"Keadaan Anna masih tahap pemulihan. Akibat obat yang dia minum secara terus-menerus membuat jantungnya tidak bisa menerima semuanya dengan baik. Penurunan imunnnya juga sangat drastis. Dan, sepertinya dia mengalami stres yang begitu hebat sehingga dia melakukan self harm berkali-kali dan menyebabkan tubuhnya banyak di liputi oleh luka. Dan, saya berharap kamu bisa selalu mendampingi dirinya karena saya takut jika sesuatu terjadi lebih parah dari ini. Kita tidak akan pernah tahu bagaimana perasaan dan kalutnya punya orang yang sedang depresi. Jika kamu lengah dalam pengawasan itu, kita tidak pernah tahu apa yang akan dilakukan oleh adik kamu nantinya. Karena sepertinya dia memang benar-benar kita hampir tidak bisa menenangkan dirinya sendiri sehingga memilih untuk menyakiti dirinya sendiri."
Penjelasan dokter membuat Gama merasakan pusing yang mendera dirinya. Dia hanya menatap kosong arah depan hingga akhirnya dokter tersebut menepuk pelan pundaknya. Dia sudah merasa kehilangan banyak hal dan sekarang dia harus menerima jika adiknya memiliki riwayat depresi. Entah apa yang ada dipikiran Gama sekarang. Semuanya terasa menyakitkan. Dia seperti sudah akan ingin menghilang dari bumi saja. Dia sudah lelah dengan segala hal yang terjadi dalam hidupnya dan dia ingin bebas. Dia ingin merasakan kebahagiaan juga. Namun, di satu sisi dia sangat menyayangi adiknya. Dia tidak akan meninggalkan adiknya walau dalam keadaan apapun.
"Kalau begitu saya permisi dulu. Kamu makanlah yang banyak. Adik kamu harus melihat kamu tetap sehat dan bugar jangan sampai kamu tidak makan sehingga membuat kamu lemas dan menjadi kurus. Kasihan Anna yang akan melihat kamu tidak bisa merawat diri kamu sendiri. Dia pasti akan merasakan sakit juga ketika melihat kamu lemah begini." dokter itu menepuk pelan bahunya kemudian pergi meninggalkan dirinya. Gama hanya menatap datar apa yang ada di hadapannya. Ia sudah terlalu lelah dengan tangisannya. Gama hanya ingin melihat adik kecil kesayangannya di dalam ruangan yang berisi banyak selang oksigen. Anna banyak mengkonsumsi obat. Gadis itu ingin mengakhiri hidupnya.
Entah apa salah Gama sampai-sampai adiknya bisa mengalami hal seperti ini. Ini di luar kendalinya. Gama jarang memperhatikan adiknya itu. Ia hanya fokus mencari uang tanpa bertanya bagaimana hari yang di lewati oleh Anna. Dia tidak bisa menjadi kakak yang baik dan orangtua yang baik untuk Anna. Dia merasa gagal untuk itu. Seharusnya adiknya tidak mengalami hal seperti ini. Seharusnya dia bisa bersekolah dengan tenang tanpa merasa terbebani oleh sana-sini. Gama tidak bisa berpikiran logis lagi. Kejadian beberapa tahun lalu kembali memutarnya pada kejadian kecelakaan kedua orangtuanya. Kejadian di mana kebahagiaan mereka berakhir dengan kecelakaan itu. Dan hal itu juga yang menjadi akhir dari senyum Anna. Tidak ada lagi ceria yang ada di wajah adiknya itu. Hanya tangisan, wajah datar dan sifat dingin yang sebenarnya tidak pernah terlihat ataupun di lihat oleh siapapun sebelumnya. Termasuk Gama.
Perasaan Anna terpukul telak saat di depan matanya sendiri dia melihat orangtuanya meninggal dengan cara yang tidak logis. Seakan di lakukan dengan berencana, semuanya berakhir menyakitkan pada intinya. Anna yang tidak bisa diam dan lebih suka berbaur dengan banyak orang, dalam waktu singkat menjadi Anna yang dingin dan tak tersentuh oleh siapapun. Memasang tameng tinggi seakan tidak ada boleh satupun yang mengganggu kehidupannya. Dia memasang wajah datar dan Gama tak pernah lagi menemui wajah ceria itu semenjak meninggalnya orangtua mereka. Gama tertawa miris saat mengingat Anna yang akan berjanji tidak akan merepotkan dirinya. Hal yang baru Gama sadari bahwa gadis itu ternyata menyimpan banyak kesakitan di dalam dirinya.
