"Jalan," ucap Anna dengan menggandeng tangan Virzha. Wajah Virzha masih di buang ke sembarang arah. Tapi pipinya memerah saat Anna menarik tangannya. Virzha menatap Anna dari belakang. Gadis rapuh itu ternyata setelah dewasa makin cantik. Awalnya Daniel tak mengenalinya. Namun, sketsa wajah gadis itu dengan matanya tetap membuat Daniel ingat.
Dan terlebih itu...
Gelang dengan batu sapir yang Virzha berikan pada Anna dulu masih ada. Masih terpampang jelas di tangan gadis itu. Hati Virzha meringan saat melihat Anna masih memakai gelang pemberiannya. Merawatnya dengan baik hingga tali gelang itu tak kusam. Bahkan batu sapir itu masih berwarna terang. Dan Virzha telah menjadi secret admirer Anna selama hampir 3 tahun ini. Yang dengan bodohnya Anna sudah tau karena ya, kalian tau apa yang di katakan Ina sebelumnya. Padahal Virzha lumayan sosok yang di takuti oleh seluruh sekolah. bahkan cowok nakal itu terkenal suka tawuran. Namun, ia tak pernah di rumorkan sebagai tukang bully, playboy, bahkan nilai pemuda itu sangat bagus untuk ukuran anak yang suka keluar masuk BK. Mereka telah sampai di ujung danau sekolah. Hari sudah gelap. Namun, Anna ingin keluar seperti ini. Ia lelah terkurung di dalam kamar saja. Pulang sekolah langsung tidur. Lama lama Gladys bosan tak bisa menghirup udara luar. Terlebih lagi sang kakak yang selalu menyuruhnya keluar untuk jalan jalan.
"Lo suka danau?" tanya Anna pada Virzha yang tetap memalingkan wajahnya ke samping. Anna mendengus dan menampol kepala Virzha dari belakang.
"Sakit,"
"Lebih sakit mana lo bicara tapi gak di dengerin," Virzha meringis. Menggigit bibir bawahnya. Menatap mata yang bersinar indah itu. Dia melepaskan pegangan tangan Anna. Ini sudah dua bulan lebih mereka saling kenal. Virzha juga sering datang ke rumah Anna membuat sang kakak lebih tenang. Juga Anna yang sudah tak menolak jika Virzha mendekatinya.
"Kamu suka nggak sama pemandangan ini?" tanya Virzha dengan memangku tangannya di jembatan dan menatap Anna. Rambut gadis itu, daya tarik nomor satu milik Virzha. Anna mengangguk dan bergumam. Matanya tetap fokus ke depan. Menatap kota yang indah dengan lampu temaram.
"Kamu.... Cantik. Entah Kenapa. Entah kenapa... Aku bisa secinta ini sama kamu," gumam Virzha dengan wajah yang di manyunkan. Matanya menatap segala sudut kota. Lalu kembali menatap Anna. Mata gadis itu masih menunggu disana. Menatap datar tangan Virzha yang masih bertengger di pinggangnya. Tersenyum sinis dan menatap ke depan lagi.
"Jangan takut di tinggalkan. Seberapa kerasnya pikiran kamu sekarang mengatakan kalau aku bakalan ninggalin kamu. Aku janji gak bakalan terjadi,"
-/-
Kini Anna berjalan menuju kerumahnya. Dengan membawa makanan yang ia dapat dari tempat makan yang di rekomendasikan oleh Virzha. Anna tersenyum bahagia karena sekian lama akhirnya ia bisa makan makanan yang ia idamkan. Mata Anna tertegun saat melihat seseorang yang sedang berada di halaman depan rumahnya. Matanya menerawang siapa gerangan yang berdiri dengan jaket tebal dan rambut hitam yang... Em bagus itu.
"Permisi, cari siapa ya?" tanya Anna dengan hati hati. Dan akhirnya mata pria itu menatap sepenuhnya pada dirinya. Anna makin penasaran di buat. Siapa yang berdiri di depan rumahnya ini? Anna tak pernah melihat dia sebelumnya.
"Akang teh cari siapa?" Pemuda itu hanya tersenyum manis. Sumpah,benar benar tampan membuat Anna ikut melengkungkan senyumnya.
"Kamu Anna?" tanyanya dengan suara yang benar benar lembut. Anna mengangguk. Lalu menurunkan pandangannya pada segala hal yang di pakai oleh pria di hadapannya ini.
