak ada yang lewat di atas tempatmu. Itu saja bedanya kita. Satu tangan. Tidak adil—dan aku tidak akan menghiasinya supaya terdengar adil.”
Air itu diam.
“*Kau tidak bilang aku jahat,*” kata suara kecil itu akhirnya, dan ada sesuatu di dalamnya yang baru, yang sangat hati-hati, seperti orang menyentuh barang yang sudah lama pecah. “*Semua orang yang akhirnya tahu tentangku bilang aku jahat. Para penjaga buku. Lingkaran. Yang dari gunung—*”
“Kau tidak jahat,” kata Kiyo. “Kau lapar dan sendirian dan sudah terlalu lama, dan kau sudah melakukan hal-hal yang jahat, dan itu tidak sama. Tapi dengarkan aku baik-baik, karena aku hanya berkata sekali: hal-hal yang jahat itu berhenti. Lagu-lagu untuk anak-anak berhenti. Batu-batu yang dibangunkan dengan takut—berhenti. Aku tidak akan melawannya dengan menyanyikan lagu balasan. Aku akan melawannya dengan ini—” ia meletakkan telapak tangannya di atas tutup sumur, “—dengan datang setiap malam, ke sumur ini, selama aku di kota ini, dan duduk di sini sampai kau selesai bicara. Bukan menjawab panggilanmu. *Mengunjungimu.* Ada bedanya. Anak-anak diajari bedanya.”
Diam yang turun kemudian adalah diam yang paling aneh yang pernah dirasakan Kiyo—diam yang mendengarkan dengan seluruh dirinya, seperti tanah mendengarkan hujan pertama setelah kemarau bertahun-tahun.
“*Kau akan pulang,*” kata suara kecil itu akhirnya. Bukan pertanyaan. Pahit, dan pelan, dan sudah tahu jawabannya. “*Semua yang berjalan pulang. Aku satu-satunya yang tidak bisa pulang—karena aku tidak punya ke mana.*”
“Maka aku kembali lagi besok,” kata Kiyo.
“*Dan sesudah besok—ke tempatku yang sebenarnya.*” Suara itu turun lebih dalam, lebih kecil, hampir hilang di dalam air. “*Mereka yang memberiku makan—yang melemparkan batu-batu kecil—mereka berkata kau akan datang. Mereka menunggumu di sana. Di tempat aku jatuh. Tubuhku—sisaku—di sana, di bawah gunungmu. Aku ada di mana-mana airnya dalam, tapi aku yang sebenarnya di sana. Mereka menunggumu membuka—bukan pintu Induk—pintuku. Yang sebenarnya.*”
Kiyo berdiri. Perlahan.
“Kalau mereka menungguku,” katanya, “kenapa kau memberitahuku?”
Dan jawaban itu datang dari dalam air, dari dalam gelap yang dalam, dari anak yang sudah sangat tua dan tidak pernah besar—dengan kejujuran yang lebih menakutkan dari kebohongan mana pun:
“*Karena kau satu-satunya yang bertanya bagaimana suaraku. Dan aku sudah sangat lama ingin ada yang bertanya.*”
Air itu tenang. Bulan berjalan. Dan Kiyo duduk kembali, dan tidak pergi, sampai fajar datang sendiri tanpa mengetuk—dan sampai jauh di selatan, di malam yang sama, Raga yang berjaga di mulut tambang tua Meridien merasakan napas di bawahnya berhenti—bukan lapar, bukan rakus—berhenti seperti orang yang sedang *berpikir*, untuk pertama kalinya sejak dunia masih muda.