31 Desember 2006 - 11.59 PM
"Sepuluuh... sembilan... delapan..." Terdengan suara lantang MC menghitung mundur bersama-sama dengan banyaknya penikmat dunia malam yang sudah menanti-nanti pergantian tahun.
"Cheersss!" Citra mengangkat wine glass di backstage.
"Bentar Emma." Alya mencium gelasku. "Aman, lemon tea. Cheers!"
Mereka terkadang binal ditengah gemerlap lampu disko, melenggak lenggok menikmati musik DJ seolah menghipnotis tubuh untuk tak henti meliuk, tentu saja ditambah hangatnya tequila yang menyatu dengan darah. Penampilan mereka selalu tampak seksi dan memikat berbalut mini dress sequin yang menjadikannya pusat perhatian di event manapun. Minum alkohol sudah biasa, bahkan sesekali menghisap obat-obatan bersama dengan pria-pria super kaya yang seolah-olah punya pabrik uang menyaingi Peruri.
Namun bagiku, mereka benar-benar teman yang baik. Aku bukan penikmat alkohol, bukan perokok, dan tentu saja bukan wanita malam yang sering menghabiskan waktunya di night club hanya untuk meneguk Johnnie Walker dimana sebenarnya bisa kudapatkan gratis dan kapanpun aku mau. Teman-temanku tau dan menghargai itu, karena itu selama ini merekalah yang melindungiku dari pria-pria otak m***m yang seringkali datang kepadaku membawakan gelas-gelas hard liquor.
"Ready girls! Citra, Dita, Via, Lady kiri. Emma, Alya, Dayni, Aya kanan. After counting to one, everyone out, inget koreo satu, air mancur, end. Balik yeyy pada ke stage, buka topengnya husshh hempashkhan mulai dari Emma satu-satu keluar, koreo 2. Aldo, cek outfit and makeup. Quick!" Bunda Marthin brief seluruh modelnya untuk bersiap memikat ratusan pasang mata pengunjung malam ini, memamerkan kaki jenjangnya, catwalk on stage dengan penuh pesona.
"Three... two... oneeeee! Happy New Yearrrrr." MC meniupkan terompet tahun baru.
Tap, tap tap.. Kami melangkah dengan penuh percaya diri beralaskan heels 15 cm yang menambah keindahan kaki kami. Diiringi Mr. Saxobeat kami menatap mata penonton dengan tajam yang sudah terhipnotis dengan liukan kami para model di meriahnya pesta tahun baru 2007. Seperti biasa, terlihat banyak mata-mata nakal yang bersiap menunggu kami di depan backstage hanya untuk mengajak kenalan.
Malam semakin panas, musik semaki petjah. Hanya tinggal koreo terakhir, fashion dance. "Emma, 1 hour left to bed." gerutuku dalam hati yang sudah mencapai ketahanan 100% menghadang ngantuk, dan kali ini harus menari-nari di atas panggung mengajak seluruh pendatang menikmati dentuman musuk DJ. Sexy, namun bukan vulgar. Itulah yang membedakan kami seorang model dan sexy dancer. Dengan gerakan minimalis, harus tetap terlihat cantik dan anggun.
Syukurlah akhirnya selesai juga. Bunda Marthin membagikan amplop kepada masing-masing model, menandakan pekerjaan kita selesai malam itu.
"Al, come on. Om Dharma udah nunggu di table, Yanda ultah." Ajak Citra semangat 45.
"Ada apa aja disana? Gw udah gak nafsu minum ah, Baileys oke lah." Jawab Alya sambil merapikan cepolan rambutnya. "Ada itu gak?" Lanjutnya berbisik toa.
"Ah lo kaya gak tau om Dharma aja, yukk. Bye byee Emmaku sayang, hati-hati di jalan. See you!" Citra dan Alya terburu-buru menghampiriku cipika-cipiki, seperti biasa baginya malam tidak pernah berakhir.
Dengan segera ku merapikan barang bawaanku. "Ehm make up done, short pants and BH nude done, tas udah di gendong, hmmm.. Ahh heels gold." Kemudian kuintip meja rias samping pintu stage untuk mengemas heels gold-ku. "Ok, all done." ucapku ke diri sendiri.
"Bunda thank you ya, aku duluan pulang." Cepat-cepat cipika-cipiki ke Bunda Marthin si pria anggun nan perfeksionis.
"Dita, Via, Day, Lady, Aya, mas Arya aku duluan yaa. Sampai ketemu lagi cantiks." Aku melambaikan tangan dan sesegera mungkin ku ingin keluar dari tempat ini.
-
Ting. Pintu lift terbuka. Aku melangkahkan kaki untuk masuk dan menyimpan rolling luggage yang berisi perlengkapan show di samping kaki kananku.
"Model tadi ya? Cape banget kayanya." Tanya pria tinggi besar disampingku.
Sambil mata setengah sadar, aku hanya mengangguk. Entah suara itu memang nyata, atau hanya halusinasi saja. Aku abaikan.
Ting. Pintu lift terbuka. Menandakan sudah tiba di basement.
Aku melangkah dengan cepat dan segera mengambil kunci mobilku dalam tas.
"Em, Emmaa!" Tiba-tiba seseorang memanggilku.
Jalanku semakin cepat, siapa pria dini hari begini memanggil namaku di ruang gelap! Genderuwo? iihh amit-amit.. Langkahku semakin lebar.
Aku beruntung tidak dapat parkir di awal, sehingga ku-parallel kan mobilku dekat dengan lift dan ternyata jadi lebih mudah tanpa perlu mendorong-dorong mobil lainnya untuk keluar. Secepat dan sesadar mungkin aku nyalakan mobil dan tancap gas.
Aku melihat sepintas pria tinggi besar berbaju hitam terus menatap ke arah mobilku. Tanpa ragu, gas ku injak semakin dalam.
-
1 Januari 2007 - 08.00 AM
"Emma sayang, bangun.. Makan dulu nak." Panggil ibuku dari bawah. Mataku terbuka perlahan. Rasanya baru sedetik yang lalu aku shalat shubuh, mengapa matahari sudah cerah bersinar menyapa wajahku. WAJAHKU DENGAN MAKE UP! huhh, seketika kuteringat sedikit kejadian semalam. Setibanya di rumah langsung naik ke kamar dan memeluk bantal apelku, tentu saja masih dengan riasan dan baju yang sama. "Iya Bu.." Jawabku.Aku mencari handphone di setiap sudut ruangan, bawah bantal, kolong kasur, bawah selimut, atas meja rias namun tetap tidak kutemukan. "ooh kamar mandi.." Aku melangkah rusuh ke kamar mandi dan tetap tidak menemukan handphone-ku. "Nyari apa sayang?" Ibuku datang ke kamar membawa nasi goreng telur lengkap dengan s**u vanila favoritku.
"Handphone." Dengan wajah memelas."Oooh. tadi jam 1an waktu ibu telepon teteh, ada yang angkat. Kaget ibu teh, kirain dicuri atau kenapa-kenapa kaya waktu itu. Alhamdulillah kayanya mah baik, namanya Bima. Dia bawain satu tas bawaan teteh yang ketinggalan di lift, siang ini mau di anter ke rumah. Temen teteh?".-Aku termenung, mengedipkan mata... Ternyata bukan genderuwo. Bima? "Gak kenal, Bu."-
Inilah awal drama hidupku....