Anna tersenyum manis mendengarkan Dhika mengatakan hal tersebut.Ia mengerjapkan matanya sejenak lalu menatap langit di atas dudukan semuanya berada di depan halaman Dhika. "Kayaknya mas Dhika tau deh kalau aku udah pacaran sama Virzha dan aku udah bilang tadi,"
Dhika tersenyum, "Iyaa tapi mas tuh hanya mau mengungkapkan aja. Jadi mana tau kamu gak panjang tuh sama cowok bar bar kamu itu, kamu bisa cari mas. Gak papa awal awal di anggap pelampiasan, seng penting kamu sama aku bisa jadi satu,"
"Jangan berharap lebih loh. Aku gak kasih kepastian," ucap Anna sembari tertawa.
"Ya mas juga gak berharap lebih kok. Kalau jodoh ya Alhamdulillah. Kalau Ndak ya syukuri aja. Toh , jodoh gak kemana kan?"
"Jodoh gak kemana tapi mengungkapkan perasaan sama yang udah punya pacar. Eh, trus di doain lagi supaya gak panjang,"
"Lah, mas gak doain kamu sama dia gak panjang hubungannya. Tapi mas bilang kalau aja. Kalau loh Anna" kata Dhika untuk menjelaskan apa yang dia maksudkan tadi.
Anna menggeleng lalu menatap yoghurt yang ada di tangannya. Ia memikirkan apa yang ia mimpikan tadi malam. Mimpi itu terasa nyata seakan-akan dia pernah merasakannya dan pernah terjadi pada dirinya. Mimpi itu menyakitinya. Mimpi itu selalu mengganggu di setiap malam tidurnya. Ia selalu merasakan bahwa dirinya pernah menjadi salah satu orang yang disakiti di dalam mimpi tersebut. Kejadian itu sangat menyakitkan bahkan terkesan sadis. Di mana banyak sekali kematian hingga pertempuran besar yang terjadi. Dan Anna bagian orang yang mati dengan cara yang sadis.
Ketika di dalam mimpi tersebut wanita dengan wajah yang cantik itu malang karena dadanya ditusuk dengan pedang bahkan sampai berkali-kali. Perutnya yang buncit menandakan bahwa wanita itu sedang hamil. Perutnya dibelah dengan tidak berperasaan hingga bayi yang di dalam perut wanita itu keluar namun hebatnya bayi yang sekiranya sudah 8 bulan di dalam rahim itu menangis. Dia hidup. Dia berhasil hidup walau diambil secara paksa. Namun mimpi tersebut sampai di situ karena setelahnya kepala wanita yang perutnya dibelah dan diambil bayinya itu langsung dipatahkan secara sadis. Mimpi itu sampai di sana. Setelahnya Anna bangun dengan tubuh yang gemetar hebat hingga tiba-tiba ia merasakan dadanya sakit. Sakitnya bahkan membuat kepalanya berputar-putar. Sakit yang langsung membuat tangisannya keluar dengan hebatnya namun masih tahan karena ia takut gak mau mendengarnya.
"Anna, eleh naon ini anak gadis malahan melamun?" tanya Dhika saat melihat Anna diam untuk beberapa menit.
Anna menggeleng lalu melemparkan bekas yoghurt itu ke tempat sampah. Ia berdiri dari tempat duduknya dengan menepuk-nepuk bagian belakang celananya. Tidak kotor sih. Hanya saja itu kebiasaan Anna ketika duduk di gubuk tersebut.
"Aku mau pulang. Nanti Mas Gama nyariin." Anna mengambil tasnya lalu menyalim Dhika. Suatu kebiasaan juga.
Anna berjalan ke depan karena jarak rumahnya dengan jarak rumah Dhika berdekatan. Hanya dibedakan oleh tiga rumah. Waktu sudah menunjukkan jam 8 malam. Angin di sekitar perumahannya memang terasa sangat sejuk. Walau kehidupan sekarang sudah menggunakan banyak robot bahkan tidak ada lagi kendaraan seperti angkutan umum, tetap saja terkadang banyak polusi. Namun tidak terlalu parah dan tempat tinggal Anna juga tidak terlalu dekat dengan perkotaan. Masih bisa ia rasakan damainya kota dengan pemandangan yang asri juga angin sepoi-sepoi yang sejuk.
"Assalamualaikum," ucap Anna ketika ia memasuki rumah yang tampak kosong. Ia meletakkan sepatunya di rak sepatu dan jaket nya di tempat jaket. Berjalan dengan perlahan hingga ia mendengar suara Gama yang seperti memohon.