"Anna, apa selama ini kamu selalu tersiksa dengan segala kenangan yang terjadi di masa lalu?" lirih Gama dengan menempelkan wajahnya pada pembatas kaca ruangan Anna. Rasanya dadanya semakin sesak mengingat dia hanya bisa menguatkan dirinya sendiri di sini. Tidak ada satupun yang bisa ia minta tolong untuk sekedar membuang sakit yang di rasanya kini.
"Anna bakalan baik baik aja asalkan Mas juga baik baik aja. Anna akan berusaha bahagia walau Anna merasa sakit di saat bersamaan. Anna akan meringankan beban Mas walau sejenak. Atau kalau bisa lebih dari itu"
Perkataan itu masih sangat ia ingat ketika mereka melewati malam yang terasa menyakitkan selepas kepergian kedua orangtua mereka. Di dalam kamar yang dingin itu, mereka saling berpelukan untuk menghindari rasa sakit walau sebenarnya rasa itu tidak bisa hilang begitu saja. Anna merasakan banyak hal pada saat itu dan ia hanya bisa diam tak berkutik apapun bahkan tak mengerti apa yang di katakan adiknya itu termasuk menyiksa dirinya sendiri. Gama benar-benar merasa bodoh sekali. Seharusnya ia tau kalau Anna tidak bisa ia tinggalkan begitu saja. Dia anak yang manja. Namun, dia hanya mencari uang dan tak peduli pada Anna.
"Gama!" panggil Glora, sahabat perempuan Gama. Gadis itu berlari dan duduk di samping Gama yang bersimpuh di lantai.
"Ngapain ke sini? Gue gak perlu siapapun. Gue memang hanya sendirian di dunia ini sama adek gue," lirih Gama dengan tangisan yang kian deras. Glora yang melihat hal itu memeluk Gama dengan kuat. Menyalurkan rasa hangat agar Gama tau bahwa dia tidak sendirian. Ada banyak orang yang bersamanya. Dan termasuk Glora.
"Udahh, jangan sedih lagi. Lo harus tau kalau lo adalah laki-laki yang kuat yang bisa selalu membuat Anna mau menjalani hidupnya," ucap Glora sembari mengusap kepala Gama yang ada di dadanya. Ia memejamkan matanya menahan sakit saat melihat pria yang sebagai sahabat terbaiknya ini menangis histeris tanpa siapapun yang mau menolong dia dari rasa sakit yang di rasanya. Glora tidak bisa menahan air matanya yang mengalir deras saat tangan itu gemetaran memegang dirinya. Jiwanya terguncang. Gama si lelaki hebat yang selalu rajin bekerja sekarang mendadak menjadi rapuh dan tak berdaya karena adik kesayangannya ada di dalam ruangan darurat dan sedang mempertahankan hidupnya.
"Gue selama ini gak bisa jadi kakak yang baik untuk adik gue sendiri. Gue hanya sibuk cari kerja kesana kemari dan cari uang hanya untuk menghidupi dia tapi gue nggak tahu seberapa sulit dia menjalani hidupnya setelah kematian kedua orang tua kami. Gue enggak benar-benar memperhatikan dia atau mendengarkan apa yang dia rasakan selama ini. Gue hanya memikirkan diri gue sendiri dan kejadian ini menjadi Boomerang untuk diri gue sendiri karena gue memang enggak bisa menjaga adik gue dengan baik. Di dalam rumah yang sama, bahkan gue nggak tahu kalau dia sering menyiksa dirinya sendiri dengan segala benda yang tajam. Gue emang nggak becus sebagai kakak."