Gucci, Dior, Channel. Fix ini sultan kesasar
"Akang teh mau cari tempat apa? Biar Anna bantu,"
"Nggak kok. Saya mau ketemu kamu aja,"
Anna melotot sempurna. Dia tak mengenal sosok ini. Bahkan berpikir jumpa dengannya saja tidak pernah. Tapi kenapa pemuda ini mencarinya? Apa kakek dan neneknya mengirim pemuda ini untuk pulang ke Yogya? Gadis yang hanya sebatas d**a pemuda itu kini memundurkan dirinya. Menatap takut pada pemuda yang kini menaikkan alisnya.
"Namaku Joe,"
"APA?! YA.. YANG PU...PUNYA PERUSAHAAN IT TERBESAR ITU?"
Joemengangguk kaku
"YA... YANG PUNYA ROBOT CANGGIH CANGGIH ITU?" Joemengangguk lagi
"ASTAGHFIRULLAH. AKANG NGAPAIN ATUH KESINI?. INI TEH TEMPAT KUM- Mmpft," Mulut Anna ditutup dengan tangan besar milik Joe. Membuat gadis itu hanya melotot lagi dan memandang mata Joe. Joe tersenyum manis sekali lagi. Lalu membalikkan tubuh Anna dengan sekali sentak. Memeluk gadis itu dengan erat sambil memejamkan matanya. Mengingat memori masa lalu yang menghinggap di kepalanya. Dari semua kejadian yang berputar bagai kincir angin. Dari awal kejadian sampai akhir dimana ia bisa memeluk gadis yang usianya 7 tahun lebih muda darinya ini.
"Anyeong, Sehwa-ya,"
-/-
"Anna darimana?" tanya seorang pemuda dengan kaus oblong hitam lengkap dengan celana jeans selutut. Serta membawa bungkusan dari minimarket. Anna tersenyum lalu menatap pemuda tinggi tersebut. Tetangganya yang sudah 3 tahun tinggal di depan rumahnya.
"Dari main,"
"Sama siapa?"
"Kepo," Pemuda itu tersenyum lalu mengacak Surai lembut milik Anna, "Iya, Mas kepo nih. Makannya kasih tau dong," Pemuda itu tersenyum lagi. Lalu berjalan di depan rumah. Duduk di salah satu bangku yang terbuat dari kayu. Letaknya di bawah pohon Cherry. Bundanya sering mengajaknya duduk disini. Apalagi suka bercerita tentang angkasa.
"Mas tadi beli yoghurt. Kamu mau nggak?" Pemuda itu membuka bungkusan plastiknya. Lalu mengeluarkan yoghurt tersebut dan melubanginya dengan sedotan kecil. Anna mengambil minuman itu. Meminumnya sambil menatap bulan yang malam ini benar benar terang. Apa langit sedang bahagia? Bandung bahkan terasa dingin sekarang.
"Darimana?" Anna tersenyum lalu menatap lengkungan sabit pemuda itu,
Dhika mengernyit bingung, "Temen sekolahmu yang mana? Mas kok gak pernah dengar kamu jalan jalan sih?" Anna menyelipkan rambutnya di belakang telinga. Menatap kakinya yang sedikit di ayunkan. Sedangkan Dhika, masih menatap gadis yang di sukainya itu. Ya, gadis yang disukainya tak menganggapnya. Iya, dia miris gak usah ketawa!
"Virzha," Dhika melotot lebar lalu menarik pundak gadis itu menghadapnya, "Buset! Bad boy sekolah eta?" Anna mengangguk. Gemas dengan Dhika dan mengacak rambutnya. Pemuda yang satu sekolah dengannya namun satu tingkat di atasnya itu benar benar lucu. Bahkan ketika menampilkan senyum paripurna dengan lengkungan sabit tercipta di matanya, mampu membuat seorang Anna terkesima. Yang di acak rambutnya hanya diam. Menatap Anna dengan tatapan kosong. Dia... Tidak tau Anna dekat dengan orang lain.
Anna mengerjapkan mata sejenak. Menatap kembali awan kelabu yang nampaknya sangat indah. Dan Dhika masih menatap Anna. Dengan perasaan gundah dan kebingungan. Memang ia tak pernah mengatakan menyukai Anna. Tapi Anna adalah gadis super peka. Dia akan tau apa maksud seseorang dari tingkah lakunya saja. Dhika mengambil tangan kanan Anna lalu menatap mata itu.
"Mas cemburu wajar gak ya, Ann?" Anna menaikkan alisnya sebelah. Tersenyum kecil bahkan nyaris tak terlihat. Lalu menatap Dhika yang menatapnya lamat seakan menunggu jawaban dari bibir kecilnya.