"Saya nggak mungkin bisa melakukan hal tersebut Pak. Perusahaan dia sangatlah besar bahkan bisa mengancam orang banyak jika ada yang mengganggunya. Saya belum bisa menerima konsekuensi tersebut. Saya takut kalau adik saya dan nenek saya akan kenapa-napa kalau misalnya saya melakukan pengintaian terhadap perusahaan itu,"
"...."
"Iya pak, tapi saya bener-bener nggak berani untuk melakukannya. Saya bisa melunaskan hutang saya pelan-pelan namun saya bisa secepatnya juga. Tapi saya mohon bapak jangan melakukan tindakan pemecatan terhadap saya. Saya punya adik yang harus menjadi tanggungan saya Pak," ucapnya. "Pak? Pak? Argh! Sial!" umpat pria itu.
"Apa gue ambil aja ya? Soalnya gue bingung mau bayar uang Anna sekolah nanti gimana?" Gama merasakan kebimbangan itu. Ia bingung harus melakukan apa. Uang sekolah Anna bukanlah murah. Sangat mahal karena bertaraf Internasional.
"Anna gak mau Mas ambil kerjaan itu," sahut Anna yang tiba-tiba muncul hingga membuat Gama kaget setengah mati. Ia menelan ludahnya kasar saat melihat air mata Anna mengalir dengan derasnya.
"Anna" Gama berdiri lalu menghampiri adiknya yang berdiri terpaku di depan pintu kamarnya, "Anna denger semuanya sayang?"
"Anna denger. Dan Anna nggak mau Mas melakukan hal itu. Itu berbahaya Mas. Anna gak mau kejadian beberapa tahun lalu terjadi lagi sama kita. Mas tau kan kenapa Mama sama Ayah bisa meninggal dalam kecelakaan tersebut. Karena mereka berdua ikut berkompeten dengan agen yang ingin memata-matai perusahaan teknologi besar itu. Mereka menjadikan orang yang bekerjasama dengan mereka menjadi umpan. Dan Anna nggak mau hal itu terjadi lagi sama kita, Mas. Anna gak mau," ucap Anna hingga tangisan itu semakin kencang dan Anna gemetaran mengucapkan hal itu pada Gama. Gama menggeleng pelan menenangkan adiknya.Ia tau seberapa besar trauma yang dialami Anna atas kejadian yang menimpa keluarga mereka. Kecelakaan yang merenggut semua kebahagiaan mereka dalam waktu yang sekejap mata. Anna benar-benar tidak mau merasakan hal tersebut itu lagi.
"Mas nggak akan melakukan itu Anna. Mas akan cari cara yang lebih lagi agar kita bakalan baik-baik aja"
"Mas tahu kan kenapa dia memaksa Mas untuk melakukan hal tersebut? Karena kita pernah menjadi korbannya. Keluarga kita pernah menjadi umpannya mereka melakukan hal itu lagi kepada kita. Anna nggak akan pernah maafin Mas kalau misalnya Mas nekat untuk tetap terus melakukan pengintaian terhadap perusahaan teknologi terbesar itu,"
"Anna, tenangin jadi kamu nanti asma kamu kambuh. Mas nggak akan melakukan itu,"
"Mas harus janji sama Anna demi hidup Anna?" ucap Anna sembari membawa tangan Gama ke atas kepalanya untuk melakukan sumpah agar tidak melakukan hal bodoh untuk mengikuti pengintaian tersebut.
Gama menelan ludahnya kasar. Ia takut jika ia melakukan sumpah ini akan terjadi hal-hal buruk ke depannya. Ia sebenarnya merencanakan untuk mengikuti pengintaian itu namun dengan secara diam-diam tanpa adiknya itu mengetahuinya. Namun jika adiknya melakukan sumpah ini, ia harus benar-benar memegangnya dan ia takut bahwa hal-hal buruk akan menimpanya setelah itu.
Gama masih saja diam hingga Anna tau bahwa kakaknya itu akan melakukan hal bodoh itu. Anna geram lalu menampar Gamma berkali-kali. "Pergi lo! Gak usah jadi kakak gue lagi!" ucapnya dan membanting pintu kamarnya.
Gama mendesah kasar kemudian mengetuk-ngetuk pintu kamar adiknya. "Anna... Anna, Mas minta maaf sama Anna. Anna, Mas tau mas salah makannya Anna. Tolong keluar sebentar. Kita bicarakan ini dengan baik-baik."
"NGGAK MAU! GUE BENCI LO GAMA!"