"Gama," panggil Glora dan masih melakukan hal yang sama yaitu mengelus rambut Gama, "Lo udah berusaha terbaik untuk membuat adik lo itu bahagia. Lo udah melimpahkan segala urusan lo dan kebahagiaan lo hanya untuk adik lo. Lo udah berusaha semaksimal mungkin agar adik lo tetap baik-baik aja dan selalu bahagia juga tetap bersekolah seperti biasanya di sekolah yang kita sendiri tahu semahal apa sekolah di sana. Tapi, kita nggak akan pernah tahu apa yang terjadi di akhir dari semua perjuangan yang kita lakukan. Lo udah berusaha sampai sekarang itu udah lebih dari bagus dan cukup. Lo bisa memperjuangkan Anna bahkan sekarang dia hampir aja beberapa bulan lagi akan tamat sekolah. Lo bertanggung jawab atas apa yang terjadi di hidup dia dan lo nggak melepas kewajibanmu sebagai kakaknya untuk selalu ada di samping dia. Gue salut untuk itu," ucap Glora.
"Tapi gue nggak ada disaat-saat dia merasa tersakiti. Di saat dia merasa kalau dirinya sendirian di dunia ini. Gue terus-terusan bekerja sampai gue lupa kalau gue harus membuat adik gue mau jujur tentang perasaannya karena selama ini dia selalu memendam semuanya sendiri. Gue takut karena setiap malamnya dia kadang selalu menjerit meminta tolong yang gue sendiri nggak tahu maksudnya apa. Gue juga nggak tahu ternyata belakangan ini dia suka sejarah daripada pelajaran teknologi yang ada hal itu pelajaran yang paling disukai dulu. Gue udah bener-bener enggak tahu dan lepas tangan belakangan ini sama dia."
Tangisan itu semakin kuat menghantarkan sesak yang kian mendera pada hatinya. Kini, yang ada dipikiran Gama sekarang adalah bagaimana supaya adiknya itu tetap sembuh dan bisa bersamanya kembali. Dia tidak bisa membayangkan jika adiknya itu benar-benar pergi dari hidupmu meninggalkan dirinya seorang diri di dunia ini. Ia merasakan sakit luar biasa ketika tangan itu lemas tak berdaya dan tatapan mata itu menutup seakan memang dia telah lelah menghadapi keadaan dunia yang seakan terus-terusan saja menyiksanya.
"Anna gadis yang kuat. Dia pasti bisa melewati ini semua dan kita harus mendoakan dia supaya dia bisa melewati masa kritisnya. Dan kamu sekarang harus mandi dan makan supaya mungkin tiba-tiba dia bangun kamu udah kelihatan bugar dan tidak menambah beban pikiran dia."
"Aku nggak bawa baju ganti."
"Aku tadi bawain dari rumah. Punya bapak aku. Kamu bisa pakai," kata Glora. Namun tak selang lama ia terdiam.
"Kok kita pakai aku-kamu sekarang?" tanya Gama dan hanya di balas gelengan oleh Glora. Gadis itu tiba-tiba merasa malu saat ia mengatakan hal itu. Dia beranjak dari tempat duduknya Gama dan beralih duduk di bangku rumah sakit. Gama yang melihatnya tersenyum hangat dan membuat Glora terpukau dengan senyuman itu.
Gama duduk di bangku rumah sakit dan memegang tangan Glora, "Aku belum punya apa-apa untuk melamar kamu seperti apa yang kamu inginkan dulu. Kamu jangan berharap banyak sama aku karena aku belum bisa memberikan hal yang terbaik untuk kamu. Kamu harus menerima lamaran dari orang lain yang bahkan lebih baik dari aku karena aku tahu kamu harus mendapatkan yang terbaik juga. Kamu nggak bisa sama aku yang kerjanya serabutan tak kemana-mana yang penting dapat uang. Dan kamu nggak bisa hidup sama aku yang hidupnya serba kekurangan. Hiduplah sama orang yang bisa membahagiakan kamu dan memberikan seluruhnya untuk kamu. Termasuk harta dan raga mereka," kata Gama kemudian menepuk tangan Glora dan berjalan menuju kamar mandi rumah sakit dengan baju dari Glora. Glora hanya bisa menatap sedih tubuh jangkung yang semakin menjauh itu.