1 Januari 2007
Ting Tong
Aku membuka mata perlahan. Sangat berat, seolah ada lem aibon didalamnya.
"Your breakfast, Sir." Ucap Bell Boy dengan senyumnya yang lebar.
"Simpen aja di situ. Thank you." Sambil menunjuk meja depan jendela kamarku.
"Ada lagi yang bisa saya bantu,Pak?" Aku hanya menggeleng kepala dan memberinya senyum tanda terima kasih. "Baik, Selamat menikmati sarapan Anda." Bell Boy itupun pergi.
Berhubung cacing dalam perutku sudah meronta, aku segera bersiap-siap untuk dapat menikmati hidangan hotel yang terlihat lezat.
-
"Lah, ini tas main tinggal aja nih?" Aku membawa tas pink itu dengan tag "EMMA" di bagian depannya.
Jalannya begitu cepat untuk perempuan yang terlihat sangat lelah. Aku pun melebarkan langkah kakiku berusaha mengejarnya.
"Em.. Emma!" Akhirnya kupanggil saja nama yang tadi k****a. Namun entah apa salahku, wanita itu malah berlari kecil dan dengan tergesa-gesa masuk ke mobilnya. Dalam hitungan detik, mobil itu melaju melewatiku. Yaa cukup ngebut karena ini basement. Aku hanya bisa melohok melihat kelakuannya dan sedikit bingung. "Harus gw bawa nih?" ucapku dan segera melangkah ke arah mobil yang parkir tepat di samping mobilnya.
"Syukur deh dia udah jalan, jadi gw gak mesti cari-cari mobil siapa yang halangin gw parkir." Kututup pintu mobil, menyimpan tas ber-tag Emma dan mulai menyalakan mobil.
Terdengar dering handphone.
Gotta change my answering machine
Now that I'm alone
'Cause right now it says that we
Can't come to the phone
Tentu saja itu bukan dering handphone-ku. Aku tidak pernah mengubah standar ringtone handphone.
Sumber suara terdengar dari dalam tas pink, tentu saja bukan milikku. Aku segera membawa tas itu dari jok belakang dan mengecek isinya.
"Hmm, Ibu." Aku putuskan untuk mengangkat telepon itu.
"Hallo tante." Jawabku.
"Ini hp Emma kan yah?" Terdengar suara wanita kebingungan.
"Iya tante, aku Bima. Tadi tas Emma ketinggalan di lift, terus kayanya cepet-cepet gitu udah capek keliatannya." Jawabku, semoga sedikit menenangkan 'Ibu'.
"Ooh alhamdulillah atuh, kirain teh ada apa-apa. Berarti Emma udah pulang atuh yah? Aduh gimana ini teh ya tas nya ketinggalan segala." Ibunya terdengar khawatir.
"Besok Bima anter aja ke rumah Ibu ya. Bisa tolong di sms alamatnya ke nomor hp Bima tante? Nomornya 081161165."
"Yaudah nanti tante sms-in yah, makasih banyak ya Bima. Maaf jadi ngerepotin. Assalamualaikum." Ibu Emma menutup perbincangan.
"Sama-sama tante, walaikumsalam." Sama-sama mengakhiri telepon dan menyimpannya kembali ke dalam tas pink itu.
"Gadis itu bernama Emma." Ucapku dalam hati. Tiba-tiba aku tersenyum dan entah kenapa jantungku berdebar.
Aku pindahkan persneling ke D, dan bergegas ke hotel. Dipikir-pikir, malam ini cukup melelahkan.
-
Seketika lamunanku kembali ke kejadian semalam sambil mengecek handphone.
Nama Ayesha muncul hampir di seluruh message platform-ku. "Naah, ini.." Senyumanku kembali melebar membaca pesan berisikan alamat dari nomor telepon tidak dikenal. Spontan aku simpan kontaknya, "Emma's Mom". Aku tersenyum lagi.
Dengan segera aku melahap makanan yang paling terlihat enak. Makanan-makanan ini sebenarnya menarik, namun lebih menarik pergi ke alamat yang baru k****a.
"Dasar ceroboh...." Aku bergegas ke kamar mandi sambil menggelengkan kepala.