"Anna, Mas mohon jangan marah kayak gini. Mas sedih banget kalau Anna marah sama Mas. Mas jadi merasa sendirian gak punya siapapun untuk tempat berbagi," keluh Gama dengan suara gemetar. Jujur, ini juga terlalu berat untuknya. Dia juga sebenarnya tidak terlalu kuat untuk menghadapi masalah yang mereka hadapi. Namun, dirinya adalah kakak yang harus memperjuangkan adiknya agar tidak mengalami pemutusan pendidikan seperti dirinya. Gama tidak mau adiknya tidak merasakan pendidikan seperti dirinya. Gama memperjuangkan kebahagiaan adiknya bahkan jika ia harus pontang-panting kesana kemari. Anna adalah kehidupannya. Jika tidak ada Anna, dia bahkan tidak tau cara dirinya hidup bagaimana. Anna membawa kebahagiaan tersendiri untuk Gama dan tentu saja kehilangan Anna hanya akan menjadi kesedihan berkepanjangan yang ia dapatkan nantinya.
"Anna! Anna Mas mohon sama Anna buat percaya sama Mas. Mas gak mau Anna benci sama Mas. Nanti Mas sama siapa kalau Anna juga benci sama Mas," lirih Gama. Anna yang mendengarnya langsung keluar namun ia bertahan sejenak di pintu. Anna mendapatkan tatapan nanar dari kakaknya tersebut. Rasanya hatinya tidak karuan. Banyak sekali hal yang ingin ia katakan namun ia takut akan menyakiti siapapun. Anna selalu saja memendam semua hal sendirian hingga ia menjadi seperti orang bodoh begini.
"Annaaa maafin Mas. Anna, Mas sayang sama Anna. Anna jangan pergi tinggalin Mas Gama," ucap Gama dengan tangisan yang kian kencang. Rasanya Anna ingin mengatakan bahwa ia sangat menyayangi kakaknya yang selalu saja seperti pahlawan untuknya. Namun, perkataan pria ini tadi saat menelepon bosnya membuat dia rasanya ingin marah dan menghajar pria ini. Anna tidak bisa membiarkan Gama masuk ke dalam jurang yang sudah pernah dilalui oleh kedua orang tuanya . Anna hanya menginginkan kehidupan mereka kembali menjadi normal walaupun mereka tidak ada orang tua lagi namun mereka bisa bahagia tanpa terusik oleh masa lalu bahkan orang-orang yang tidak mereka kenal. Menjauhi semua tetangga dan memilih untuk hidup tanpa musik apapun dan siapapun.
Anna sudah terlalu tidak percaya oleh perkataan orang-orang yang mengatakan betapa mereka sangat terharu dengan perjuangan Anna dalam menggapai cita-citanya. Mereka hanya menginginkan dirinya agar melakukan apapun yang mereka suruh.
"Bangun. Jangan kayak orang bodoh begitu." Anna menarik lengan Gama. Pria itu berdiri kemudian memeluk erat tubuh Anna. Ia bersandar seakan Anna bisa sedikit meringankan bebannya. Anna mengusap punggung kakaknya itu. Anna tau pria ini banyak berkorban. Maka dari itu ia tidak ingin Gama banyak lagi melakukan hal apapun demi dirinya. Anna sudah tidak ingin melakukan hal apapun kecuali kakaknya saja yang bahagia. Anna sudah terlalu banyak memberi beban kepada kakaknya. Anna tidak mau lagi pria itu merasakan hal yang sama secara terus menerus.
"Mas, apa Anna perlu kerja sampingan buat biaya sekolah Anna? Toh ini juga sebentar lagi Anna bakalan selesai sekolah," tanya gadis itu hingga membuat Gama menarik dirinya dari pelukan adiknya.
"Mas nggak mau Anna kerja. Anna harus sekolah yang rajin," lirih Gama sambil memegang kedua pipi adiknya.
"Anna gak bakalan keberatan kalau kerja sampingan biasa, Mas. Anna bakalan usaha untuk dapetin beasiswa yang lebih besar nantinya. Tapi seenggaknya kita udah bisa menyelesaikan satu semester ini dengan Anna bantu, Mas Gama." Anna memegang kedua tangan Gama, "Mas, aku bakalan bantuin, Mas kerja. Selama halal aku bisa lakuin. Kita saudara. Jangan ambil semua beban. Bagi ke aku. Aku bakalan dengan lapang d**a membantu, Mas. Jangan takut begitu," kata Anna menenangkan kakaknya itu. Anna menangis saat melihat Gama menggeleng. Pria ini memang susah di beri tahu. Anna memeluk tubuh kakaknya dan memberikan kecupan di kening pria itu. Dia akan mengatakannya nanti lagi.