Aku selalu menikmati cuaca Kota Kembang nan sejuk. Walau panasnya terik, angin yang berhembus tetap dingin. Sangat berbeda dengan Ibu Kota.
Security komplek meminta kartu identitasku untuk dititipkan. Yaaa sebentar lagi tiba di rumah Emma, jantungku mendadak berdegup kencang. Padahal kenal juga enggak. "Apasih Bim, kaya mau kawin aja lo." Ucapku pada diri sendiri berusaha meredakan irama detaknya.
"Nomor 12 B, rumah warna coklat muda di kanan jalan." Security memberiku informasi.
"Yap betul ini rumahnya." Aku yakin setelah melihat mobil lancer gray yang terparkir mundur di sisi kanan garasinya. Mobil yang diapakai Emma semalam, dengan plat nomor 33 MA.
Aku parkirkan mobilku di depan rumahnya dan bersiap membawa tas Emma di jok belakang.
Sebelum turun, aku pastikan handphone Emma sudah di dalam tas. Bisa saja semalam aku lupa memasukannya kembali kan? hehe.
Ting Tong. Suara bell rumahnya terdengar sampai ke luar.
Tidak lama, ada gadis kecil membuka pintu,
"Cari siapa, om?" Tanya gadis kecil putih chubby itu.
"Ibu atau Emma ada?" Jawabku dengan sangat manis.
"Oh mau ke teteh. Ada, dede panggilin dulu, masuk om." Anak itu mempersilahkanku masuk dan langsung berlari sambil memanggil Ibu dan Kakaknya.
"Ibuuuuuu, teteeeehh..... ada tamu." Teriak nya. Sangat lucu pikirku.
Terdengar ada sautan menanyakan siapa yang datang. "Om om, lupa dede gak tanya namanya." Jawabnya.
"Sebentar.." Suara itu datang dari lantai 2.
Sembari menunggu, kusempatkan melihat foto-foto besar berfigura yang banyak dipajang di ruang tamu. "Emma tinggal dengan keluarga yang harmonis dan terlihat sangat bahagia." ucapku dalam hati.
Banyak juga trophy kejuaraan, yang kutebak ini semua adalah milik Emma. "Juara 1 Model Jawa Barat, Juara Umum. Hm oke.." Aku membacakan beberapa trophy dan selempang yang terpajang.
"Nak Bima ya?" Sapa wanita berusia sekita 40-an datang menghampiriku, ini pasti Ibu Emma.
"Iya tante, assalamualaikum." Aku raih tangannya untuk salam. "Tas Emma Bima simpen di situ." Sambil menunjuk meja pojok samping kursi.
"Ayo duduk dulu sambil tunggu Emma, lagi mandi tadi teh." Mengiringku untuk duduk di kursi ruang tamu.
Tidak lama Emma terlihat di tangga turun dari lantai 2 dengan rambut yang masih basah terurai.
"Emma, cik tolong sekalian bawain es kelapa muda ya di atas meja makan." Ucap Ibu Emma dengan logat sundanya yang kental.
Dalam beberapa menit saja, aku dan Ibu Emma sudah cukup akrab. Ibunya sangat baik dan tidak membuatku canggung. Bahkan aku bisa menceritakan beberapa hal yang tidak ditanyanya.
"Sini duduk sayang. Dibawain tuh tasnya sama Bima. Untung Bima yang nemuin tas teteh, baik deui mau nganterin." Sambil mengusap lembut rambut Emma. Aku terhanyut melihatnya. Kapan mami bisa seperti itu kepadaku.
"Makasih ya. Emma." Emma menjulurkan tangan untuk berkenalan.
"Iya aku tahu. Aku Bima." Membalas menyalaminya.
Segera setelah bersalaman, Emma mendekat ke arahku, membuat jantungku kembali berirama dan membungkukkan badannya. Bisa copot nih lama-lama.
"Maaf permisi ya, mau ambil ini. hehe" Emma nyengir dan kembali ke kursi nya sambil menunjukan tas miliknya.
Fiuuhh, aku lega.
Aneh... Profesiku sebagai DJ membuatku sangat terbiasa dengan wanita-wanita disekelilingku. Bahkan seringkali wanita seksi berbalut two pieces menari-nari tepat di depan mataku. Tidak pernah aku tertarik melihatnya, apalagi membuat jantungku berdegup kencang seperti saat ini. Namun kali ini hanya melihat Emma tanpa riasan dan dengan rambutnya yang basah, sudah membuat senyumku melebar dengan sendirinya. Jantungku sudah jangan ditanya. Membayangkan kejadian semalam yang sebenarnya tidak ada moment penting saja, buat aku deg-degan. Apalagi langsung berhadapan seperti ini. Beberapa saat aku terlihat bengong.
"Bim, diminum dulu." Tiba-tiba suara Emma menyadarkanku.
"Iya Bima, minum dulu, santai aja.. Ibu mau temenin dede belajar biola dulu ya." Ibu Emma beranjak dari duduknya. "Oiya Emma, tadi Bima nanya surabi teh apa, di beliin atuh yang di blok K tea, enak geura surabi si emak." Kemudian berjalan meninggalkan kami. Mendengarnya membuatku senyum-senyum sendiri.
"Emang bener gak tau surabi? Orang mana gitu?" Tanya Emma datar. Tidak terdengar gugup sama sekali. Atau memang aku yang gak wajar, grogi sendiri setelah ditinggal Ibunya. Sekarang kikuk bingung mau ngomong apa. Walau sebenarnya banyak yang ingin aku ketahui tentang Emma.
"Eh iya, aku asli Jakarta, ke Bandung karena event tadi malam aja." Jawabku selancar mungkin, dan sepertinya terdengar sedikit salting.
"Oh semalem ke Amnes juga. Jauh banget dari Jakarta taun baruannya di Amnes. Btw, aku sambil buka handphone ya, thanks loh."
"Iya, semalem aku DJ sampe malem taun baru. Udah beres kalian show, ganti personel." Suasana mulai cair.
"Oalahhh.." Sambil menyalakan hp-nya yang semalam aku matikan. Terdengan banyak suara pesan masuk dan suara-suara sosial media lainnya. Dahi nya sedikit merenyit, namun sesaat kemudian Emma tersenyum. Cantik.
"Kamu tuh DJ semalem ternyata. Kok cepet banget sih pulangnya?" Emma menyimpan handphone nya di atas meja. "Sorry berisik ya ni hp. Biasa ngucapin malem taun baru, gapenting."
"Haha gak apa-apa sih, Happy new year juga." Aku sedikit menggodanya dengan senyuman termanisku untuk melihat lagi lesung pipitnya, dan GOTCHA berhasil! Dia tersenyum sangat cantik. "Iya, aku tiap job langsung pulang kok. Gak terlalu suka di club gitu. Kamu juga langsung pulang semalem, mana gak sadar lagi sampai ninggalin tas. Haha" Sepertinya aku berhasil membuat suasana menjadi lebih mencair.
Setelah berbincang cukup panjang, 1 gelas es kelapa muda pun sudah habis hingga tetes terakhir dan waktu sudah menunjukan pukul 3 sore, saatnya aku bersiap pulang. "Em, boleh ikut shalat Ashar dulu sebelum pulang?"
"Oh iya boleh, yuk aku kasih tau dimana toilet nya." Jawab Emma. Aku berjalan mengikutinya dan langsung ambil wudhu. Begitu keluar kamar mandi, kulihat Emma sedang menghamparkan sajadah berwarna merah. Pemandangan kecil ini sungguh indah, batinku.
"Silahkan." Emma berjalan kembali ke arah ruang tamu.
-
"Mau langsung pulang?" Ucap Emma begitu melihatku selesai shalat Ashar.
"Iya, aku masih ada janji sama temen-temen mumpung di Bandung." Dengan berat hati aku harus mengakhiri hari ini dengan Emma. Setidaknya aku tahu Emma single dan sudah mencatat nomor handphone-nya. Tidak sia-sia aku berbaik hati membawakan tasnya yang tertinggal. Hehehe.
"Aku pulang dulu, semoga bisa ketemu lagi. Sampaikan makasih ke Ibu kamu ya." Aku pamit.
"Iya, makasih banget loh hehehe. Kalau ke Bandung lagi aku kasih surabi." Emma kembali tersenyum.
Stoop Emma jangan membuatku menyesal pamit pulang!
"Kamu gak buka-buka isi puch di tas-ku kan, btw?" Lanjutnya, tiba-tiba wajahnya terlihat sedikit khawatir.
"Hmmmm..." Aku tidak langsung pertanyaan itu.
"Hmm?" Emma penasaran.
"Enggak kok, aku cuma cari hp kamu karena bunyi, gak buka-buka pouch yang banyak itu."
"Syukurlah. Hahaha. Soalnya bahaya kalau buka-buka." Emma menjulurkan lidahnya. Gemas.
Lagu Ne Yo-So Sick kembali berdering dari hp Emma. Spontan aku melihat ke atas meja, sambil menunjuk hp Emma. "Telepon tuh dari gebetan, aku pamit ya. Assalamualaikum."
"Hehe. Iya walaikumsalam. Hati-hati." Jawabnya, kemudian bergegas menemui hp yang tidak berhenti berdering.
-
Sambil berjalan ke arah mobil, khayalan tidak penting terus seliweran.
"Gw bilang gebetan, dia gak nyangkal? Apa bener gebetannya? Orang yang buat dia senyum-senyum sendiri waktu liat hp nya?" Pikiranku jadi risih, dan sebenernya benar-benar gak penting. Untuk apa aku pikirkan, toh kenal Emma aja baru beberapa jam.
Namun ada 1 hal yang sangat mengganjal dipikiranku. Setidaknya aku sempat membaca nama yang muncul di hp Emma. "ANDRA SEAN? Really????"